
"iyaaa mbok, kami masuk dulu ya" jawabku memberikan senyum pada simbok.
"iyaa Ning, kalo perlu apa-apa jangan sungkan panggil simbok ya" jawabnya membuatku dan juga Sintia menganggukan kepala.
aku dan juga Sintia pun memasuki salah satu kamar yang ada didalam rumah ini, meskipun kamar tamu namun kamar ini terlihat sangat bagus dan juga luas.
"bagus ya mbak kamarnya?" kata Sintia padaku.
"iyaalah namanya juga setiap hari dirawat, memangnya kamar kamu" jawabku membuat Sintia terkekeh kecil.
"namanya juga anak muda mbak" jawabnya santai.
"dih kamu itu mah terlalu malas bukannya karna anak muda lagi" jawabku memandang kesal ke arah Sintia.
"hehehehe" kekehnya.
aku pun berbaring disamping Syifa yang sudah aku baringkan diatas kasur empuk milik umi Hamidah.
"dduuhh empuk banget ini kasur deh" gumam Sintia memejamkan mata.
"kaya ngga pernah ngerasain kasur empuk aja si kamu sin" kataku membuatnya membuka mata.
"kasur ini empuknya beda mbak, masih kenyal. lihat" jawabnya menepuk-nepuk kasur.
"hust nanti Syifa bangun!" seru ku.
Sintia pun berhenti melakukan aksinya, tak lama dia pun memandang ku dengan pandangan bertanya-tanya.
"kenapa kamu ngeliatin mbak kaya gitu?" tanyaku dengan dahi menyerit.
"gapapa, aku cuma bingung. kok ada ya lelaki yang menyia-nyiakan mbakku ini" jawabnya membuatku terkekeh kecil.
"yaa ada, buktinya itu mas mu" jawabku membuatnya mendengus.
"udah bukan mas ku lagi kali mbak, kan katanya mbak sama mas Lukman mau pisah. iyakan? eh tapi emang bener proses perceraian mbak belum diurus?" tanyanya yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"iyaa bener, katanya temen mas mu itu masih pergi. tapi semua berkas sih sudah sama dia, jadi mungkin nanti kalo udah diserahkan ke pengadilan agama dia akan kasih tau sama mu dan mbak segera dapat surat panggilan sidang" jawabku yang langsung diangguki olehnya.
"ternyata proses cerai itu ribet ya mbak" kata Sintia membuka kerudung.
"iyaaa makanya itu, nanti kalo kamu cari pasangan harus yang bener-bener sayang sama kamu sama keluarga kita juga bukan yang cuma sayang sama keluarganya doang seperti mas lukman. mbak si selalu mendoakan semoga kamu ngga mendapatkan lelaki dan juga keluarga toxic seperti mbak" jawabku disambut kekehan oleh Sintia.
"mbak, mbak mana mungkin aku jauh mikirin kesana mbak. masih jaaaauuuhh, aku masih mau kuliah masih mau kerja juga mbak. cita-cita aku masih banyak dan aku pengen ngewujudin itu semua" jawab Sintia membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
__ADS_1
"tapi emang ngga ada gitu cowok yang deketin adik mbak ini? mbak lihat kamu ini ngga jelek-jelek banget deh, yaa walaupun memang agak gemuk tapi kamu termasuk cantik kalo pake kerudung" jawabku.
"kalo itu mah jangan ditanya mbak, tapi emang aku ngga pernah merespon mereka lebih si mbak selain temen. sengaja biar mereka ngga ngerasa aku kasih harapan palsu" jawabnya dengan yakin.
"bagus itu, memang sebaiknya kamu ngga perlu pacaran sin. umi seneng dengernya, jadi kamu juga bisa jaga diri kamu selain menundukkan pandangan" kata umi Hamidah yang tiba-tuba mausk kedalam kamar kami bersama dengan mama dan juga Nayla.
"umi, mama kok udah nyusul kekamar??" tanyaku terkaget melihat kehadiran ketiganya.
"iyaa ini tadi Nayla nyariin kamu terus nangis, dibujuk sama Hamid ngga bisa makanya mama sama umi kamu kesini biar istirahat juga. mungkin dia capek dan juga ngantuk" jawab mama. aku pun duduk dipinggiran kasur bersama dengan Sintia, sementara Nayla sudah membaringkan dirinya disebelah sang adik.
"iyaa mungkin dia capek dan juga ngantuk, apalagi kenyangkan abis makan banyak banget" kata umi Hamidah dengan tersenyum.
"iyaa mungkin umi" jawabku sekenanya.
"tadi kalian ngomongin apa sih, kok kayanya seru banget?" tanya mama.
"ngga ngomongin apa-apa si ma, kepo aja mama nih" jawab Sintia membuat umi Hamidah sedikit terkekeh.
"yeee kalo ditanyain jawabannya, biarin aja ditinggal aja kamu disini biar mondok dipondok ini sama santri yang lain" kata mama membuat Sintia membelalakan mata.
"eeehhh ngga ngga, enak aja. tanggung banget tinggal setahun lagi masa mau main pindah-pindah aja ke pondok" jawab sintia mengerucutkaj bibir.
"makanya dijaga itu ucapan, ngomong sama mama nya kok begitu" jawab mama.
"iyaa umi" jawabnya dengan lemah.
"oiyaaa di, gimana sama perceraian kamu? apa kah sudah ada kabar?" tanya umi Hamidah diangguki mama.
