Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 107.


__ADS_3

"udah sama mbak Diah aja ya mas Hamid, mbak Diah kan sebentar lagi juga menjanda" kata Sintia tiba-tiba membuatku membelalakan mata.


"Sintia, kamu apa-apaan sih!" kataku berbisik merasa malu dengan apa yang diucapkan oleh Sintia.


sementara mama dan juga umi Hamidah saling melempar pandangan.


"kenapa si mbak, iyakan umi? umi ngga keberatan kan kalo mbak Diah yang jadi mantu umi" kata Sintia random pada umi Hamidah.


"Sintia, jangan bicara sembarangan begitu. kasian mas Hamid" kata mama menegur Sinta.


"gapapa kok bude" jawab Hamid tersenyum.


"iyaa Siti, biasa itu mah. kalo Hamid nya mau sama Diah, umi juga setuju aja kok. yang penting diselesaikan dulu urusannya" kata umi Hamidah membuatku malu.


"jangan gitu lah umi, saya malu. saya kedalam dulu ya liat Nayla dan juga Syifa" kataku dengan wajah gugup.


"nah kan bilang aja malu, malah segela menghindar" kata Sintia.


"yee kan tadi aku bilang kalo aku malu!" seru ku.


"udah-udah kamu jaga godain mbak kamu terus sin" kata mama membuat sintia terkekeh kecil.


aku pun melanjutkan langkah menuju kamar dimana Nayla dan juga Syifa beristirahat sejak tadi, keduanya sudah tertidur tak lama setelah acara dimulai.


iseng aku puh mengecek ponsel, ternyata terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari mas Lukman.


"mau apa lagi dia menghubungiku malem-malem begini" gumamku.


tak lama setelah kembali aku taruh dinakas, ponsel pun kembali berbunyi. ternyata mas Lukman lagi, ku coba angkat. biar gimana pun dia masih suamiku kan?


"assalamualaikum" salamku setelah menggeser layar hidup diponsel.


"waalaikumsalam Diah, aku sakit dan sekarang berada diklinik" katanya dengan suara pelan.


"lantas apa hubungannya dengan aku?" tanyaku ketus.


"kamu masih istriku Diah, kamu wajib berada di dekatku saat seperti ini" jawabnya kembali membuatku kesal.


"istri? kamu ngga salah mas, kemana aja selama ini kamu mas. kenapa harus aku? kemana keluar yang kamu bangga kan itu? kemana juga selingkuhan kamu?" tanyaku dengan ketus.

__ADS_1


"kamu ngga perlu banyak tanya, aku hanya menyuruh kamu kesini untuk mengurusku Diah. jangan lupa bawa uang untuk membayar perawatan" katanya membuatku terkekeh kecil.


"ngga ada uang! lagian aku juga ngga minat buat datang kesana, aku rasa kamu juga faham betul itu. lebih aku dirumah menghabiskan waktu bersama anak-anak, suruh aja keluargamu yang membayar! bukannya selama ini mereka yang menikmati uangmu!" seruku dengan sedikit membentak mas Lukman dari telpon.


"lagian, ini sudah terlalu malam. aku ngga mungkin meninggalkan anak-anak, terlebih lagi aku juga ngga minat menjenguk kamu apalagi membayar biaya perawatan kamu!" lanjutku yang langsung mematikan sambungan telpon.


**


author POV.


disebrang sana. Lukman pun menggerutu, begitupun sang ibu yang juga tak bisa terima dengan apa yang dikatakan oleh Diah didalam telpon.


"sialan bener menantu kurang ajar, suami lagi sakit disini malah ngga mau ngurusin. terus kita bayar biaya perawatan kamu pake apa ini man?" kata ibu Lukman.


"kalo mama tanya Lukman, Lukman tanya kesiapa ma. mama ngga liat aku terbaring disini, lagian kenapa ngga minta kak Yuni aja si bayarin dulu biaya perawatan aku! nanti pasti aku ganti ma!" seru Lukman menatap ibu nya.


"heh! mau ganti pake apa kamu, ATM gajimu aja masih ditangan Diah. kalo pake uang kakak mu, terus nanti anak-anaknya dan juga mama mau hidup pakai apa?!" bentar ibu Lukman pada anak lelakinya.


"ma, selama ini juga kan Lukman membantu kak Yuni. masa kali ini aja mama ngga izinin kak Yuni buat bantu aku, paling berapa si biaya perawatan diklinik ini. ngga sebesar kalo dirawat inap dirumah sakit ma" kata Lukman pada ibunya.


"sama aja man, tetap aja bayarnya pake uang. mama ngga mau tau ya, pokoknya kamu harus dapatkan uang dari Diah setiap bulannya. mama ngga mau kamu kerja sia-sia untuk menghidupi perempuan serakah seperti itu!" bentak ibu Lukman membuat Lukman terdiam.


"assalamualaikum, pak Lukman" kata dokter.


"waalaikumsalam dokter" jawab Lukman dengan lirih.


"bagaimana keadaan malam ini pak Lukman?" tanya dokter yang memeriksa Lukman.


"Alhamdulillah sudah lebih baik dokter" jawab Lukman seadanya.


"baiklah, karna sebanarnya tak ada masalah serius apapun dikepala pak Lukman. mungkin sakit kepala karna terlalu lelah bekerja dan berfikir saja" jawab dokter tersebut membuat Lukman tersenyum senang.


"iyaa dokter mungkin karna saya terlalu lelah bekerja" jawab Lukman disertai senyuman.


