
seolah tak ada habisnya siang hari kak Yuni pun kembali datang kerumahku, ntah apa tujuan dan maksudnya kali ini yang jelas aku sangat terganggu karna kehadirannya.
"di,,, Diah" suaranya terdengar mengetuk pintu rumah yang memang aku tutup karna aku selalu mengajak Nayla tidur siang setiap hari dengan rutin.
aku pun bangkit dan membukakan pintu, benar saja benalu satu ini datang lagi setelah tadi pagi membuatku naik darah dengan perkataannya yang membuatku meradang.
"ada apa?" tanyaku dengan ketus.
"emmm ngga ada apa-apa, kamu masak apa?" tanyanya dengan melongok kekanan dan kekiri kedalam rumahku.
"ngga masak" jawabku singkat tanpa ada kebohongan, karna aku memang tak memasak semenjak kehadiran Syifa.
"kok ngga masak sih" jawabnya membuatku menyeritkan kening.
"memangnya kenapa kalo aku ngga masak, apa masalahnya sama kamu!" jawabku dengan sinis.
"emmm aku kesini sebenarnya mau minta lauk kamu Diah, kasian mama sama kedua anakku belum makan dari pagi. aku baru aja habis anterin pesanan orang belum sempat masak" jawabnya membuatku terkekeh.
"ngga sempet masak tinggal beli kak, ngga usah repot. kan abis dri luar pasti banyak dong yang jual lauk matang" jawabku dengan santai menatap matanya yang terlihat gugup.
"tapi aku malas Diah, kamu ini kenapa sih pelit banget cuma dimintain lauk doang aja. kalo kamu ngga masak tolong beliin dong, aku capek banget nih abis nganterin orderan" jawabnya dengan santai mendudukan diri tepat didepan pintu kontrakan ku.
"yaudah sini aku beliin, mana uangnya" kataku menjulurkan tangan meminta uang padanya yang membelalakan mata mendengar perkataanku.
"uang? ngga ada! pakai uangmu dulu lah, kenapa sih pelit banget jadi orang" jawabnya membuatku membulatkan mata.
"enak aja pakai uang aku, yang mau makan kamu. kenapa harus aku yang mengeluarkan uang, enak aja" jawabku dengan ketus, kak Yuni menatapku dengan pandangan tak suka.
"heh, uang yang ada dikamu itu yang adikku jadi apa salahnya aku minta kamu untuk membelikan makanan untuk ibu dan juga aku. jangan pelit lah jadi orang" jawabnya seketika membuat dadaku bergemuruh.
__ADS_1
"heh! adikmu itu suamiku, lagipula ibu udah dikasih sendiri jatah untuk dirinya. sementara kamu udah diberikan jatah oleh suamimu, bahkan kamu setiap hari membuka orderan dari pekerjaanmu. bahkan saat ini baru aja kamu bilang kamu abis antar orderan, kenapa masih minta makan padaku!!" jawabku membentaknya yang terlihat tidak suka dengan apa yang aku katakan.
"hei, uangku urusan aku. ngga ada hak kamu, jatahku dari suamiku juga ngga urusannya sama kamu. jadi jangan ikut campur!!" jawabnya membuatku semakin kesal.
"hei, kamu tak ingin aku ikut campur dengan keuanganmu tapi kamu merecoki keuangan rumah tanggaku. sebanarnya uangmu itu untuk apa sampai setiap hari merong-rong kesini hanya untuk makan, bahkan setiap hari harus capek capek banting tulang kesana kesini untuk makan. kak, kak heran sekali aku" jawabku membuat wajahnya memerah menahan amarah.
"jangan kurang ajar ya kamu Diah, apapun itu semuanya bukan urusan kamu. mendingan sekarang kamu beliin lauk untuk aku, dari pada terus kamu bicara seperti itu" jawabnya membuatku terkekeh.
"pede banget, emang siapa yang mau beliin kamu lauk! beli aja sendiri, udah sama-sama punya rumah tangga sendiri kok masih aja merecok. dasar gatau malu" jawabku dengan ketus.
"kurang ajar! awas kamu aku akan bilang ibu dan juga Lukman atas apa yang kamu katakan saat ini, liat aja kamu akan menyesal telah berkata seperti itu padaku!" jawabnya kembali membuatku semakin terkekeh kencang.
"silahkan kak, aku ngga takut. sama sekali ngga takut, bukannya udah aku suruh kak Yuni buat meyakinkan mas Lukman untuk menceraikan aku. gimana? apa udah ada hasilnya, cepatan dong kak biar aku cepet bebas dari keluarga toxic kaya kalian" jawabku membuatnya membelalakan mata.
"liat aja, aku akan buat kamu diceraikan oleh Lukman. siap-siap aja kamu jadi gelandangan setelah Lukman menceraikan kamu!!" katanya mengancam, aku pun menyeritkan kening mendengar perkataan kak Yuni.
"iyaa kita lihat saja nanti, udah sana mendingan kak Yuni pulang dari pada disini bikin berisik doang. anak-anakku lagi pada tidur, hus hus" kataku sambil tertawa kecil menatapnya yang pergi dengan menghentakkan kaki.
