Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 103.


__ADS_3

"yuk, udah rapi kan? kamu mau antar apa gimana Rey?" tanyaku pada Rey yang memangku Nayla.


"yaa iyaa mbak, liat ini anak mu udah nemplok kaya gini. gimana aku bisa menghindari mbak" jawab Rey dengan pasrah.


"yaudah yuk, nanti keburu sore loh" ajakku. Rey pun langsung bangun dari duduknya kemudian menggendong Nayla keluar dari rumah.


"kita cari jamuan dulu ma, titip Syifa lagi sebentar ya ma" kataku pada mama yang langsung menganggukan kepala.


" iyaa, lagian Syifa juga tidur. oiyaa mama minta beliin pastel telur ya kalo ada" kata mama membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.


"assalamualaikum" salamku yang juga dijawab salam oleh mama.


aku pun berjalan keluar dari rumah menuju motor Rey yang sudah lebih dulu menungguku.


"mau beli kemana mbak?" tanya Rey padaku.


"beli jajanan pasar aja Rey, arah ke pasar atas itu kan ada jajanan pasar yang dua ribuan kayanya. beli kesana aja ya, mumpung masih jam segini pasti masih banyak" jawabku. Rey pun langsung menyalakan motornya dengan kecepatan pelan ia pun melaju melaju meninggalkan pekarangan rumah.


tak perlu waktu lama akhirnya aku dan juga Rey pun sampai ditempat jajanan pasar, aku memilih tiga macam kue yang lumayan banyak dan juga dua macam risol tak lupa juga dengan pastel. masing-masing aku beli lima puluh buah sebagai jamuan, kecuali pastel dan juga risol mayonaise yang sengaja aku lebihkan sepuluh untuk dimakan sendiri.


"udah mbak?" tanya Rey yang aku jawab anggukan.


"udah Rey, nih. mbak beli lumayan banyak biar ngga berenti ditempat lain lagi." jawabku yang langsung diangguki oleh Rey.


setelahnya kami pun kembali kerumah, tak lupa menepati janji pada Nayla yang mengajak ke indoapril berdua dengan Rey, sementara aku hanya menunggu diparkiran indoapril.


"yuk mbak, udah hampir jam lima sore. pasti pak lek sama Bu lek udah dirumah nungguin" kata Rey yang juga aku benarkan.


motorpun kembali melaju menuju rumah tanpa kembali berhenti, tak lama kami pun sampai. ternyata benar sudah ada pak lek dan juga bulek serta leha dan juga Nabil dihalaman rumah.


"assalamualaikum" salamku dan juga Rey berbarengan.


"waalaikumsalam, kalian dari mana?" tanya bulek.


"ini, abis beli kue buat jamuan bulek" jawabku dengan tersenyum.


"oalaah kirain dari mana. sini biar bulek bantu, sekalian tata dipiring aja apa gimana?" tanya bulek.


"sekalian aja kalo ya bulek biar nanti ngga kedubrakan lagi, itu juga tadi aku beli risol mayonaise sama pastel lebih buat nanti kita makan sendiri bulek." jawabku yang langsung diangguki oleh bulek.


"yaudah kalo gitu yuk kita masuk, sebentar lagi mau Maghrib ini" kata bulek mendahuluiku memasuki rumah.

__ADS_1


"wiiihh belanja banyak nih mbak" kata leha.


"belanja apa sih, orang beli buat jamuan tahlilan nanti doang" jawabku membuatnya memperlihatkan raut wajah kecewa.


"yaaahh aku kirain beliin makanan banyak buat kita" jawabnya lesu.


"Apeng banget kamu itu ha, itu ada makanan didapur sana makan" kata mama membuat lega mengerucutkan bibirnya.


"yaaahh mama mah ngga asik ah" katanya dengan kesal duduk disebalahku.


"yaaa lagian kamu ngapain si ha, namanya orang masih suasana duka ya pastinya beli buat jamuan aja lah" jawabku menatap lega dengan wajah kesal.


"oiyaa ma, aku sama Rey nanya sama pek lek Edi sekarang aja gimana ya?" tanyaku pada mama.


"ya udah sana" jawab mama singkat.


"nanya apa di?" tanya bulek singkat.


"ada lah bulek, sesuatu. bentar ya aku samperin kedepan dulu Rey sama pak lek" kataku berlalu meninggalkan mama, bulek dan juga leha dihalaman depan.


"pak lek" sapaku ketika sudah berada didekat Rey dan juga pak lek Edi.


"yaa Diah" jawabnya dengan tersenyum.


"iyaa benar pak lek, ada yang ingin tanyakan" jawab Rey menatap pak lek Edi.


"iyaa tanyakan aja, jika pak lek tau pasti akan pek lek jawab kok" jawabnya dengan yakin.


"begini pak lek, apa pak lek kenal dengan kiayi Hasyim?" tanyaku pada pek lek Edi yang terlihat terkejut dengan pertanyaan ku.


"kiayi Hasyim siapa yang kalian maksud?" tanya pak lek Edi.


"kiayi Hasyim Malik kata mama, tapi kami disuruh bertanya langsung pada pak lek" jawab Rey menatap pak lek Edi.


"Hasyim Malik? pemilik pesantren?" tanya pek lek Edi dengan wajah berkerut.


"iyaa benar pak lek" jawabku dan juga Rey berbarengan.


"bagiamana kalian tau nama itu?" tanyanya penasaran.


"kami baru aja ketemu pak lek" jawabku kembali membuat pak lek Edi terkejut.

