Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 71.


__ADS_3

"masa semuanya dibeli nay, emang nay bisa ngabisinnya?" tanya sintia yang hanya dijawab cengiran oleh Nayla.


"udah, udah. nih sana cepetan nanti keburu Maghrib" kata Rey mengerahkan uang pecahan lima puluh ribu pada Sintia.


"mbak nitip kentang goreng yang di wolffood sana ya" kata ku pada Sintia yang langsung diangguki olehnya. Sintia dan juga Nayla pun keluar dari rumah dengan membawa motor milik Rey yang tdi keduanya gunakan.


"jadi gimana mbak?" tanya Rey yang langsung membuatku menggidikkan bahu.


"ntahlah mbak juga bingung, nanti kita bicarakan lagi aja dengan Raihan. semoga dia punya solusi yang lebih baik untuk cepat membuka kebohongan yang diciptakan oleh mas Lukman." jawab Diah yang langsung diangguki oleh Rey.


"baiklah kalo gitu, kita tunggu Raihan aja nanti" jawab Rey final sambil membuka ponsel miliknya, untuk menunggu dan membuang kejenuhan. Rey pun berselancar didunia maya sesekali mengecek aplikasi chating diponselnya.


"assalamualaikum" terdengar suara salam yang membuat fokusku dan juga Rey beralih pada kedua orang yang berada didepan pintu.


"waalaikumsalam" jawabku dan juga Rey berbarengan.


"nay pulang nih ma, liat nay bawa apa aja nih" kata Nayla yang pulang membawa begitu banyak jajanan yang keduanya beli.


"yaampun nay, kamu bawa banyak banget jajanan nay. beli apa ajaa" jawabku memandang pada Nayla yang hanya senyum-senyum menatapku yang melihat heran ke arahnya.


"itu mbak, liat aja semuanya diminta mbak sama dia. sampe capek aku berenti Mulu, mana ngantri banget mbak" jawab Sintia membuatku menggelengkan kepala.


"yaampun, gaboleh begitu ya nay. jajan secukupnya aja, kalo kaya gini nanti kalo ga habis gimana nay" tanya pada Nayla yang langsung terdiam.


"iyaa ma, tapi kan sekarang ada om Rey ma. nanti kan kita bisa makan bareng-bareng" jawabnya membuatku tersenyum karna ternyata Nayla memikirkan om nya dan akan berbagi dengan om nya.


"yaudah kalo untuk kali ini gapapa, tapi lain kali jngan ya" jawab ku yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nayla.

__ADS_1


"yaudah, nay makan ini didalam ya sama ante." kataku yang langsung membuat Nayla tersenyum senang.


"ayok ante kita makan didalem" katanya pada sintia dengan mata berbinar. keduanya pun berjalan menuju ruang tengah, Sintia mengiringi jalan Nayla dengan pasrah.


terdengar suara azan yang berkumandang dari mushola yang tak jauh dari kontarakanku, Rey pun bergegas untuk sholat berjamaah dimushula sementara aku dan juga Sintia sholat berjamaah didalam rumah.


setengah jam kemudian, Raihan pun datang tepat setelah sepuluh menit Rey kembali dari mushola.


"assalamualaikum" salamnya ketika tepat berada didepan pintu rumah kontrakan ku.


"waalaikumsalam" jawabku serentak dengan Rey dan juga Sintia.


"mas Rai, masuk mas masuk" kata Rey mempersilahkan Raihan masuk kedalam rumah.


"waahh udah pada kumpul nih, telat ya aku?" tanyanya dengan wajah tersenyum.


"oohh begitu, memang ada masalah apa lagi?" tanya Raihan dengan menyeritkan kening, ia pun duduk tepat disebelah Rey yang berhadapan langsung denganku.


"biasa lah mas, apalagi kalo bukan soal uang, uang dan uang. memang apa si kerjaan keluarga itu kalo bukan membicarakan soal uang" jawab Rey dengan nada serius tapi malah membuat Raihan tertawa kecil tanpa mengeluarkan suara.


"yaa namanya manusia, pasti butuh uang. iyakan Rey?" tanya Raihan pada Rey dengan berkelakar.


