Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 85.


__ADS_3

"yaudah kalo gitu aku ambil pakaian dulu ya ma, titip Syifa sama Nayla" kataku berpesan pada mama.


"iyaa tenang aja, kaya ngga biasa aja Nayla disini sama mama" jawab mama membuatku sedikit terkekeh.


"yee beda lah ma, kan dulu seringnya sekarang kan jarang. apalagi kan tau sendiri mama kalo Nayla juga jarang mau ditinggal disini semenjak aku hamil Syifa" jawabku.


"iyaa iyaa udah sana, kalo kebanyakan ngomong nanti ngga jadi-jadi kamu buat ambil pakaian. jangan lupa pakaian Nayla sama Syifa, nanti ketinggalan lagi" jawab mama yang langsung aku angguki.


aku pun melangkah kan kaki keluar dari rumah mama berdampingan dengan Rey yang akan mengantarkan aku. selama diperjalanan tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kamu berdua, setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit akhirnya aku dan juga Rey pun sampai didepan rumah kontrakan milikku.


"kamu mau masuk ga Rey?" tanyaku pada Rey setelah pintu terbuka.


"ngga usah mbak, Rey disini aja buat awasi situasi takutnya nanti biang rusuh tau-tau datang lagi" jawab Rey membuatku terkekeh dan langsung segera masuk membereskan beberapa barangku dan anak-anak.


setelah hampir satu jam membereskan barang yang ingin aku bawa, aku pun menghampiri Rey untuk menyuruhnya membantu membawa koper yang terlihat sangat penuh.


"Rey, sini angkatin koper mbak nih. mbak bawa satu koper aja deh biar ngga kebanyakan tas" kataku pada Rey yang langsung mengerjakan apa yang aku suruh.


"nah, udah kan mbak? yuk balik deh, jangan lupa dulu kunci pintu mbak biar ngga ada yang hilang." kata Rey.


"udah kok, tenang aja." jawabku yang langsung duduk dikursi belakang.


aku dan Rey pun kembali kerumah mama dengan membawa koper yang berisi pakaian dan juga barang keperluan kedua anakku.


tiba dirumah mama, aku dikejutkan dengan tangisan Nayla dan juga Syifa yang saling bersahutan. setelah turun dari motor aku pun berlari menghampiri mereka diruang tamu.


"kenapa ini, kok pada nangis ma?" tanya ku pada mama.


"iyaa barusan Nayla ditinggal sama Sintia, jadi Nayla nangis ya Syifa jadi ikutan nangis deh" jawab mama.


"loh emang Sintia mau kemana lagi, kan udah pulang sekolahnya" tanyaku penasaran.


"iyaa emang udah pulang, tapi dia minta izin buat main sama temannya sekalian ngerjain tugas katanya." jawab mama membuatku hanya beroh ria.

__ADS_1


"loh kenapa ini Nayla nangis?" tanya Rey yang baru saja masuk kedalam rumah membawa koper milikku.


"ini ditinggal Sintia katanya, Nayla nangis adiknya juga ikut nangis makanya saut-sautan nangisnya" jawabku yang langsung diangguki oleh mama.


"lah emang kemana lagi itu bocah" tanya Rey sambil duduk disebelah mama.


"main sekaligus ngerjain tugas katanya" jawab mama singkat.


"oalaahh kirain kenapa, nay beli es krim aja yuk sama om" kata Rey membujuk Nayla agar berhenti menangis.


"beli es krim om? beneran?" tanya Nayla dengan polosnya.


"iyaa beneran lah, masa om bohong. Ayuk beli sekarang sama om" kata Rey menggandeng tangan Nayla.


keduanya pun pergi meninggalkan aku dan juga mama diruang tamu.


"bapak dikamar ma?" tanyaku pada mama yang langsung diangguki olehnya.


"iyaa biasa, tidur." jawabnya singkat.


"huuffftt" aku menghembuskan nafas berat, karna malas menjawab panggilan telpon dari mas Lukman.


"siapa si di, kok sampe buang nafas gitu?" tanya mama penasaran.


"siapa lagi, mas Lukman" jawabku singkat, aku pun memutuskan menerima panggilan telpon dari mas Lukman dengan menggeser tombol hijau.


"yaa mas, ada apa lagi?" tanyaku tanpa berbasa basi.


"di, apa kamu ngga punya uang sama sekali di? mas bener-bener butuh uang buat biaya pengobatan mas di. masa kamu cuma kasih ibu dan kak Yuni tiga ratus ribu, itu cukup cuma buat makan mereka doang di" kata mas Lukman disebrang telpon.


"aku uang dari mana lagi mas, uang tiga ratus ribu itu uang terakhir milikmu dari gaji kemarin. kamu kan tau semuanya sudah aku bayarkan untuk hutang dan cicilan, mana mungkin aku punya uang simpenan" jawabku dengan sedikit ketus.


