Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 102.


__ADS_3

"masyaallah" respon kiayi Hasyim dan juga Bu nyai Hamidah mendengar ceritaku.


"maafkan saya yang mungkin kurang keras mencari kalian, jadi kalian harus hidup susah selama belasan tahun. sementara saya disini mengelola apa yang menjadi hak kalian juga" kata kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey saling berpandangan.


"maaf kiayi, jujur saja saya masih belum percaya jika kami memang bagian dari pesantren ini. karna selama ini almarhum memang tak pernah menceritakan apapun" kata Rey membuat kiayi Hasyim menganggukan kepala.


"baiklah, kalian boleh bertanya lebih dulu pada pak lek kalian. ini nomer ponsel saya, silahkan kalian hubungi saya atau nanti saya yang akan hubungi nak Rey agar kalian percaya dengan apa yang saya katakan." kata kiayi Hasyim yang juga dibenarkan oleh Rey.


"baik kiayi, kalo begitu saya dan mbak Diah pamit pulang dulu. nanti setelah sampai rumah saya akan menanyakannya pada pak lek Edi dan langsung menghubungi kiayi" jawab Rey membuat kiayi Hasyim tersebut.


"iyaa nak, silahkan. kami hanya memiliki satu keturunan, dan sekarang dia sudah memiliki usahanya sendiri. dia tak mau jika harus mengurus pesantren ini, jadi saya berharap kalian yang akan memimpinnya dimasa depan." kata kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey terkejut.


"nanti kami pikirkan kiayi, kami pamit pulang sekali lagi terimakasih" kata Rey, aku hanya tersenyum menatap Bu nyai Hamidah dan juga kiayi Hasyim.


"iyaa, sebentar tanaman Bidaranya biar saya ambilkan" kata kiayi Hasyim yang langsung melangkah ketaman belakang rumah. tak lama ia pun kembali membawa tanaman Bidara yang sudah dimasukkan kedalam kantong plastik.


"ini, terimalah. semoga nak Diah bisa terbebas dari hal-hal yang kita tidak inginkan" kata kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey tersenyum dan menganggukan kepala.


"amiinn, kami permisi dulu kiayi. assalamualaikum" kata Rey menyalami kiayi Hasyim, aku pun bersalaman dengan Bu nyai Hamidah.


"seringlah main kesini, biar umi ngga kesepian" kata nyai Hamidah dengan senyum lembutnya.


"insyaallah Bu nyai, assalamualaikum" kataku terakhir kalinya.


aku dan juga Rey pun menaiki motor meninggalkan pekarangan rumah kiayi Hasyim, satpam rumah itu pun membukakan pagar rumah dengan ramah.


"terimakasih pak" kata Rey yang dijawab anggukan kepala dan juga senyum oleh satpam rumah kiayi Hasyim. begitu pun saat sampai didepan gerbang pondok, penjaganya dengan sigap membukakan gerbang yang menjulang tinggi tersebut dengan sebuah remot.


"sudah selesai mas ketemu kiayi?" tanyanya dengan sopan.


"sampun pak, matur suwun. pamit nggeh, assalamualaikum" kata Rey dengan sopan.


"waalaikumsalam" jawab penjaga tersebut dengan sopan.


Rey pun melakukan motor dengan kecepatan sedang, selama dalam perjalanan tak ada satu pun percakapan yang keluar diantara kami. hingga akhirnya satu jam lima belas menit kemudian kami pun sampai dihalaman rumah mama.


"asaalamualaikum" salamku dan juga Rey berbarengan.

__ADS_1


"waalaikumsalam" jawab mama.


"mamaaaaa" teriak Nayla yang melihatku dan juga Rey berjalan menuju pintu rumah.


"pelan-pelan nay jangan lari-lari" kataku pada Nayla.


"abisnya mama lama banget si, oiyaa mana oleh-oleh buat aku?" tagihnya membuatku dan juga Rey saling berpandangan.


"nanti ya nak, sekarang Nayla udah mandi belum? kan udah asar, nanti kita beli keluar sekalian beli buat acara tahlilan akung nanti ya. mama sama om Rey lupa buat belinya soalnya" jawabku membuat nayla mengerucutkan bibirnya.


"yaahh tuh kan, pasti deh mama sama om Rey lupa Mulu." katanya merajuk.


"yaudah nanti kita beli ke indoapril deh, nay mau kan?" bujuk Rey membuat mata Nayla yang tadinya berkaca-kaca menjadi berbinar.


"beneran om?" tanya nya.


"iyaa bener lah, sekarang nau mandi dulu yuk. kok udah jam segini belum mandi si" ajak Rey menggendong Nayla memasuki rumah, sementara aku hanya mengikutinya dibelakang.


"udah pulang kalian, gimana jadinya?" tanya mama dengan raut wajah penasaran.


aku dan juga Rey saling berpandangan sebelum akhirnya aku menganggukan kepala sebagai kode untuk Rey menanyakan pada mama.


"iyaa Rey tenang aja, mbak kan juga ngga buru-buru kok" jawabku dengan tersenyum.


"oiyaa ma, apa Rey sama mbak Diah boleh menanyakan sesuatu?" tanya Rey dengan hati-hati.


"boleh, tanya aja. ada apa sih?" tanya mama memberikan Syifa padaku.


"emm, apa mama kenal dengan kiayi Hasyim?" tanya Rey.


"kiayi Hasyim? emm Hasyim Malik, apa kamu bertemu dengan dia nak?" tanya mama membuatku dan juga Rey langsung menganggukan kepala.


