
"cukup ma! kenapa mama jadi merendahkan keluargaku sepeti ini, apa maksud mama berkata seperti itu pada kakakku? mama mau menunjukkan bahwa anak mama hebat? buat apa punya pendidikan kalo ngga bisa menghasilkan ma?" kata Lukman dengan suara kencang membuat bapak seketika menggeliat mendengar suara mas Lukman yang begitu kencang.
"jangan berteriak dengan kencang seperti itu didepan mama Lukman, ingat bagaimana pun aku adalah mertua mu. begitu sikapmu yang sebenernya hah!" kata mama pada mas Lukman yang langsung terdian mendengar perkataan mama.
"maaf ma" jawabnya singkat.
"kenapa memang kalo kalo saya berkata seperti itu? saya berkata yang sebanarnya, wajar dong saya membandingkan anak saya dengan kamu dan kakakmu ini. nyantai kalian memang dari segi pendidikan aja jauh beda, entah kenapa Diah bisa bodoh dalam memilih pasangan. padahal dia bisa saja mendapatkan yang lebih dari pad kamu!!" jawab mama menatap mas Lukman yang menundukkan kepala dengan tatapan tajam.
"lihat saya Lukman!!" kata mama dengan berteriak mengeluarkan emosinya yang tertahan sejak aku berada dirumah mama.
"sudah ma sabar, istigfar ma" kataku menenangkan mama.
"mama ngga bisa diam aja Diah, mereka seenaknya menghina kamu. andai kamu diam, bukan berarti kamu harus terus mengalah. jangan terus bodoh untuk mau diperbudak oleh mereka, dan kamu Lukman. ini terakhir kalinya ya saya tekankan sama kamu, terakhir kalinya saya bilang sama kamu. andai kamu ngga bisa memberikan hak anak saya dengan layak, lebih baik kamu kembalikan pada kami sebagai keluarganya" kata mama dengan berapi-api menatap mas Lukman yang membelalakan mata, sementara ibu mertua dan juga kak Yuni hanya terdiam mendengar semua yang mama ucapkan.
"ngga ma, tolong jngan suruh aku pisah sama Diah ma. aku mohon" kata mas Lukman memohon pada mama.
"kenapa? apa kamu sadar ngga ada yang mau sama kamu yang cuma kerja dengan penghasilan pas-pasan sebelumnya? jangan kira saya ngga tau kalo waktu sebelum kamu bertemu Diah gajimu hanya dua juta lima ratus ribu, iyakan?" kata mama menatap mas Lukman yang kaget mendengar mama bisa sampai tau awal gajinya sebelum menikah denganku.
"kok mama tau?" tanyanya penasaran.
"jelas mama tau lah, ibumu sendiri kok yang ngasih tau dulunya. iyakan Bu?" tanya mama pada besannya yang menundukkan kepala tak bisa mendongakkan kesombongannya lagi dihadapan mama.
ibu mertua ku pun hanya menganggukan kepalanya membenarkan apa yang mama katakan, mas Lukman pun mendesah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh mama selanjutnya.
"tuh kan ibumu sendiri mengakui, berarti seharusnya kamu sadar Lukman kalo semua gajimu yang sekarang itu ada hak anak dan juga istrimu. andai suatu saat Diah sampai minta pisah denganmu, belum tentu kamu masih mendapatkan gaji sebanyak itu. apalagi sampai kamu berselingkuh dari Diah, mama yakin kamu pasti akan terjun bebas masalah ekonomi. karna secara ngga langsung kamu sudah zholim terhadap istri dan anakmu" kata mama membuat mas Lukman semakin menundukkan kepala.
__ADS_1
"sudah cukup ma, jangan hakimin Lukman kaya gini. Lukman ngga pernah zholim pada Diah dan juga anak-anak, Lukman selalu memberikan semua kebutuhan mereka kok ma" jawab mas Lukman dengan lirih.
"terserah apa katamu, percuma bicara panjang lebar sama orang bodoh! seperti ngomong sama tembok, ngga pernah ada isinya. ngga berbobot sama sekali" kata mama dengan pedas pada mas Lukman.
"Ayuk ma kita pulang, buat apa kita disini kalo cuma buat dihina-hina kaya gini. kasian kamu Lukman punya mertua dan istri yang bisanya cuma menghancurkan harga diri suaminya sendiri" kata kak Yuni dengan ketus menatap sinis padaku.
"hei kakak ipar yang terhormat, lebih kasian lagi kamu yang dari awal nikah ngga direstuin sampe-sampe dimusuhin sama mertua bertahun-tahun. kasian banget sih kamu ngga diakuin menantu, bahkan anak kamu juga ngga ada yang diakuin cucu, uoopp sama deeng kaya aku punya mertua juga kaya gitu. yaa sebelas dua belas deh, uuhh malangnya nasib kuu" kataku membalas vlaying victim kak Yuni dihadapan matanya dan juga mas Lukman.
"kurang ajar!!!" bentak kak Yuni mengayunkan tangannya mau menamparku, aku yang sigappun dapat menepis tangan kak Yuni dengan mudah. ya memang dasarnya aku bisa sedikit bela diri karna pernah belajar dasarnya sewaktu mengikuti Pramuka Bhayangkara sewaktu sekolah dulu.
