
"lah itu bapaknya si putri itu yang suka main Ama nayla, itu emaknye kaga beres. dulu, anak emak lagi kerja lah dia masukin lelaki lain kedalam rumah. makanya sampe sekarang dia kaga berani ngadepin muka kehadapan emak, malu dia" jawab emak membuatku membelalakan mata, ada sosok seorang ibu yang seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.
"memang iyaa ma, yaallah tega banget. terus sekarang masih sama-sama Mak?" tanyaku pada emak yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"iyaa masih lah neng, tau itu si putri bapak masih mau aja Ama bini begitu. kalo emak mah ogah" jawab emak membuatku menyeritkan kening.
"emang kenapa Mak? begitu kan tetep aja masih mantu emak" jawabku membuat emak langsung berdecak kesal.
"kalo bener mah neng jadi orang, emak mah juga sayang banget neng. sayangnya aja orangnya begitu, sableng begitu. jangankan ngeliat neng, denger namanya aja emak Udeh kesel banget. liat aja, tiap hari aja kemari kan si putri Ama bapaknya. tau ngga lu kenapa?" kata emak membuatku langsung menggelengkan kepala.
"yaa itu dia mah kaga pernah masak, jangan kan masak. bikinin kopi aja kaga pernah neng" lanjutnya dengan nada kesal.
"het buset sampe segitunya Mak" jawabku singkat.
"iyaa neng, ngapain emak bohong." jawab emak dengan nada serius.
aku yang mendengar perkataan emak pun langsung terdiam tak menyahuti lagi perkataan wanita paru baya dihadapanku ini.
"emak kekebon dulu dah ya neng, ntar kalo ada apa-apa teriak aja kan ada teh Wati disebrang" kata emak yang langsung aku berikan anggukan kepala.
__ADS_1
"iyaa Mak, cabut singkong apa Mak buat bikin kolam. kayanya enak Mak" kata ku menghentikan langkah emak yang sudah mulai berjalan meninggalkan rumah melalui pintu belakang.
"lah lu pengen kolak singkong? ntar dah emak bikinin, lu istirahat aja dulu. ayu Ama Selly mah lama pasti beli nasinya, lumayan bisa merem barang setengah jam mah" kata emak yang langsung aku angguki.
emak pun meninggalkan ku dengan Syifa didalam rumah kontrakan, sepuluh menit selang kepulangan emak mas Lukman pun memasuki rumah melalui pintu depan. aku tak mengindahkan kedatangannya, menganggap dirinya tak ada didalam rumah dengan terus menyentuh pipi Syifa yang tengah ku berikan asi.
"di"
"Hem"
mas Lukman pun terdiam tak mengatakan apapun setelah itu, begitupun aku yang juga terdiam.
"maksud kamu apa?" tanyaku dengan nada serius.
"ngga bisakah kita bicara dari hati kehati sebagai pasangan suami istri, kenapa kamu seolah menganggap aku orang lain sampai mau memenjarakan aku hanya karna hutang itu. di, aku ini suami kamu di bukan orang lain" katanya yang lagi-lagi membuatku harus meredam rasa kesal.
"sudah selesai ngomongnya?" tanyaku dengan santai membuatnya menatapku dengan tatapan tajam.
"apa maksud kamu? kamu sama sekali ngga menghargai aku yang dari tadi bicara baik-baik sama kamu di" jawabnya membuatku semakin kesal.
__ADS_1
"aku malas berdebat sama kamu mas, percuma. seperti bicara dengan,,,,,," jawabku yang langsung dipotong oleh mas Lukman.
"kurang ajar!! udah mulai kurang ajar kamu sebagai istri di" kata mas Lukman dengan sedikit membentak.
