
aku pun mendongak menatap mas Hamid yang sedikit terlihat gugup.
"bicara apa mas?" tanyaku yang masih penasaran.
"bisakah nanti kita bicarakan, sebentar lagi Rizal turun dan kita akan makan diluar kantor" kata mas Hamid membuatku menganggukan kepala dengan ragu.
"baiklah kalo begitu biarkan aku mengambil tas ku duku diruangan, mas Hamid bisa kan tunggu sebentar" tanyaku dengan hati-hati.
aku pun berlalu dari hadapan mas Hamid setelah dia menganggukan kepala, setelah selesai mengambil tas aku pun kembali menemui mas Hamid yang ternyata sudah ada Rizal disebelahnya.
"sudah siap? yuk, jalan" kata mas Rizal yang langsung menggandeng lenganku, mas Hamid pun memelotokan mata membuat mas Rizal tertawa kecil sementara aku menatap bingung kearah keduanya.
"hehe sorry sorry, yuk yuk jalan yuk. muka Lo serem banget bos" kata mas Rizal berbisik pada mas Hamid diakhir kata. aku pun menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
kami pun melangkah kan kaki keluar dari kantor, untung saja kantor dalam kondisi sepi karna seluruh pegawai sedang istirahat makan siang jadi tak ada yang melihat aku keluar bersama bos besar mereka.
"kita mau makan siang dimana ya mas?" tanyaku pada mas Hamid.
"dicafe, ngga jauh dari kantor ini kok" jawab mas Hamid sambil memasuki mobil, aku pun duduk dibagian belakang mobil mas Hamid sementara mas Rizal duduk dikursi kemudi dan mas Hamid disebelahnya.
"jangan sampai jam makan siang habis ya mas, maaf tapi kerjaan ku lagi agak banyak" jawabku dengan jujur.
"iyaa kamu tenang aja si Diah, lagian kan kamu keluarnya sama yang punya perusahaan itu. ngga mungkin ada yang berani macam-macam sama kamu" kata Rizal yang mendapat cubitan dari mas Hamid.
"dih apaan si mid, sakit kan" katanya mengelus tangannya yang dicubit mas Hamid.
"makanya kalo ngomong itu difilter dikit" jawab mas Hamid yang merasa kesal dengan ulah mas Rizal.
"yaa maaf kali mid, lagian kan gue ngomong bener loh mid" kata Rizal yang masih setia membuat mas Hamid kesal.
tak ada lagi percakapan diantara kamu, suasana didalam mobil terasa hening hingga kami sampai dihalaman parkir sebuah cafe yang tampak ramai pengunjung.
"ayok, udah sampe nih" kata Rizal membuatku dan juga mas Hamid bergegas turun setelah pintu mobil dibuka kuncinya.
kami bertiga pun masuk kedalam cafe tersebut, membuat perhatian para pengunjung dan juga pelayan pun tertuju pada kami.
"jangan heran ya di, dimana pun kami berada pasti akan dapat tatapan kaya gini kalo dekat sama Hamid" kata Rizal yang mendapat sikutan dari mas Hamid, aku pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Rizal.
__ADS_1
kami pun menempati salah satu kursi kosong yang ada dibagian dalam cafe itu.
tak lama pelayan pun datang menghampiri meja kami, mas Hamid pun memesankan makanan untuk kami.
"bagaimana proses perceraian kamu Diah?" tanya mas Hamid membuatku tersentak dari lamunan.
"yaa ampun to the point si Lo mid, ngga ada basa basinya sama sekali" kata Rizal membuat mas Hamid mendengus.
"emm berjalan lancar kok mas, sebentar lagi ketuk palu. sekali sidang lagi" jawabku dengan tersenyum. mas Hamid pun menganggukan kepala sebagai respon.
"kelanjutan kedepannya kamu mau gimana di? apa udah ada orang yang bisa menggantikan calon mantan suami kamu itu?" tanya mas Hamid membuatku menyeritkan dahi.
"maaf mas, maksud mas Hamid gimana ya?" tanyaku yang tak mengerti maksud perkataan mas Hamid.
"yaa maksud ku, apa sudah ada lelaki lain yang akan menggantikan mantan suami kamu?" kata mas Hamid memperjelas pertanyaannya.
"maaf mas, kok mas Hamid nanyanya kaya gitu. jelas saja belum mas, mas kan tau sendiri kalo aku masih proses perceraian buat resmi bercerai" jawabku dengan sedikit sewot.
"emm mas di, aku cuma bercanda" jawabnya dengan wajah merasa bersalah, Rizal pun terkekeh melihat wajah mas Hamid.
"lagian ya mas Hamid, mas Hamid kan tau sendiri kalo setelah perceraian Diah harus melewati masa Iddah. masa iya Diah harus cepat mencari pengganti mas lukman, ngga mungkin mas. emang Diah perempuan apaan" jawabku yang kesal dengan pertanyaan mas Hamid, ku lihat mas Hamid menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"maaf Diah, aku cuma ngga mau keduluan orang lain lagi" jawabnya membuatku membulatkan mata.
