Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 105.


__ADS_3

aku kembali masuk kedalam rumah setelah tak menghiraukan teriakan ibu mertua, setelah duduk kembali ke tempatku. terlihat wajah umi Hamidah melihatku dengan dahi menyerit.


"itu tadi siapa diah?" tanyanya padaku.


"ibu mertuaku dan suamiku yang sebentar lagi menjadi mantan, umi" jawabku. ya aku dan yang lainnya sepakat akan memanggil Bu nyai Hamidah dengan sebutan umi sementara dengan kiayi Hasyim kami tetap akan memanggil kiayi.


"kok terdengar seperti ribut begitu, apa ada masalah yang belum selesai?" tanyanya penasaran.


"begini umi, beliau kesini hanya untuk meminta uang pada Diah untuk membawa mas Lukman kerumah sakit. jelas Diah tidak memberikan, karna saat Diah keluar dari rumah itu pun hanya membawa uang tiga ratus ribu itu pun uang yang seharusnya Diah belikan bahan makanan. tapi diminta lagi saat mas Lukman kecelakaan bersama selingkuhannya, dan saat ini kata ibu mertua Diah mas Lukman mengalami sakit kepala yang tak berkesudahan tadi pun wajahnya terlihat sangat pucat. dia juga tidak mengatakan apapun, bahkan terkesan hanya diam saja. mungkin itu efek dari apa yang dibakar oleh kiayi waktu itu?" tanya ku menatap kiayi Hasyim yang menganggukkan kepala dua kali.


"iyaa bisa jadi nak, karna andai dia hanya sakit kepala biasa pasti cukup dengan meminum obat. tapi andai benar karna hal itu, pasti tidak akan terdeteksi jika dibawa kerumah sakit. tapi tunggu, apa selama ini juga kamu diperlakukan seperti tadi?" tanya kiyai Hasyim menatapku yang menundukkan kepala.


"awalnya tidak kiayi, karna dari awal saya selalu menurut dengan apa yang dikatakan mas Lukman dan keluarganya. saya baru menyadarinya saat saya hamil anak kedua saya kiayi, dari situ saya sadar jika saya hanya dimanfaatkan oleh mereka untuk keuntungan mereka sendiri. mas Lukman tidak memberikan saya nafkah dengan layak, tapi dia justru memberikan uang bulanan dari gajinya pada kakak dan ibunya bahkan pada abangnya yang selalu meminta apapun sama mas Lukman selalu diberikan. sementara saya hanya diberikan uang nafkah lima puluh ribu satu hari untuk keperluan rumah kiayi, bahkan untuk membeli baju baru pun saya harus sampai tidak layak pakai dulu baru dibelikan" jawabku dengan mata berkaca-kaca.


"astagfirullah..... begitu ceritanya, lantas gimana keinginanmu sekarang nak?" tanya kiayi Hasyim padaku.


"saya ingin bercerai dengannya kiayi"


"apa kamu sudah yakin? maaf kalo Abi, Abi saja ya karna kamu juga anak Abi. kamu ngga keberatan kan?" tanya kiayi Hasyim yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


"iyaa Abi, tak apa" jawabku dengan senyum.


"begini nak, perceraian memang dibolehkan tapi kamu juga tau kan jika perceraian dibenci Allah. apa kamu sudah siap dengan resiko yang akan kamu ambil, terlebih kamu mempunya dua anak yang juga masih membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya secara utuh. dan apa kamu yakin bisa menafkahi mereka berdua, maaf kan Abi jika Abi terkesan meragukan kamu." kata kiayi Hasyim membuatku kembali berfikir.


"benar apa yang dikatakan Abi nak, kamu juga harus memikirkan anak-anak kamu. sebagai orangtua kita tidak boleh egois hanya mementingkan rasa sakit yang kita rasakan dibanding dengan mental seorang anak" jawab umi Hamidah.


"insyallah Diah yakin umi, Diah bisa kembali bekerja ditempat dulu Diah bekerja umi. Diah yakin kalo Diah mampu menafkahi anak Diah sendiri tanpa ayahnya, kalo masalah kasih sayang untuk mereka. Diah ngga akan melarang mas Lukman untuk bertemu dengan kedua anaknya asal mendapat pantauan dari orang rumah sini umi" jawabku dengan sangat yakin.


"baiklah kalo kamu sudah yakin, umi dan juga Abi ngga bisa memaksa kamu untuk melanjutkan rumah tangga kalian. kalian yang menjalani, maaf kalo umi dan Abi terkesan ikut campur" jawab umi Hamidah membuatku tersenyum.

__ADS_1


"tak apa umi, Diah malah seneng jadi dapat umi baru dan juga Abi baru meskipun umi dan Abi hanya sahabat mama dan juga almarhum bapak" jawabku tersenyum menatap semua orang yang berada didepanku.


setalah berbincang cukup lama, kumandang adzan pun terdengar. Rey dan kiayi Hasyim pun pergi kemasjid untuk melakukan sholat magrib dan juga isya dimasjid, setelahnya Meraka akan kembali bersama pada bapak-bapak jamaah masjid yang akan berdoa bersama dirumah mama.


aku, umi Hamidah dan juga mama dan Sintia sholat Maghrib dirumah dengan berjamaah, begitupun Nayla yang juga mengikuti gerakan sholat kami. setalah itu kami mulai menempati beberapa Snack ringan untuk jamuan, selain itu juga ada nasi boks yang akan dibagikan untuk para bapak-bapak jamaah masjid yang sudah dipesan oleh mama.


