
keesokan paginya, benar saja mas Lukman menjemputku tepat pukul tujuh pagi. aku, Nayla dan juga Syifa pun sudah siap untuk pulang kerumah kami dengan diantar mama dan juga bapak serta Rey yang juga berboncengan dengan sintia, intinya hari ini aku pulang diantarkan oleh orangtua dan juga adik-adikku.
mas Lukman memesan taksi online untukku bersama anak-anak dan juga mama dengan bapak, sementara ia akan menggunakan motor besar bermerek ho*da C*R tersebut.
"mana, masih lama taksi onlinenya?" tanya mama pada Lukman yang berada dihalaman rumah.
"ngga ma, sebentar lagi juga sampe kok. tunggu dulu ya ma" jawab mas Lukman sedikit ketus, aku tau sekali jika dia merasa kesal karna seluruh penghuni rumah ini ikut mengantarkan ku hingga sampai rumah.
"chat, suruh agak cepet nanti keburu panas" jawab mama juga tak kalah ketus.
"iyaa ma" jawabnya singkat.
lagi-lagi aku pun tersenyum dalam hati melihat mas Lukman yang begitu tak bisa berkutik dihadapan kedua orangtuaku, sudah biasa pemandangan seperti ini aku lihat.
tak lama taksi online yang dipesan mas Lukman pun datang, aku, mama dan juga bapak yang dibantu mas Lukman pun masuk kedalam taksi online tersebut kemudian berlalu meninggalkan pekarangan rumah yang diikuti oleh Rey dan juga mas Lukman dari belakang.
"si lukman itu bener-bener ya, ampuunn deh mukanya sepet banget dari tadi" kata mama didalam mobil.
"sepet kenapa si ma?" tanyaku penasaran.
"yaa liat aja itu, ngga ada senyumnya sama sekali. kaya ngga ikhlas kalo kita mau nginep dirumah kamu, liat aja mukanya ditekuk kaya gitu" jawab mama membuatku lagi-lagi menggelengkan kepala.
"mungkin mas Lukman cape aja kali ma, makanya mukanya kaya gitu" jawabku mencoba membela mas Lukman dihadapan mama.
"alaahh kamu itu selalu aja bela suami kamu yang ga jelas sifatnya itu" jawab mama membuatku terdiam.
tak ada yang bisa aku katakan lagi untuk membalas perkataan mama, karna kata-kata yang mama keluarkan terakhir itu adalah memang kebenaran. sifat mas Lukman yang suka tak jelas membuatku kadang merasa lelah berumah tangga dengannya, tapi ntah mengapa aku tak bisa berpisah dengan mas Lukman. aku merasa aku sudah terlalu nyaman menjadi ibu rumah tangga makanya selalu bergantung dengan mas Lukman hingga saat ini, tapi jika nanti uangku sudah terkumpul aku berniat keluar dari zona nyamanku. aku akan menjadi sadiyah yang baru, yang bisa menghasilkan tanpa meminta lebih lagi pada mas Lukman.
kami pun sampai dihalaman rumah kontrakan ku, aku pun pertama turun diikuti oleh mama yang langsung juga mengambil kursi roda bapa dibagasi. kemudian mama pun membantu bapak turun dibantu Rey yang sudah lebih dulu sampai dengan sintia.
"mas Lukman mana Rey?" tanyaku pada Rey.
__ADS_1
"ngga tau, tadi katanya mau kerumah ibu nya dulu. kuncinya sama mbak kan?" tanya Rey yang langsung aku angguki.
"yaudah kamu buka nih sin pintunya, mbak susah lagi bawa Syifa" kataku menyerahkan kunci rumah yang sudah aku simpan dalam kantong baju yang aku pakai. Sintia pun langsung melakukan apa yang aku suruh.
"masyaallaahhh rumaaahh berantakannyaaaaaaa" kataku sedikit berteriak melihat kondisi rumah yang begitu berantakan. aku yakin selama aku tak ada pun tak ada yang membersihkan rumah.
"apa si Diah teriak-teriak?" tanya mama yang jalan mendekat dengan mendorong kursi roda bapak.
"mama liat aja sendiri tuh, rumah udah kaya tong sampah begitu. liat aja deh, males aku masuk dalem rumah" kata ku sambi duduk didepan rumah dimana ada kursi yang disediakan untuk tamu yang berkunjung dari pemilik kontrakan.
"yaallah ini rumah apa tempat sampah!!" kata mama yang juga kaget melihat isi dalam rumah kontrakan ku.
"keliatannya apaan ma??!" jawabku dengan sedikit kesal.
"telpon Lukman suruh pulang sekarang, dasar ga punya otak. bukannya diberesin malah dibiarin berantakan begitu!!" kata mama dengan emosi, aku pun segera mengeluarkan ponselku dari dalam tas yang aku gunakan kemudian aku tekan nomer ponsel mas Lukman yang terhubung namun tidak diangkat. akhirnya aku pun mematikan telpon, bertepatan dengan mas Lukman yang sampai dirumah menggunakan motor besarnya. pantas saja teleponku tak diangkat, mungkin karna sedang mengendarai motor.
