
"hanya memberi pelajaran pada kakakmu yang sok itu agar bisa lebih menghormati suami, mertua dan juga iparnya. biar semua tetangga disini tau jika kakakmu bukan istri dan juga menantu yang baik dalam keluarga kami" kata kakak iparku membuat ku dan juga Rey saling pandang dan langsung tertawa kecil.
"oohh, terus? sudah? apa sudah selesai drama kalian? kalo sudah silahkan pergi dari sini" kataku membuat ketiganya membelalakan mata.
"dengar sendiri kan ibu-ibu, lihat Diah berbuat hal yang tidak pantas dia lakukan pada ipar dan juga mertuanya bahkan suaminya sendiri" kata kak Yuni membuat beberapa ibu-ibu yang sudah berkerumun saling berbisik-bisik.
"apa sudah selesai membuat dramanya kak Yuni yang terhormat?" tanyaku dengan nada geram.
"kenapa? kamu malu karna aku membuka aibmu didepan para ibu-ibu ini??" katanya kak Yuni menyunggingkan senyum tipis.
aku pun hanya tertawa kecil melihat tingkah kak Yuni yang sengaja membuat keluargaku malu, tapi akan aku pastikan jika ia yang akan menanggung malu setelah pulang dari rumah ini.
"sudah cukup membuatku malu? baiklah sekarang giliran aku" kataku dengan senyum kecil berjalan kearah kak Yuni dan juga ibu mertua yang berada tepat didepan ku.
"apa maksudmu?" tanyanya dengan raut wajah heran menatapku dengan pandangan tajam, begitu juga dengan mas Lukman dan ibu mertuaku.
"tentu saja mengikuti drama yang kamu buat, apa lagi. bukannya itu yang mbak mau, selama ini aku sudah diam. aku sudah menerima mas Lukman mendahulukan mbak dan juga anak-anak mbak, bahkan aku ngga keberatan uang nya habis untuk mbak dan juga ibu hingga aku hanya diberikan uang lima puluh ribu sehari. tapi nyatanya, semakin aku diam kalian semakin semena-mena dengan aku. dan disaat aku mulai lelah dan berani melawan kalian berlaku seolah-olah adalah orang yang paling tersakiti." jawabku dengan berjalan terus mendekat ke arahnya yang sudah membuang muka tak sanggup menatap ku yang melihatnya dengan tatapan mengejek.
"itu sudah sewajarnya di, karna ibu adalah ibu kandung Lukman dan Yuni adalah kakaknya. Lukman sebagai anak lelaki punya kewajiban pada keluarga ya pasti termasuk pada kakak kandungnya" kata ibu mertuaku membuat banyak warga terkaget karna dengan pedenya ibu mertua berucap yang diluar akal sehat manusia.
__ADS_1
"emang kak Yuni seorang janda Bu yang nafkahnya kembali pada keluarganya sendiri? jika ia, aku dengan ikhlas memberikannya hanya untuk sekedar membantunya bukan berarti menghidupi. tapi nyatanya bahkan gaji suami mbak Yuni jauh lebih besar dari mas Lukman, apalagi kak Yuni juga diberikan uang jatah sebanyak empat juta sebulan tentu saja ngga sebanding dengan apa yang aku terima dari mas Lukman. kenapa aku yang sebagai istrinya membawa uang suamiku sendiri seperti pencuri yang mengambil uang orang lain?" kataku menohok membuat para ibu-ibu kembali berbisik mencibir kak Yuni.
"yaampun masih ada aja ya mertua sama ipar yang seperti itu, suaminya juga diam aja lagi istrinya diperlakukan ngga adil begitu" kata salah satu ibu-ibu itu dengan mencibir.
"diam kalian, semuanya itu ngga benar. dia sengaja menyebar fitnah tentang leluarga kami yang tidak-tidak untuk membuat kami malu dilingkungan sini, jangan dipercaya dia bohong" kata kak Yuni dengan mata memelototkan mata.
"heh mbak, kita semua kenal kali bagaimana mbak Diah dan keluarganya. ngga mungkin mbak Diah berkata yang tidak-tidak, apalagi sudah jelas ini dilingkungan ya sendiri. andai dia mau bisa aja dia menjelekkaj kalian dilingkungan kalian bukan disini, iyakan ibu-ibu" kata Bu Salma yang berada ditengah-tengah para ibu-ibu tersebut.
"betul" jawab mereka serentak.
"mendingan kalian bertiga pulang dari pada menambah malu disini, percuma kalian akan semakin terlihat bodoh dengan berbicara omong kosong" kataku yang menatap wajah mas Lukman sudah memerah menahan amarah sekaligus malu.
"baik, akan aku berikan. asal kamu siap dipenjara dan mempercepat proses perceraian kita dan rela dengan sangat semua barang termasuk motor-motor itu menjadi milikku, dan katakan pada keluarga benalu mu untuk tidak mengusik semua yang sudah menjadi hal ku atas persetujuan kamu. bagaimana?" tanyaku membuat mas Lukman membelalakan mata.
"jangan kurang ajar kamu Diah, mana ada istri yang mau suaminya dipenjara. udah gila kamu!" kata mas Lukman membentakku dihadapan keluarga dan para ibu-ibu yang menonton perdebatan yang terjadi.
