
"yasudah kalo begitu Rey ikut aja apa kata mama, yang penting kalian semua senang dan bahagia. oiyaa satu lagi untuk kamu sin, jangan sampai keadaan kita yang berubah menjadikan kami tinggi hati dan juga sombong kepada sesama karna pada dasarnya semua ini hanya titipan. mas melakukan semua ini bukan untuk ria atau apapun, tapi murni untuk kebahagiaan kalian semua. ingat itu ya?" kata Rey pada Sintia yang sedari tadi tersenyum dan menganggukan kepala setelah Rey menyelesaikan kalimatnya.
"iyaa mas, Sintia ngerti kok. lagipula apa yang patut diabnggakan, jika masih ada yang lebih kaya dari apa yang kita miliki sekarang. sintia janji akan tetap rendah hati dan ngga akan sombong mas, bukannya kita semua sama Dimata Allah" jawab Sintia membuat mama mengelus dengan sayang rambut kepala Sintia.
"betul, Alhamdulillah kalo kamu mengerti. ngga sia-sia bapak keras dengan kalian, karna kalian bisa tumbuh menjadi anak yang dewasa meskipun masih dalam usia muda. mama bangga pada kalian semua" kata mama membuat kami langsung menghambur masuk kepelukan mama.
tiada yang indah selain keharmonisan keluarga, tidak ada yang berubah setelah kepergian bapak hingga saat ini. justru kebersamaan kami semakin erat karna saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain, Rey berperan penting sebagai kepala keluarga didalam rumah ini. dia lah yang paling banyak berkorban untuk kami semua.
"assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar rumah saat pintu rumah sengaja kami tutup.
"waalaikumsalam" jawab kami serentak, aku bangkit dan membuka pintu rumah. terlihat Abi Hasyim, umi Hamidah dan juga mas Hamid datang secara bersamaan bersama dengan tiga orang santri dibelakangnya.
"Abi, umi, mas Hamid silahkan masuk. maaf masih agak berantakan, akang-akang mari masuk silahkan" kataku mempersilahkan para tamu masuk kedalam rumah.
"terimakasih Diah, ayok kamu juga masuk" kata umi Hamidah menggandeng tanganku lebih dulu masuk diikuti para lelaki dibelakangnya.
"masyaallah Hasyim, midah, nah Hamid. silahkan duduk semuanya" kata mama setelah bercipika cipiki dengan umi hamidah dan menangkupkan tangan didada pada para lelaki.
sementara Rey pun langsung menyalami Abi, mas Hamid dan para santri yang ikut. begitu juga dengan Sintia yang menyalami umi Hamidah, dah langsung berpamitan masuk kedalam kamar karna tak memakai jilbab.
"Nayla sama Syifa mana nih di?" tanya umi Hamidah.
"tidur umi, ada dikamar Sintia" jawabku.
"buatkan minum dulu di" kata mama menyuruhku.
"gak perlu repot-repot di, sini aja duduk sama kami. ada yang perlu kami bicarakan" kata umi Hamidah membuat jantungku berdetak cepat.
"gapapa umi, biar Diah buatkan dulu. gak repot sama sekali kok umi" jawabku tersenyum, tanpa mendengat jawaban dari umi Hamidah aku pun langsung berbalik arah menuju dapur dan membuat beberapa minuman untuk Abi Hasyim dan yang lainnya.
__ADS_1
"begini Siti, maksud kedatangan kami kesini sebetulnya dengan maksud dan niat yang baik untuk menghitbah Diah untuk anak kami Hamid" kata kiayi Hasyim membuatku yang sudah selesai menata gelas didepan semua orang pun menatap mas Hamid dengan perasaan tak menentu.
"ma-maksud mas Hasyim apa ya?" jawab mama dengan terbata.
"begini Siti, Hamid sudah cerita jika ia sudah mengungkapkan perasaannya pada Diah beberapa waktu yang lalu. namun, dengan tegas Diah dan juga kamu menolak karna Diah saat itu masih dalam masa Iddah. saya tak menyalahkan, justru saya membenarkan apa yang kamu katakan. nah, dikesempatan kali ini saya ingin kembali menghitbah Diah untuk Hamid anak kami secara resmi. disaksikan oleh wali dari Diah yaitu Rey, dan juga beberapa santri dari pondok pesantren" kata Abi Hasyim membuatku dan juga mama saling pandang.
"ta-tapi,,,,,,"
"maaf Abi, tapi apa ngga terlalu terburu-buru. mengingat masa Iddah Diah baru beberapa waktu yang lalu selesai, dan apa mas Hamid yakin ingin menghitbah saya sementara saya seorang janda beranak dua. bahkan seharusnya mas Hamid bisa mendapatkan perempuan lajang yang jauh lebih baik dari saya Abi" jawabku dengan menundukkan kepala.
