Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 75.


__ADS_3

"kenapa? kesal atau marah dengan perkataan aku? denger ya mas, sejak kamu berani melayangkan tangan kamu kepipiku mulai dari situ sudah hilang rasa hormatku untukmu.!!" bentakku membuat mas Lukman ingin melayangkan tangannya padaku tapi terhenti ketika sintianlangsung menghempas tangan mas Lukman dengan sekuat tenaga.


"jangan kira aku akan diam aja melihat mas Lukman memperlakukan kakakku seperti itu, ingat mas selama masih ada aku mas Lukman ngga akan bisa berbuat kasar pada mbak Diah" kata Sintia setelah menghempas kasar tangan mas Lukman.


"ternyata kalian sekeluarga sama aja, sama-sama arogan dan mau menang sendiri. kamu juga, kamu masih kecil sin seharusnya urus saja sekolah kamu yang benar bukan malah ikut campur urusan rumah tangga kakak kamu. ini bukan urusan kamu!" bentak mas Lukman menunjuk wajah Sintia.


"jelas ini urusan ku karna mbak Diah adalah kakakku, seperti kamu sekaluarga yang menjadi benalu dalam kehidupan mbak Diah. aku pun akan melakukan hal yang sama padamu!" sentak Sintia dengan berani membuat mas Lukman membelalakkan mata.


"oohh apa begini hal yang diajarkan oleh orangtuamu? berani dengan orang yang lebih tua seperti ini? iya!" kata mas Lukman membuat Sintia terkekeh kecil.


"ngga usah bawa-bawa orangtua deh mas, emang mas Lukman sama mbak Yuni ngerasa benar banget apa diajar sama ibu? sampe menyalahkan orangtuaku mengajarkan aku bersikap? seharusnya mas Lukman berkaca mas, ngga akan mungkin mbak Diah bahkan aku dan juga mas Rey ikut campur kalo kamu bisa menjaga mbak Diah dari keluargamu sendiri" jawab Sintia yang lagi tak bisa dibantah oleh mas Lukman.


"kenapa diam? banerkan? seharusnya kalo emang ibu mas Lukman ngga mau jauh dari mas Lukman dan masih merasa berhak dalam hidup mas Lukman, gausah lah mas Lukman pake diberi izin untuk nikah. gampang kan!" lanjut Sintia membuat mas Lukman menghentakkan kakinya keluar dari rumah tanpa meminta uang lagi.


"huh, akhirnya pergi juga kan. gampang banget ngusir manusia kaya gitu mbak, gayanya aja sok sangar tapi nyatanya pengecut. baru disentak dikit aja langsung ciut" kata Sintia membuat ku tersenyum.


"udah, udah lagian kok kamu begitu berani banget sama mas Lukman. mbak ga pernah ngajarin begitu loh sin," jawab Diah memperingati Sintia.


"gapapa mbak, lagian mas Lukman itu sekali-kali emang harus dibuat diam seperti itu. enak aja dia terus merendahkan tapi gamau direndahkan, , emang dia fikir dia siapa" jawab Sintia dengan nada kesal membuatku terkekeh kecil mendengar apa yang ia katakan.


"iyaa tapi lain kali ngga boleh bicara begitu ya, apalagi sama orang lain" kataku memberikan nasihat yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Sintia.


"iyaa mbak, tenang aja. aku juga karna udah kepalang kesel aja makanya ngebantuin mbak. lagian kalo sama orang pun ga mungkin lah aku seberani itu mbak" jawab Sintia yang sudah terkekeh sendiri dengan apa yang baru saja ia katakan.

__ADS_1


"ada apa nih, kok kayanya ketawa-tawa seru banget?" tanya Rey yang ternyata sudah pulang setelah membeli lauk untuk kami makan malam.


"biasa ada yang buat kehebohan lagi, tapi kalah terus pergi deh" jawab Sintia yang masih menertawakan tingkah mas Lukman.


"oyaa? kemana dia?" tanya Rey yang langsung dijawab gelengan kepala olehku dan juga Sintia.


"pasti minta uang lagi, iyakan? terus berdebat deh sama mbak sama Sintia, iyakan?" tanya Rey dengan sedikit penasaran.