"ma-maksud mas Hamid?" tanyaku.
belum sempat mas Hamid menjawab, makanan pesanan kami pun datang. akhirnya kami pun menyudahi percakapan kami dan menghabiskan makanan tersebut.
"Alhamdulillah kenyang juga" kata Rizal mengelus perutnya.
"maaf mas bisa kita lanjutkan pembicaraan kita tadi" kataku melirik mas Hamid yang sudah menghabiskan makannya.
"baiklah, maaf ya di. sebetulnya, sudah lama aku mencintai kamu. bahkan sejak kita masih kecil dan tumbuh bersama, selama ini aku mencari kamu bersama Rizal. namun, kami sama sekali ngga bisa menemukan kamu. saat kami SD, aku bisa menemukan kamu tapi ternyata itu hanya sesaat karja setelah aku lulus sma aku harus meneruskan pendidikan ku diluar negri." kata mas Hamid membuatku terperangah.
"ta-tapi mas,,,,," aku yang gugup pun tak bisa berbicara apapun dihadapan mas Hamid.
"aku akan menunggu kamu Diah, aku juga akan langsung menghitbah kami saat kamu sudah selesai masa Iddah mu nanti. itu pun jika kamu bersedia" kata mas Hamid semakin membuat mataku membola.
__ADS_1
"tapi mas, mas Hamid tau sendiri jika aku calon seorang janda beranak dua. sekarang yang terpenting bukan lagi soal hati untukku mas, tali soal siapa yang bisa menerima kedua anakku" jawabku menundukkan kepala menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut mas Hamid.
"aku akan menerima dan menyayangi anak kamu di, kamu ngga usah khawatir. lagian umi dan juga Abi pasti setuju dengan kamu menjadi menantunya" jawab mas Hamid disambut tepuk tangan oleh Rizal.
"akhirnya sahabat gue ini bisa juga mengeluarkan isi hatinya, tapi kayanya gue jadi nyamuk ya disini. gue pindah aja kali ya?" kata Rizal yang sudah siap berdiri namun ditahan oleh mas Hamid.
"jangan zal, Lo disini aja. ngga enak dilihat orang kalo gue cuma berduaan sama Diah disini, udah gapapa Lo sesekali jadi nyamuk. toh gue sama Diah nggak akan sering ketemu seperti ini" kata mas Hamid yang juga aku angguki.
"yaa yaa oke lah, buat Lo berdua mah terserah Lo lah. yang penting bonus gue nambah, oke?" kata Rizal pada mas Hamid yang berdecak kesal.
"jadi gimana Diah? kalo kamu menolak aku ga maksa kok Diah" kata mas Hamid.
"maaf ya mas, Diah harus bicarakan dulu sama mama sama adek-adek Diah juga. Diah juga harus menanyakan pada Nayla, Diah ngga bisa mengambil keputusan sendiri saat ini. dan, tolong jangan bicarakan ini disaat Diah masih dalam masa Iddah. Diah janji nanti setalah Diah selesai masa Iddah, Diah akan menjawab pertanyaan mas Hamid" jawabku yang langsung disetujui oleh mas Hamid.
"baiklah kalo begitu, aku akan menunggu waktu itu. terimakasih ya sudah memberikan aku kesempatan" kata mas Hamid membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"kayanya gue perlu bilang kiayi nih, kalo anaknya sebentar lagi mau kawin" kata Rizal sambil tertawa meledek mas Hamid.
"apaan sih, Diah aja belum Nerima gue" jawab mas Hamid sambil melirikku.
"yaa tapi kan hampir, iyaa ngga di?" kata Rizal yang aku jawab hanya dengan senyum.
"ah, Lo mah kalo gue yang ngajak ngomong pasti cuma dijawab senyum doang. gue tau kok senyum Lo tuh candu, tapi cuma buat Hamid" kata Rizal yang langsung terkekeh karna perkataannya sendiri.
"ngga perlu didengerin Diah, maklum jomblo abadi. jadinya begitu deh" kata mas Hamid yang berbalik meledek Rizal.
"emm mas, bisa kembali kekantor sekarang? maaf ya mas" kataku pada mas Hamid yang langsung melihat pergelangan tangannya.
"oh iyaa boleh, kamu mau bawakan apa untuk teman diruanganmu. pesan lah sekalian" kata mas Hamid membuatku merasa tak enak.
"beneran gapapa mas?" tanyaku memastikan.
"iyaa" jawabnya tersenyum, aku pun memesan beberapa makanan kecil yang bisa dibuat cemilan saat bekerja nanti dan juga beberapa minumannya sebagai buah tangan untuk beberapa teman satu ruanganku.
setelah semua pesanku datang, Rizal dengan sigap membawakan semuanya. kami pun berlalu meninggalkan cafe menuju mobil yang akan kembali ke area kantor.
bersambung
__ADS_1