"mas, mas kamu kalo mau dihargai ya harus menghargai orang mas. jangan maunya dihargai tapi ngga bisa menghargai, emangnya kamu siapa aku harus tunduk terus sama kamu. selama ini aku udah diam kan, aku udah ngga pernah ngeluh apapun yang kamu lakukan pada ku bahkan ketika kamu ngga bersikap adil pun aku tetap menghargai kamu sebagai suami. tapi bagaimana dengan kamu mas? aku hanya membela dirimu sendiri, andai bukan aku yang berdiri sendiri siapa yang akan membantu aku. kamu? aku dihina dan dicaci maki oleh ibu dan juga kakak kamu aja kamu hanya diam mas, gimana aku bisa menggantungkan hidupku sama kamu" jawabku membuat mas Lukman semakin memelototkan mata.
"aku selama ini bertahan bukan karna hal lain mas, tapi karna adanya anak diantara kita. waktu hanya ada Nayla aku diam dengan kamu berikan uang lima puluh ribu, karna memang udah itu sudah cukup untuk kami. tapi sekarang, sudah ada Syifa mas. Syifa juga butuh nutrisi lebih dari ibu nya, dia juga butuh makan makanan yang bergizi yang akan dia serap dari asi aku." lanjutku membuatnya terdiam dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"apa uang segitu tetap ngga cukup, toh selama ini juga aku memenuhi kebutuhan sandang kamu kalo sudah rusak aku belikan begitu juga dengan Nayla. kenapa kamu ngga mau bersyukur di, bersyukur karna kita masih bisa makan dan kamu juga Nayla masih bisa untuk membeli pakaian" jawabnya membuatku menyertikan kening.
"aku kurang bersyukur apa lagi mas? apa kamu pernah denger aku ngeluh soal masakan yang hanya itu-itu aja, bukannya kamu yang biasanya ngeluh karna hanya itu yang aku masak selalu aku sesuaikan dengan apa yang kamu berikan. aku juga pengen mas, sesekali masak daging, ayam, atau seafood untuk anakku. ngga cuma sayur dengan ikan kering yang harganya tiga ribuan, tapi apa kamu fikir dengan uang lima puluh ribu itu cukup untuk membeli sayur dengan ayam belum juga dengan bumbu yang lain. ngga cukup mas, bukannya aku udah sering minta kamu untuk membelanjakan sendiri ke pasar agar kamu bisa tau berapa harga lauk semacam itu. tapi apa kamu mau? ngga kan! bahkan aku dan Nayla harus menahan lapar saat siang hari dengan membeli cemilan agar lauk itu cukup untuk kita makan sampai malam" jawabku dengan suara parau menahaj air mata yang akan tumpah ke pipi.
"justru yang aku pertanyakan, apa salahku jika aku mengelola gaji kamu sebagai istri. apa aku pernah mengecewakan kamu dalam hal mengelola keuangan? dulu waktu kita masih mengontrak dengan rumah mama pun uang jatah dari kamu tiga juta lima ratus ribu selalu cukup untukku mas, bahkan lebih dan aku selalu bisa menabung hingga aku dan Nayla punya banyak tabungan emas. iyakan? bahkan hutangmu pun lunas saat kamu berikan semua gaji kamu waktu kita ngontrak didaerah perumahan Pandawa, apa kamu ngga ingat mas? coba selama kita tinggal disini, dekat dengan keluarga kamu? jangan kan tabungan emas, uang pun selalu habis sebelum akhir bulan. iyakan" lanjutku yang sudah meneteskan air mata.
"mas hanya mau berbakti dengan ibu di, apa itu salah. kamu kan tau sendiri ibu hanya menggantungkan hidup pada mas, pada siapa lagi dia meminta jika bukan pada mas di, Abang juga ngga kerja bahkan dia ngga tau sekarang dimana. mas juga pengen di kita punya tabungan lagi, tapi mau gimana. mas ngga bisa ngebiarin mama membebani kak Yuni aja, setidaknya mas juga harus bantu kak Yuni untuk memenuhi kebutuhan ibu." jawabnya menundukkan kepala.
"apa aku pernah melarang mas? ngga kan, aku ngga pernah melarang kamu untuk berbakti mas. ngga pernah!!,,,,,,,,,,
bersambung......
__ADS_1