Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 133.


__ADS_3

aku pun membalikan wajah ketika mendengar suara seseorang memanggilku.


"eehh iyaa mbak Laras, ada apa ya?" tanyaku pada mbak Laras.


"ooohh emm ngga apa-apa sih, gue cuma mau nanya aja sama Lo. gapapa kan gue nanya-nanya hal yang sedikit pribadi sama Lo?" tanya mbak laras membuat dahi ku menyerit heran.


"emm iyaa gapapa kok mbak, ada apa ya?" tanyaku penasaran.


"Lo itu ada hubungan apa sih sama pak Hamid, kok Lo bisa sedeket itu sama beliau?" tanyanya dengan antusias, sementara aku justru bingung mau menjawab apa pertanyaan mbak Laras.


"emm hubungan apa ya mbak, aku ngga punya hubungan apapun kok sama pak Hamid. yaa sebatas bos dan juga karyawannya aja sih mbak, emang ada yang salah ya?" tanyaku dengan hati-hati.


"yaa ngga ada yang salah sih, tapi anak-anak tuh pada heran aja si kenapa pak Hamid bisa Negor Lo duluan tadi sementara pak Hamid itu sebelum Lo kerja disini ngga pernah sama sekali yang namanya ngangkat kepala. yaa kalo ketemu kami para karyawan perempuannya selalu menundukkan pandangan di" jawab mbak Laras membuatku tersenyum kecil.


"ooohh gitu, sebenernya sih mbak mungkin karna orang tua kami bersahabat sudah sejak lama jadi kami kenal. ya hanya kenal aja si ngga Deket juga, apalagi kan aku juga masuk ke perusahaan ini karna mas Hamid yang memintanya mbak" jawabku yang langsung menutup mulut karna keceplosan berbicara.


"nah, nah kan! eh eh serius Lo pak Hamid yang minta Lo buat kerja disini? jadi Lo itu karyawan pilihannya pak Hamid sendiri dong, wwaaah gak nyangka gue" jawab mbak Laras membuatku langsung menutup mulutnya agar tak bicara terlalu keras.


"mbak, bicaranya jangan terlalu keras mbak. ngga enak kedengaran karyawan lainnya, lagian ya mbak itu semua tuh ada alasannya" jawabku dengan nada yang sedikit kesal.


"alesan? apaan alesannya emangnya?" tanyanya penasaran sambil kembali merapihkan kerudungnya yang hampir berantakan.


"gift begini loh mbak, aku kan dalam proses perceraian sama suamiku,,,," jawabku yang langsung terputus.


"apaa?! jadi Lo calon janda, emang umur Lo berapa di? katanya masih dua puluh lima tahun" tanyanya yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


"iyaa mbak memang aku masih dua puluh lima tahun, yaa habis mau gimana mbak. aku udah berusaha mempertahankan pernikahan aku tapi ternyata aku ngga sekuat itu loh mbak, makanya aku lebih milih mengakhiri pernikahan ini. nah makanya mas, eh pak Hamid memberikan aku pekerjaan karna kan kalo aku mau mendapatkan hak asu anak aku harus mempunyai penghasilan mbak. kalo aku ngga punya penghasilan, aku takut jika calon mantan suamiku itu merebut hak asu anak kami" jawabku yang langsung dijawab anggukan oleh mbak Laras.


"ooohh begitu toh, gue kira Lo sama pak Hamid itu ada somethink. tapi emang kayanya pak Hamid suka deh sama Lo di, emang Lo ngga ngerasa gitu?" tanyanya.


"suka, Alhamdulillah lah mbak kalo dia suka sama aku. berarti aku ngga mengecewakan dia dalam hal kerjaan ini" jawabku membuat mbak Laras menepuk jidat.


"dih, maksud gue suka dalam artian lelaki pada perempuan gitu loh di bukannya dalam hal pekerjaan" kata mbak Laras.


"yaa mana mungkin kalo itu mbak, mbak Laras ini ada-ada aja deh" jawabku sambil mengerjakan pekerjaanku hari ini.

__ADS_1


"hust, udah-udah nanti lagi jam istirahat ngobrolnya. cepet kerjain kerjaan kita ini, Diah laporan yang harus diselesaikan kemarin udah selesaikan?" tanya mbak raya dari meja kerjanya.


"ooohh yang laporan buat bagian marketing itu ya? kayanya udah deh mbak, sebentar aku print dulu mbak. soalnya masih aku simpan diflasdisk" jawabku yang langsung diangguki oleh mbak raya.


"iyaa, tolong cepat ya. aku mau cek terus dianter ke bagian marketing soalnya, mau dipake buat meeting si katanya" jawab mbak raya yang langsung aku angguki.


"beres mbak" jawabku langsung mengerjakan apa yang diminta oleh mbak raya.


