Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 131.


__ADS_3

hari terus berlalu, tak terasa hari ini tepat satu bulan sudah aku bekerja diperusahaan milik mas Hamid dan tepat hari ini pula empat puluh hari kematian almarhum bapak. hari ini akan diadakan acara pengajian dengan mengundang para tetangga dan juga beberapa teman bapak, termasuk keluarga kiayi Hasyim yang diundang untuk datang keacara ini oleh Rey.


"Alhamdulillah semuanya sudah kelar tinggal nanti acara tahlilannya aja" kata mama yang baru selesai mandi kemudian duduk diruang tamu yang sudah dibersihkan untuk acara tahililan nanti malam.


"iyaaa Alhamdulillah, besek sama nasinya banyak juga ya ma. apa ngga kebanyakan ini ma?" tanya Sintia.


"insyallah ngga kok, lagian kalo emang kebanyakan nanti kan bisa dibagi kan ke orang yang membutuhkan. tapi mama yakin ini pasti yang datang akan banyak" jawab mama dengan sangat yakin.


"iyaa kalo yang Dateng banyak si alhamdulillah ma jadi nya ngga mubadzir dan kita ga tambah capek lagi bagiin keorang-orang" kata Sintia dengan terkekeh.


"Yee itu mah emang kamu nya aja yang malas" jawab mama.


"tapi kayanya mama yakin banget kalo bakalan habis sebanyak ini, tetangga kita aja kan paling hanya tiga puluh rumah ma" kataku pada mama.


"yaa tetangga kan tiga puluh, belum nanti jamaah masjid sholat isya yang mama undang terus beluk temen-teman bapak kamu belum lagi juga kalo ada temannya Rey yang pasti datang. iyakan? makanya mama yakin, lagian kalo emang sisa mama pasti nyuruh Rey sama temannya kok buat bagiin ke orang-orang yang membutuhkan" jawab mama sambil menggosok rambutnya dengan handuk.


"yaa kali, palingan teman Rey beberapa orang aja ma. kan paling ngga sampai lima belas orang" jawabku yang juga diangguki oleh Sintia.


"yeee jangan salah kamu Diah, teman Rey itu banyak loh kalo kamu mau tau. belum teman kerja, belum teman dirumahnya juga apalagi teman tongkrongannya" jawab mama seolah tak mau kalah.


"yaudah terserah mama aja, yang penting semua ini ngga mubazir nantinya" jawabku tersenyum kecil.


"ngga akan ada yang mubazir kalo kita niatkan untuk berbagi Diah" jawab mama membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.


"oiyaa ma, katanya Rey juga undang Abi Hasyim. apa mama yang minta?" tanyaku penasaran.


"iyaalah di, mama ngga enak kalo ngga ngundang mereka. nenti mereka mikirnya macam-macam lagi, apalagi kamu kan tau sendiri kalo mereka udah baik banget sama kita. bahkan mama sendiri aja sampai gatau gimana caranya harus membalas kebaikan mereka" jawab mama dengan raut wajah bingung.


"yaa gampang itu mah ma, tinggal aja nikahin mbak Diah sama mas Hamid. kan sebentar lagi ketuk palu tuh mbak Diah sama kas lukman, tinggal satu kali sidang aja juga selesai. iyakan mbak" kata Sintia membuatku dan juga mama membelalakan mata.


"hust kamu itu ngomong apa si sin, masih kecil ngomongnya kaya gitu. mending kamu pikirin aja sekolah itu gimana PKL kok surat nya ngga turun-turun, ngga jelas banget" jawab mama dengan nada kesal.

__ADS_1


"yaa mana Sintia tau lah ma, itu kan dari sekolah" jawab Sintia mengerucutkan bibirnya.


"iyaaa sekolah kamu itu kebangetan kok sin, kalo urusan duit aja harus cepet tapi gilirin butuh sesuatu dari sekolah aja leletnya mini minta ampun. apalagi ini juga buat kepentingan sekolah loh, masa lelet kaya gitu" jawab mama dengan nada kesal.


"yaa mama salahin aja lah guru sekolahannya sana, aku juga pengen kali ma cepat-cepat PKL. emang mama pikir aku ngga mau, cuma aku santai aja karna emang satu kelas belum ada yang PKL sama sekali" jawab Sintia dengan santai nya.


"apa? beluk ada yang PKL sama sekali? yang bener aja, udah kelas sebelas ngga ada yang PKL" jawabku kaget dengan perkataan Sintia.


"yaa iyaa mau gimana lagi mbak, orang sekolah belum ngeluarin surat tugas PKL nya kok" jawab Sintia.


"yaaa tapi kenapa,,,,," jawabanku terhenti karna terdengar suara salam didepan rumah.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam, yaallah bude mari masuk silahkan. maaf masih berantakan" kataku mempersilahkan tamu yang ternyata bude Desi, salah satu teman mama yang tinggal tak jauh dari rumah membawa satu buah kardus yang ntah apa isinya.


