
"mbak, koper kamu taruh di Deket meja belajar itu aja si mbak. jangan ditengah-tengah begitu, bikin pemandangan merusak mata aja" kata Sintia membuatku terbelalak karna Sintia mengatakan koper itu milikku saat masih ada bude tari dikamar ini.
"oalaahh itu punya kamu to di, kok malah bilang gatau" kata bude tari membuatku tersenyum canggung.
"hehehe maaf ya bude Diah udah bohong sama bude" kataku menundukkan kepala.
"gapapa kok, tapi kalo bude boleh tau kenapa kamu sampai bawa koper sebesar itu kerumah ini? apa kamu ada masalah sebelum nya sama suami kamu?" tanya bude tari yang memang sangat menyayangiku sedari kecil.
aku puh memandang Sintia yang menganggukan kepala, meyakinkan aku untuk bercerita dengan bude tari.
"emm iyaa bude, sebenarnya aku baru aja tadi pagi keluar dari kontrakan ku. karna masalah dengan suamiku, dan aku juga baru aja memutuskan untuk berpisah dengannya" jawabku membuat bude tari melebarkan matanya.
"loh kenapa?" tanyanya dengan nada kaget.
"ada banyak hal yang mungkin membuatku merasa rumah tangga kami ngga sehat bude, hingga aku memutuskan untuk mundur dari pernikahan ini" jawabku dengan menundukkan kepala.
"maksudnya? bisa kamu ceritakan lebih jelas lagi sama bude?" tanyanya yang langsung aku jawab anggukan kepala.
"iyaa bude, sebenarnya selama ini aku diperlakukan tidak adil. suamiku seolah tidak menghargai aku sebagai istrinya, beberapa tahun berumah tangga dengannya aku hanya diberikan uang lima puluh ribu satu hari bude. bahkan uang segitu kadang aku harus membaginya jika gas atau pempers anakku habis, atau bahkan kebutuhan lain seperti gula atau bahan bumbu didapur pun habis, untuk jajan anakku juga. gaji mas Lukman selain untuk membayar kontrakan rumah kami, dia pun memberikan pada ibu dan juga kakaknya. awalnya aku ngga keberatan, tapi semakin lama sepertinya mereka semakin keenakan. terbukti dari kakak dari mas Lukman yang selalu meminjam uang yang memang sengaja aku sisihkan dari uang yang diberikan mas Lukman, dengan dalih diganti tapi nyatanya tak pernah sekalipun diganti. puncaknya hingga ketika Abang dan kakak mas Lukman membuat kesalahan fatal dengan memakai uang yang memang sengaja dititipkan kepada mereka berdua untuk membayar cicilan motor, bukannya dibayarkan tapi uangnya justru mereka pakai. hingga akhirnya mas Lukman didatangi depkolektor dan harus membayar cicilan berserta denda dan juga jaminan uang buka blokir" kataku menjeda ceritaku.
"lalu?" tanyanya dengan nada penasaran.
__ADS_1
"disitu aku sudah meminta mas Lukman untuk minta ganti pada suami kakaknya, tapi dengan enaknya kakak ipar dan juga ibu mertuaku bilang kalo wajar jika uang itu dipakai oleh mereka karna mereka adalah keluarga mas Lukman. aku yang memang saat itu baru aja selesai lahiran, jelas aja emosi bude. bahkan untuk melunasi biaya operasi aku aja mas Lukman kekurang uang karna habis membukan warung kopi untuk abangnya, sampai kami harus minjam uang sama Rey. tapi dengan gampangnya mereka bilang seperti itu, akhirnya mas Lukman pun bingung sendiri bahkan memaksa aku untuk meminjam uang Rey dengan jumlah yang sangat banyak padahal biaya persalinan waktu itu pun belum digantinya" jawabku dengan nada kesal.
"tapi dikasih sama Rey? memang kamu pinjam berapa waktu itu sama Rey?" tanya bude.
"iyaa dikasih bude, tapi dengan jaminan motor maticnya berserta surat-surat bude. dan lagi, saat ini ATM juga buku tabungan mas Lukman aku pegang dengan dalih untuk jaminan karna setelah mas Lukman gajian harus membayar hutang sama Rey dengan mencicil" jawabku yang langsung diangguki oleh bude tari.
"bagus, cerdas juga kamu menghadapi keluarga toxic seperti itu. kalo bude mungkin bude udah meninggalkan lelaki seperti itu, apalagi Lukman yang sama sekali ngga punya prinsip menurut bude" jawab bude yang juga dibenarkan oleh Sintia.
"iyaa bener itu bude, awalnya doang berada kayanya dia baik banget tapi ternyata dibalik kebaikannya menyimpan kenyataan yang bener-bener bikin tercengang. Sintia aja bingung, kenapa dia ngga nikahin aja ibu atau kakaknya biar tetep bisa berbakti sama mereka. kan kasian kalo nikahin anak orang malah disakitin sampai dalam-dalamnya kaya gini" jawab Sintia yang langsung aku tepuk bahunya.
