Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 62.


__ADS_3

"emm, kurang di. mama juga lapar, dia juga katanya dari pagi belum makan juga sama anak-anak kak Yuni" jawab mas Lukman dengan lirih.


aku pun berdecak kesal mendengar perkataan mas Lukman, tanpa kata aku pun mencuci beras dan menanak nasi untuk makan mereka.


"uang itu, belikan lauk secukupnya. aku udah masakin nasi kan?" jawabku dengan singkat membuat mas Lukman menatapku dengan intens.


"kenapa natap aku kaya gitu? Hem, berfikir aku perhitungan ya?" tanyaku dengan berdecak.


"dua puluh lima ribu dapat apa di? ayam bakar aja satunya empat belas ribu loh" jawab mas Lukman membuatku menyeritkan kening.


"mas, emang aku nyuruh beli ayam bakar?" tanyaku membuat dahi mas Lukman menyerit sempurna.


"maksud kamu?" tanyanya heran.


"beli lauk warteg lah mas, yang udah mateng kan banyak masa gitu aja ngga ngerti" jawabku membuatnya membelalakan mata.


"tapi di, barusan kamu beli makan nasi Padang masa aku disuruh beli makan lauk warteg si" jawabnya tak terima dengan perkataanku.


"mau ngga? kalo ngga mau sini balikin" jawabku meminta kembali uang dua puluh lima ribu tersebut, mas Lukman pun langsung menyingkirkan uang tersebut dari dapannya.


"jangan lah, katanya buat beli lauk" jawabnya dengan nada sewot.


"tadi katanya gamau, gimana sih" jawabku dengan singkat.

__ADS_1


"tambahin lah di, minimal biar bisa lah beli dua nasi Padang" jawab mas Lukman yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.


"aku udah masak nasi loh mas, apa susahnya kamu tinggal beli lauk aja. kamu ngga ngehargain aku yang udah masakin nasi buat kamu?" tanyaku dengan memelototkan mata.


"yaudah yaudah iyaa aku beli lauk mateng aja lah" jawabnya membuatku tersenyum kecil.


"yaudah sana" usirku, mas lukman pun melangkah kan kaki kehalaman rumah yang langsung berpamitan pada sang ibu untuk membeli lauk.


"dia makan nasi Padang sedangkan kamu disuruh beli lauk warteg! keterlaluan banget Diah itu!!" kata ibu mertua yang masih terdengar di telingaku.


"udah gapapa ma, yang penting kan makan dulu. aku beli lauk dulu ya ma didepan, itu sinyo sama Ita jangan boleh berisik atau memberantakin rumah ya ma" kaya mas Lukman yang sudah memakai sendal jepit miliknya.


"iyaaa udah sana" jawab ibu mertua dengan sedikit kesal.


aku pun tertawa kecil didalam hati karna berhasil mempermainkan mas Lukman, sepeninggal mas Lukman ternyata ibu mertua menghampiri ku yang tengah duduk dikasih bersebalahan dengan syifa yang masih tertidur.


"heh kamu denger ngga kalo ibu ngomong! jangan pura-pura budeg kamu!!" bentaknya lagi membuatku terpaksa menatapnya dengan tatapan nyalang, karna mendengar bentakan nya Nayla pun ikut merasakan takut.


"apaan si Bu? udah belum ngomongnya, dateng-dateng minta makan ngga jelas marah-marah. udah dikasih juga buat makan masih aja protes, udah untung aku kasih makan!!" jawabku yang langsung membuat matanya melebar mendengar perkataanku.


"heh! uang yang kamu pakai itu uang anak saya, bukan uangmu. gara-gara kamu pegang uangnya dia jadi ngga bisa membelikan apa yang saya butuhkan, ini semua gara-gara kamu tau ngga!!" bentaknya menunjuk-nunjuk wajahku.


"mending ibu jangan nyari gara-gara deh Bu, aku takut aja ibu ngga bisa dengar perkataan yang aku keluarin karna terlalu pedas. emang kenapa kalo aku pegang uang mas lukman, aku istrinya loh Bu. aku yang berhak mengelola keuangan mas lukman, kenapa ibu yang repot? bukannya ibu udah diberikan tiap bulan sama mas Lukman? kemana uangnya Bu, masa tiap hari masih minta terus sama mas Lukman. jangan kira aku ngga tau Bu kalo selama ini ibu dan kak Yuni minta uang terus sama mas lukman, aku tau Bu tapi aku hanya diam" jawabku membuat ibu mertuaku ini diam tak bisa menyahuti perkataanku.