"gapapa kok di, oiyaa ini buat jamuan pengajian nanti diterima ya?" katanya menyerahkan kardus tersebut. aku pun menerimanya, kemudian membuka kardus yang ternyata isinya mie lontong dan juga tahu isi.


"masyaallah Des, makasih banyak loh ya ini. mana repot-repot bawain Snack pula" kata mama pada bude Desi.


"masyaallah tapi aku merasa merepotkan loh Des" jawab mama membuat bude Desi terkekeh.


"alaaahh kamu mah kaya sama siapa aja" jawab bude Desi masih sambil terkekeh.


"ini bude silahkan diminum" kata Sintia yang membuatkan minuman untuk bude Desi.


"Alhamdulillah makasih cah ayu, duh kalo aku punya anak lelaki tak jodohin kamu sama anak bude" kata bude Desi menatap Sintia yang mulutnya membola.


"ish bude, Sintia masih sekolah kali" jawab Sintia membuat bude Desi terkekeh.


"oiyaa Des, mana anak-anak kamu? kok ngga kamu ajak kesini?" tanya mama.

__ADS_1


"iihh ini kan pengajian untuk lelaki, mana mau anak-anakku gabung. paling nanti bapaknya aja yang kesini sehabis isya, kalo anakkua lelaki pasti aku ajak kesini lah sit" jawab bude Desi membuat mama menganggukan kepala.


"oiyaaa Diah, denger-denger kamu udah pisah sama suami kamu? kenapa?" tanya bude Desi membuatku seketika menunduk.


"alaaahh namanya rumah tangga ya kan Des, pasti banyak ujiannya. tapi ya rumah tangga Diah ya begitulah seperti yang kamu dengar dari orang-orang" jawab mama yang langsung diangguki oleh bude Desi.


"iyaa si emang, bude juga yakin kalo cuma urusan ekonomi kamu ngga mungkin mundur. bersaing sama perempuan lain pun kamu pasti menang, tapi kalo bersaing sama mertua dan keluarga waaallaahh yasudah pasti kalah" jawab bude Desi yang langsung diangguki oleh mama.


"iyaa makanya itu Diah lebih memilih pisah Des, yaa dari pada makan hati setiap hari. iyakan?" kata mama yang juga diangguki oleh bude Desi.


"terus sekarang anak-anak kemana? nafkahnya masih ditanggung sama bapaknya kan?" tanya bude Desi membuatku menganggukan kepala.


"alhamdulillahnya masih bude, yaa kan ATM mas Lukman masih sama Diah sampai hutangnya lunas ya otomatis Diah langsung ambil aja nafkah untuk anak dan juga hutang mas Lukman. sisanya yang jadi hak Diah ya Diah kirim ke nomer rekening kak Yuni atas permintaan mas Lukman" jawabku.


" bagus itu, jadi secara ngga langsung kamu masih menghendel keuangan calon mantan suami kamu. dan kayanya bude lihat juga semua barang kalian disini, itu sampai motornya juga ada disini. AC juga tuh dua-duanya disini, kenapa ngga kamu jual murah aja di. masih bisa dipake kan, sayang loh elektroniknya nanti malah rusak kalo didiemin gitu aja" saran bude Desi.


"mau nya si gitu bude, tapi mau dijual kemana. Diah kan ngga tau bude" jawabku dengan bingung.


"yaa pasarin aja dimarketplace di aplikasi biru, nanti kalo ada yang minat pasti dapat pembeli deh Diah" jawab bude Desi membuatku menganggukan kepala.


"yaudah bude nanti Diah coba, makasih ya bude sarannya" jawabku dengan tersenyum.


"sama-sama. lumayanlah buat tambah-tambah jajan anak-anak kan, dari pada rusak nanti malah jadi rongsokkan" kata bude Desi yang juga aku angguki.


"iyaa bude bener banget" jawab Sintia sambil memainkan ponsel, aku pun melempat bantal kewajahnya dia pun hanya terkekeh.


"assalamualaikum" terdengar suara salam lagi didepan rumah. ternyata yang datang umi Hamidah, kiayi Hasyim dan juga beberapa orang dibelakangnya yang aku kenal adalah santri dipondok Abi Hasyim.


"waalaikumsalam, umi Abi. masuk mi, Abi" kataku mempersilahkan mereka semua masuk kedalam rumah.


"terimakasih Diah, gapapa kan ya umi bawa santri." kata umi Hamidah membuatku terkekeh kecil.

__ADS_1


"yaa atuh gapapa umi, ayok masuk semua akang-akang" kataku mempersilahkan semua nya masuk kedalam rumah.


bersambung.


__ADS_2