"yaampun ayolaah di bantu mas, pinjam lah pada siapa kek. nanti pasti mas ganti di, cuma kamu yang bisa mas harapkan sekarang untuk membantu mas" jawabnya membuatku menyeritkan kening.

__ADS_1


"kenapa harus aku? kenapa kamu ngga minta bantuan sama kakak kamu aja mas, kan kamu tau sendiri kalo suami kakak kamu itu gajinya sampai belasan juta. ngga mungkin dong ngga punya uang" jawabku sedikit meyentil mas Lukman.


"masalahnya memang mereka juga lagi ngga ada uang di, makanya mas minta tolong banget sama kamu. atau kamu pinjamin lagi aja ya sama Rey, mas pasti bakalan ganti kok. kan semua uang mas sekarang jatuh ketangan kamu" jawabnya membuatku terkekeh.


"mas, mas emang ibu sama kakak kamu ngga bilang kalo Rey udah ga mau buat ngasih pinjam kamu lagi? kamu lupa kalo hutang kamu sama Rey aja masih belum lunas mas, bahkan baru kebayar dua juta masa udah mau hutang lagi. lagian mendingan kamu minta tolong sama selingkuhan kamu aja sana, ngapain minta tolong sama aku. ngga tau malu kamu!" kataku ketus.


"kamu itu masih istri aku di, seharusnya kamu disini merawat aku bukan malah dirumah enak-enak bersama keluarga kamu. perilaku aku juga karna kamu yang selalu melawan apa yang aku katakan, jadi jangan salahkan aku kalo aku sampai selingkuh dengan perempuan lain" jawabnya semakin membuatku kesal.


"yaudah kalo gitu juga jangan salahin aku kalo aku ngga bisa menghormati kamu sebagai suami, dan kalo aku ngga bisa bantu kamu ya kamu juga harus wajar dong. itu ngga sebanding dengan apa yang kamu lakuin sama aku mas, buat apa aku bantuin kamu yang udah jelas menghianati aku. seharusnya kamu introfeksi diri mas, bukan malah menyalahkan aku." jawabku langsung mematikan telepon secara sepihak tanpa menghiraukan lagi perkataan mas Lukman yang pasti akan terus menyudutkan aku.


"bicara apa dia di?" tanya mama membuatku menghela nafas berat.


"biasa lah ma, minta cariin uang untuk biaya pengobatannya. males banget kan aku harus nyariin setelah apa yang dia lakuin sama aku, emang dia siapa bisa seenaknya sama aku. dulu ia, sekarang ngga lagi deh" jawabku yang langsung disetujui oleh mama.


"iyaa bener, nah gitu dong. kamu harus bisa melawan. jangan mau ditindas sebegitunya, kamu bisa mendapatkan kebahagiaan kamu meskipun tanpa Lukman." jawab mama yang langsung aku angguki.


"iyaa ma, insyaallah aku pasti bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. makasih ya mama udah dukung aku buat pisah sama mas Lukman, yaa walaupun memang perceraian dibenci dalam agama kita tapi aku juga ngga mungkin mempertahankan rumah tangga yang udah ga sehat seperti ini. iyakan ma?" kataku yang langsung diangguki oleh mama.


"iyaa bener, gapapa. ini buat pelajaran kamu kedepannya, mama cuma bisa mending setiap keputusan yang kamu ambil di. selagi kamu bisa bahagia dengan keputusan kamu, mama pasti akan dukung kok" jawab mama membuatku terharu.


"iyaa ma, makasih ya ma" jawabku singkat yang langsung diangguki oleh mama.


"assalamualaikum" suara Rey dan juga Nayla sudah kembali kerumah.


"waalaikumsalam, yaampun nay kamu ngga salah banyak banget beli jajanannya" kataku terkaget melihat banyaknya jajanan yang diberikan deh untuk Nayla.


"gapapa ya om, kan om Rey yang beli bukan mama" jawab Nayla membuatku tercengang.


"hei siapa yang ajarin kamu ngomong kaya gitu" kataku pada Nayla membuat Rey terkekeh.


"pasti kamu ya Rey yang ngajarin Nayla ngomong kaya gitu sama mbak, jangan kebiasaan Rey nanti keterusan sampai gede. mbak ngga suka" kataku pada Rey.


"gapapa si mbak, Nayla kan keponakan aku. apa salahnya si beliin dia jajanan banyak selama dimakan" jawab Rey dengan santai.

__ADS_1


"yaa memang ngga ada salahnya, tapi mbak ngga mau sampai kebiasaan kamu memanjakan dia. suatu saat kamu akan berumah tangga sendiri Rey, jangan sampai nanti istri dan anakmu merasa dinomer duakan karna kamu sudah terlalu memanjakan Nayla sejak saat ini" kataku pada Rey dengan sedikit tegas.


bersambung.....


__ADS_2