__ADS_1


"bertemu? dimana?" tanyanya heran.


"didesa terpencil dikota sebelah" jawabku yang langsung diangguki oleh pak lek Edi.


"yaa pak lek kenal dengannya, Alhamdulillah jika kalian berhasil menemukan beliau lebih dulu. pasti beliau sudah bercerita banyak pada kalian, iyakan?" tanya pak lek Edi yang langsung aku dan Rey angguki.


"iyaa pak lek, tapi kami kurang percaya pak lek. rasanya tidak mungkin bukan, apalagi bapak hanya seorang kuli bangunan" jawab Rey dengan menundukkan kepala. ku lihat wajah pak lek tampak tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Rey.


"memang kalo seorang kuli tak berhak memiliki apapun begitu Rey?" tanyanya dengan nada menekan.


"bu-bukan begitu pak lek, pak lek tau sendiri bagiaman kami dari kecil. bahkan untuk makan pun kami suka meminta belas kasih dari lek Parni dulu, juga pak lek ingatkan dulu waktu mbak Diah disuruh bapak meminjam uang. pak lek bahkan menyuruh mbak Diah untuk mencuci pakaian pak lek dan keluarga kecil pak lek lebih dulu, iyakan pak lek?" kata Rey mengingat kenangan kecil kami dulu.


"iyaa, itu semua memang sengaja kami lakukan. pak lek dan juga bapakmu sengaja membuat kalian hidup sederhana tanpa apapun yang kamu miliki, bahkan membiarkan kalian berjuang sendiri untuk hidup kalian. itu pun ada alasannya" jawab pak lek Edi dengan serius menatap aku dan juga Rey.


"kalian tau, harga bisa jadi pemicu pertengkaran antara keluarga. bahkan ngga jarang ada kakak dan beradik saling bermusuhan untuk mendapatkan harta waris dari orangtua mereka, dan pak lek dan juga bapak kamu ngga mau itu terjadi. kami ingin kalian bisa berdiri diatas kaki kalian sendiri, agar kalian tidak terlihat lemah dan begitu mengandalkan apa yang kalian miliki." lanjut pak lek, aku dan Rey pun menyimak setiap yang keluar dari mulut pak lek Edi.


"lantas apa benar yang diceritakan kiayi Hasyim jika almarhum bapak memiliki sebagian dari pesantren itu, pesantren itu sangat besar pak lek" jawab Rey dengan nada tak percaya.


"pesantren itu besar beberapa tahun belakang ini rey, sebelumnya pesantren itu hanya pesantren biasa. tapi berkat kegigihan ustadz Hasyim maka pesantren itu menjadi sebesar sekarang, karna beliau sangat menjaga amanah dan juga mampu menjadi pemimpin pesantren yang baik" jawab pak lek Edi dengan yakin.


"apa selama ini pak lek Edi pernah bertemu dengan beliau?" tanya Rey.


"tidak, tapi pak lek selalu memantau aktifitas pesantren tersebut karna salah satu teman pak lek ada yang masuk kedalam pesantren itu sebagai ustadz pengajar" jawab pak lek Edi yang langsung disambut anggukan kepala oleh Rey.


"lantas menurut pak lek bagiamana jika sebagain pesantren itu memang benar milik almarhum bapak, karna kiayi Hasyim meminta kami untuk mengelolanya" jawabku dengan dahi menyerit.


"ntahlah, pak lek juga tidak tau. secara basik kalian ngga ada satupun yang lulusan pesantren, lagi pula mengurus pesantren itu ngga mudah. terlebih untuk orang awam seperti kita, andai memang diharuskan otomatis kamu Rey sebagai anak lelaki wajib mengikuti apa yang diarahkan oleh kiayi Hasyim termasuk memperdalam agamamu" jawab pak lek Edi yang tentu saja membuat Rey terkejut.


"apa harus seperti itu pak lek?" tanya Rey membuat pak lek terkekeh kecil.


"tentu saja Rey, tapi bukannya kiayi Hasyim memiliki seorang anak lelaki?" tanya pak lek.


"iyaa pak lek, itu dia. anak kiayi Hasyim tak mau melanjutkan mengurus pesantren, dia lebih ingin fokus pada usahanya. begitu yang dibilang kiayi Hasyim" jawab Rey yang juga aku benarkan.


"nanti kita bicarakan lagi, kamu cukup buat kan janji pada kiyai Hasyim agar kita bisa kembali bertemu dan membicarakan bagaimana baiknya. tapi tidak sekarang-sekarang ya Rey, karna almarhum bapakmu baru dua hari. rasanya ngga etis kalo langsung membicarakan hal sensitif seperti ini" kata pak lek yang langsung aku benarkan.


"iyaa pak lek, sebaiknya kita tunggu tujuh harian bapak dulu gimana pak lek?" tanyaku yang langsung disetujui pak lek Edi.


"iyaa benarr, boleh di. nanti kalian undang jika sudah tujuh harian bapak kalian agar kiayi Hasyim juga bisa mendoakan sahabatnya dirumah ini" kata pak lek Edi dengan tersenyum.


"iyaa pak lek nanti aku sampaikan sama kiayi Hasyim" jawab Rey.

__ADS_1


"masuk yuk, Maghrib. sholat dulu" ajak pak lek Edi. aku dan Rey pun mengikuti pak lek Edi memasuki rumah, bergabung dengan mama dan juga yang lainnya.


bersambung...


__ADS_2