
"iyaa ma aku juga mikirnya begitu, makanya aku sengaja nyimpen uang yang untuk Rey kedalam rekeningku yang belum lama ini aku buat sama Rey biar ngga ketauan sama mas Lukman" jawabku memandang kearah kedua anakku yang masih tetap tertidur dengan lelap.
"iyaalah bagus itu, kalo Lukman bisa menggunakan kelicikannya untuk membodoh-bodohin kamu. ya kamu harus bisa bales kelicikan Lukman dengan kecerdikan kamu, kan impas. iyakan?" jawab mama membuatku terkekeh sambil menganggukan kepala.
"iyaa bener banget ma, itu juga yang ada dipikiran aku. kok pikiran kita sama si ma" kataku pada mama yang juga sama terkekeh.
"andai kamu dari dulu seperti ini di, mama yakin kamu ngga akan hidup terlantar dengan anak-anak kamu. huh kamu pintar dalam hal akademik tapi nyatanya kamu terlalu bodoh dalam memilih pasangan" jawab mama membuatku mengerucutkan bibir.
"ya udah si ma, lagian kan kitanya hanya bisa bersabar aja ma. nanti juga mereka mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan" jawabku dengan nada santai.
"assalamualaikum" terdengar suara salam dari depan rumah. ternyata Rey yang sudah pulang membawa beberapa bungkus ketoprak untuk kami.
"kok kamu belinya banyak banget Rey?" tanyaku pada Rey yang hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"iyaa abis Rey juga pengin mbak, mau beli dua ya ngga enak. masa aku sama bapak doang, kan ada mbak sama mama juga" jawabnya membuat mama tersenyum senang.
"Alhamdulillah pengertian juga punya anak" jawab mama terkekeh kecil.
"Yee emang selama ini ngga pengertian apa aku" jawabnya dengan wajah memberengut kesal.
"udah udah, ambil piring sama sendok dulu sama di. biar makan disini bareng-bareng" kata mama menyuruhku mengambil beberapa piring dan juga sendok sebagai alas memakan ketoprak.
"ini ma piringnya" kataku memberikan satu piring untuk mama membuka ketoprak milik bapak.
"iyaa, makasih" jawab mama, aku puh membuka ketoprak jatah milikku.
"bagus kamu ya, suami sedang sakit dirumah sakit malah enak-enakan makan dirumah orangtuamu." terdengar suara bentakan tepat didepan pintu rumah ketika aku tengah membuka ketoprak yang diikat dengan karet.
"memangnya kenapa? rumah orangtuaku kok ini, bukan rumah ibu kan?" jawabku santai kembali melanjutkan membuka ketoprak setelah melirik sedikit kearah ibu mertua yang datang bersama dengan kak Yuni.
__ADS_1
"heh, kalo dikasih tau sama orangtua itu yang bener jangan kurang ajar. apa kaya gini didikan kalian sebagai orangtuanya, sampai anak yang sudah menikah jadi pembangkang pada mertua dan juga suaminya?" kata ibu mertua menatap bapak dan juga mama yang terlihat sangat syok mendengar perkataannya.
"jaga bicara ibu dan jaga batasan ibu jika bertamu kerumah orang, jangan bicara yang tidak-tidak tentang orangtuaku" kata Rey dengan nada tegas menatap tajam kedua orang yang berdiri tak jauh darinya.
"apa yang aku katakan adalah kebenaran, kamu anak baru kemarin sore aja sudah sok berani menentang kami yang memang jauh diatas mu. lantas apa jika bukan atas dasar didikan orangtua mu?" jawab kak Yuni membuat Rey mengeretakan giginya.
"apa anda fikir, anda sudah menjadi paling baik dimuka bumi ini hingga bisa berkata yang tidak-tidak tentang orangtua ku? dan anda Bu, anda adalah seorang ibu yang harusnya memberikan contoh untuk anak anda. bukankah saat ini justru anda yang sedang mengajari anak anda berkelakuan buruk dengan datang kerumah orang dengan mencaci maki tanpa tau sebabnya?" jawab Rey menatap ibu mertuaku yang terlihat diam mendengar perkataan Rey.
"hey, ini bukan soal ibuku. ini soal kakakmu yang sudah kurang ajar sebagai istri, menantu dan juga ipar!!" bentak kak Yuni dengan mata yang melotot.
"kurang ajar apa? apa mbak Diah ikut campur urusan rumah tanggamu? apa mbak Diah mengusik hidupmu? tidak bukan! lantas apa? lagian, ada urusan apa kalian datang kerumah ini dengan berteriak teriak saat kami tengah akan menikmati makanan kami?" tanya Rey dengan sangat tegas.
"kami kesini mau mengambil uang yang Lukman berikan pada mbakmu, untuk membayar biaya rumah sakit Lukman. mana sini" kata ibu mertuaku dengan wajah yang teramat sinis.
"kasih mbak!" kaya Rey mengeluarkan perintah, aku pun mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah untuk ku berikan pada mereka dari dalam dompetku.
"memang cuma segitu, memangnya kalian mau berapa?" tanyaku dengan nada sinis.
"heh, di gaji Lukman itu besar ya ngga hanya segini. segini mana cukup untuk membayar biaya rumah sakitnya" jawab kak Yuni membuatku memutar bola mata malas.
"lantas mbak fikir dengan gaji mas Lukman yang banyak uangnya akan tetap utuh, begitu? sadar mbak, gaji mas Lukman itu hanya untuk menutupi sebagian hutangnya. bukan untuk menjadi tabungan, jika segitu sisanya ya wajar aja karena sudah kepakai untuk membeli kebutuhan pokok kami" jawabku menatap kak Yuni yang terlihat menganga mendengar perkataanku.