__ADS_1


"wajarlah, saya ibu nya. dia masih bertanggung jawab pada saya sampai kapanpun, kamu ngga berhak membatasi seperti itu" jawabnya kembali membuatku meradang.


" iyaa dan ibu bisa seenaknya membuat mas Lukman melupakan kewajibannya pada anak dan juga istrinya, begitu? sebenarnya saya heran Bu apa yang membuat ibu melakukan semua ini pada mas Lukman dan juga saya, disaat semua orangtua dari lelaki bahagia melihat anak lelakinya bisa membahagian istrinya atau anak orang lain tapi ibu justru bahagia membuat anak lelaki ibu menelantarkan anak dan istrinya. kenapa Bu? iri, karna kehidupan mas Lukman jauh lebih baik setelah menikah, begitu?" kataku dengan nada pedas yang menurut aku sendiri sangat tak enak didengar.


"kurang ajar, aku iri sama kamu? sorry, bahkan suami Yuni jauh lebih banyak gajinya dibanding Lukman. liat sendiri kan Yuni aja dijatah empat juta sebulan, bahkan itu untuknya doang semua kebutuhan anak-anak dan juga kebutuhan rumah seperti listrik dan juga air sudah ia yang bayarkan. dan gajinya juga sampai belasan juta jadi uang gaji Lukman itu ngga ada apa-apanya asal kamu tau" jawab ibu mas Lukman membuatku tertawa kecil.


"hahaha lantas kemana uangnya Bu? kemana uang empat juta bulanannya kak Yuni? bahkan emas barang segram aja ngga pake, iyakan. lihat baju kak Yuni, oohh ngga liat baju Ita sama sinyo bahkan bagusan baju Nayla kemana-mana Bu. lihat! lagian kalo emang ibu merasa hidup ibu terjamin kenapa harus ini dari pagi sampai saat ini ibu belum juga makan? hah! sudah payah harus antar pesanan hanya untuk membeli makan, kaya gitu yang ibu bilang terjamin?" jawabku yang semakin berani menatap ibu mertuaku yang sudah terlihat sangat marah.


"itu bukan urusan kamu! semua yang dilakukan Yuni sama sekali bukan urusan kamu jadi kamu ngga perlu ikut campur! ngerti" jawabnya dengan membentak.


"sama dong kaya aku, setiap apa yang menjadi urusan aku ibu ataupun kak Yuni sama sekali ngga berhak ikut campur. apalagi dalam hal rumah tangga dan juga keuangan kami, toh kami ngga ada uang pun kalian belum tentu membantu kan?" jawabku dengan nada santai sambil kembali memainkan handphone dan memangku Nayla yang masih terlihat ke takutkan.


"sialan, awas kamu ya aku akan bilang sama Lukman kalo kamu sudah merendahkan ibu dan juga kakaknya agar kamu capat ditalak olehnya. biar jadi gembel kamu sekalian" jawabnya dengan nada geram. aku pun tertawa mendengar perkataan ibu mas Lukman, dia kira aku takut dicerai kan mas Lukman. oohh tidak fergusooo!!! hahaha


"silahkan Bu, bahkan kalo bisa secepatnya. aku justru malah seneng karna bisa keluar dari keluarga toxic dan gatau malu sepeti kalian" jawabku dengan santai, ibu mas Lukman pun melayangkan tangan ke arahku tapi terlonjak kaget mendengar suara yang begitu nyaring ditelinga.


"MAMA!!!".....


BERSAMBUNG.....


________________________________________


wah wah wah siapa ya kira-kira yang bergerak dengan nyaring🤔 ikutin terus ya kelanjutannya🙏😊

__ADS_1


mohon maaf untuk yang minta Diah sama Lukman cepat-cepat cerai itu mohon maaf sekali ya, karna sampai sekarang pun aslinya masih bertahan loh😊 sudah saya bilang kan, kalo ini cerita real, ini kisah nyata guys. hanya ditambahkan sedikit bumbu penyedap agar bisa lebih kelihatan emm gimana gitu deh pokoknya ya😁


sampai sini dulu untuk hari ini, mohon maaf jika ada kepenulisan yang tidak dapat dipahami dengan mudah. kita lanjut besok lagi ya🙏😊


__ADS_2