"iyaa ma, kami bertemu dengan beliau. ternyata kiayi yang direkomendasikan temen Rey itu sahabat almarhum bapak, beliau pun tadinya tidak tau kalo kami anak bapak tapi ternyata kiayi Hasyim memperhatikan aku dan juga Rey ya g katanya mengingatkan dia dengan masa lalunya. ia meminta kami menunjukkan foto keluarga dan akhirnya Rey pun menunjukannya" jawabku membuat mama kembali terkejut.


"apa betul yang dikatakan mbakmu rey?" tanya mama pada Rey yang menganggukan kepala.


"iyaa ma, beliau juga katanya mau berkunjung kerumah ini kalo mama berkenan" jawab Rey membuat mama tersenyum dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Alhamdulillah yaallah, setelah belasan tahun akhirnya kita bertemu lagi. bagiamana keadaan Hasyim dan juga Hamidah istrinya, apa mereka sehat?" tanya mama.


"sehat ma, bahkan saat ini pesantrennya sudah sangat besar dan juga bagus. emm maaf ma, apa betul pesantren itu ada hak almarhum?" tanya Rey dengan agak ragu.


"mama juga ngga tau terlalu jelas bagaimana kesepatakan antara kiayi Hasyim dan juga almarhum bapak kalian, yang jelas saat itu bapak kalian berani menjual sebagian kebon yang memang miliknya dari simbah lelaki kalian. dia berkata semua itu untuk didirikan pesantren karna itu adalah cita-citanya dari dulu, tapi berhubung uang penjualan kebun itu tak seberapa jadi almarhum bapak kalian lebih memilih untuk mendonasikan uang itu pada kiayi Hasyim yang merupakan sahabatnya yang sudah lebih dulu mendirikan pesantren walaupun saat itu bisa dibilang masih seadanya. tembok yang hanya dengan papan dan juga atap yang hanya dari daun daun kelapa kering, bahkan kompor nya saja masih dengan batu bata. jadilah bapak kalian lebih memilih merenovasi pesantren itu menjadi lebih layak walaupun tak besar, setidaknya bangunannya jauh lebih layak. bahkan almarhum bapakmu mencarikan donatur untuk pesantren itu, akhirnya bapak mendapatkan dari bos-bos nya sewaktu bekerja sebagai kuli bangunan dulunya" kata mama sedikit menjelaskan padaku dan juga Rey.


aku dan juga Rey sedikit tertegun, meskipun kami sudah lebih dulu tau dari kiayi Hasyim namun semua ini begitu terasa sebagai mimpi. kenapa harus saat orangnya telah tiada semua terbuka, aku hanya bisa mendoakan semoga semua itu menjadi amal jariah yang sengaja dikumpulkan oleh almarhum ketika dia sudah tiada. batinku.


"jadi, sebaiknya kita bertemu dengan kiayi Hasyim. betulkan ma?" tanyaku pada mama.


"betul, tapi sebelum itu. kalian harus bicara dengan pak lek kalian, kalian ingatkan jika bapak kalian memberikan amanat pada pak lek kalian. ya itu ini, beliau meminta pak lek kalian untuk membuka satu persatu apa yang ia sembunyikan. masih ada satu hal lagi, mama yakin kalian sudah tau dari kiayi Hasyim" jawab mama membuatku dan juga Rey melempar pandangan.


"baiklah ma, nanti setelah tahlilan bapak kita bicara dengan pak lek Edi" jawab Rey diangguki mama.


"yasudah kalo gitu aku mandiin Nayla dulu ma, sudah sore. syifa udah mama mandiin ini, udah cantik" kataku mencium Syifa yang sudah wangi.


"iyaa mandilah dulu, dan bersiaplah kita belum membeli apa-apa untuk jamuan tahlilan nanti" kata mama membuat ku segera menganggukan kepala. sementara Rey sibuk dengan ponselnya setelah percakapan kami.


aku pun memandikan Nayla sekaligus aku membersihkan diri.


"kita nanti perginya sama om Rey kan ma?" tanya Nayla ketika aku tengah memakaikannya pakaian setelah mandi.


"yaa ngga tau nay, om Rey mungkin capek nah. mendingan kita jalan sendiri aja ya, pinjam aja motor om Rey" jawab ku membuatnya cemberut.


"yaahh kok gitu si ma"


"yaa gapapa lah nay, lagian kan cuma Deket. kita ngga akan pergi jauh-jauh nanti kelamaan kasian Dede Syifa nya" kataku memberikan pengertian pada Nayla.


"tapi kan om Rey udah janji mau ajak aku ke indoapril ma" jawabnya yang sudah mulai mengeluarkan air mata.


"husst, udah cep-cep iyaa nanti Nayla ajak om Rey nya ya. tapi kalo om rey nya capek, Nayla ngga boleh maksa. kasihan om Rey nya, oke?" kataku yang langsung diangguki oleh Nayla.


"iyaa ma, nanti kalo om Rey capek nay minta uangnya aja sama om Rey buat ke indoapril" jawabnya membuatku terkekeh kecil.


"iyaaiyaa udah terserah kamu. nah, udah selesai kan. nay keluar duluan ya, mama pake baju dulu" kataku pada Nayla yang sudah rapi.


Nayla pun melangkahkan kaki keluar dari kamar setelah rapi, kini bergantian dengan aku yang akan memakai pakaian. setelah rapi aku puh keluar dari kamar kembali menemani Nayla dan juga Syifa yang ternyata tengah melendoti Rey.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2