"yaa tapi ini mah keterlaluan mas, masa yang diributin soal uang, uang dan uang mulu. memang semua orang butuh uang, tapi masa setiap hari harus mengeluarkan uang lebih besar dan setiap bulannya melebihi kebutuhan. itu bukan butuh namanya, tapi serakah mas" jawab Rey dengan nada sedikit kesal.


"namanya manusia Rey, kita gatau apa yang butuhkan orang lain. mungkin kita cukup dengan apa yang kita terima, karna kita bersyukur. tapi orang lain, mereka merasa kurang karna memang mereka kurang atau karna memang mereka kurang bersyukur. kita kan juga gatau, iyakan?" jawab Raihan yang langsung dijawab anggukan oleh Rey.


"iyaa makanya itu, andai jika uang digunakan untuk kebutuhan pasti akan cukup dan andai kita bersyukur pasti semuanya akan terus bertambah bukannya malah berkurang setiap harinya. ini mah ngga mas, berapa pun banyak gaji ngga akan cukup kalo cuma untuk menutupi setiap keinginan keluarganya. apalagi sampai menyia-nyiakan istrinya, kan terbalik" jawab Rey yang sudah teramat kesal membuat Raihan terkekeh kecil.

__ADS_1


"namanya juga manusia, terus bagaimana jadinya mbak. oiyaa apa tadi pagi aku ga salah dengar kalo mbak udah minta diceraikan, maksudnya gimana ya mbak? terus gimana soal perjanjian itu?" tanya Raihan membuatku kembali menggaruk kan tengkuk kepalaku.


"sebenarnya si aku cuma mau menggertak mas Lukman dan juga kak Yuni Rai, abisnya mereka terus membuat ulah jadi terpaksa aku harus melakukan semua itu. menurut kamu gimana rai?" tanyaku pada Rey.


"memang mereka masing mengganggu mbak juga? apa si yang mereka permasalahkan, kok kayanya mereka terus mengejar mbak setiap hari loh mbak?" tanya Raihan padaku, aku pun menghela nafas kasar.


"mereka akan tetap mengejar aku Rai sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, kamu tau sendiri kan kalo mereka ngga ikhlas kalo mbak memegang uang dari mas Lukman. itu lah yang menyebabkan mereka selalu berbuat onar pada mbak" jawabku menundukkan kepala.


"kenapa begitu? padahal mereka sendiri tau kan kalo semua itu memang sudah tertuliskan didalam perjanjian yang apabil mas Lukman tidak memberikannya kita berhak untuk memasukkan mas Lukman kedalam penjara atas tuduhan penipuan?" jawab Raihan yang langsung aku jawab menggidikkan bahu.


"mbak juga gatau lah Rai, padahal mbak juga udah ancam mereka buat memenjarakan atas tuduhan tindakan tidak menyenangkan. tapi mereka seakan ngga ada kapoknya Rai, bahkan tadi siang dengan beraninya ibu mas Lukman kerumah ini untuk minta makan. padahal baru semalam ia dikasih uang oleh mas Lukman, itu pun uang yang aku berikan pada mas Lukman untuk membeli bensin" jawabku dengan menggebu-gebu.


"waahh udah ga bener ini, tapi mana mereka kok belum kelihatan juga sampai sekarang" jawab Rai yang aku jawab dengan gelengan kepala.


"assalamualaikum" panjang umur ternyata mas Lukman beneran pulang, namun aku bingung tumben ia pulang sendiri tanpa membawa ibu atau kakaknya.


"waalaikumsalam" jawabku bertiga dengan rey dan juga Raihan serentak.


"sendirian mas?" tanyaku pada mas Lukman yang langsung diangguki olehnya.


"iyaa aku sendiri, mas gamau ibu atau kak Yuni ikut campur urusan kita lagi" jawab mas Lukman tanpa menatap wajahku.


"baguslah kalo kamu sadar, lagian kalo ada mereka bukannya kita dapat jalan keluar tapi pasti cuma memeperkeruh suasana aja" jawabku dengan sinis.


"apa kabar mas?" tanya Raihan mengulurkan tangan pada mas Lukman, yang langsung disambut oleh mas Lukman.


"Alhamdulillah baik,"........

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2