"iyaa bukan hanya itu mas, bahkan mas Lukman juga mau menampar mbak Diah dan juga menghina keluarga kita. aku balas lah menghina keluarganya, enak aja emang dia fikir dia siapa bisa berlaku seperti itu. emang dia fikir aku ga bisa bales perkataan dia" jawab Sintia dengan emosi.


"mau menampar mbak Diah lagi? keterlaluan emang mas Lukman, terus sekarang kemana orangnya biar mas samperin" kata Rey yang sudah mulai terbakar oleh apa yang dikatakan oleh sintia.


"udah lah Rey, lagian dia juga ga sampai mukul mbak kok. pokoknya mbak udah bertekad kalo sampai dia berani melayangkan tangannya ke wajah mbak, mbak ngga akan segan lagi untuk menggugat cerai mas Lukman" jawabku memberikan ketenangan oleh kedua adikku.


"bagus itu mbak, lagian ngapain si mau aja terus bertahan dengan orang seperti itu. aku aja empet banget ngeliat muka mas Lukman waktu minta uang sama mbak tadi, seolah ga ada rasa bersalahnya sama sekali" jawab Sintia dengan kesal.


"udah matang kok mbak, yuk aku udah lapar ah" jawab Sintia memegang perutnya yang mungkin sudah merasa lapar.


"yasudah makan lah, ambil gih piring nya bawa kesini kita lesehan aja makannya" kata Rey yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Sintia.


"habis makan kami pulang ya mbak" kata Rey membuatku menyeritkan kening.


"kenapa? kok cepet Rey?" tanyaku dengan nada heran.

__ADS_1


"iyaa mbak, kerjaan ku banyak yang aku bawa pulang. mbak kan tau sendiri tadi aku masing sudah sangat siang, terus pulang juga tepat waktu jadi ya mau gamau harus bawa kerjaan kerumah" jawab Rey yang langsung membuatku menganggukan kepala.


"yaudah kalo gitu" jawabku dengan singkat, Sintia pun datang membawa empat buah piring lalu mendudukkan diri tepat didepanku.


"mas, nasinya dong tolong. panas soalnya" katanya pada Rey. Rey pun langsung mengambil nasi sesuai yang diarahkan oleh Sintia.


"nah, yuk makan nay kamu ngga makan nasi nay?" tanya Rey yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Nayla.


setelahnya, tak ada lagi suara yang keluar dari keempat orang tersebut. mereka makan dengan hening menikmati ayam geprek yang dibeli oleh Rey lengkap dengan lalapan yang sudah melengkapi ayam geprek yang dibeli oleh Rey.


"inget mbak, kalo mas Lukman udah tidur mbak harus periksa ponselnya terutama aplikasi chatnya ya. nanti screenshoot terus kirim ke nomer aku, mbak Diah bisa kan?" kata Rey setelah menghabiskan makan malamnya.


"iyaa bisa kok Rey, tenang aja.


mbak pasti akan dapatkan bukti itu dengan cepat, mbak juga udah lelah berdampingan dengan keluarga toxic seperti mereka itu." jawabku dengan menundukkan kepala membuat Rey mengacungkan satu jempolnya dihadapanku.


"bagus mbak, lagian buat apa mempertahankan satu hubungan yang memang sudah ngga sehat. aku akan selalu mendukung mbak apapun keputusan yang mbak buat" jawab Rey membuatku tersenyum dan menganggukkan kepala.


"iyaa Rey, makasih banyak ya selama ini kamu udah berusaha bantuin mbak. kamu emang adik mbak yang hebat" jawabku membuat Rey terkekeh.


"mbak-mbak emangnya aku anak kecil pake dibilang begitu. eh sin, udah selesai belum? pulang yuk" ajak Rey pada Sintia yang sedang merapihkan bekas makan mereka.


"sabar mas, ini udah mau selesai" jawab Sinta dengan sedikit kesal.

__ADS_1


setelah selesai Sintia dan juga Rey pun meninggalkan rumah kontrakanku, yang saat ini hanya berisikan aku Nayla dan juga Syifa.


bersambung....


__ADS_2