"apaan si mbak, aku kan ngomong bener. lelaki kata mas Lukman itu ngga cocok kalo buat anak orang orang, atau sebaiknya dia ngga usah nikah aja sekalian. dari pada anak orang yang disakitin sama dia dan keluarganya, iyakan bude?" tanya sintia pada bude tari yang hanya tertawa mendengar perkataan Sintia.
"aku kan baca novel bude, jadi tau lah gimana caranya melibas keluarga toxic kaya gitu. hanya aja selama ini aku diam karna menghargai mereka yang memang jauh lebih tua dari aku, kalo seumuran juga udah aku libas habis" jawab Sintia membuatku terkekeh kecil.
"ada-ada aja kamu sin, lagian mbak juga ngga yakin kamu berani sama keluarganya mas Lukman." jawabku mencoba mematahkan semangat Sintia.
"yaa lagian, yaa kalo satu orang lawan satu keluarga. ngga mungkin lah mbak, mbak aneh-aneh aja. emang mbak mau adik mbak yang cantik jadi perkedel, kalo mereka satu keluarga ya kita juga harus satu keluarga lah. tapi kalo mereka berani maju satu-satu aku juga berani maju sendiri." jawab Sintia membuatku dan juga bude tari tertawa.
"iyaa iyaa terserah kamu aja lah sin, tapi ngomong-ngomong gimana sekolah kamu? jangan sampai karna kesedihan ngga ada bapak kamu jadi abai sekolah dan juga dalam pengajian ya sin" kata bude tari mengingatkan.
"iyaa bude tenang aja, aku ngga akan lupa kok. mana mungkin juga aku lupa bude, aku kan juga masih punya mama. walaupun bapak udah ngga ada, tapi kan beliau tetap butuh doa dari kami anak-anaknya. walaupun membaca Alquran ku belum baik, tapi untuk mendoakan bapak aku pasti bisa" jawab Sintia sambil menundukkan kepala membuatku terharu.
__ADS_1
"iyaaa, yang pasti kamu harus tetap semangat jangan sampai semuanya putus hanya karna kehilangan satu arah. kamu harus tetap sampai tujuanmu, ingat ya sin" jawab bude tari yang langsung di iyakan oleh Sintia.
"yaudah kalo gitu bude kedepan lagi ya, takut ganggu anak-anak cantik ini. Ayuk di" ajak bude tari padaku.
"jagain mereka ya sin, mbak kedepan dulu" kataku yang langsung diangguki oleh Sintia.
"bude pulang ya di, tetap tenang menghadapi setiap masalah. percayalah semuanya pasti ada jalan keluarnya, bukan berarti perpisahan. bude bukan melarang kamu untuk bercerai dari Lukman, tapi sebaiknya kamu pikirkan lagi. terutama jawaban kamu ketika nanti anak kamu bertanya dimana ayahnya? memang bude tau rasa sakitnya jadi kamu, tapi ini bukan hanya tentang hanya diri sendiri. tapi ada dua malaikat kamu yang akan membuat kamu menjadi,,, emm apa ya, bisa dibilang orang yang akan terus berbohong karna menyembunyikan kebenaran tentang kedua orangtuanya. maaf kalo bude lancang, tapi kembali lagi semua keputusan ada ditangan kamu" kata bude tari dengan tersenyum lembut.
"iyaa bude terimakasih buat masukannya, Diah juga masih harus menyendiri untuk berfikir dan introspeksi diri barang kali Diah memang memiliki celah banyak kesalahan selama menjadi seorang istri. Diah masih belajar bude" jawabku membuat bude tari tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaaa, oiyaa ini untuk anak-anak kamu" kata bude tari menyerahkan beberapa uang merah untuk Nayla dan juga Syifa.
"ngga usah bude, in syaa Allah kalo untuk kebutuhan mereka Diah ada kok bude" jawabku. namun, bude tari tak mau aku menolaknya beliau terus memaksa aku untuk menerima pemberiannya hingga akhirnya aku pun mengambil apa yang diberikan oleh bude tari.
"makasih banyak ya bude, padahal ngga perlu repot seperti ini" kata ku yang hanya dijawab senyum oleh bude tari.
"ngga repot sama sekali kok di. gapapa, lagian budeh kan waktu kamu abis lahiran ngga sempet jenguk. anggap aja itu jengukan bude" jawab bude tari dengan terkekeh.
aku pun mengantarkan bude tari hingga kedepan pintu rumah, hingga diruang tamu aku melihat mama dan juga Rey tengah menatap tajam orang yang berjalan menuju rumah.
bersambung.....
__ADS_1