
semua proses pemakaman pun telah diurus oleh pak lek, pada akhirnya kami pun memutuskan untuk memakamkan bapak esok hari. aku, mama dan juga Sintia pun berada tepat disebelah jenazah bapak yang masih terbungkus oleh selimut serta kain yang menutupi setiap bagian tubuh bapak.
aku berusaha kuat menahan kesedihan, karna selain memikirkan diriku sendiri yang harus menjadi penguat bagi mama dan juga kedua adikku aku pun juga harus memikirkan Syifa yang kini masih ku berikan asi. jika aja aku terlalu larut dalam kesedihan aku takut berpengaruh dalam asi ku.
"semuanya udah siap di, semoga pemakaman besok bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan. tapi,,,,," kata nenek ku tanpa meneruskan perkataannya.
"tapi kenapa Mbah?" tanyaku pada Simbah.
"biaya pemakaman bapak kamu mahal sekali di" bidiknya tepat ditelinga ku.
" memang berapa Mbah?" tanyaku penasaran..
"hampir sepuluh juta di" jawabnya membuatku membelalakan mata.
"kok mahal banget Mbah, memang apa aja keperluannya?" tanyaku dengan menyeritkan kening.
"sebenernya si ngga mahal di, paling cuma beli kain kafan sama kembang tujuh rupa terus sama bikin nisan itu udah sepaket sama yang memandikan jenazah satu juta delapan ratus yang mahal itu tanah kuburannya di" jawab mbahku semakin membuatku menyeritkan kening.
"berarti tanahnya doang sampai enam juta Mbah? emang bapak mau dimakamkan dimana Mbah, kok sampai semahal itu?" tanyaku pada Simbah.
"dimakamkan ditanah wakaf yang dekat kecamatan itu loh di, Simbah juga ngga tau. tapi dapatnya disana karna ditpu yang milik pemerintah didaerah ini sudah penuh semua" jawab Simbah membuatku menganggukan kepala.
"yasudah lah mbak gapapa, mau diapain lagi kalo memang adanya disana. uangnya udah dikasih dan dilunasi kan Mbah?" tanyaku pada Simbah yang langsung menganggukan kepala.
"sudah kok di, Alhamdulillah bapakmu beruntung mempunyai anak-anak yang berbakti seperti kalian. sampai pemakaman pun ngga merepotkan siapapun, semuanya murni dari hasil kerja keras kalian semua sebagai anak-anaknya" kata Simbah membuatku tersenyum kecil.
"Alhamdulillah mbah, semua ini kan juga berkat campur tangan bapak juga jadi apa salahnya jika kita gunakan juga untuk bapak. kami sama sekali ngga ada yang keberatan Mbah" jawabku membuat Simbah tersenyum.
"Mbah seneng dengernya, udah sana kamu tidur. ini udah malam, kasihan anak kamu tidur dikamar ngga ditungguin. biar disini mama sama adik-adik kamu aja yang nungguin, lagian banyak orang juga kok" kata Simbah.
__ADS_1
"yaudah kalo begitu Mbah, aku istirahat dulu ya. biar aja juga mereka pada istirahat nanti kalo mau pada istirahat" jawabku yang langsung meninggalkan Simbah menuju kamar Sintia.
aku puh merebahkan diri tepat disamping Syifa yang tidur berdua dengan Nayla dalam satu ranjang yang hanya aku batasi dengan bantal guling.
keesokan harinya, semua orang sudah siap untuk mengantarkan bapak ketempat peristirahatan terakhirnya tepat pukul sembilan pagi.
pak lek dan juga Rey berada satu mobil dengan jenazah bapak, mereka berdua mendamping bapak didalam mobil jenazah tersebut. sementara aku berboncengan dengan Simbah dan mama berboncengan dengan Sintia menggunakan motor Rey.
dia puluh menit kemudian kami pun tiba diarea pemakaman tersebut, banyak pelayat yang ikut memakamkan bapak. Rey, pak lek Edi dan juga suami dari lega pun turun ke liang lahat karna hanya mereka lah laki-laki dalam keluarga kami.
mama pun tak henti-hentinya menangisi kepergian bapak, beliau tampak historis ketika melihat bapak dimasukkan kedalam Liang lahat.
"Edi, jangan masukkan masmu di. mas mu masih hidup, dia hanya mau istirahat sebentar dari rasa sakitnya" kata mama dengan lirih menatap kosong kearah jenazah bapak yang ada dalam pelukan tiga orang yang berada di atas liang lahat.
"ikhlaskan ya mbak, biar pemakaman ini berjalan dengan lancar!" jawab pak lek Edi, bilek pun menenangkan mama dengan mengelus punggung badannya.
"sabar ya mbak, ikhlaskan kepergian mas Jono. mungkin ini yang terbaik setelah dia merasakan sakit berbulan-bulan" kata bulek memeluk mama yang terus menangis.
