
"mbak gapapa mbak?" tanya Rey yang datang memhampiriku dan juga bu nyai berserta khadamah.
"mbak gapapa kok Rey, cuma sedikit lemes dan kepala mbak sedikit sakit aja kok" jawabku dengan tersenyum menatap Rey yang terlihat sangat khawatir.
"syukurlah mbak kalo begitu, Rey takut mbak kenapa-napa" kata Rey dengan raut wajah khawatirnya.
"udah-udah mbak gapapa kok, oiyaa pak kiyai terus saya harus apa ya?" tanyaku pada pak kiyai.
"kamu harus dibersihkan nak, tapi sepertinya tidak bisa hari ini. karna saya harus menentukan dengan hati lahir kamu, apa benar kamu lahir Sabtu Legi?" tanya pak kiayi yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"benar pak kiyai, kira-kira kapan ya kiayi?" tanyaku penasaran.
"Jumat, kembalilah hari Jumat. atau hari Kamis sore pun boleh, terserah kamu mau pilihnya yang mana" jawab pak kiayi.
"apa harus diwaktu itu pak kiyai?" tanyaku dengan menyeritkan kening.
"iyaa sesuai dengan weton lahirmu, itu lah hari dimana kamu bisa membersihkan diri dari hal-hal gaib. satu lagi, tanam lah tanaman Bidara disekitar rumah kalian. untuk berjaga-jaga saja" jawab pak kiayi membuatku dan juga Rey menganggukan kepala.
"iyaa nak, daun Bidara dipercaya bisa mencegah hal-hal gaib masuk kedalam rumah yang berada didekatnya. itulah kenapa kiayi menyarankan kalian menanam tanaman Bidara" kata Bu nyai membuatku dan juga Rey menganggukan kepala.
"tapi kiayi, kami bisa cari dimana tanaman Bidara itu?" tanya ku dengan penasaran.
"nanti akan saya bawakan, kalian tinggal tanam di pot dan merawatnya dengan baik" jawab pak kiayi membuatku dan juga Rey tersenyum.
"terimakasih banyak pak kiayi, sudah mau kami repotkan. ini ada sedikit dari kami, semoga bisa membantu uang dapur pesantren" kata Rey menyerahkan amplop coklat pada kiayi Hasyim.
"masyaallah, tidak perlu nak. sudah sepatutnya kita sebagai sesama manusia saling tolong menolong, saya ikhlas. ambillah kembali"kata kiayi Hasyim kembali menyodorkan amplop tersebut pada Rey.
"jangan kiayi, saya jadi tidak enak karna kiayi sudah banyak membantu kami" kata Rey dengan nada tak enak.
"tidak apa nak, saya ikhlas. silahkan ambil kembali, bukan maksud saya menolak rejeki. tapi saya ikhlas menolong kalian, saya tidak mau memanfaatkan kelebihan saya untuk mencari keuntungan dari orang lain. itu saja" jawab kiayi membuatku tersenyum.
"terimakasih sekali lagi kiayi, saya akan masukkan amplop ini kedalam sumbangan masjid didekat pesantren ini saja kalo begitu. sekali lagi terimakasih" kata Rey kembali mengambil amplop yang ditolak oleh kiayi Hasyim.
__ADS_1
"yaa itu jauh lebih baik, kalo boleh saya tau. siapa nama orangtua kalian?" tanya kiayi membuatku dan juga Rey saling berpandangan.
"ada apa ya kiayi? apa kiayi kenal dengan orangtua kamu?" tanya ku penasaran.
"ntah, tapi wajah kalian sekilas mengingatkan saya dengan teman saya dimasa lalu." jawab kiayi kembali membuatku dan juga Rey saling melirik.
"almarhum bapak saya Suparjono kiayi, nama mama saya Siti Marfuah" jawab Rey membuat kiayi sedikit kaget.
"apa kalian punya foto bersama orangtua kalian itu?" tanya kiayi pada Rey. Rey pun langsung menganggukan kepala dan memperlihatkan deretan foto keluarga yang ada diponselnya.
"ini kiayi, silahkan" kata Rey menyerahkan ponselnya pada kiayi Hasyim.
"masyaallaahhh, ini benar Jono dan Siti. mereka orang yang aku cari selama ini, umi. lihat ini" kata kiayi menunjukkan foto bapak dan juga mama.
Bu nyai pun nampak kaget dan menutup mulutnya dengan dua telapak tangannya.
"jadi, kalian anak Siti dan juga Jono? masyaallah Abi, kita mencari belasan tahun tidak ketemu tapi justru sekarang mereka menghampiri kita bi" kata Bu nyanyi mendekatiku dan memelukku dengan erat.
"maaf Bu nyai, pak kiayi. kalo saya boleh tau, ada apa ya? mohon maaf apa bapak saya punya sangkut paut sama pak kiayi dan juga pesantren?" tanya Rey dengan menundukkan kepala.
"betul kiayi, bapak sudah meninggal dua hari yang lalu. maafkan bapak saya kalo bapak punya salah sama kiayi" jawabku membuat kiayi Hasyim terkejut.
"dua hari yang lalu? Allahuakbar, umi.... pantas saja Abi kemarin malam memimpikan beliau umi" kata kiayi Hasyim pada Bu nyai Hamidah.
"iyaa Abi, mungkin itu sebuah pertanda Abi" jawab Bu nyai Hamidah.
"kalian, kalian tinggal dimana sekarang? apa ibu kalian sehat? boleh, kapan-kapan kami berkunjung kerumah kalian?" tanya Bu nyai Hamidah.