"ras, laporan keuangan juga harus kelar hari ini loh. soalnya mau direkap bulanan di bagian keuangannya, jangan lupa buat salinannya biar kalo ada apa-apa kita masih selamat" kata mbak raya pada mbak Laras.


"beres ray, tenang aja. gua pasti selalu inget kok bikin salinanya. gue kan juga masih betah kerja disini" jawab mbak Laras.


"bagus kalo gitu" jawab mbak raya sambil menganggukan kepala.


"memang harus begitu ya mbak?" tanyaku pada mbak raya.


"tentu saja harus di, yaa tau sendiri lah permainan bagian keuangan gimana. makanya kita harus pinter-pinter buat bela diri kalo dijadikan kambing hitam, soalnya ngga sekali dua kali sih. Lo baru masuk satu bulan ini kan, belum lihat lah gimana liciknya orang keuangan buat nyingkirin kita dibagian administrasi ini. mentang-mentang kita ini hanya bagian yang fokus pada hal kecil-kecil jadi disepelekan di" jawab mbak raya dengan menggebu.


"ooohh gitu, berarti udah sering juga dong ya?" tanyaku sambil mengeprint laporan yang diminta mbak raya.


"ini mbak, tolong dicek dulu mbak. takut ada yang salah" kataku membuat mbak raya langsung mengecek pekerjaanku satu persatu.


"oke, bagus. thanks ya" jawabnya yang langsung keluar dari ruangan ini.


"eh mas, mas Fahmi. emang bener ya apa yang dibilang mbak raya tadi?" tanyaku pada karyawan laki-laki yang berada di sebrang meja ku.


"iyaa begitulah ras" jawabnya dengan sungkan.


"emm apa mungkin dikantor ini ada korupsi mas?" tanyaku hati-hati.


"kita sih gatau lah di, tapi mungkin ngga ada hanya aja ada selisih dikit pasti dimanipulasi sama bagian keuangan makanya kita yang dibawah ini kalo habis beli apapun selalu menyertakan kwitansi pembelian walaupun harga murah sekalipun di" jawab mas Fahmi membuatku menganggukan kepala.


aku pun tak bertanya lagi pada mas Fahmi dan melanjutkan pekerjaanku, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang.


"di, makan siang yuk?" ajak mbak Laras bersama dengan mbak Silvi disebelahnya.

__ADS_1


"boleh, yuk mbak" jawabku mengikuti langkah keduanya menuju kantin.


"eehh ras, liat deh" kata mbak Silvi dengan berbisik.


"apa si sil?" tanya mbak Laras memicingkan mata.


"itu lihat, ada pak Hamid di pintu lift" jawab mbak silvi menunjuk ada nya mas Hamid. aku pun membelalakan mata, kaget karna adanya mas Hamid disana.


"iyaa ya, mau ngapain ya pak Hamid disitu" tanya mbak Laras membuatku dan juga mbak Silvi mengangkat bahu.


"assalamualaikum di" sapa mas Hamid ketika aku sudah mendekat bersama mbak Laras dan juga mbak Silvi, kami bertiga pun seketika terhenti mendengar sapaan mas Hamid.


"wa-waalaikumsalam pak Hamid" jawab kami bertiga serempak, mas Hamid pun tersenyum pada kami.


"maaf ya mbak-mbak, boleh saya pinjam Diah nya sebentar?" tanya mas Hamid pada mbak Laras dan juga mbak Silvi.


"ooohh bo-boleh pak, silahkan. emm yuk sil kita kekantin duluan" ajak mbak Laras pada mbak Silvi, aku pun memegangi baju bagian bawah mbak Silvi yang paling dekat denganku.


"yaahh mbak jangan tinggalin aku dong" kataku berbisik ditelinga mbak Silvi.


"udah, kamu sama pak Hamid aja dulu. gapapa kok, aku sama Laras duluan kekantin nanti kamu nyusul. tapi kalo ga nyusul gapapa sih, kalo makan berdua keluar jangan lupa sama kita ya?" kata mbak Silvi berbisik kemudian terkekeh membuatku membulatkan mata.


akhirnya pegangan ku pada baju mbak Silvi pun terlepas, keduanya pun berjalan meninggalkanku setelah berpamitan pada mas Hamid.


"emm ada apa ya mas, eh pak?" tanyaku pada mas Hamid.


"emm aku mau ajak kamu makan siang" jawabnya kembali menundukkan kepala, aku pun menyerit heran karna mana mungkin aku makan berdua hanya dengan mas Hamid.


"emm aku ngajak Rizal kok, kamu ngga usah khawatir. kita ngga akan berduaan" lanjut mas Hamid yang seolah tau kekhawatiran ku.


"tapi,,,,," jawabku langsung disanggah oleh mas Hamid.


"ada yang mau aku bicarakan" .....


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2