Alhamdulillah acara pemakaman bapak pun berjalan dengan lancar, satu persatu orang pun kembali kerumah sementara aku Rey dan juga Sintia dan mama masih menunggu ditanah kuburan dimana bapak bersemayam.
"bapak yang tenang ya disana, bapak udah ngga sakit lagi sekarang. bapak pasti udah sembuh, udah ketemu simbol udah ketemu bapak, udah ketemu Joko. iyakan pak? kalo ketemu bapakku salam kan sayangku sama bapak ya pak, doa kan aku dari sana pak" kata mama pada nisan bapak yang masih betenger dengan sempurna.
"udah yuk ma, kita pulang. kita istirahat dirumah untuk mempersiapkan tahlilan satu hari nanti malam ma" kataku pada mama yang langsung berdiri dan mengikutiku melangkah kan kaki keluar dari area pemakaman diikuti oleh Rey dan juga Sintia.
Nayla dan Syifa pun aku tinggal dirumah dengan lega dan juga Nabil, karna lega kebetulan tengah berhalangan makanya ia tak bisa ikut untuk mengantarkan bapak keperistirhatan terakhirnya.
aku, Rey, Sintia dan juga mama pun pada akhirnya pulang kerumah dengan kondisi yang amat kacau apalagi mama dengan masih tatapan kosongnya melangkah kan kaki memasuki kamarnya tanpa menghiraukan Nayla yang terus memanggil uti.
"mama, uti kenapa si kok aku panggil uti ngga mau nengok. emang nay nakal ya ma?" tanyanya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"ngga kok, nay ngga nakal. tapi uti cuma lagi sedih karena sekarang udah ngga ada akung, emang nay ngga sedih akungnya udah bobo ikut sama uyut?" tanyaku pada Nayla yang langsung menundukkan kepala.
"nay sedih ma, sedih banget. tapi kata mamatue, nay ngga boleh sedih. nay harus doain akung biar akung masuk kesurga, biar bisa ketemu orang-orang baik yang sayang sama akung." jawab Nayla menirukan kata Simbah memberikan nasihat pada Nayla.
"iyaa sayang mamatue bener, nay mau kan doain akungnya. nay kan mau jadi anak Solehah, iyakan?" jawabku yang langsung diangguki oleh bocah tiga setengah tahun tersebut.
"iyaa ma, nay pasti akan doain akung. nay sayang sama akung, sama kaya akung sama nay ma" jawabnya membuatku meneteskan air mata.
"iyaa sayang" jawabku dengan singkat memeluk Nayla setelah mensejajarkan diri.
"nay main lagi ya sama Nabil, jangan berantem ya. mama mau nemenin Dede Syifa dulu, jangan recokin uti ya. tapi mau boleh kok kekamar uti buat menghibur uti yang lagi sedih, tapi nanti ya. sekarang biar uti istirahat dulu" kataku pada Nayla yang langsung membuat nya menganggukan kepala.
aku pun melangkah kan kaki mendekati leha yang masih menggendong Syifa.
"makasih ya ha udah mau jagain Syifa, anteng kan?" tanyaku pada leha.
"lumayan lah anteng aja, anteng banget si ngga" jawabnya dengan terkekeh kecil.
"yaa namanya juga anak bayi, iyakan? apalagi baru pertama kali ditinggal sama orangtuanya, sebantar deh aku cuci tangan sama kaki dulu, nanti sawah lagi" kataku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"mbak, suami sama mertua kamu ngga dikabarin sama bapak meninggal ya mbak?" tanya leha setelah aku kembali dari membersihkan diri.
"ngga, biarin ajalah. toh nanti dia juga tau sendiri, lagian mbak males membuka komunikasi pada mereka" jawabku dengan nada santai mengambil alih Syifa dari gendongan leha.
"tapi biar gimana pun mereka kan masih satu keluarga mbak, mereka juga masih orangtua dari Nayla dan juga Syifa loh mbak. harusnya mbak kasih kabar, nanti mau dia datang atau ngga yang penting mbak udah kasih kabar" jawab leha yang juga aku benarkan.
"nanti yang ada malah mereka cuma bikin repot aja mbak leha, bukannya bikin tenang malah bikin repot" jawab sintia yang tiba-tiba hadir disebelahku.
"hust ngga boleh ngomong begitulah, biar gimana pun dia masih jadi suami mbak. masih ipar kamu loh sin" jawabku menegur Sinta yang langsung menggelengkan kepala.
__ADS_1
"mbak-mbak masih aja kamu belain keluarga seperti itu, mendingan sekarang kamu pikirkan bagaimana kamu dan juga anak-anak bertahan selama kamu dan juga mas Lukman dalam proses perceraian" jawab Sinta membuatku membelalakan mata mendengar perkataannya.
bersambung....