
kami pun melangkahkan kaki menuju toko pakaian muslimah yang kini sudah berada tepat didepan mata, begitu memasuki toko tersebut pegawai pun menyambut kami dengan sangat ramah.
"selamat datang, selamat berbelanja" sambutnya dengan ramah.
kami pun melangkahkan kaki mengelilingi toko tersebut sambil memilih satu persatu pakaian yang kami rasa cocok.
"kamu pilih aja baju yang kamu suka ya Diah, ngga usah sungkan" kata umi Hamidah menatapku dengan tersenyum.
"Iya umi, terimakasih banyak" jawabku dengan sedikit sungkan.
aku pun melihat gamis yang ku rasa akan sangat cocok untuk ku pakai, aku pun mendekatinya dan menatapnya penuh takjub karna baru pertama kali melihat gamis seindah gamis yang ada dihadapanku saat ini.
"mbak, apa udah dapat gamis yang cocok?" tanya Sintia yang ternyata menghampiriku.
__ADS_1
"kira-kira gamis ini cocok ngga ya sin sama mbak, mbak suka deh warnanya dan juga designnya yang sangat elegan" jawabku menunjukkan gamis yang ada dihadapanku.
"sepertinya cocok, coba aja mbak pakai diruang ganti. tapi dari warnanya si cocok banget sama kulit mbak" jawab Sintia memberikan saran.
"iyaa juga sih, yaudah coba deh mbak coba dulu. yuk ikut mbak, biar nanti kamu bisa nikah mbak cocok atau ngga pake gamis ini" jawabku menarik lengan Sintia menuju ruang ganti yang berada di toko tersebut.
"mbak, lagian kenapa si ya kok umi Hamidah nyuruh kita beli gamis kaya gini. padahal kita kan ngga pernah pake gamis, iyakan mbak?" tanya Sintia saat aku mulai memasuki kamar ganti.
"iyaa tapi ngga gitu juga kali mbak, kan bisa pelan-pelan" jawab Sintia yang masih kerasa kesal.
"yaa kan ini juga pelan-pelan sin, kalo kamu belum siap untuk memakai gamis untuk sehari-hari ya setidaknya jika ada acara formal seperti pengajian atau kondangan kan bisa kamu pakai. apalagi kamu kan tau sendiri kalo ternyata kita itu bagian dari pesantren milik kiayi Hasyim, jadi mungkin karja itu juga umi Hamidah mau membenah diri kita agar tampil lebih baik sebagai bagian dari mereka" jawabku membuat Sintia melebarkan mata.
"mungkin juga si mbak, tapi ya ngga gitu juga deh mbak. kita kan juga beluk pernah kepesantrennya kan, dan kita juga ngga tinggal dilingkungan sana" jawab Sintia yang masih kekeh dengan pendapatnya.
__ADS_1
"yaa sudah tak apa lah sin, anggap saja memang kita sudah diharusnya membenah diri. lebih baik kita sekarang membiasakan memakai pakaian seperti ini, karna sepertinya sebentar lagi kita pun akan diminta tinggal dilingkungan pesantren milik kiayi Hasyim" jawabku membuat Sintia menyeritkan dahi.
"tinggal dilingkungan pesantren? yang bener aja mbak, ngga mungkin lah" jawabnya.
"yaa mungkin aja, siapa bilang ngga mungkin. asal kamu tau ya sin, pesantren itu luaaaaassss banget bahkan masih ada tanah kosong didepan pondok putri. ntah akan dibuat apa nantinya, tapi mbak yakin nanti disana akan dibangun rumah baru oleh kiayi Hasyim" jawabku membuat Sintia terkekeh.
"mana mungkin mbak, lagian kiayi Hasyim kan udah punya rumah. untuk apa juga bangun rumah lagi, aneh-aneh aja deh mbak kamu mikirnya" jawab Sintia yang masih terus terkekeh.
"yaa mungkin rumah untuk mas Hamid, kamu gimana sih sin. kiayi Hasyim kan punya anak, ngga mungkin kan setelah nikah nanti mas Hamid akan tinggal sama kiayi Hasyim dan juga umi Hamidah" jawabku kembali membuat Sintia terkekeh.
"mugkin aja lah mbak, mas Hamid kan anak tunggal jadi otomatis mereka akan tinggal dirumah umi Hamidah dan juga kiayi Hasyim. apalagi mas Hamid kan juga punya rumah sendiri, jadi kayanya kalo mereka ngga tinggal dirumah kiayi ya dirumah mas Hamid sendiri" jawab Sintia yang juga aku benarkan.
bersambung....
__ADS_1