Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 108.


__ADS_3

keesokan harinya. semua sudah berjalan seperti biasa, hanya saja masih terasa rasa kehilangan sosok lelaki yang selama ini menjadi kepala keluarga dirumah ini. begitupun kembalinya aku dengan status yang berbeda dari sebelumnya, meskipun belum resmi dan masih dalam proses pengajuan.


"bagiamana Raihan Rey?" tanyaku pada Rey yang bersiap mulai kembali bekerja pada hari ini.


"nanti jam istirahat aku coba hubungi lagi ya mbak, semoga dia sudah pulang." jawab Rey membuatku menganggukan kepala.


"iyaa Rey, semoga dia sudah sampai disini. mbak udah ga sabar buat pisah sama mas Lukman" jawabku dengan pelan.


"sabar mbak, lagian kayanya dia lagi kena karma akibat perbuatannya" jawab Rey yang langsung aku benarkan.


"iyaa Rey, semalem juga dia menelpon mbak sewaktu mbak udah kekamar." jawabku.


"kenapa lagi dia nelpon mbak?" tanya Rey dengan dahi menyerit.


"dia lagi diklinik, dan minta mbak kesana" jawabku dengan kesal mengingat permintaan mas Lukman tadi malam.


"oohh terus mbak akan kesana?" tanya Rey membuatku menggelengkan kepala.


"nggalah, ngapain aku kesana. biarin aja dia diurus sama keluarganya, lagian dia nyuruh aku kesana juga buat ngurusin biaya perawatan mas Lukman. males banget, ngasih duit ngga nyuruh bayarin" jawabku dengan nada kesal.


"apa?! mas Lukman bilang gitu mbak?" tanya Rey.


"iyaaa, makanya mbak rada kesal sama mas Lukman. makanya mbak ngga keluar kamar lagi" jawabku dengan menundukkan kepala.


"memang gatau malu ya keluarga mas Lukman itu, udah dikasih hati malah minta jantung. kayanya mereka sengaja mau manfaatin mbak deh, bukan cuma karna mbak Diah istrinya mas Lukman tapi memang karna mereka tau keluarga mbak disini bakalan ngelakuin apa aja buat mbak. iya ngga si mbak?" jawab Rey.


"hust, jangan suudzan begitu Rey ngga baik. siapa tau mereka memang sedang butuh, lagian Lukman kan memang masih suami mbak mu" kata mama yang tiba saja memberikan nasihat.


"tapi ini udah keterlaluan ma, kecuali kalo memang mas lukman itu memberikan mbak Diah yang tuh gapapa dia minta tapi ini kan dia bahkan ngga ngasih mbak Diah uang sama sekali ma. iyakan mbak?" tanya Rey yang langsung aku angguki.


"tapi ATM gaji Lukman kan sama mbak mu Rey, memang ATM itu ngga ada isinya sama sekali di?" tanya mama padaku yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.


"ngga ada ma, kalo ada ngapain aku kesel. aku bisa pake yang itu, tapi nyatanya ngga ada sama sekali ma makanya aku kesel" jawabku menatap mama yang menganggukan kepala.


"gimana kalo kita datang kesana buat jenguk?" kata mama membuatku dan juga Rey seketika membelalakan mata.


"jenguk ma? mama yakin mau jenguk mas Lukman? disana pasti ada ibu mertua mbak Diah dan juga kakaknya itu, nanti yang ada kalian malah dikeroyok dan dipermalukan disana. lagian ya mbak, emang mas Lukman ngga punya BPJS apa mbak?" tanya Rey yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"ngga lah Rey, kalo punya mbak sama anak-anak juga pasti punya. kan kita satu KK, nyatanya kemaren aja mbak lahiran operasi secar pakai biaya sendiri kan" kataku yang langsung diangguki oleh mama.


"aahh Rey punya ide mbak" kata Rey membuat dahiku menyerit heran.


"ide apa?" tanyaku penasaran.


"mbak, gimana kalo mbak setuju buat bayarin biaya perawatan mas Lukman tapi dengan syarat"


"syarat apa?" tanyaku bingung.


"dengan syarat, mas Lukman harus menandatangani surat persetujuan perceraian dan juga tentang hak asuh anak yang akan diberikan pada mbak. gimana menurut mbak?" kata Rey membuatku dan mama saling berpandangan.


"kenapa harus pake surat perjanjian begitu Rey? bukannya kalo anak dibawah 12 tahun memang gak asuhnya jatuh pada ibu kandungnya?" tanya mama yang mewakiliku.


"yaa iyaa ma, tapi kan apa salahnya buat jaga-jaga ma. mama tau sendiri keluarga mereka pasti bakalan ngelakuin segala cara buat mendapatkan apa yang mereka ma. tapi ini si cuma saran aku, terserah mbak Diah yang mau ngejalinnya gimana" kata Rey membuatku terdiam.


