Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 104.


__ADS_3

beberapa hari kemudian, tepat acara tujuh hari berpulangnya almarhum bapak. kiayi Hasyim beserta Bu nyai Hamidah sampai dirumah mama tepat pukul lima sore, padahal pengajian akan dilakukan tepat setelah isya.


"saya tak menyangka jika Jono pergi mendahului kita, ti" kata kiayi Hasyim dengan lirih.


"maafkan jika mas Jono punya salah padamu kiayi, beliau sudah tenang disurga sana" jawab mama mengelap air mata yang mengalir dipipinya.


"iyaaa insyaallah beliau orang yang baik, saya ngga pernah merasa dijahati bahkan saya merasa banyak merepotkan beliau" jawab kiayi Hasyim dengan tersenyum.


"kamu yang sabar ya sit, insyaallah Jono ditempatkan ditempat terbaik disisinya" kata nyai Hamidah pada mama.


"iyaa midah, terimakasih kalian sudah menyempatkan waktu untuk mendoakan mas Jono dirumah ini" kata mama membuat kiayi Hasyim dan juga Bu nyai Hamidah tersenyum dan menganggukan kepala.


"sama-sana Siti, tapi sebetulnya kami kesini karena ada tujuan lagi dan itu harus kami sampaikan kepada kamu dan juga anak-anak kamu mengingat Jono sudah tidak ada" kata kiayi Hasyim yang mulai serius berbicara pada mama.


"iyaa katakanlah Hasyim, saya akan mendengarkan dengan baik apa yang akan kamu sampaikan begitupun dengan anak-anak" kata mama menatap aku, Rey dan juga Sintia secara bergantian.


"begini Siti, seperti yang kamu ketahui jika pesantren tersebut sebagian milik dari almarhum Jono. saya sebagai pelaksana dan juga pemilik sebagian pesantren itu juga sempat bingung karna sudah terlalu lama kami tidak bisa menemukan kalian sekeluarga. sampai kami terpaksa menyimpan yang menjadi hak kalian selama ini dalam rekening pribadi ku, apa kamu bersedia menerima nya?" tanya kiyai Hasyim pada mama yang langsung mengangkat wajahnya.


"maksud kamu apa kiyai? seperti pembagian perusahaan saja, ini pesantren. mana mungkin bisa memiliki hasil selain untuk kesejahteraan anak-anak pondok Hasyim" jawab mama dengan menyeritkan kening.


"tidak seperti itu Siti, Alhamdulillah pondok pesantren kita menjadi salah satu pondok pesantren dengan fasilitas bagus dan juga lengkap. maka dari itu, sejak beberapa tahun yang lalu saya dan donatur yang lain sepakat mengambil biaya dari para murid yang ingin belajar dipesantren kita. bukan karna para donatur keberatan dengan masalah biaya, tapi ini demi menunjang fasilitas para santri diera modern sekarang. maka dari itu kita sebagai pemilik mendapatkan keuntungan meskipun itu tidak seberapa" jawab kiayi Hasyim yang dibenarkan oleh Bu nyai Hamidah.


"benar apa yang dikatakan Abi Siti, kamu terima ya? ini semua hak kamu dan juga anak-anak, yaa memang tidak seberapa sit. tapi insyaallah segitulah berkah yang kita miliki dari mengurus pesantren yang selama ini kami jalankan" jawab Bu nyai Hamidah membuat mama tak bisa berkata-kata.


"apa para santri terjamin hidupnya? makannya? sekolahnya? kalo belum, silahkan ambil kembali semua ini. biarkan ini menjadi amal jariah untuk suamiku, aku tak ingin mengambil apa yang bukan menjadi hakku jika para santri itu masih serba kekurangan" jawab mama membuatku terharu.


"tidak Siti, semua santri sudah mendapatkan fasilitas yang layak. mulai dari makan 3x sehari, kamar yang layak ada AC disetiap kamar berisi 5 anak, ada loundry room dimana mereka bisa belajar mencuci baju sendiri untuk mereka yang berusia 12tahun keras, sementara anak-anak yang berusia dibawah 12 tahun tentu saja akan dicucikan oleh khadamah yang bekerja mencucikan pakaian mereka. lalu, sekolah seperti sekolah pada umumnya dengan mata pelajaran sama dengan sekolah biasa, taman dan juga kolam renang pun ada disetiap pondok putra maupun pondok putri. jadi, kamu tak perlu khawatir" jawab umi Hamidah dengan senyum menatap mama.


"apa yang kamu bicarakan itu benar midah? apa kamu tidak membual?" tanya mama memastikan.


"tentu aja ngga Siti, mana mungkin aku membual padamu. aku bicara sejujurnya, makanya kamu harus terima ini" kata Bu nyai Hamidah memberikan buku tabungan beserta ATM kepada mama.

__ADS_1


"baiklah, saya terima ini. terimakasih sebelumnya, saya akan menjaga amanah ini dan mempergunakan sebaik-baiknya" jawab mama membuat kiayi Hasyim dan juga umi Hamidah tersenyum.


"dan, Siti kamu juga harus tau jika satu bulan sekali aku akan mengirimkan hasil bulanan kerekening itu untuk mu. jadi kamu bisa memakainya untuk buka usaha mungkin" kata kiayi Hasyim membuat mama tersenyum.


"iyaa Hasyim, insyaaallah aku akan membuka usaha dengan uang ini. doakan saja" jawab mama dengan singkat.


"baiklah, ada lagi yang perlu aku sampaikan." kata kiayi Hasyim lagi membuat mama menyeritkan kening.


"apalagi Hasyim?" tanya mama penasaran.


