
keesokkan harinya semuanya berkumpul dihalaman rumah mama karna kedatangan tamu dari teman bapak bekerja dulu, kami menyambutnya dengan penuh suka cita.
"maaf ya Bu, adik-adik kamu baru sempat kesini karna kebetulan kemarin ada kerjaan yang memang ngga bisa ditinggalkan diproyek" kata salah satu dari teman almarhum bapak.
"gapapa pak, Alhamdulillah terimakasih karna masih mau menengok kesini" jawab mama dengan ramah.
"sama-sama Bu, kami juga turut berbela sungkawa atas berpulangnya bapak. kami juga tak menyangka akan didahului seperti ini" jawabnya dengan nada penyesalan.
"tak apa pak, namanya takdir tak ada yang tahu. kami keluarga juga kaget karna selama ini kami telah mengusahakan yang terbaik untuk bapak" jawab mama yang juga diangguki oleh Rey.
"sudah takdirnya Bu, bapak harus mendahului kita semua. yang penting ibu dan anak-anak ikhlas, insyaallah bapak dilapangkan kuburnya" kata bapak-bapak yang aku kenal sebab sering dibawa bapak kerumah sewaktu masih bekerja bersama-sama.
"iyaaa om insyaallah kami ikhlas atas berpulangnya bapak" jawab Rey
"Alhamdulillah, ini anak kamu di? dia ya?" tanyanya padaku yang hanya aku jawab dengan respon dan anggukan kepala.
"iyaa om, ini sama yang satunya lagi tidur" jawabku dengan nada sopan.
__ADS_1
"oiyaaa suami kamu mana?" tanyanya membuatku dan juga Rey terdiam dan saling pandang.
"oohh maaf maaf kalo pertanyaan om salah, gapapa to mbak yu. maaf Yo" katanya pada mama yang hanya dijawab senyum dan anggukan kepala oleh mama.
"gapapa mas, wes biasa namane anak muda Yo mas" jawab mama yang juga direspon anggukan kepala oleh nya.
"oiyaa ini ada titipan dari yang lainnya, semoga dapat membantu sekedarnya untuk keluarga" katanya menyerahkan amplop putih kepada mama.
"yaampun mas repot repot to, kaya saya siapa aja" jawab mama merasa tak enak menerima dana bantuan dari teman almarhum bapak.
"matur suwun saget Yo mas, sampaikan pada temen-temen liane. wes tak undang tahlilan sampai malam ke tujuh Yo mas, ntar mbengi tahlilan malam loro. tak tunggoni ningkene Yo" kata mama.
"oalaah, iyoo mbak pasti. matur suwun saget undangane, engko tak sampaikan Karo temen-temen sing liane" jawab om.
"nggih mas" jawab mama dengan tersenyum.
"yowis tak muleh disit Yo, matur suwun suguhane. jadi ngerepotke" kata teman bapak yang satunya lagi.
__ADS_1
"oohh nggih nggih, matur suwun nggih mas wes repot-repot mampir" kata mama yang langsung diangguki oleh lelaki tersebut.
"sami-sami mbak yu, wes ikhlaske wae mas Jono. wes tenang, werls ora ngerasakne sakit maneh" jawabnya yang juga diangguki oleh mama.
"nggeh mas, matur suwun" jawab mama tersenyum kecil. setelah berpamitan kedua orang itu pun pergi meninggalkan rumah diantar oleh Rey yang masih melihat didepan pintu rumah.
"itu teman bapak yang kerja dimana to ma?" tanya Rey yang langsung dijawab gelengan kepala oleh mama.
"yaa Ndak tau mama lah Rey, tapi yang jelas kalo yang satunya sering banget diajak kerumah dulu sama bapak. bahkan memang sempet kerja bareng lama si" jawab mama yang langsung diangguki oleh Rey.
"oalaah gitu to, kok bisa bapak kenal sama orang kaya gitu. kayanya matanya jelalatan begitu, apalagi tadi pas nanyain mbak Diah. keponya minta ampun" jawab Rey membuatku sedikit terkekeh.
"hust, jangan begitu Rey. lagian kan itu cuma nanya aja sekedar basa-basi lah" jawab mama yang juga aku angguki.
"tau nih si Rey kayanya sensi banget deh kamu itu" jawabku membuat Rey mengerucutkan bibir.
bersambung ....
__ADS_1