
POV Lukman.
setelah perdebatan alot yang akhirnya berujung penyerahan seluruh uang gajiku pada Diah, istriku. kini, aku berada diruang tamu rumah kakakku, Yuni. setiap aku ada masalah selalu ia lah tempatku berkeluh kesah, terutama karna ada mama dirumah ini.
sebanarnya aku pun tak mengerti dengan jalan pikiran Diah, mengapa dia kekeh tak mau membantuku dan malah mempersulit ku mendapat pinjaman dari Rey. padahal aku adalah suaminya, dan aku sedang dalam kesusahan. meskipun memang aku tau jika kesusahanku karena kak Yuni, dan aku akui itu memang kesalahan kak Yuni. tapi ibu selalu berkata wajar jika kak yuni memakai uangku karna ia lah yang telah menampung mama dirumah ini yang seharusnya menjadi kewajiban ku, padahal sedari dulu aku menikah dengan Diah aku sudah membujuk mama untuk tinggal dengan ku dan juga Diah tapi mama yang selalu berkata enggan. katanya ngga ada yang bisa mertua tinggal satu atap dengan menantunya, makanya mama lebih memilih tinggal dengan kak Yuni. terlebih kedua anak kak Yuni memang dekat dengan mama dan kak Yuni memang membutuhkan mama untuk membantu mengurus kedua anaknya sewaktu ia kerja membuat pesanan pelanggan percetakannya.
"gimana Lukman apa kamu akan diam aja diperlakukan seperti itu oleh keluarga istrimu, kamu ini kepala rumah tangga masa bisa kalah oleh istrimu sendiri. mama pokoknya ngga mau tau ya man, mama harus dapat uang jatah seperti biasanya" kata mama membuatku pusing.
"aku juga ya man, inget loh buat ponakan kamu sendiri. jangan pelit" kata ka Yuni semakin membuatku pusing. aku pun dibuat heran oleh suami kakak ku ini yang katanya bergaji mencapai belasan juta tapi memberi kak Yuni hanya empat juta perbulan, kemana semua uang itu hingga kakak ku ia beri tak mencapai dari separuhnya.
"aku tidak bisa apa-apa ma, mama tau sendiri Diah dan Rey bagaimana. lagipula ini memang kesalahan kak Yuni ma, seharusnya memang kak Yuni yang mengantinya bukan aku yang harus pusing sendiri" jawabku membuat mama melorotkan mata.
"kamu udah berani berkata kaya gitu sama mama, hah!! mama itu pun kewajiban mu Lukman, masih ada tanggung jawabmu terhadap mama. dan Yuni itu juga saudaramu, apa salahnya kamu memberikan haknya dia sebagai kakak anggap aja kamu membantu kakak mu yang kekurangan. apa kamu ga kasihan kakakmu sampai harus banting tulang sendiri membuat pesanan dipercetakannya, itu pun hanya untuk kebutuhan sehari-hari man" kata mama sedikit membentak. aku semakin pusing saja mendengar apa yang mama katakan, aku tak percaya jika Rey bisa secerdik itu menghadapi ku padahal selama ini tak pernah ada satu pun dari mereka yang berani berbuat seperti itu padaku yang selalu bersikap baik dihadapannya.
apa jangan-jangan Diah sudah menceritakan semua perlakuanku padanya dan berkata yang jelek-jelek tentangku kepada keluarganya, ini tak bisa dibiarkan. aku harus bicara dengan Diah agar dia tak semakin berbuat seenaknya saja padaku.
"udah lah ma, Lukman pusing. Lukman pulang dulu, untuk jatah bulanan mama semuanya nanti akan Lukman kasih. tapi ntah Diah kasih berapa untuk mama, tapi kalo untuk kak Yuni. aku ga bisa ma, ini juga demi rumah tangga aku. biar gimana pun aku sangat mencintai Diah, dan aku gamau sampai kehilangan dia ma" jawabku dengan menundukkan kepala.
mama membelalakan mata mendengar apa yang aku katakan, begitupun kak Yuni dengan tampang tak percaya karna aku lebih membela Diah dibanding ia dan juga mama.
"yaallah Lukman, mau jadi anak durhaka kamu ngga mengikuti apa yang mama katakan! ingat man, kamu dapat kerjaan bagus juga karna doa mama bukan karna istri kamu. lagipula kamu kerja disana juga sebelum bertemu dengan dia, kamu harusnya sadar itu" kata mama kembali mempengaruhiku, sebanarnya ada benarnya juga apa yang mama katakan. aku memang sudah bekerja sebelum mengenal Diah, dan untuk masalah gajiku yang terus bertambah ya memang karna kemampuanku yang akhirnya bisa mencapai target pengiriman sangat banyak hingga aku mendapatkan gaji lebih besar dari sebelumnya.
aku tak menggubris apa yang mama katakan, aku fokus berjalan kelar dari rumah kak Yuni. kemudian kembali kerumah kontarakanku bersama anak dan istriku.
__ADS_1
"baru pulang mas?" tanya Diah ketika aku baru aja masuk kedalam rumah.