"tapi uang segini mana cukup untuk membayar biaya rumah sakit Lukman, jangan Ngada-ngada deh di" jawabnya dengan nada sewot.
"iihh mbak, siapa yang ngada-ngada si mbak. memang sebegitu sisanya, lagian selama ini kan kalian sudah dibantu sama mas Lukman. kenapa sekarang bukan kalian yang membantu mas Lukman, harusnya kalian dong pikirin gimana caranya mengeluarkan mas Lukman dari rumah sakit. kenapa nanya sama aku, aku aja ngga kerja ngga punya penghasilan." jawabku dengan nada yang ku buat sesantai mungkin.
"kamu kan bisa pinjam dulu sama adik kamu di, iyakan Rey kamu mau kan minjamin uang buat biaya rumah sakit Lukman. dia kakak iparmu loh" kata ibu mertua pada Rey yang hanya menanggapinya acuh.
"minjam? sama aku, lagi? maaf ya Bu, aku punya koperasi yang bisa terus-terusan dipinjami uang. lagian yang kemarin aja belum lunas, masa mau minjam lagi, emang ibu fikir aku punya pohon uang apa" jawab Rey dengan nada ketus.
__ADS_1
"terus gimana dong ini dengan biaya rumah sakit Lukman. besan, kamu pasti punya simpanan banyak kan. kamu pasti mau kan bantu buat biayain rumah sakit Lukman, biar gimana pun Lukman masih suami dari Diah loh menantu besan" kata ibu mertua seolah mengemis pada mama.
"Bu, anda pikir saya akan mengasihani anda setelah apa yang anda lakukan pada putri saya? tidak akan! suruh saja keluarga dari selingkuhan Lukman itu yang membayar biaya rumah sakit mereka, bukankah mereka calon besan baru ibu" jawab mama membuat kedua orang tersebut membelalakan mata seraya berpandangan.
"ti-tidak, mana mungkin Lukman selingkuh besan. mungkin itu hanya mainan saja, saya yakin Lukman cinta pada Diah. dia ngga mungkin menghindari diah, saya yakin besan" jawab ibu mertuaku membuat mama terkekeh kecil.
"besan, besan. selingkuh sudah bertemu dan sampai jalan bareng anda bilang hanya mainan? lantas benerannya yang bagaimana? sampai menikah dan mempunyai anak, begitu? lucu sekali anda ini, kalo anak anda sudah terlihat salah ya sudah jangan dibela dong. salah ya tetap aja salah, mana ada orang selingkuh dibilang hanya mainan." jawab mama dengan sangat lancar menertawakan perkataan ibu mertuaku yang terlihat sangat memalukan.
"Bu, mainan aja sudah ditebus dengan kecelakaan bagaimana jika selingkuh sampai menikah diam-diam pasti langsung koid kali ya Bu" jawab Rey membuatku menahan tawa seraya membelalakan mata mendengar perkataan Rey.
"Rey, jaga mulutmu. kamu orang berpendidikan kok perkataanmu tidak mencerminkan jika kamu berpendidikan, apa di sekolahmu dulu tidak diajarkan etika pada orang yang lebih tua" jawab kak Yuni membuatku kelepasanan tertawa dengan kencang membuat beberapa pasang mata menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"upss, sorry sorry. kak, kak kamu ini lucu. kamu bicara soal etika, tapi kamu sendiri datang kerumah ini dengan tidak membawa etika apalagi kesopanan. hei, lantas siapa yang harusnya belajar etika. eehh jangan kan belajar etika sekolah aja ngga, uppsss" kataku langsung menutup mulut, sementara kak Yuni tampak membelalakan mata mendengar perkataanku.
"sudahlah Bu, dan anda. lebih baik pulang, toh uangnya sudah diberikan kan tidak ada lagi yang harus diberikan dirumah ini. iyakan?" kata Rey kembali berbicara pada kedua orang tersebut.
"tapi Rey, uang segini ngga akan cukup untuk biaya perawatan Lukman. mana hanya tiga ratus ribu, cukup sampai mana" jawab ibu mertuaku dengan wajah dibuat sekelas mungkin.
"bukan urusan kami!!" jawabku aku, Rey dan juga mama serempak membuat kedua orang tersebut langsung meninggalkan rumah dengan menghentakkan kaki dengan kencang.
"huh, dasar parasit. benar-benar deh keluarga suamimu itu mbak, ajaib banget ketemu dimana sih mbak. mbak maish pegang uang gak? kan udah dikasihin semua tadi sama mereka" tanya Rey pada ku yang hanya aku jawab dengan senyuman.
"Yee ditanya malah cuma senyum" ....
bersambung......
----------------------------------------------------------------
assalamualaikum guys, mohon maaf ya kalo jarang update. jujur outhor lagi down banget ya baca komenan beberapa orang yang rada gimana gitu ya, tolong ya buat kalian yang ngerasa bosen atau gimana dengan cerita atau alurnya bisa diskip tanpa komen yang menyakiti hati penulisnya. karna apa? karna menulis juga butuh perasaan yang sangat stabil, andai kalian ingin mengeritik sampaikan dengan baik dan lebih bijak tanpa membuat mental penulisnya down. saya sudah tidak menggubris selama dua bulan ini, tapi yang saya heran yang komen menyakiti hati itu pun masih tetap setia membaca. terimakasih loh, itu artinya bukan saya yang salah dalam kepenulisan tapi kalian yang kurang sabar menuju endingnya. wassalamu'alaikum🙏
__ADS_1