
"Sebenarnya waktu itu pak Hamid menyatakan perasaannya saka Diah mbak, dan pas pulang dia pun mampir kerumah Diah karna kami ngga sengaja ketemu dilobby. bertiga sih sama pak Rizal, tapi mama ku meminta mas eh pak Hamid buat menjaga jarak dengan aku karja status aku yang seorang janda dan masih dalam masa Iddah" jawabku tanpa ada yang aku tutup-tupi dari mbak Laras.
"hah? yang bener Lo?"tanyanya yang hampir tersendak dengan apa yang aku katakan, aku pun menganggukan kepala sebagai jawaban.
"permisi" aku yang mau menyahuti perkataan mbak Laras pun terhenti ketika melihat pelayan kantin membawakan nampan berisi pesananku pada mbak raya.
"permisi mbak Diah, ini pesanannya. maaf ya katanya mbak Diah ngga bilang mau apa, makanya saya bawakan nasi campur aja karna kan kesukaan mbak Diah" katanya membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa gapapa kok mas, makasih banyak ya?" jawabku.
"sama-sama mbak, kalo gitu saya permisi ya balik kekantin ya mbak. nanti kalo udah selesai mbak bisa titip ke ob" jawabnya yang langsung aku angguki. pelayan kantin itu pun pergi setelah menaruh sepiring nasi campur dan juga air mineral botol dimeja kerja ku.
"eeehh di, terus-terus. cerita Lo belom selesai loh" kata mbak Laras yang sepertinya sangat penasaran dengan ceritaku.
"yaa akhirnya seperti sekarang mbak, kami menjaga jarak atas permintaan mama. yaa setidaknya sampai masa Iddah aku selesai nanti" jawabku membuat mbak Laras menganggukan kepala.
"tuh kan apa yang gue bilang, kalo pak Hamid itu ada rasa sama Lo. gue tuh udah feelling di, Lo sih ngga percaya sama gue" katanya masih tetap melanjutkan makan, aku pun mulai memakan nasi campur yang baru saja diantarkan.
"tapi gimana ya mbak, aku sadar diri lah ya mbak. aku kan seorang janda, anakku di lagi. sedangkan pak Hamid pemilik perusahaan, seorang Gus pula. beda jauh lah mbak sama aku yang hanya seonggok tempahan rengginang" jawabku membuat mbak Laras seketika tertawa kecil.
"yaa jangan pesimis gitu lah di, siapa tau emang pak Hamid itu jodoh Lo yang sebenarnya. terus ceritain dong gimana Lo bisa ketemu sama pak Hamid pertama kali?" tanyanya yang semakin penasaran padaku dan juga mas Hamid.
"ah mbak Laras ini bikin aku malu aja deh. kalo itu mah ceritanya panjang mbak, masa aku harus deskripsikan satu persatu sih mbak. lagian sebetulnya aku dan mas Hamid itu sudah lama kenal, bahkan saat itu mas Hamid masih usia tiga atau empat tahun dan aku baru lahir. terlihat dari foto yang dikasih tau sama orang tuanya" jawabku membuat mbak Laras menghentikan makannya.
"aaahh apa Lo bilang? udah kenal dari bayi, tunggu bentar deh. jangan-jangan yang Lo bilang sahabat orangtua pak Hamid itu orang tua Lo?" tanyanya yang ternyata langsung mengerti perkataanku.
aku menganggukan kepala dua kali sebagai jawaban karna sedang menyendok nasi dam memasukkan nya kedalam mulut.
"berarti, berarti bentar deh. berarti,,,, aduuhk kok jadi kayanya sudah begini ya buat dijabarin" katanya membuatku terkekeh kecil dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.
"iyaa mbak sesuai pikiran mbak Laras. keluargaku adalah keluarga yang menjadi pemilik kedua dari pesantren yang dipimpin oleh Abi Hasyim atau orangtuanya pak Hamid" jawabku membuat mbak Laras semakin melebarkan mata.
__ADS_1
"Apa!!!" teriaknya karna terkejut.
"hust, jangan teriak-teriak mbak. kaget tau ngga sih, tuh karyawan lain udah mulai masuk" jawabku membuatnya menutup mulut.
"sorry, sorry abisnya gue itu kaget. berarti eh tapi kok Lo bisa kerja disini, seharusnya kan Lo bisa aja diam dirumah sambil mendapatkan keuntungan dari pesantren itu. iyaa ngga sih" tanyanya yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"ngga gitu lah mbak konsepnya, aku kerja untuk menghidupi kedua anakku. masalah hasil dari pesantren, bahkan sampai saat ini apa yang diberikan oleh orangtuanya pak Hamid belum pernah kami pakai sama sekali. niatnya kami sekeluarga akan menggunakannya untuk hal lain yang lebih bermanfaat, contohnya membangun pesantren dengan segala fasilitas yang lebih lengkap dari sebelumnya" jawabnya yang langsung mendapatkan acungan jempol dari mbak Laras.
