
matahari pun mulai terik, hari sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang. aku memutuskan untuk segera menelpon Rey dan membuat keputusan untuk melakukan apa yang Rey sarankan.
"assalamualaikum Rey" kataku ketika telpon sudah mulai diangkat oleh Rey.
"waalaikumsalam, bagiamana mbak?" tanya Rey disebrang telpon.
"iyaa Rey, mbak setuju apa yang kamu rencanakan. tapi menurutmu, kapan mbak kesana?" tanyaku pada Rey.
"nanti sore aja mbak, biar Rey temani. lebih baik nanti pakai uang Rey aja biar mereka ngga tau kalo selama ini mbak juga punya tabungan sebenarnya" jawab Rey yang juga aku benarkan.
"yasudah kalo begitu Rey, nanti sore mbak tunggu ya" jawabku.
"iyaa mbak, kalo gitu Rey lanjutin kerjaan dulu bentar lagi waktunya makan siang" kata Rey membuatku tersenyum dan menganggukan kepala walaupun dia tak melihatnya.
"iyaa Rey, assalamualaikum" salam ku langsung mematikan telpon tanpa mendengar jawaban dari Rey.
"gimana di?" tanya mama yang menghampiriku.
"mama, aku kira mama tidur siang" kataku sedikit kaget dengan kehadiran mama.
"nggalah, mana bisa mama tidur siang di" kata mama mendudukan diri disebelahku.
"emang kenapa ma, tidur aja. pasti mam capek" jawabku merebahkan diri disebalah Syifa.
"mama udah biasa ngga tidur siang kan selama bapak sakit, jadi rasanya ngga bisa tidur aja" jawab mama membuatku menganggukan kepala.
"oiyaa gimana tadi apa kata Rey? kamu udah kasih tau Rey kan kalo kamu mau ngikutin idenya?" tanya mama.
"iyaa udah aku kasih tau kok ma, yaa semoga aja setelah ini mas Lukman beneran udah ga mengusik aku lagi. aku capek ma, masa diusik dan urusannya selalu soal uang lagi uang lagi. padahal mas Lukman sendiri ga pernah memberikan aku uang" jawabku dengan sedikit kesal mengingat tingkah keluarga mas Lukman.
"itu lah yang mama heran di, kok yang dipikiran mereka itu selalu uang uang dan juga uang. mama heran, memang selama ini Lukman ga pernah punya tabungan atau apa gitu kali ya. masa setiap gajian langsung abis begitu aja, dan kamu juga cuma dijatah harian. mama ngerasa aneh aja, kayanya hasil kerjanya Lukman itu walaupun gede tapi sia-sia gitu loh. ngga ada hasilnya buat anak istri" kata mama yang juga aku benarkan.
__ADS_1
"yaa aku juga gatau ma, selama ini aku kadang gatau berapa gaji mas Lukman. terakhir yang aku tau gaji mas Lukman itu mencapai lima juta, itu pun waktu Nayla masih usia satu tahun kayanya. setelah itu ntah berapa aku pun gatau pasti ma" jawabku membuat mama menyeritkan kening.
"apa kamu selama ini ngga ada rasa curiga uang itu pergi kemana di? atau jangan-jangan Lukman suka jajan diluar" kata mama membuatku kembali terbelalak.
"ngga mungkin lah ma mas Lukman jajan diluar, kalo menurut aku si memang habis untuk keluarga. mama tau sendiri gimana ibu mertua dan juga kakak nya mas Lukman, belum lagi abangnya yang sekarang ntah kemana. mereka sudah terlalu lama hidup dienakin sama mas Lukman ma, sedari dulu mas Lukman masih sendiri semuanya ditanggung sama mas Lukman jadi sampai mas Lukman menikah pun semua masih mas Lukman yang nangung. gimana mas Lukman bisa punya tabungan, iyakan? apalagi kalo ingat kak Yuni juga masih merecok mas Lukman, yaa aku ga heran si. justru yang aku heran, kenapa kak Yani masih merecok keuangan rumah tangga kami sementara dia sendiri sudah punya uang yang cukup banyak dari suaminya" kataku panjang lebar pada mama.
"atau Lukman sebanarnya punya hutang yang kamu ngga tau di?" jawab mama lagi membuatku langsung meggeleng.
"yaa aku gatau ma, tapi kalo membantu kak Yuni membayar hutang mungkin. karna setau aku dia hobby mengambil pinjaman online gitu" jawabku membuat mama memicingkan mata.
"bantu sodaranya bisa, tapi buat anak istri kok ngga bisa. kok bisa-bisanya kamu tahan tinggal dekat mereka selama ini di, ngga ngeluh atau apa gitu. kalo mama jadi kamu pasti mama udah ninggalin laki-laki kaya gitu" jawab mama membuatku tertawa kecil.
"lah mama aja dulu juga betahkan tinggal deketan sama Mbah, padahal Mbah dulu juga suka jelek-jelekin mama ketetangga. gimana tuh" jawabku membuat mama akhirnya pun ikut tertawa.
