
"e-di, a-aku ti-tip mer-eka se-mua. se-le-saikan ur-us-an an-ak su-lu-ngku. be-ri-kan hak me-rek-a ya-ng aku ti-tipkan pa-damu" kata bapak dengan nafas tersengal.
"baik mas, aku akan jaga amanahmu. aku akan berikan apa yang jadi hak mereka, tenanglah mas. aku akan menggantikan tugasmu pada mereka, biar aku tuntun" jawab pak lek Edi seketika membuat mama berteriak.
"jangan macam-macam kamu Edi, mas mu belum mau mati. kenapa kamu bicara seperti itu!!" teriak mama dengan histeris menatap tajam pak lek Edi.
"mbak, sadar mbak. mas Jono sudah selesai dengan tugasnya, kita harus ikhlas. aku juga merasakan apa yang mbak rasakan, aku sudah kehilangan semua anggota keluargaku mbak. adik, simbok, bapak sekarang mas ku yang akan menyusul. mbak ikhlaskan, biarkan mas Jono tenang mbak" jawab pak lek Edi yang langsung membimbing bapak mengucapkan syahadat tanpa menghiraukan lagi tangisan mama yang semakin menyayat hatiku.
aku puj mendekap mama bersama Sintia dan juga Nayla, kami sama-sama melihat bagaimana bapak menghembuskan nafas terakhirnya tepat setelah mengucapka syahadat yang dituntun oleh pak lek Edi.
"bapaaaaakkkkk" teriak mama membuat Nayla pun menangis karna kehilangan sosok akung yang sangat memanjakannya, begitupun aku dan juga Sintia yang merasakan kehilangan sosok bapak bagi kami.
aku lihat, Rey pun menteskan air mata merosot kan tubuh ditembok sambil menggendong Syifa. kami semua dalam keadaan berduka, duka kehilangan seorang ayah yang sangat berharga dalam kehidupan kami. pada akhirny a, bapak menyerah dengan penyakitnya.
tak lama terlihat leha dan juga bulek mendatangi kami yang masih berkumpul dikamar mama. Ia terlihat terkejut melihat mama yang menangis meraung dihadapan bapak yang sudah terbujur kaku, Rey yang meneteskan air mata sambil menggendong Syifa, dan juga aku Sintia dan juga Nayla yang saling memeluk.
bulek pun mengambil Syifa dari gendongan Rey, ia menenangkan ku yang masih terlihat syok dengan keadaan ini.
"jangan larut dalam kesedihan, kuatkan mamamu. kalo bukan kamu yang menguatkannya sebagai anak pertama, siapa lagi. rangkul mama, biar paklek mu mengurusi pemakaman bapakmu" katanya membuatku langsung menganggukkan kepala dan menghapus air mata.
"sabar mbak, bapak udah ngga sakit lagi" kata leha memelukku, ia juga meneteskan air mata sama sepertiku.
aku pun menganggukan kepala mendengar perkataan leha, aku pun melepaskan pelukan leha kemudian menghampiri mama yang masih tak terima dengan kepergian bapak.
"ma, ikhlasin bapak. biarkan bapak memulai dunianya yang baru ma" kataku pada mama yang masih memeluk jenazah bapak.
"bapak ninggalin kita di, bapak ninggalin mama" jawabnya dengan terisak lirih, sedetik kemudian mama pun tak sadarkan diri. Rey pun menghampiri mama dan membantu pak lek menggotong mama pindah kamar kekamar Sintia.
"biarkan mamamu tenang dulu dikamar ini, biar pak lek yang urus jenazah bapakmu. sekalian pak lek mau menemui ustadz minta tolong siarkan di masjid, Diah leha temani mamamu disini. anak kamu juga disuruh disini aja ya di? lega, Nabil mana?" tanya pak lek pada leha.
"dirumah pak, tadi masuk tidur tapi aku buru-buru kesini makanya aku tinggal. ada bapaknya kok" jawab leha yang langsung diangguki oleh pak lek.
"bawa kesini sekalian suamimu suruh bantu bapak buat mengurus jenazah bapak Ono, dalam keadaan seperti ini ngga mungkin Rey bisa fokus mengurus semuanya sendiri" kata pak lek pada leha yang langsung diangguki.
"yaudah leha pulang dulu kalo gitu ya Bu, mbak gue pulang dulu ya nanti gue kesini lagi mau ambil Nabil dulu" kata leha berpamitan padaku.
__ADS_1
aku pun hanya merespon dengan anggukan kepala, meskipun aku tak mampu menangis meraung seperti mama tapi hatiku merasakan sakit yang teramat karna kehilangan bapak. iyaa bapak, adalah salah satu orang yang mampu membuatku berjuang dan berdiri dikakiku sendiri karna ketegasannya.
"di, kamu udah kabarin nenek sama saudara dari mamamu?" tanya bulek membuatku menatapnya dengan sayu.
"belum bulek" jawabku singkat.