"bukannya mas sendiri yang sudah menandatangani perjanjian itu, apa aku memaksa mas untuk menyetujui itu? ngga kan! jadi kalo kamu lebih memilih mengikuti apa yang kakak kamu katakan ini ya silahkan saja kalo kamu mau mendekam dipenjara, aku ngga masalah. toh kamu yang berbuat ya berarti kamu juga yang harus bertanggung jawab" jawabku dengan santai menatap mas Lukman yang menatapku dengan tatapan tajam.
"benar-benar gila dasar, istri ngga ada akhlak. suaminya sendiri mau dilaporin polisi, udah gila kamu!" kata kak Yuni mencibirku.
__ADS_1
"kenapa memangnya? buat apa juga mempertahankan suami yang ngga berguna sama sekali, kenapa kamu takut kalo ngga akan ada yang memasok keuangan kamu lagi kalo uang bulanan kamu yang super banyak itu habis? haha kasian banget si mbak mbak" jawabku mengejek kak Yuni yang terlihat sangat tak suka mendengar perkataan ku.
"kamu udah diluar batas Diah, ngga seharusnya kamu memperlakukan kedua anak ku dengan seperti itu. biar bagaimana pun dia suami dan kakak iparmu, ngga pantas kamu membuat mereka berada dalam situasi seperti ini. lagi pula apa susahnya cuma kasih uang dan ATM itu di, toh kamu masih dikasih makan sama Lukman dan ngga kakurangan kan" kata ibu mertua dengan lancarnya tanpa memikirkan beban ku yang lainnya
"seandainya dibalik Bu, apa susahnya ibu dan kak Yuni tidak terus merecok urusan keuangan rumah tanggaku dan juga mas Lukman apa ngga bisa Bu? toh selama ini kak Yuni udah diberikan jatah yang lebih dari cukup oleh suaminya, bahkan kontrakan juga masih dibayarin sama mertua kak Yuni bahkannha lagi kak Yuni masih dapat uang dari hasil percetakannya itu. kemana uang-uang itu Bu, sampai setiap hari masih harus merecok mas Lukman. oohh iyaa satu lagi, kemana juga uang bulanan ibu dari mas Lukman yang melebihi yang makan ku itu? apa habis juga oleh kak Yuni?!" kataku membuat mata mertuaku dan mas Lukman berkilat marah.
"sudah cukup di, kamu benar-benar sudah kelewat batas. sudah cukup kamu menghina ku dan juga keluargaku,,,,,," kata mas Lukman yang langsung aku putus.
"aku tidak menghina mas tapi kalian lah yang memulai semua ini, seharusnya kamu lihat mas siapa yang mulai duluan aku hanya membela diri bahkan kamu ngga bisa membela ku. aku sadar diri mas andai aku memang hanya kamu anggap orang lain, tapi lihat lah kedua anakmu yang lahir dari rahimku. aku ikhlas kamu mengutamakan ibumu, tapi aku ngga bisa terima andai kamu ngga bisa adil diantara kita berdua. jika kamu ngga bisa membelaku atau bersikap adil untukku lebih baik kamu ceraikan aku mas, aku ngga bisa menuntut banyak hanya itu" jawabku dengan mata berkaca-kaca.
"tidak, aku tidak akan pernah menceraikan kamu di. ngga akan pernah!" kata mas lukman dengan anda tinggi.
"lantas apa mau kamu mas? kamu fikir aku mau terus hidup dengan kamu seperti ini, aku juga ngga mau mas. apalagi terus-terusan direcok dengan keluarga kamu. aku lelah mas, aku ngga bisa jika kamu suruh aku bersabar terus menerus. aku ngga sekuat itu mas, silahkan kamu cari perempuan lain yang begitu bisa mempertahankan rumah tangga didengar keluarga toxic disekitarnya. andai ada, aku pastikan dia yang terbaik untuk kamu. tapi itu bukan aku" jawabku dengan meneteskan air mata, aku pun berlalu kedalam rumah dengan perasaan yang hancur tanpa menghiraukan semua orang yang masih berada dihalaman rumah.
"sudah dengarkan apa yang mbak Diah katakan, jadi lebih baik mas Lukman pikirkan perkataan mbak Diah. pilihannya cuma satu, tinggal jauh dari keluarga mas Lukman dan memenuhi kewajiban mas Lukman dengan baik atau ceraikan mbak Diah. aku tunggu keputusan mas Lukman hingga besok pagi, jika tidak aku yang akan memaksa mbak Diah menceraikan mas Lukman yang ngga bisa membuat keputusan" kata Rey yang masih bisa aku dengar.
"ngga bisa gitu dong, kami kesini mau minta ATM dan juga uang Lukman. man, minta sana ATM dan juga uang kamu, jangan biarkan istri kamu itu menguasai semuanya" kata kak Yuni memaksa mas Lukman meminta semua uangnya dan juga kartu atm-nya yang berada ditangan ku.
"diam mbak! aku dari tadi udah diam dengar mbak membuat keributan dirumah ku, aku bisa aja melaporkan mbak atas tindakan tidak menyenangkan detik ini juga" ......
__ADS_1
bersambung......