"iyaaa" jawabku singkat, Diah pun tak menggubris ia lebih asik menonton tv karna Nayla dan juga bayi kami sudah tidur diatas kasur springbed yang ia bawa dari rumah mama ketika kami menikah dulu.
"Diah" panggilku.
"ada apa mas?" jawabnya dengan sedikit sinis.
"untuk uang bulanan ibu dan kak Yuni,,,,," kataku terputus dengan perkataan Diah.
"tenang aja mas, aku akan tetap membagi jatah ibu begitu pun dengan mama. kita harus adilkan? tapi tidak dengan kak Yuni" kata Diah membuatku menundukkan kepala.
"kenapa tidak ada untuk kak Yuni Diah? aku memberi keponakanku, bukan untuk kak Yuni" jawabku memberikan pengertian pada istriku itu.
"tapi nominalnya tetap sama kan Diah?" tanyaku lagi.
" tergantung sisa uang yang aku pegang setelah aku bagi untuk semua pengeluaran kita mas, andai sisa sedikit ya aku berikan sedikit andai banyak ya aku berikan sesuai jatah yang kamu berikan untuk ibu dan mama tapi untuk kak Yuni aku tetap tidak memberikan aku hanya memberikan anaknya untuk jajan" jawabnya membuatku membelalakan mata.
"kenapa begitu Diah?" tanyaku menatap wajahnya yang masih fokus menonton tv.
"kenapa emangnya? kamu fikir mereka tanggung jawabmu? mereka punya suami dan juga ayah mas, bahkan mas aja ga pernah berpikiran untuk memberikan pada anak mas sendiri selama ini. kenapa repot memberikan pada anak kak Yuni yang jelas punya ayah yang kerjaannya bagus dan gaji yang besar" jawabnya dengan nada ketus.
Aku pun terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Diah, sedari dulu Aku tak pernah mendengar dirinya berkata seketus itu padaku. tapi kali ini dia sangat ketus menjawab pertanyaan yang aku tanyakan.
__ADS_1
"udah ya mas ngga diperbedatin, ngga penting ngurusin soal uang terus. aku capek mau tidur" lanjutnya tanpa menatap ku.
"kamu mentang mentang dibela oleh adikmu sekarang jadi lebih berani padaku dan tak menghormatiku sebagai suami" gumamku yangj aku kira masih bisa didengar oleh Diah.
benar saja, dia pun kembali membuka mata dan duduk menghadapku dengan tatapan menyalang.
"menghargai? ngga salah mas? apa selama ini kamu menghargai aku sampai kamu sendiri minta dihargai olehku? kurang bagaimana aku sebagai istrimu mas yang bisa menerima disaat kamu memberikan uang ala kadarnya, menahan lapar saat siang karna makanan harus cukup sampai malam belum lagi untuk menyisihkan untuk kamu makan setelah pulang kerja. mas, andai istrimu itu orang lain mungkin saat ini kamu sudah diceraikan dengan tidak hormat mas." jawabnya dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya agar tak sampai membangunkan Nayla dan adiknya.
sebenarnya aku cukup kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Diah, apa sebegitu tak cukupnya uang yang aku berikan hingga harus menahan lapar saat siang hari demi menyisihkan makanan untukmu atau hanya akal akalan dia saja untuk membuatku merasa bersalah.
"mana mungkin uang segitu ngga cukup Diah, jajan Nayla pun ngga banyak. lagi pula anggapannya cuma kalian berdua yang makan sementara aku hanya mendapat sisa kalian" jawabku yang malah membuatnya membulatkan mata tak terima dengan apa yang aku katakan.
"coba katakan sekali lagi mas! aku tanya, apa pernah aku berikan kamu makanan sisa? oohh baiklah berarti mulai sekarang aku akan memberikan
kamu makanan sisa aku dan Nayla agar apa yang katakan itu menjadi kenyataan, dan kita jadi bisa lebih berhemat. benarkan mas?" jawabnya dengan santai yang malah membuatku kelabakan mendengar perkataannya.
memang selama ini yang aku lihat Diah selalu menyisihkan sendiri lauk untukku yang akan dia taruh diatas kulkas satu pintu dan ditutupi tudung saji kecil, tapi entah kenapa perkataan sepeti itu yang keluar dari mulutku.
"apa-apaan kamu Diah, kurang ajar kalo kamu berani memberikan suamiku sisa darimu dan Nayla. awas saja kalo sampai itu terjadi" jawabku membuatnya sedikit tertawa.
"mas, mas bukannya tadi kamu sendiri yang minta diberikan makanan sisa? kenapa sekarang kamu yang kelabakan! makanya mas kalo ngomong itu dijaga jangan asal jeplak aja!!" jawab Diah menatap tajam aku yang melototkan matal padanya.
"udah sana-sama kamu bikin mood ku jelek aja mas" lanjutnya membuatku terkejut dengan perkataannya yang sedikit kasar menurutku.
__ADS_1
aku pun terdiam dan membiarkannya melanjutkan tidur, kemudian aku pun kembali kedepan untuk merokok dan menyendiri.