"apalagi mbak Diah juga ngga punya penghasilan, andai anak-anak sama mbak pasti pengadilan pun akan mempertimbangkan itu loh mbak. ini kesempatan kita loh mbak untuk mendapatkan kata cerai itu dengan mudah, kalo mbak yakin mau bercerai dari mas Lukman" lanjut Rey yang juga aku benarkan dalam hati.


"ngga ada cara lain Rey selain itu, kok kesannya mbakmu membeli kebahagiaanya sendiri ya. yaa gimana ya, masa hanya karna mau lepas dari suami dan keluarganya yang toxic kita harus mengeluarkan uang dulu. aneh ngga sih Rey" kata mama membuat dahi Rey menyerit bingung.


"coba mbak pikirin dulu, kalo mbak udah yakin baru kita hubungin Rey dan kita akan langsung ketempat dimana mas Lukman dirawat. nanti siang kabarin aku, sekarang aku berangkat kerja dulu mbak, ma" kata Rey berpamitan padaku dan juga mama, Rey puh mencium tangan mama dan juga aku setelahnya ia pun pergi menggunakan motor kesayangannya itu.


"menurut kamu gimana di sama perkataan Rey tadi?" tanya mama setelah Rey menghilang dari pandangan.


"gatau ma, Diah bingung. menurut mama sendiri gimana?" tanyaku pada mama yang menggeleng lemah. aku pun menghela nafas kasar.


"tapi menurut mama, ada bener nya juga apa yang di bilang sama Rey di. tapi kembali lagi ke kamu, kalo kamu udah yakin mau pisah sama Lukman ya cepet lakuin apa yang Rey sarankan. lagi pula, memang bener deh kayanya kamu harus lakuin itu biar Lukman ngga bisa ngambil Nayla dan juga Syifa dari kamu, emang kamu mau kehilangan Syifa dan juga Nayla?" tanya mama yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.


"yaa ngga lah ma, ya kali aku mau kehilangan Nayla sama Syifa. aku pikirin dulu deh ma" jawabku memberikan Syifa kedalam gendongan mama.


"eehh mau kemana mau, kok Syifa dikasihin ke mama?" tanya mama padaku.


"mau kekamar mandi bentar ma" jawabku.


"jangan lama-lama, mama mau nungguin tukang sayur yang lewat" kata mama yang langsung aku angguki.


aku puh berjalan kearah kamar mandi, setelah selesai membuang air kecil aku kembali keruang tamu. terlihat mama sedang manidurkan Syifa disofa bed.

__ADS_1


"mama taruh disini dulu ya, itu ada tukang sayur didepan. mama males kalo harus keujung gang" kata mama yang langsung aku angguki.


"emang mau masak apa si ma?" kataku menyusul mama didepan pintu rumah.


"gatau, seliatnya aja. gapapa kan?" tanya mama padaku.


"gapapa kok ma, kalo ada aku mau daun katuk ya ma. kayanya Asi sedikit" kataku dengan pelan.


"pasti gara-gara kamu banyak pikiran, yaudah sana masuk biar mama belanja dulu" kata mama meninggalkan aku sendiri didepan pintu.


tak sampai lima belas menit mama pun kembali masuk kedalam rumah.


"kok cepet banget ma?" tanyaku pada mama yang mendudukan diri didepan ku.


"yaa kalo, ngapain lama-lama. lagian mama males dengerin ibu-ibu pada gosip" kata mama.


"pasti gosipin aku yang pulang kerumah ini ya ma? sama karna ribut-ribut terus?" tanyaku dengan sendu.


"udah biarin aja ngga usah diurusini, mereka kan cuma tau dari yang mereka liat aja gatau gimana aslinya. iyakan?" kata mama yang langsung aku benarkan.


"iyaa si ma, tapi ngga enak aja. jadi kayanya aku jadi bahan gosip, ngga enak sama mama. karna aku mama jadi bahan ghibah tetangga" kataku pada mama yang hanya merespon dengan senyum.


"bukannya kita udah biasa dijadikan bahan gosip?" kata mama membuatku menatap wanita yang telah melahirkan ku itu.


"iyaa tapikan,,,,," jawabku terputus dengan apa yang mama katakan.


"udahlah di, biarin aja mereka mau ngomong apa. ngga usah didengerin, kan kamu yang menjalani. bukan mereka, lagian apa yang kamu alami bukan kehendak kamu. semuanya mungkin sudah digariskan" jawab mama membuatku terharu.


"iyaa ma, makasih ya ma udah menyemangati aku" kataku dengan tersenyum.


"iyaaa, mending kamu pikirin apa yang dibilang sama Rey tadi. mumpung ada kesempatan, kesempatan ngga datang dua kali loh di" kata mama yang juga aku ajarkan.


"iyaa ma, kayanya aku bakalan menerima saran dari Rey. tapi kalo mas Lukman nanti menolak gimana ma?" tanyaku pada mama.


"yaa kalo Lukman menolak yaudah gausah dibayarin lah, kita liatin aja siapa lagi yang bakalan bantu dia kalo bukan dari kita. memangnya keluarga mau membantu dia, mama ngga yakin si" kata mama yang juga aku benarkan.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2