"eettsss ngga kenaa, kamu itu bukan tandingan aku mbak. eemm tangan ini kalo di giniin, nah gimana rasanya" kataku memutar tangan kak Yuni menghadap kebelakang dengan mudah.
"aduuuhh sakit ma, Lukman tolong gua man. sakit ini tangan gua" kata kak Yuni meminta tolong pada mas Lukman yang menganga melihatku memelintir tangan kakaknya.
"Diah, sudah Diah sakit itu tangan kak Yuni" kata mas Lukman membuatku menatap ya dengan tajam, mas Lukman pun membuang muka kearah lain melihat pandang tajam dari mataku.
"diam kamu dasar ipar sialan, ma tolong ma. tanganku sakit ini" kata kak Yuni meminta pertolongan pada ibu mertua.
"Diah, udah ya nak. kasian kakakmu" kata ibu mertua singkat, aku pun memicingkan mata mendengar perkataannya.
"dia bukan kakakku, aku tak punya kakak dan aku adalah kakak bagi adik-adikku" kataku mendorong dengan sedikit kencang kak Yuni hingga menabrak pintu rumah bagian depan.
"aauuuuu" jeritnya ketika dahinya mentok pintu, aku sangat luas bisa melepaskan kekesalanku padanya yang sedari tadi sudah aku pendam.
"sialan, liat aja akan aku adukan kamu pada suamiku nanti" kata kak Yuni mengancam, aku pun hanya tertawa mendengar perkataannya.
__ADS_1
"silahkan, aku ngga takut. justru bagus, jadi aku bisa sekalian meminta uang ganti rugi semua uang yang udah kamu pakai itu, oohh iyaa betul bagus banget ide kamu kak. cepetan ya ajak suamimu kesini, lihat mas dia memberikan jalan sendirikan padamu" kataku membuat kak Yuni menganga dengan mulut berbentuk huruf o.
"eehh jangan kurang ajar ya, aku mau mengadukan kamu bukan menyuruhmu memberi tahu suamiku soal masalah uang itu. awas aja kalo kamu sampe berani bilang ke suamiku, akan,,,,," jawabnya terputus.
"akan apa? kenapa memangnya kalo suamimu tau? kamu takut,hah! pengecut dasar!!" kataku dengan sinis menatapnya dengan tatapan tak suka.
"pokoknya awas aja kalo kamu sampai berani bilang pada suamiku, aku ngga akan segan-segan menyuruh Lukman menceraikan kamu" jawabnya mengancam.
"tuh mas, dengerin apa kata kakakmu. asal mbak tau aja ya, aku justru bersyukur jika mas Lukman mau menceraikan aku. jadi dari pada nunggu nanti, lebih baik kak Yuni suruh mas Lukman menceraikan aku sekarang juga mumpung ada mama dan juga bapakku disini. tapi ingat ya mas, kamu keluar dari rumah kontrakan ini hanya membawa baju yang kamu dari rumahmu dulu. semua barang dirumah ini termasuk motormu yang masih kreditan itu adalah milikku sesuai surat perjanjian pra nikah yang kita tanda tangani dulu" jawabku menantang mas Lukman yang hanya diam menatap sang kakak dengan pandangan tajam.
"cepet Lukman ceraikan dia, masalah barang-barang biarin aja. lagian motor itu kan bermasalah sekarang, aku yakin dia ngga akan bisa menyelesaikan masalahnya" kata kak Yuni dengan pedenya membuatku tertawa kencang.
"diam kak!! jaga batasanmu, biar gimana pun aku gaakan pernah menceraikan Diah. ngga akan pernah" jawab Lukman dengan lantang semakin membuatku tertawa melihat respon yang dikeluarkan oleh kakak iparku tersebut.
"tapi Lukman, liat dia bahkan udah berani menghina kita sekeluarga man. kamu lebih membela mereka ketimbang kami keluarga kamu sendiri hah!!" kata kak Yuni membentak Lukman.
"cukup kak! lebih baik sekarang kak Yuni pulang sama ibu, jangan terus membuat keributan dirumah ini. malu sama tetangga" jawab mas Lukman mengusir kakak dan juga ibunya secara halus.
"kamu ngusir ibu man?" kata ibu mertuaku pada mas Lukman.
"bukan begitu ma, tapi rasanya suasananya sudah tak baik. lebih baik kalian pulang dulu nanti kita bisa bicarakan baik-baik ya ma" jawab mas Lukman berusaha membujuk ibu mertua untuk segera pulang mengikuti kak Yuni.
"Ayuk ma, dasar Lukman lemah pantes aja harga dirinya diinjek injek sebagai suami. lembek si ngga bisa tegas sama istrinya" kata kak Yuni semakin mengompori mas Lukman, aku pun terdiam tak ingin menyahuti perkataan kak Yuni yang sama sekali tak berarti apa-apa untukku.
mereka berdua pun keluar dari rumah kontrakan ku dengan diantar mas Lukman hingga de depan jalanan dimana kak Yuni memarkirkan motor miliknya, cukup lama hampir dua puluh menit mas Lukman mengantarkan ntah apa yang mereka bicarakan. tapi aku yakin jika kak Yuni masih berusaha menghasut mas Lukman agar aku tak sampai melaporkan kelakuannya pada suaminya.
__ADS_1
bersambung......