"biarin aja lah kaya gini biar kalo benalu itu datang dia kembali pergi lagi, sekarang mending aku tidur dan kalo dia mengetuk pintu lagi aku pura-pura ngga denger aja" gumamku merebahkan diri dikasur bersebalahan dengan Syifa.
sore harinya tepat pukul lima sore mas Lukman pulang, ntah kenapa tumben sekali mas Lukman pulang cepat membuatku terheran heran.
"kok udah pulang mas?" tanyaku berbasa-basi.
"kamu, apa maksud kamu membentak kak Yuni yang cuma meminta lauk! hah! bukannya semua yang ada padamu itu uangku, apa salahnya berikan sedikit aja pada keluargaku? mereka ngga tiap hari punya uang Diah, jangan keterlaluan seperti itu. aku ngga pernah berlaku seperti itu pada keluargamu, dan aku ngga pernah bertindak kurang ajar pada orangtua mu. sementara kamu kali ini kamu benar-benar sangat kelewatan Diah! mana, sini berikan ATM ku. kamu benar-benar ngga bisa diandalkan!!" katanya berteriak marah-marah padaku yang dengan santai mendengarkan perkataan yang keluar dari mulutnya.
"udah selesai?" tanyaku dengan singkat.
"apa maksudmu, kenapa kamu bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa. apa harimu sudah terbuat dari batu sehingga ngga bisa merasakan kasihan pada seseorang?" jawab mas Lukman membuatku mengeluarkan senyum sinis.
__ADS_1
"heh mas seharusnya kamu sadar, uang yang ada di aku memang uang kamu. tapi itu lah kewajiban kamu untuk menafkahi aku dan anak-anak. dan lagi tugasmu pada ibumu, dan kamu udah menjalan kan itu dengan setiap bulan memberikan uang yang cukup untuk ibu. iyakan? kamu bilang belum tentu tiap hari punya uang? lantas kemana uang hasil percetakan kak Yuni mas kalo tiap hari ngga punya uang? hah! kamu ngga pernah berlaku seperti itu pada keluargaku karna memang keluargaku ngga pernah ikut campur urusan keuangan kita mas, mas mereka ngga pernah merengek kemari hanya untuk sekedar makan. kalo kamu mau ATM kamu, aku akan berikan tapi siap-siaplah mendekam dalam penjara seperti apa yang udah kamu setujui dalam perjanjian itu" jawabku dengan santai menatap mas Lukman yang menatapku dengan tatapan tajam.
"ooohh atau kamu bersedia menceraikan aku mas? waahh aku benar-benar sangat bersyukur kalo begitu, cepat talak aku sekarang mas. emm aku janji ngga akan membuat perceraian kita terhambat" lanjutku tertawa puas melihatnya terdiam tak melanjutkan perkataannya.
dia terus diam, entahlah mungkin memikirkan dari mana aku mendapat keberanian untuk melawannya.
"sekarang kamu udah berani menjawab perkataan aku ya Diah, kurang ajar kamu sekarang ya. mentang-mentang udah ada yang membela kamu jadi kamu berbuat seenaknya padaku, jangan senang dulu Diah. aku ngga akan pernah menceraikan kamu, dan aku akan melakukan berbagai acara agar kamu tak bisa lagi menguasai uang gajiku sendiri" jawabnya membuatku kembali terkekeh.
"silahkan mas, mau kamu seperti apapun aku akan bisa membuatmu menyerah dengan keadaanmu. ingat mas, kamu ngga dalam posisi memilih saat ini. jadi lebih baik kamu diam dan nikmati saja apa yang kamu tanam selama ini. aku emang sudah memiliki kekuatan karna aku sadar kamu ngga pantas untuk dipertahankan!" jawabku menatapnya dengan tajam
PLAAAAKK!!
aku pun membelakan mata ketika telapak tangan mas Lukman menempel jelas dipipi kananku, aku memejamkan mata merasakan sakitnya tamparan yang mas Lukman berikan untuk pertama kalinya. bahkan ia lah satu-satunya orang yang berani menamparku, padahal kedua orangtuaku pun tak pernah melakukan hal ini padaku.
"di-diah, ma-maafkan aku" kata mas Lukman mencoba menyentuhku yang langsung menepis tangannya.
"jangan coba-coba menyentuhku lagi dengan tangan kotormu itu mas, aku ngga akan pernah melupakan tamparan ini mas. ngga akan pernah" kataku berteriak sambil menghapus air mata yang mengalir dengan sendirinya.
aku berusaha menguatkan hatiku untuk tidak menangis dihadapan mas Lukman yang telah membuat luka baru dihatiku, bahkan diwajahku.
"mas bener-bener minta maaf Diah, mas ngga sengaja" jawabnya berusaha meraih tanganku dengan kedua tangannya.
"cukup mas, lebih baik mas pergi sekarang!!!" kataku menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutku.
"tapi Diah,,," katanya terputus.
"PERGIIIIII" teriakku dengan kencang hingga membuat Syifa menangis kencang, untung saja Nayla tengah berada dirumah ayu dan juga Selly jadi aku hanya butuh menenagkan Syifa.
"maafin aku Diah" jawab mas Lukman, aku pun tak menjawab permintaan maafnya. aku menghampiri Syifa dan menggendong bayi ku itu.
__ADS_1
"pergi mas!!" sentakku menatapnya tajam. mas Lukman pun segera pergi dari hadapanku, aku pun mulai menangis dengan kencang merasakan sakit dihari dan juga pipiku.
bersambung....