"wwaaaahh kalo gitu bisa kali ras adik gue mau masuk kepesantren Lo, yaa lumayan lah harga teman" katanya sambil terkekeh.
"kalo urusan itu sih masih dipegang sama umi Hamidah mbak, tapi nanti coba aku yang titipkan ya mbak. emang kalo boleh tau kelas berapa adiknya mbak Laras" tanyaku.
"kelas dua SMP sih, mau naik kekelas tiga. bisa ngga sih kalo pindah kepesantren udah kelas segitu, soalnya kan kalo SMP ke SMP aja kadang ngga bisa" tanyanya kembali membuatku berfikir.
"emm kalo masih satu rayon si boleh kayanya mbak, tapi pesantren punya orangtuanya pak Hamid kan udah beda provinsi meskipun Deket dari sini" jawabku dijawab anggukan pelan oleh mbak Laras.
"kalo gitu mungkin nanti aja kali ya kalo lulus SMP, nah SMA nya dipesantren aja. gitu bisa kan ya di?" tanyanya ku jawab anggukan antusias.
"tapi gue ngga nyangka deh ternyata begitu kisah Lo di, gue yang orang biasa aja nih ya sampai geleng-geleng ngga percaya kalo ternyata Lo juga salah satu Ning pesantren" katanya membuatku terkekeh.
"Ning, lah mbak aku aja bukan lulusan pesantren mbak. aku mah cuma perempuan biasa, cuma aja kebetulan almarhum bapakku itu yang memiliki ide membangun pesantren itu menjadi lebih berkembang. sisanya ya berkat kegigihan orangtuanya pak Hamid" jawabku dengan tawa kecil.
"sama aja lah di, istilahnya nih ya Lo itu kaya ketiban durian runtuh tau ngga. coba aja nih kalo mantan suami Lo tau kalo keluarga Lo itu ternyata keluarga punya segalanya, waaahh pasti Lo bakalan diporotin habis-habisan bahkan bisa jadi mereka mohon-mohon biar Lo sama mantan suami Lo itu ngga jadi cerai. iyaa ngga sih" kata mbak Laras membuatku tertawa kencang.
"apaan sih mbak, udah itu abisin dulu ah makannya. aku dari tadi makan juga ngga habis-habis ini jadinya" kataku sambil menghabiskan nasi yang masih tersisa dipiring.
"assalamualaikum ya ahalal kubur" kata mbak raya yang tiba-tiba berteriak seperti itu membuat mbak Laras tersendak.
"eehh ras, Lo gapapa ras? kok bisa keselek sih, makanya makannya pelan-pelan ras" kata mbak raya tanpa rasa bersalah.
"sial, Lo itu yang bikin gue keselek. ngapain Lo teriak kaya gitu, emang Lo pikir ini kuburan apa, hah!!" kesal mbak Laras setelah menghabiskan satu gelas air mineral.
__ADS_1
mbak raya pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"yaa sorry, abisnya ini ruangan sepi banget kaya ngga berpenghuni" jawabnya disambut jitakan kepala oleh mbak Laras.
"orang cuma berdua mau rame gimana, dodol!!"geram mbak Laras membuat mbak raya langsung lari ketempatnya.
"udah-udah mbak, lanjutin lagi. lima menit lagi waktu istirahat habis tuh" kataku menunjuk jam yang ada di dinding.
"emang dasar ya itu si raya, bener-bener deh" gumamnya menggelengkan kepala.
kami pun mengabiskan makan kami yang masih tersisa beberapa suap lagi, kemudian menyelesaikan pekerjaan kami yang masih sangat menumpuk.
"waahh kayanya Lo bakalan lembur nih di" kata mas Laras yang aku angguki.
"iyaa mbak, gapapa sih. lumayan buat nambahin isi dompet" jawabku membuat mbak Laras berdecih.
"cih, duit ngga berseri juga" jawabnya membuatku terkekeh kecil.
"btw, ajak gue kali main kerumah Lo kalo weekend di. gue kan mau ketemu sama anak-anak Lo" kata mbak Laras.
"setuju tuh, gue juga kali" kata mbak raya yang ternyata mendengar perkataan mbak Laras.
"apaan sih Lo, ikut-ikut aja Lo ya" kata mbak Laras yang masih kesal dengan mbak raya.
"dih, gue kan minta ajak sama Diah. lagian emang Lo doang apa yang mau tau rumah Diah sama anak-anaknya, gue kan gua mau kali" jawab mbak raya tak mau kalah.
"cih, Lo mah nanti bikin ribut aja disana tau ngga sih" jawab mbak Laras membuat mbak raya memberengut kesal.
"udah-udah, boleh kok. Sabtu nanti pulang kerja gimana? kalian ngga ada dating?" tanyaku pada keduanya yang langsung menggelengkan kepala.
"ngga ada lah, dating sama siapa. poci!" jawab mbak Laras pada akhirnya membuat kami bertiga tertawa lepas.
__ADS_1
bersambung....