
"bagaimana mau belain kak, kalo emang apa yang aku bilang itu bener semua dan ngga ada yang salah. sebagai seorang lelaki aku yakin mas Lukman juga berfikir yang sama seperti apa yang aku pikirkan, apa lagi suamimu. iyakan mas lukman? lanjut Rey membuat kak Yuni memelototkan mata menatap mas Lukman yang langsung membuang muka.
"kamu mendingan pulang dulu ya kak, jangan malah membuat keributan disini. nanti aku akan kerumah kamu" kata Rey pada kak Yuni dengan nada pelan.
"eehh enak aja, aku kesini mau minta uang buat mama beli vege** herbal sama obat. mana sini uangnya" jawabnya, mas Lukman langsung melirik kearahku sementara aku hanya pura-pura tak mendengar dengan mengalihkan pandangan pada Syifa yang tengah terlelap.
"iyaa iyaa nanti kak, nanti aku kesana bawain semuanya. yang penting sekarang kak Yuni pulang dulu" jawab mas Lukman menatap iba pada kak Yuni.
aku tidak memperdulikan perdebatan kakak beradik itu, aku sibuk mengamati anak bayiku sementara Rey masih memantau keduanya.
"kenapa emang? uangmu masih ditahan sama istri pengeretanmu itu! eehh Diah cepat berikan uang Lukman, uang itu mau aku gunakan untuk membeli keperluan ibu. cepat mana sini" katanya padaku yang langsung aku tatap dengan tatapan sinis.
"uang apa lagi? tiap bulan udah dikasih kok, bahkan bulan ini juga udah aku berikan masa baru beberapa hari udah habis, bahkan tiap hari juga minta kan sama mas Lukman. bukannya semalem juga baru aja dikasih mas Lukman uang seratus lima puluh ribu, kemana uangnya" jawabku dengan nada tak suka membuat kak Yuni memicingkan mata.
"kemana uang itu bukan urusan kamu, capat mana sini kasih uang lukman. jangan banyak nanya" jawabnya membuat ku mulai terbakar emosi.
"enak aja bukan urusanku, kalo kamu terus-terusan merong-morong seperti ini kamu fikir bukan urusanku. jelas urusanmu, bahkan uang yang kamu minta dalan sekali aja tiga kali lipat dari uang yang diberikan mas Lukman padaku. kamu bilang itu bukan urusanku, istri mas Lukman itu kamu atau aku. hah!" jawabku membantak kak Yuni yang langsung terdiam.
__ADS_1
"uang seratus lima puluh itu sedikit tau ngga, buat beli makan sekali untukku dan ibu juga udah abis. sekarang ibu mau beli obat, capat berikan uangnya. aku lagi ngga pegang uang ini" jawabnya membuatku terkekeh kecil.
"ada atau ngga ada uang kamu bukan urusan aku, aku juga udah ngga ada uang untuk diberikan pada kamu. bahkan mas Lukman minta uang buat beli bensin aja aku cuma berikan dia dua puluh ribu, liat tuh bahkan bensinnya masih dipegang Rey didalam kantong plastik" jawabku membuat kak Yuni dan mas Lukman beralih menatap kantong plastik hitam yang ditenteng oleh Rey.
"emang itu bensin Rey?" tanya mas Lukman yang langsung mendapat anggukan kepala oleh Rey.
"iyaalah mas emangnya apa lagi" jawabnya dengan santai.
"yaampun ngga ada tempat yang lebih bagus lagi apa Rey, pake botol kek gitu masa pake kantong kresek." kata mas Lukman membuatku menahan tawa melihat ekspresi yang ia keluarkan.
"dasar ngga adik ngga kakaknya sama aja sama-sama pelit ngga ketulungan" kata kak Yuni dengan nada ketus.
"eehh kak Yuni yang baik hati dan ngga pelit, kalo aku dan mbak Diah itu pelit kami ngga akan membelikan mas Lukman bensin lagi. apalagi semalem mas Lukman udah dikasih uang untuk membeli bensin hingga full tapi uangnya malah dikasih ke kamu, giliran paginya bingunh karna ngga punya uang buat beli bensin akhirnya minta lagi sama mbak Diah eehh aku juga kan yang harus repot beliin nyari bensin ini. oohh mungkin kak Yuni mau memberikan uangnya kali ya buat mas Lukman mengisi bensinnya hingga full, kak Yuni kan royal dan ngga pelit sama sekali" kata Rey membuat kak Yuni membelalakan mata.
"eehh kata siapa, aku justru kesini mau minta uang sama Lukman kok. masa mau ngasih dia duit buat beli bensin, enak aja" jawabnya yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"bahkan berarti kak Yuni punya uang sendiri kan, kenapa masih suka minta kesini. udah jelas mbak Diah ngga mau ngasih uang lagi karna ibu kalian itu udah diberikan jatahnya, jadi sekarang siapa yang pelit kak yuni?" kata Rey dengan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
aku pun tersenyum kecil melihat Rey yang bisa membalikkan keadaan dan perkataan yang dikeluarkan oleh kak Yuni, untung tadi aku pulang bersama dengan Rey andai aku tadi tak pulang bareng dia entah apa yang akan aku lakukan untuk membalas perkataan kakak iparku yang super menyebalkan ini.
"bener kamu kak kamu punya uang, pakailah uangmu dulu untuk membelikan mama obat dan juga vege** herbal itu. palingan ngga sampai lima puluh ribu" kata mas Lukman pada kak Yuni yang langsung mencebikkan bibirnya.
"tapi itu kan tugas kamu man, kamu ingatkan kalo kamu bakalan menuhin kebutuhan mama selama mama tinggal sama aku. kenapa sekarang kamu malah menyuruh aku yang membeli obat untuk mama" jawabnya dengan wajah dibuat sedih.
"tolong lah kak, ini untuk sementara. lagian kan ngga seberapa juga harga obat dan vege** herbal itu, jangan pelitlah. lagian kan mama juga orangtua kamu kak" jawab mas Lukman yang langsung mendapatkan pukulan keras dipunggungnya.
"iyaa aku tau mama emang juga mama aku, ngga usah diperjelas juga. gara-gara istri kamu itu kamu jadi ngga bisa menuhin semua kebutuhan mama, mau sampai kapan man. aku gamau tau ya, kamu Diah harus berikan kembali uang dan juga ATM Lukman. enak aja kamu mau terus-terusan pakai uang aku buat kebutuhan mama, tanggung jawab mama itu ada sama Lukman sebagai anak lelaki. tau!!" kata kak Yuni membuatku sedikit terkekeh kecil.
"tau, aku sangat tau kak. makanya aku selalu memberikan ibu uang bulanan, emang uang lima ratus ribu itu ngga cukup untuk ibu membelikan obat dan juga vege** herbal? itu lebih dari cukup kak, kemanakan uang itu. masa baru beberapa hari udah habis aja" jawabku dengan nada sinis.
"heh kamu fikir mama makan ngga pakai uang hah! emangnya kebutuhan mama cuma obat doang, banyak bahkan jamu juga tau ngga. uang segitu mana cukup untuk semuanya" jawab kak Yuni dengan membentak.
"heh, tugas kamu sebagai anak juga apa. dan tugas Abang kalian juga mana, asal kak Yuni tau ya bahkan yang seharusnya memenuhi kebutuhan ibu itu ya Abang sebagai anak lelaki tertua bukannya mas Lukman, kenapa semuanya dilimpahkan ke mas Lukman. apa Abang kalian itu bisanya cuma menjadi benalu aja, hah!!" .......
bersambung......
__ADS_1