"iyaa mbahmu dulu itu cuma mulutnya aja yang gabisa direm, tapi ngga pernah ngerecok keuangan bapakmu. ya mungkin tau kalo anaknya sendiri kurang mampu mungkin, apalagi selama ini bapakmu juga menutupi semua dari mbahmu bahkan dari kita kan?" kata mama yang juga aku angguki.
"iyaa makanya itu, aku kok sempet heran waktu kiayi Hasyim kesini dan bilang pesantren itu ada hak bapak. kalo emang bener apa selama ini Mbah gatau atau gimana si ya ma, aku jadi penasaran" jawabku yang langsung kembali duduk.
"oalaahh gitu tuh, pantesan aja. tapi kenapa selama ini bapak ngga pernah mengutak Atik itu ya ma, padahal seharusnya bapak bisa menggunakan itu buat kepentingan kita anak dan istrinya" jawabku dengan dahi menyerit
"kalo itu mama lebih gatau lagi, tapi yang jelas semuanya menjadikan pelajaran buat kita. iyakan? lagian tanpa apa yang bapak punya pun anak-anak mama masih bisa tumbuh dengan baik, ngga seperti apa yang orang-orang dulu bilang. iyakan?" jawab mama disertai senyum.
"iyaa ya ma, kalo inget dulu rasanya sakit hati banget. kok ada orang sejahat itu bilang yang ngga-ngga soal keluarga kita, kalo orangnya sekarang masih ada disini aku yakin dia pasti malu sama apa yang dia katakan dulu" jawab ku membuat mama terkekeh.
"masih ada kok orangnya, cuma mama ngga tau sekarang dimana. kontarkannya yang dulu kan udah berubah, sekarang kan udah jadi rumah yang tingkat itu. ntah sekarang mereka dimana" jawab mama dengan nada bingung.
"udah biarin lah ngga usah dipikirin, yang penting sekarang Alhamdulillah kehidupan kita udah berubah dan justru lebih baik meskipun bapak ngga ada. iyakan ma?" jawabku dijawab anggukan kepala oleh mama.
"iyaaa, mama ngga minta apapun. asal kalian kasih mama makan aja udah cukup, ngga minta yang lain lagi mama mah. kalian cukup pergunakan semua itu dengan sangat baik, agar nanti anak dan cucu kalian ngga merasakan apa yang kalian rasakan dulu" kata mama dengan tulus.
"mama jangan bilang begitu, setidaknya disana juga ada hak mama sebagai istri bapak yang menemani bapak hingga ajalnya menjemput." jawabku membuat mama tersenyum.
__ADS_1
"iyaaa, bagaimana baiknya kalian aja. mama ngga berharap banyak, yang penting anak dan cucu mama semua tercukupi" jawab mama disertai senyum tulus.
"iyaa Alhamdulillah, rencananya aku juga akan buka usahaku sendiri dengan peninggalan bapak ma. mama gapapa kan?" tanyaku pada mama yang langsung tersenyum.
"gapapa dong di, gapapa banget. mama malah seneng, tapi kamu harus tetep dirumah ini ya sama mama. mama ngga mau kamu keluar dari rumah ini, biar mama juga bisa bantu jaga anak-anak kamu disini" jawab mama yang langsung aku angguki.
"iyaa pasti lah ma, aku mau kemana lagi kalo bukan sama mama disini. lagian dengan anak-anak sama mama, aku justru lebih tenang ma" jawabku dengan senyum mengembang.
"tapi gimana kalo suatu saat suami kamu datang dan mengira semuanya ada hak dia di?" tanya mama padaku.
"tenang aja kalo itu ma, andai nanti aku buka usaha. aku akan membuat usaha itu atas nama Rey dulu, nanti setelag aku resmi bercerai dengan mas Lukman baru aku akan mengganti atas mana aku" jawabku membuat mama tersenyum.
"iyaa bener apa yang kamu bilang, ngga nyangka mama kamu sudah memikirkan semua nya dengan sangat matang" jawab mama membuatku kembali terkekeh.
"iyaa jelas ma,aku sudah banyak belajar dari semua yang terjadi. apalagi mempunyai mertua dan juga ipar yang sangat haus akan uang uang dan uang, aku udah cukup terlalu lama membodohi diri dan sekarang aku gaakan ngelakuin itu lagi" jawabku membuat mama tersenyum kecil.
"iyaa bagus kalo begitu, mama dukung apapun keputusan kamu jika itu yang terbaik buat kamu di" jawab mama.
"iyaa ma, makasih ya ma" jawabku membuat mama kembali trsnegum.
"iyaa sama-sama, tenang aja mama pasti akan selalu berada dijejeran paling belakang untuk membela kamu" kata mama membuatku terkekeh.
"orang-orang mah paling depan ma, kok ini malah paling belakang. Gianna si mama" jawabku sambil terkekeh.
"oiyaa ya paling depan" jawab mama menepuk pelan dahinya.
"tuh bangun tuh di" kata mama menunjuk Syifa yang menggeliat.
"iyaa biarin aja ma, biar nangis. udah lama udah ga denger nangisnya kayanya" kataku membuat mama kembali terkekeh.
bersambung.....
__ADS_1