"begini Siti, sebagai pengelola sekaligus pemilik tentu saja pesantren harus ada yang meneruskan. tapi masalahnya, anakku Hamid tidak mau mengelola pesantren dengan alasan jika pesantren itu bukan sepenuhnya hak dia. jadi dia memilih membuka usahanya sendiri yang Alhamdulillah sudah sangat meningkat dengan sangat cepat, jadi mau tak mau saya akan menyerahkan pesantren pada anak kamu. menurutmu bagaimana?" tanya kiayi Hasyim membuat mama membelalakan mata.


aku, mama dan juga Rey saling berpandangan bergantian sebelum mama menjawab perkataan kiayi Hasyim.


"begini Hasyim, seperti yang kamu tau kalo anak-anakku ngga ada yang punya basic ilmu agama berlebih. kamu pasti tau maksudku, tidak mungkin mereka mengelolanya sementara pengetahuan agama mereka pun minim" jawab mama membuat kiyai Hasyim menganggukan kepala.


"yaa benar, maka dari itu aku menginginkan Rey sebagai anak lelaki untuk langsung melanjutkan sekolah ke al Azar Mesir untuk memperdalam ilmu agama sebelum aku menyerahkan semuanya pada Rey" kata kiayi Hasyim semakin membuat ku dan juga yang lain terkejut.


"iyaa Rey, kamu maukan?" tanya kiayi Hasyim.


"tapi kiayi, mana mungkin saya ke Mesir. maksud saya apa kiayi yakin dan tidak terburu-buru, maaf kiayi tapi... aahh maaf kiayi saya sendiri ragu dan tidak yakin bisa mengemban amanah sebagai pengelola pesantren sekaligus pemiliknya kiayi" kata Rey dengan nada rendah.


"insyaallah semuanya akan baik-baik saja Rey, ada kamu memiliki tekad dan juga kejujuran yang kamu junjung tinggi serta dasar akidah yang baik itu sudah lebih dari cukup untuk memulai semuanya....." kata kiyai Hasyim yang langsung terhenti karna terdengar suara ribut didepan rumah.


"diaaahhhh, keluar kamu diaaahh" teriak seseorang dari luar yang suaranya sangat aku kenal.


"siapa itu?" tanya kiayi Hasyim dengan wajah menyerit.


"sebentar kiayi, biar saya lihat" jawabku langsung berdiri melihat keluar rumah, ternyata benar ibu mertua juga mas Lukman yang terlihat sangat pucat serta memegangi terus kepalanya datang berteriak didepan rumah.


"ada apa lagi kalian kesini?" tanyaku pada kedua orang itu.

__ADS_1


"heh! dasar menantu gatau diuntung, kamu apakan anak saya sampai bisa seperti ini, kamu tau sedari tadi dia terus mengeluh kepalanya sakit dan itu pasti karna kamu!" bentaknya menunjuk-nunjuk diriku.


"ibu ini apa apaan sih, kenapa ibu jadi nyalahin aku! seharusnya ibu sadar kenapa sampai anak ibu seperti itu, itu karna kesalahannya sendiri yang selama ini ternyata menggunakan hal ngga benar untuk membuatku tunduk pada kalian.!" kata ku membuat ibu mertua membelalakan mata.


"kenapa? terkejut kalo aku tau semuanya sekarang! asal ibu tau ya, aku udah tau semuanya Bu. aku bisa aja memenjarakan mas Lukman, tapi aku tidak akan mau Bu. kenapa? lebih baik mas Lukman merasakan sakit seperti ini karna perbuatannya sendiri dari pada dipenjara malah jadi sampah masyarakat nantinya" jawabku semakin membuat ibu mertua murka.


"kurang ajar sekali kata-kata kamu Diah, jaga ucapamu. biar gimana pun Lukman masih suami kamu, kamu tetap istrinya Lukman." kata ibu mertua dengan lantang.


"calon mantan istri Bu, jangan salah. apa mau ibu kemari?" tanyaku dengan ketus.


"ibu mau minta uang buat membawa Lukman kerumah sakit" jawabnya membuatku sedikit menyeritkan kening.


"uang lagi, uang lagi. ibu sadar ngga sih kalo mas Lukman itu udah ngga ngasih aku uang lagi setelah uang yang terakhir ibu ambil, dan sekarang ibu minta sama aku? apa aku ngga salah dengar Bu?" jawabku dengan sinis.


"ibu ngga mau tau ya, pokoknya kamu harus kasih ibu uang untuk membawa Lukman kerumah sakit." jawabnya membuatku terkekeh kecil.


"terserah ibu aja Bu, yang pasti aku ngga akan memberikan uang sepeserpun seperti apa yang mas Lukman lakukan padaku." jawabku dengan tegas dan yakin.


"ada apa Diah?" tanya kiayi Hasyim yang menyusulku kedepan rumah.


"gapapa kiayi, maaf kalo ada sedikit keributan" jawabku merasa tak enak dengan kiayi Hasyim.


"tak apa, tapi jangan sampai teriak seperti itu. tak baik anak perempuan" jawab kiyai Hasyim dengan senyum lembut.


"iyaa kiayi" jawabku dengan singkat, kiayi Hasyim pun kembali memasuki rumah diiringi tatapan yang tak biasa dari ibu mertua.


"dia siapa Diah?" tanyanya dengan sedikit menurunkan nada bicara.


"bukan urusan ibu, sebaiknya ibu pulang. aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan" jawabku meninggalkan ibu mertua yang masih dengan ocehannya.


"ini gimana Diah buat kerumah sakit Lukman. diaaaahh, diaahh hey!! dasar istri ngga tau diuntung!!" teriaknya yang sengaja tak aku hirau kan, bisa setres jika aku terus menghiraukan ibu mertuaku itu.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2