"ini semuanya pesan sit?" tanya umi Hamidah pada mama.


"untuk nasi kotak pesan midah, tapi kalo untuk kue kue ini beli sendiri Diah dan juga Rey biasanya yang beli kepasar atas" jawab mama dengan tersenyum lembut.


"oohh gitu, kenapa ngga bikin sendiri. bukannya kamu dari dulu suka banget bikin kue kaya gini, apalagi kalo kamu bikin lontong isi itu. hmm,,, aku kangen banget lontong isi buatan kamu sit" kata umi Hamidah membuat mama tersenyum malu.


"ah kamu bisa aja sit, kalo aku disuruh bikin seperti ini mana sempat midah. lebih baik aku main dengan cucu-cucuku ini" jawab mama kemudian keduanya tertawa.


"kamu sih enak udah punya cucu, lah aku. padahal anakku lebih tua beberapa tahun dari Diah, tapi sampai sekarang masih betah menjomblo" jawab umi Hamidah.


"memangnya Gus Hamid umur berapa umi?" tanya sintia penasaran.


"belum tua-tua banget lah umi, ternyata cuma beda tiga tahun ya sama mbak Diah. kenapa dulu umi sama mama ngga jodohin mbak Diah sama Gus Hamid aja sih ma?" kata Sintia membuatku membelalakan mata.


"Sintia, kamu apa-apaan sih" jawabku dengan nada kesal.


"yaa gapapa kali mbak, lagian kan emang bener. apalagi nih ya kalo aku baca di novel-novel banyak loh yang orangtuanya sahabatan terus anaknya dijodohin gitu" jawab Sintia yang langsung mendapatkan toyolan kepala olehku.


"itukan novel sin, bukan dunia nyata. didunia nyata itu justru, siapa yang mau sama janda anak dua. sama janda anak satu aja belum tentu mau kok, karna ribet sama anak yang dibawanya. apalagi anak dua" jawabku dengan asal.


"banyak kok yang mau, makanya cari yang cinta sama anak-anak dulu. kalo mereka bisa terima anak-anak baru kamu bisa terima dia, kalo ngga ya ngga usah" jawab mama menanggapi.


"yaaahh namanya juga masih pendekatan ma, pasti akan nunjukin kalo dia cinta sama anak-anak nanti setelah dapat kan aku juga gatau akhirnya bagaimana. dah lah ma, aku belum mau berfikir kesana. bercerai juga belum pasti kok udah mau mikirin kesana sih" jawabku dengan nada sedikit kesal.

__ADS_1


"yaa gapapa kali mbak, siapa tau nanti jodohnya Deket. iyakan umi?" kata Sintia menatap umi Hamidah yang menganggukan kepala.


"Siti, Hamid mau datang kesini. tidak apa kan?" tanya umi Hamidah. belum juga dijawab mama tapi Sintia langsung menerobos perkataan umi Hamidah.


"nah, nah kan baru aja diceritain udah mau nongol aja orangnya. boleh umi, pasti boleh iyakan ma? masa ngga boleh si" jawab Sintia yang sedari tadi menyerocos tak ada hentinya.


"hust, kamu ini apaan sih sin!" tegur ma.


"iyaa tentu boleh midah, silahkan. tapi ya begini kondisinya, mungkin akan sempit-sempitan" jawab mama yang langsung dijawab senyum oleh umi Hamidah.


"gapapa kok Siti, lagian nanti aku dan juga mas Hasyim akan langsung pulang setelah tahlil. mungkin Hamid juga akan ikut kami pulang ke pondok" jawab umi Hamidah dengan suara merdu.


"umi, kapan-kapan Sintia boleh kan main ke pondok?" tanya sintia.


"boleh kok nak, nanti main ya kepondok umi pasti senang karna ada yang menemani" jawab umi Hamidah membuat Sintia tersenyum dengan wajah binar.


" mau ngapain lagian kamu main kepondok?" tanyaku dengan menyeritkan dahi.


"hehe siapa tau ada santriwan yang kepincut, kan lumayan mbak" jawabnya membuatku terbelalak semantara umi dan juga mama hanya tersenyum mendengar perkataan Sintia.


"hey, sekolah dulu yang bener baru mikirin begitu. lagian dipesantren itu ngga boleh bertemu dengan lawan jenis, iyakan umi?" jawabku yang langsung diangguki oleh umi Hamidah.


wajah sintia pun langsung berubah menjadi sendu.


"yaa tapi kan gapapalah alasan untuk melihat-lihat pondok san juga fasilitasnya, iyaakan umi?" tanya sintia.


"iyaa boleh, tapi karena Sintia perempuan jadi nanti Sintia cuma bisa melihat semua fasilitas yang ada dipondok putri bukan dipondok putra. karna pondok putri dan pondok putra terpisah." jawab umi Hamidah dengan tersenyum.


"iyaa, dan kalo kamu mau tau. terpisahnya itu lumayan jauh, karna dibatasi sama rumah umi dan Abi. dan lagi gerbangnya tertutup, jadi ngga ada celah untuk mereka bertemu dengan lawan jenis kecuali orangtua masing-masih" kataku merasa puas dengan ekspresi yang ditunjukan oleh sintia.

__ADS_1


"emang iyaa umi?" tanya Sinta yang langsung diangguki oleh umi Hamidah,aku pun kembali tertawa melihat wajah Sintia yang tampak murung.


bersambung....


__ADS_2