"boleh, boleh banget Bu. ini nomer telpon dan juga wa saya pak kiyai, pak kiayi bisa telpon atau chat saya nanti akan saya berikan alamat rumah kami yang sekarang." kata Rey memberikan kartu nama miliknya.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa menyerahkan apa yang menjadi hak Suparjono umi. Abi selama ini selalu kepikiran, karna kita ngga bisa menemukan mereka" kata kiayi Hasyim membuat keningku menyerit.
"maaf kiayi, sebanarnya ini ada apa ya?" tanyaku dengan heran.
__ADS_1
"apa selama ini almarhum bapakmu ngga pernah mengatakan apapun pada kalian?" tanya kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey menggelengkan kepala.
"baiklah, saya akan ceritakan. tapi tolong buatkan saya yang menyampaikan hal ini pada ibu kalian, kalian cukup tau saja dari saya. apa kalian faham?" tanya kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey menganggukan kepala.
"umi, tolong ambilkan bukti kedekatan kita dengan Suparjono dan juga Siti Marfuah agar anak-anaknya percaya" kata kiayi Hasyim pada Bu nyai Hamidah.
"baik Abi" jawab Bu nyai langsung melangkah kan kaki menuju kamar keduanya. kemudian Bu nyai pun kembali membawa sebuah kotak yang ntah isinya apa.
"didalam sini, adalah bukti kedekatan kami dengan kedua orangtua kalian. lihatlah" kata kiayi menyerahkan kotak tersebut padaku dan juga Rey.
Rey pun membuka kotak usang tersebut, terlihat beberapa buah kain berbentuk sejadah dan juga beberapa buah foto. foto pertama adalah disaat kiayi Hasyim menikah dengan bu nyai hamidah, foto kedua adalah ketika bapak menikah dengan mama dan foto ketiga adalah ketika mama melahirkan dengan bapak menggendong anak perempuan kecil yang aku fikir itu adalah aku. sementara kiayi Hasyim dan juga Bu nyai Hamidah berada disebelah kanan mama dengan kiayi Hasyim menggendong seorang anak lelaki.
"i-ini..... ini beneran pak kiayi dan juga bapak, mbak" kata Rey dengan wajah tak percaya.
"iyaaa Rey, ini ngga mungkin mimpi kan Rey?" tanyaku pada Rey yang menggelengkan kepala.
"tapi, bagaimana mungkin bapak kenal dengan kiayi Hasyim seorang pemilik pesantren yang sangat besar ini. almarhum bapak hanya seorang kuli bangunan sewaktu hidupnya, kiayi" kataku membuat kiayi Hasyim tersenyum menatap Bu nyai Hamidah yang berada disebelahku.
"itulah bapak kalian, sewaktu kami masih belum menjalankan pesantren ini. bapak kalian memang sudah menjadi butuh bangunan, dan asal kalian tau, pesantren ini ngga akan sebesar sekarang tanpa campur tangan bapak kalian" kata kiayi Hasyim menatap aku dan juga Rey secara bergantian.
"betul, apa yang dikatakan Abi. waktu pesantren ini masih kecil, bahkan kami masih sangat kesulitan dalam hal pembiayaan. bapak kalian dengan suka rela menyisihkan gaji ya sebagai kuli untuk mendonaturi pesantren ini, bahkan bapak kalian yang mencarikan donatur tetap untuk pesantren ini, terakhir bapak kalian juga yang merenovasi bangunan pesantren ini menjadi lebih layak dan sampai sekarang berkembang pesat seperti ini. mungkin kalian melihat bapak kalian hanya seorang kuli bangunan, tapi tanpa kalian ketahui sebanarnya bapak kalian pernah membeli saham disalah satu perusahaan besar." kata kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey sangat terkejut mengetahui kenyataan yang baru saja kiayi Hasyim sampaikan.
"iyaa betul. Edi, tanyakan pada paman kalian itu. dia mengetahui hal ini, karna mereka sepakat hanya ingin hidup sederhana dan tak membuat anak istrinya silau dengan apa yang ia miliki. setau saya, almarhum bapak kamu menitipkan semuanya pada seorang habib dikampung halaman kalian" kata kiayi Hasyim membuatku dan juga Rey saling pandang.
"masyaallah, tapi kalo itu benar kenapa selama ini almarhum bapak senang hidup susah. bahkan kami sering kali disuruh meminta nasi dengan lauk seadanya pada lek Parni, dulu beliau membuka warteg kiayi" kata ku
"ah iyaa Parni, saya sempat mengenalnya. dia adalah tetangga satu desa dengan bapak kalian dikampung kan?" kata kiayi Hasyim yang langsung aku angguki.
"betul kiayi, sewaktu kami masih kecil bapak selalu ngga punya uang kalo ngga ada kerjaan sebagai kuli. jadi kami diminta bapak untuk berhutang nasi dengan sayur pada lek Parni" kataku membuat kiayi Hasyim terkekeh kecil.
"lantas gimana tanggapan lek Parni?" tanya kiayi Hasyim.
"beliau sangat baik kiayi, beliau memberikan kami nasi beberapa bungkus. memang dihitung hutang, tapi kami bersyukur karna masih ada yang memberi kami hutang makanan pada saat itu sampai akhirnya kami bisa makan. beda dengan sepupu bapak, mereka justru sering mencela kami kiayi bahkan mama sampai sering menangis karena dianggap menyusahkan melahirkan tiga anak padahal kerjaan bapak hanya sebagi kuli bangunan" kataku mengingat masa kecilku.
__ADS_1
bersambung....