"kabarin segera di, biar pada kumpul dirumah. bapak udah ngga ada, biar mereka mendoakan untuk terakhir kalinya" jawab bulek yang langsung aku angguki.
aku pun melangkah kan kaki menuju ruang tamu, disana kasur yang biasa aku pakai tengah digantikan serprai untuk dipakai membaringkan jenazah bapak. aku hanya mengambil tas dan juga koper milikku yang akan aku bawa kedalam kamar Sintia.
"aku mulai dari siapa ya bulek" tanyaku dengan suara parau.
"dari nenek mu dulu di" jawab bulek yang langsung aku angguki.
"assalamualaikum Mbah, bapak" kataku terputus karna tak kuat memberikan kabar menyakitkan ini.
"ada apa sama bapakmu nduk?" tanya Simbah dengan panik.
"bapak udah ngga ada mbak, bapak meninggal" jawabku dengaj terisak.
"baru aja Mbah, sedang diurus pemakamannya sama pak lek Edi" jawabku dengan masih terisak.
"tunggu Simbah, Simbah akan segera kerumahmu sekarang juga sama bude-budemu" jawabnya yang langsung aku angguki meskipun tak terlihat. aku pun memutuskan sambungan telpon, kemudian terisak dihadapan bulek dan juga Nayla.
"sudah jangan terus ditangisi, ikhlaskan biar jalannya mudah" kata bulek, aku pun menganggukan kepala tapi entah kenapa memang rasanya aku sangat susah untuk tak menangis.
"mama udah dong jangan nangis, Nayla jadi sedih. akung udah bobo ya ma, sama kaya uyut ya ma" tanya nya dengan polos membuatku menganggukan kepala sebagai jawaban.
"nay, ngga punya akung lagi. nay mau sama akung ma" jawabnya mulai menangis histeris.
bagiamana tidak histeris karna Nayla adalah kesayangan bagi akungnya, semasa hidup ia selalu dimanjakan bahkan apapun yang Nayla mau selalu dituruti oleh bapak.
"Nayla, nay sabar sayang. Nayla kan masih punya akung Edi juga, itu kan juga akung Nayla" kata bulek yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Nayla.
"bukan! itu akung Nabil bukan akung Nayla, uti aja uti Nabil bukan uti aku. uti aku bobo itu sama kaya akung uti" jawab Nayla masih terus menangis kencang. aku pun menggendong Nayla dan menengkannya sementara aku juga masih mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"sayang, udah ya jangan nangis lagi. kita doain akung biar masuk surga ya, Nayla mau kan?" tanyaku yang langsung dijawab anggukan kepala olehnya.
"kalo gitu Nayla sekarang ganti dulu bajunya ya, kita ngaji nanti buat akung" kataku menurunkan Nayla dan menggantikan bajunya dengan gamis putih miliknya.
"assalamualaikum" terdengar salam dan ketukan pintu, aku pun membuka pintu kamar dan terlihat Simbah dan juga bude-budeku memasuki kamar dengan wajah sedikit sembab.
"budeeee" kataku berhambur memeluk kedua kakak perempuan mama.
"sabar sayang, doakan bapakmu biar tenang dialam sana" katanya yang langsung aku angguki.
"mamamu dari tadi pingsannya?" tanya Simbah, aku pun menganggukan kepala sebagai jawaban.
"kasih minyak angin kaki sama tangannya mbak" kata budeku pada bulek.
"udah mbak, tapi belum ada respon. gapapa biarkan istirahat dulu, mungkin masih terpukul karna kehilangan suaminya" jawab bulek membuat kedua budeku pun menganggukan kepala.
"Sintia kemana?" tanya Simbah.
"sintia masih dikamar mama sama bapak tdi, Rey juga ada disana" jawabku dengan sesenggukan.
"kalo gitu bude temui Sintia dulu, dia juga pasti sangat terpukul. selama ini dia yang membantu mamamu untuk mengurus bapakmu kan, hatinya pasti hancur" kata bude yang langsung aku angguki.
tak lama mama pun siuman, ia langsung menatap seluruh isi kamar.
"bapak?" katanya dengan lirih dan membelalakan mata.
"naakk" kata Simbah menatap mama yang langsung menatapnya dengan linangan air mata.
"mama, mas Jono ma. mas Jono pergi" jawab mama dengan suara lirih.
"semua yang hidup pasti akan kembali kepenciptanya nak, kita hanya tinggal tunggu giliran." kata Simbah membelai kepala mama.
"aku belum siap kehilangan mas Jono ma, belum siap" jawab mama dengan menggelengkan kepala.
"siap ngga siap memang manusia akan bergantian dipanggil, mungkin Allah lebih sayang suamimu makanya beliau lebih dulu menjemputnya" jawab Simbah membuatku kembali meneteskan air mata. mama pun tak lagi menjawab perkataan Simbah, ia hanya menangis meratapi kepergian bapak yang tepat dihadapannya.
__ADS_1
bersambung.....