"heh Lukman, liat itu dalam rumah udah kaya tempat sampah begitu!! siapa yang kamu bawa kerumah ini tiap harinya, bukannya diberesin malah dibersihin aja kaya gitu!! ga punya otak kamu ya!!" kata mama yang emosinya sudah meluap.
"oohh jadi keluarga kamu sengaja bikin rumah ini berantakan gitu? sengaja karna Diah mau pulang kerumah makanya semua ini ngga diberesin dari dua hari yang lalu begitu? bagus banget! kamu fikir anak saya pembantu gratisan kamu, hah!! sini suruh kesini ibu dan juga kakak dan Abang kamu itu, jangan jadi pengecut bisanya kalo gaada orangnya dirumah!!" jawab mama menantang mas Lukman yang terus menundukkan kepala tak berani menatap mama.
"saya ngga mau tau ya Lukman, cepat kamu beresin sekarang juga. kalo ngga biar kami balik lagi kerumah mama" lanjut mama membuat mas Lukman langsung membereskan semua yang berserakan dilantai kemudian menyapu dan juga mengepel lantai hingga bersih, bahkan mas Lukman pun membereskan tempat tidur yang ternyata seprainya juga sudah kemana-kemana.
"diganti mas sepreinya, udah kotor yang itu" kataku yang melihat mas Lukman mau memainkan lagi seprai yang sudah berminggu-minggu masih itu saja.
"bantuin lah Diah, mas capek jangan cuma bisanya perintah doang" jawab mas Lukman dengan pelan seperti takut terdengar oleh mama dan juga yang lainnya.
"laah wa Ida mana katanya kamu udah nyuruh wa Ida buat bantuin dirumah, kenapa ngga kamu panggil aja sekarang" jawabku membuatnya menepuk kening.
"astaga iyaa ya, kenapa aku ga kepikiran dan sampai lupa begini. kamu kok baru ngingetin pas kerjaannya udah kelar begini sih, dari tadi kek" jawab mas Lukman membuatku memutar bola mata malas.
"yee salah sendiri punya otak kok ngga dipake" jawabku dengan santai meninggalkan mas Lukman yang malah menggerutu sambil mengganti seprai yang sudah ia lepas kembali.
__ADS_1
"udah selesai belum, kasian nih Syifa capek digendong terus" teriak mama dari depan pintu.
"sebentar ma bentar lagi, aku sapu pel sekali lagi didalem sini sampe kebelakang. tunggu sebentar" jawab mas Lukman juga dengan berteriak menjawab perkataan mama.
"udah selesai ma, Diah tidurin gih Syifa kamu pasti capek gendonginnya" kata mas Lukman yang telah selesai berbenar rumah sendirian. biarlah itu menjadi kerjaan pertamanya dirumah setelah aku kembali kedalam rumah ini.
"nah begitu dong, jadi kan bersih ini rumah ngga dekil kaya tempat sampah. awas ya lain kali kalo kamu sampe berbuat kaya gitu lagi ke Diah, mama ngga akan segan-segan bawa Diah pulang kerumah mama" kata mama seketika membuat mas Lukman menganggukan kepala.
"jangan ngangguk angguk doang, buktiin awas aja kamu ya sampe buat anak mama kecapean dirumah ini" lanjut mama dengan nada emosi tingkat tinggi.
"iyaa iyaa ma, yuk mari masuk. yuk sin, Rey" kata mas Lukman mempersilahkan semuanya masuk kedalam rumah yang sudah ia bersihkan. sementara aku sudah membaringkan Syifa dikasur milik kami.
"Diah, beli minum dulu buat mama sama bapak gih. aku gantian istirahat ya, sekalian mau sama Syifa kan mumpung aku lagi dirumah" kata mas Lukman menyuruhku membelikan minuman untuk mama dan juga yang lainnya.
"mana uangnya mas?" tanyaku pada mas Lukman yang langsung memberikan uang lima puluh ribuan kepadaku.
aku pun segeraka melangkahkan kaki menuju kedepan pintu, namun terdengar suara mama menghentikanku.
"mau kemana kamu Diah?" tanya mama penasaran.
"mau kewarung bentar ma" jawabku singkat.
"beli apaan si? udah biar Sintia aja yang kewarung. sin sana beliin tuh mbak mu mau beli apaan" kata mama menyuruh Sintia yang langsung diangguki olehnya.
"sini mbak biar Sintia aja, mau beli apa sih?" tanya sintia padaku.
"beli minuman dingin, didepan sana ya" kataku menunjukkan ke arah depan.
"yaudah iyaa, tunggu ya" jawab sintianyang langsung aku angguki. sintia pun pergi meninggalkan kami menuju warung depan dengan berjalan santai, sementara aku kembali kedalam menemui mas Lukman dan juga kedua anakku.
_______________________________________
__ADS_1
doakan saja ya temen-temen biar proses reviewnya ngga selalu lama seperti kemarin😊🙏