"belum si umi, tapi kemarin kata Rey pengacara Diah udah pulang dan hari ini akan mengantarkan berkas perceraian Diah ke pengadilan agama. nanti kalo udah dipastikan kapan Diah bisa menerima panggilan sidang pasti akan diberi tahu kok umi" jawabku yang langsung diangguki oleh umi Hamidah.
"oiyaa Diah, apa kamu ngga ada niatan untuk mencari pengganti calon mantan suami kamu itu? maaf ya Diah, bukan umi sangat ingin kalian berpisah tapi gimana ya. umi,,,,," jawab umi Hamidah terpotong dengan suara dari luar kamar.
"assalamualaikum" pintu pun terbuka menampilkan wajah mas Hamid yang menatap kearah kami satu persatu, Sintia pun langsung memasang kembali jilbab nya dengan kurang sempurna.
"waalaikumsalam, kenapa hamid?" tanya umi Hamidah pada mas Hamid.
"itu umi, wali santri dan juga santri yang akan pulang mau berpamitan umi. umi diminta Abi mendampingi beliau" jawab mas Hamid dengan senyum.
"ooohh begitu, baiklah sebentar lagi umi menyusul. kamu temani dulu Abi mu ya Hamid" kata umi Hamidah pada sang anak.
"baik umi, assalamualaikum" salam mas Hamid meninggalkan kamar dan menutup kembali pintu yang terbuka.
"maaf ya Diah, mungkin kamu ngga akan percaya dengan apa yang umi katakan. tapi sebetulnya, Hamid sudah sangat lama menyukai kamu bahkan saat kalian kecil bersama dia selalu mencari kamu Diah. hingga saat ini ia belum menikah pun alasannya karna menunggu kamu kembali, tapi jika kamu tidak berkenan umi ngga Masalah Diah. umi hanya berharap kamu mempertimbangkan perkataan umi, itu saja" kata umi Hamidah membuat mataku membola sempurna, begitu pun dengan mama dan juga Sintia yang nampak tak percaya dengan apa yang dikatakan umi Hamidah.
__ADS_1
"kalo begitu, umi mau menemani Abi dulu ya didepan. assalamualaikum" salamnya berlalu meninggalkan kamar tempat kami beristirahat.
"waalaikumsalam" kata kami serempak dengan wajah masih tak percaya dengan perkataan umi Hamidah.
"mbaaakk,,,,, ini ngga mimpi kan? mbak" kata Sintia menggoyangkan bahuku.
"ntah lah, mbak juga gatau sin" jawabku setengah sadar.
"udahlah ngga perlu terlalu dipikirkan, lagian itu kan hanya perkataan umi mu aja diah. kalian sudah lama ngga ketemu pasti perasaan itu sudah berubah dan ngga mungkin akan sama seperti dulu lagi, apalagi itu sejak kalian kecil. mustahil rasanya" jawab mama yang juga aku benarkan dalam hati.
"iyaa malam benar sin" jawabku menatap Sintia yang menganggukan kepala.
"tapi mbak, kalo aku lihat mas Hamid memang suka deh sama mbak kalk lihat dari sikapnya sama mbak aku yakin dia ada perasaan buat mbak" kata Sintia.
"hust, kamu ini anak kecil tau apa. sudahlah, mbakmu itu masih sah jadi istri orang bahkan berkas perceraiannya aja baru masuk ke pengadilan agama." kata mama membuatku dan juga Sintia terdiam.
aku dan juga Sintia pun saling lirik dan tak lagi membahas masalah itu, waktu pun terus berlalu hingga tak sadar jam menu jukkan pukul tujuh malam. rencananya, kami tak menginap dan akan pulang setelah sholat isya berjamaah dan juga makan malah dirumah umi Hamidah.
"kalian menginap saja disini kan? pulang besok aja, iyakan Abi?" kata umi Hamidah menatap Abi Hasyim ketika tengah menyantap makan malam.
"iyaa betul, pulang besok aja" jawab Abi Hasyim.
"maaf Abi, Rey ngga bisa karna besok Rey harus sudah berangkat kerja seperti biasa Abi" jawab Rey mewakili kami.
"kan kamu bisa berangkat dari sini Rey bareng sama mas mu nanti setelah mengantar mama dan juga mbak dan adik kamu" jawab Abi Hasyim pada Rey.
"iyaa Abi, tapi maaf lain kali saja karna kebetulan sebenarnya saya sudah ada janji dengan teman mau membahas perceraian mbak Diah malam ini" jawab Rey berusaha sopan didepan Abi Hasyim.
"ooohh begitu, yasudah kalo begitu Abi tidak bisa memaksa lagi. semoga urusan Diah cepat selesai dan bisa memulai hidup baru yang lebih baik lagi" jawab Abi Hasyim dengan tersenyum lembut.
"amiinn, terimakasih Abi" jawabku dengan tulus.
"tapi janji lain kali main kesini dan menginap ya Diah?" tanya umi Hamidah membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaaa insyaallah umi" jawabku dengan senyum tulus.
kami pun melanjutkan makan malam kami hingga selesai, setelahnya kami sekeluarga berpamitan untuk pulang kerumah kami diantar oleh mas Hamid yang bersedia mengantarkan. Abi dan juga umi pun melepaskan kepergian kami dengan mengantarkan hingga depan teras rumah, mas Hamid pun melajukan mobil menjauh dari pekarangan pesantren.
bersambung......
####
jangan lupa ya guys, follow Ig outhornya @adivahasanah . jangan lupa juga like, komen dan juga vote ya☺️
__ADS_1