"tapi saya hanya menginginkan kamu Diah, kamu lah cinta pertama saya. bahkan selama ini saya menunggu kamu di" kata mas Hamid membuatku menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"maaf mas, mas yakin jika itu cinta bukan obsesi untuk memiliki?" tanyaku menatap tajam kearah mas Hamid.
aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku, jujur aku masih sangat takut untuk kembali berumah tangga. aku sudah sangat nyaman dengan keadaan ku yang seperti ini, hidup dengan keluarga dan juga anak-anak yang begitu aku sayangi.
"apa maksud kamu di? aku betul-betul mencintai kamu, andai ini hanya obsesi aku gak mungkin menerima permintaan bude Siti untuk menjaga jarak dengan mu untuk sementara demi menghormati status kamu yang masih dalam masa Iddah" kata mas Hamid menatapku yang tak tak berani mendongak.
"baiklah kalo memang untuk itu mas bisa memaklumi, dan soal Nayla juga Syifa kamu gak perlu khawatir. aku sudah sangat menyayangi mereka seperti anakku sendiri, aku juga bersedia memberikan semua kebutuhannya di" kata mas Hamid membuatku tertegun.
"betul apa kata nak Hamid di, toh selama ini Nayla dan juga Syifa hanya dekat dengan nak Hamid kan? mereka juga begitu nyaman dengan nak Hamid" kata mama yang juga aku benarkan.
"nah, apalagi yang kamu risaukan nak? kami juga sebagai orang tua Hamid pasti akan menerima kamu dan juga anak-anak dalam kehidupan kami, iyakan Bi?" kata umi Hamidah yang langsung diangguki oleh Abi Hasyim.
"tapi semuanya balik lagi pada kamu di, kami ngga akan memaksa kamu kok" kata umi Hamidah dengan senyuman.
"berikan saya waktu umi, tiga hari. saya akan menjawab khitbah mas Hamid dalam waktu tiga hari umi" jawabku dengan kepala terus menunduk.
"baiklah, kamu denger sendiri kan mid. Diah membutuhkan waktu untuk menjawab khitbah kamu, dan andai dia menolak kamu harus berlapang dada menerimanya. tapi Abi juga akan menyiapkan penghulu untuk menikahkan kalian andai Diah menerima kamu, bagaimana?" tanya Abi Hasyim membuatku kaget.
__ADS_1
"me-menikah?" tanyaku dengan wajah kaget sekaligus panik.
ku lirik mas Hamid yang sepertinya menunggu respon dari ku, dengan susah payah aku pun meneguk ludah mendengat pernyataan Abi Hasyim yang sama sekali tak ada keraguan dalam setiap katanya.
"baiklah Abi, Hamid setuju" jawaban mas Hamid membuatku membelalakan mata.
"ta-tapi,,,,,"
"okee deal, Abi tambah waktu kamu agar semakin mantap. hari Jumat nanti, Abi akan kembali kerumah ini tepat pukul sembilan pagi. oke Diah?" tanya Abi Hasyim yang dengan terpaksa membuatku menganggukan kepala.
"baiklah Abi" jawabku pada akhirnya, semuanya pun tersenyum senang mendengar perkataan ku.
"Hamid, berikan Diah libur dikantor selama satu Minggu ini. agar dia merasa yakin dengan keputusannya nanti" kata umi Hamidah diangguki oleh mas Hamid.
"iyaa umi, Diah boleh libur satu Minggu kedepan" jawab mas Hamid, sebetulnya aku merasa senang karna dengan begitu aku tak merasa terintimidasi atas lamaran Dadakan dari mas Hamid saat ini.
"makasih banyak mas, insyaallah aku akan menjawab dengan tepat waktu" jawabku membuat mereka semua tersenyum.
"ayo diminum dulu air nya, dari tadi keliatannya sangat tegang" kata mama memecahkan keheningan.
"terimakasih sit" kata Abi Hasyim mengangkat gelas teh miliknya.
"Alhamdulillah, terimakasih di" kata Abi Hasyim padaku, aku pun tersenyum dan menganggukan kepala sebagai jawaban.
"kalo begitu kami pamit pulang dulu ya Siti, Jumat nanti kita datang lagi kesini" kata umi Hamidah dijawab anggukan oleh mama.
"iyaa midah, maafkan Diah karna belum bisa menjawab khitbah nak Hamid. nak Hamid, maafkan sikap bude waktu itu ya" kata mama pada mas Hamid yang tersenyum.
"gak apa-apa bude, Hamid ngerti kok" jawabnya membuat kami semua tersenyum.
__ADS_1
"kalo begitu kami permisi pulang ya sit, assalamualaikum" kata umi hamidah mendahui yang lain berdiri dan keluar dari rumah, aku pun mengantar rombongan umi Hamidah hingga sampai depan pintu.
bersambung......