
setelah semua berkumpul dan sudah banyak berbagai barang belanjaan yang kami beli, kami pun melanjutkan untuk pulang kerumah. tepat pukul delapan malam mobil mas Hamid mengantarkan aku, mama dan juga kedua anakku sampai dihalaman rumahm disambut oleh Sintia dan juga Rey yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu.
"mampir dulu umi" kataku.
"ah terimakasih Diah, tapi umi sama Hamid langsung pulang aja ya. kasihan Abi dirumah seharian ini, jangan lupa datang lusa nanti ya dan jangan lupa dipakai semua barang yang sudah kita beli tadi" kata umi Hamidah membuatku tersenyum.
"baik umi, in syaa Allah nanti kami akan memenuhi undangan umi dan mas Hamid" kali ini bukan aku yang menjawab, melainkan Rey dan itu membuat senyum umi Hamidah semakin merekah.
"iyaa Rey, kalo gitu umi sama Hamid pulang dulu ya. assalamualaikum" jawab umi Hamidah terakhir berpamitan.
"waalaikumsalam" jawabku dan juga Rey melihat mobil yang dikendarai mas Hamid itu mulai meninggalkan halaman rumah mama.
aku dan Rey pun masuk kedalam rumah setelah memastikan jika mobil milik mas Hamid sudah tak terlihat.
"gimana mbak, kayanya umi Hamidah ga sabar banget buat jadiin mbak Diah menantunya" kata Rey dengan alis naik turun menggoda ku.
"apaan si kami Rey, mbak belum ada lah pikiran kearah sana lagi. lagian ya proses perceraian mbak aja masih belum jelas, gimana tuh si Raihan jadi ngga sih dia itu bantu mbak" jawabku dengan mata melirik Rey yang menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Rey juga belum tau sih mbak, orang Rey juga belum hubungin mas Raihan lagi" jawabnya membuatku tersenyum sinis.
"nah kan kaya gitu udah mau ngejodohin mbak sama Gus Hamid, sadar diri mbak mah Rey kali mbak itu bukan apa-apa apalagi mbak juga calon janda dengan dua anak" jawabku sambil mendudukkan diri disebelah mama yang memandangku dengan mata bertanya-tanya.
"ada apa si ini Rey? kok abis dari depan kaya pada bahas sesuatu yang serius" tanya mama.
"gapapa ma, ini loh di Rey. nanyain gimana itu karna umi Hamidah sepertinya sangat ingin Diah menjadi menantunya ma. tapi kan mama tau sendiri kalo bahkan proses perceraian aku aja belum selesai, bahkan sekarang gatau kabar dari Raihan itu bagaimana" jawabku menatap mama yang terlihat menganggukan kepala.
"iyaa betul apa kata mbakmu Rey, mama juga setuju. biar gimana pun mbakmu masih seorang istri, jadi rasanya ngga pantas membicarakan masalah jodoh lagi. terlebih sudah ada Nayla dan juga Syifa yang pastinya nanti Nayla akan bertanya-tanya soal ayahnya dan hubungan mamanya dengan Hamid" kata mama yang membuat Rey pun terdiam.
"iyaaa Rey tau ma, tapi kan mama tau sebaik apa umi Hamidah sama Abi Hasyim. Rey yakin beliau bisa menyayangi Nayla dan juga Syifa seperti cucu kandungnya sendiri melebihi dari Oma nya dari pihak ayahnya, Rey juga pengen mbak Diah bahagia ma. lagian Rey lihat, mas Hamid memang menyukai mbak Diah kok" jawab Rey membuatku membulatkan mata.
##
POV outhor.
sementara Hamid dan juga umi Hamidah sudah sampai dikediaman mereka yang berada ditengah-tengah pondok pesantren, sebagai seorang pemilik pondok pesantren Abi Hasyim memang banyak disegani oleh warga sekitar. apalagi Gus Hamid yang banyak disukai oleh gadis-gadis diwilayah pesantren ataupun dipondok putri.
__ADS_1
"Hamid, kapan kamu mau mengatakan yang sejujurnya pada Diah? apa kamu ngga khawatir didahului orang lagi?" tanya umi Hamidah pada anak lelakinya.
"tentu saja khawatir umi. tapi bagaimana, bahkan urusan perceraian Diah dengan suaminya belum selesai. Hamid bisa apa umi?" jawab Hamid membuat umi Hamidah menghela nafas.
"lantas bagiamana menurut kamu yang terbaik Hamid?" tanya umi Hamidah menatap sang anak.
"ntahlah umi. biarkan seperti ini, lagian Hamid yakin jika Diah bisa menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan terhormat dengan atau tanpa seorang suami" jawab Hamid membuat umi Hamidah berdecak kesal.
"sudah lah umi, ngga perlu terlalu dipaksakan seperti itu. lagi pula benar apa yang dikatakan Hamid, Diah itu masih dalam proses perceraian ngga baik kita membicarakan hal seperti itu. terkesan menjodohkan istri orang dengan anak kita sendiri tau umi, emang umi mau anak kita disebut pebinor?" kata Abi Hasyim yang mendekati anak dan istrinya setelah berkutat dengan tanaman miliknya.
"tapi Abi. Abi kan tau sendiri anak kita sudah sangat lama memendam perasaan pada Diah, bahkan sejak keduanya masih kecil. dan lagi umi juga sangat berharap jika Diah menjadi menantu kita Abi" jawab umi Hamidah dengan wajah dibuat sekelas mungkin membuat ayah dan anak itu tertawa kecil.
"umi, suruh saja Hamid meminta pada sang pencipta disepertiga malam. bukankah itu hal yang paling kuat, kenapa kita harus memaksa kehendak umi. nanti jika Allah murka malah Hamid gaakan dipersatukan sama Diah" jawab Abi Hasyim membuat umi Hamidah membelalakan mata.
"Abi, kok Abi ngomongnya gitu sih Abi. ah gaasik" jawab umi Hamidah berlalu menjauh dari kedua ayah dan anak yang menggelengkan kepala melihat tingkah umi Hamidah.
"biarkan saja umi kamu itu Hamid. sepertinya dia sangat sudah tidak sabar untuk meminang Diah untukmu" kata Abi Hasyim membuat Hamid tertawa kecil.
__ADS_1
bersambung...