"kalo gitu saya pamit ya, jangan lupa obat dan makanannya dimakan dengan rutin. besok saya libur, kita ketemu lagi lusa ya" jawab dokter tersebut langsung meninggalkan ruangan Lukman.


"masa ngga ada apa-apa si man, kamu tadi aja seperti sangat kesakitan. apa kelinik ini salah periksa ya, apa ngga sebaiknya kita periksa kerumah sakit apa man?" tanya ibu Lukman dengan dahi menyerit.


"Bu, untuk biaya diklinik ini kita masih bingung Bu, bagaimana mau kerumah sakit. lagian mungkin memang benar apa yang dikatakan dokter tadi Bu, tapi saya juga merasa aneh karna rasa sakitnya kadang datang tapi kadang juga hilang" jawab Lukman.

__ADS_1


"maksud kamu gimana man? jadi kalo ngga terus-terus merasa kan sakit? atau jangan-jangan kamu disantet man, ihh kok serem banget ya man" kata ibu Lukman dengan konyol.


"ibu ini apa apaan si Bu, mana mungkin. kalo aku disantet pun siapa yang mau menyantet aku, justru kita yang harusnya menyantet orang lewat bapak. bukannya malah aku yang kena" jawab Lukman seketika tersadar dengan apa yang dia katakan.


"santet? bapak! atau jangan jangan, ini efek dari apa yang kita lakukan pada Diah lewat bapak Bu? bukannya selama ini kita berusaha membuat Diah menurut pada kita dengan mengguna-guna dia? jangan-jangan berbalik sama aku karna Diah udah mengetahui apa yang kita lakukan" lanjut Lukman ketika tersadar dengan perkataannya.


"ah mana mungkin man, ngga mungkin berbalik kekamu. karna kamu kan udah dipagerin biar ngga bisa belum kekamu kalo ketauan sama Diah, masa iya si balik"jawab ibu Lukman tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya.


"yaa kan bisa aja ma, lagian nih ya. mama liat ga kemarin ada seorang kiayi yang datang kerumah Diah, mungkin ilmunya lebih tinggi dari bapak makanya bisa membalikkan pada yang mengirim" kata Lukman membuat mamanya membelalakan mata.


"kalo begitu bapak kamu bakalan kena juga dong man, aduuhh bisa gawat ini" jawab ibu Lukman dengan panik.


"lagian si, kenapa waktu itu mama menyuruh Lukman melakukan hal kaya gitu. jadi kita kan yang repot sendiri" kata Lukman dengan kesal menatap ibu nya.


"heh bodoh! mama lakukan ini juga untuk kamu, biar kamu ngga direndahkan sama perempuan rendahan itu. kamu tau sendiri kan, waktu kamu baru kenal dia bahkan kerjanya enak dengan gaji yang cukup besar dibanding kamu. apa kamu mau dengan itu jadi alasan dia merendah kan kamu yang saat itu gajimu masih kecil, bahkan saat mama minta buat beli botol kesehatan itu aja dia ngga kasih. iyakan?" kata ibu Lukman seketika membuat Lukman terdiam dengan pikirannya.


"yaa terus kalo udah kaya gini, aku harus gimana ma. ngga mungkin medis bisa menghilangkan rasa sakit kepala aku ini, mama tau sendiri kan gimana kesakitan ya aku. sakit banget ma" jawab Lukman dengan dan merintih.


"coba mama telponkan bapak kamu, siapa tau bapak kamu punya solusinya dulu. mama keluar dulu" kata ibu lumna segera melangkah kan kaki keluar dari ruangan Lukman.


"gimana ini, kalo sampai beneran seperti itu bisa-bisa ngga akan lama hidup Lukman karna penyakit yang ngga jelas. awal ingin Diah yang seperti ini, kenapa justru malah anakku" gumamnya sambil terus menghubungi suami sirinya itu.


"kemana lagi bapak ini, ditelpon malah ngga diangkat-angkat!" gumamnya kesal karna berkali-kali menelpon sang suami tak juga diangkat.


"mama ngapain disini?" tanya Yuni yang tiba-tiba berada disebelah ibu Lukman.


"mama lagi coba hubungin bapak, bisa gawat kali penyakit Lukman ngga terdeteksi sama medis Yun. bisa-bisa Lukman kegingan nyawa dengan tragis karna ngga ketauan penyakitnya" jawab ibu Lukman.


"hah,maksud mama gimana?" tanya Yuni dengan heran.


"mama dan adikmu mengira rasa sakit yang Lukman rasa dikepalanya itu karna efek yang seharusnya terjadi pada Diah Yuni, seharusnya Diah yang merasakan rasa sakit seperti ini. tapi malah berbalik keadikmu" kata ibu Lukman dengan menggebu-gebu.


"maksud mama? jadi, Diah sudah tau kalo Lukman sempat membuatnya selalu menurut melalui bapak?" tanya Yuni yang langsung diangguki oleh ibu Lukman.


"bagaimana Diah bisa tau? kan selama ini Diah ngga pernah tau, bahkan dia selalu nurut pada kita. oohh pantesan aja selama ini dia begitu berani, mungkin ini juga salah Lukman yang ngga bisa ngejaga benda itu. iyakan ma?" kata Yuni yang langsung diangguki oleh mamanya.


"memang dasar bodoh Lukman itu!" bentak ibu Lukman dengan kesal. keduanya pun memilih masuk kedalam ruang perawatan Lukman tanpa hasil.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2