
beberapa hari kemudian, surat dari pengadilan agama pun turun. aku pun menerima surat itu dengan mata berbinar.
"itu surat apa Diah?" tanya mama.
"ooohh ini surat dari pengadilan agama ma, surat panggilan sidang" jawabku dengaj tersenyum.
"Alhamdulillah kalo sudah sampai, semoga semuanya cepat selesai dan kamu segera bisa terlepas dari keluarga toxic itu" jawab mama membuatku menganggukan kepala.
"amiiinn, Diah juga pengennya cepet selesai ma. insyallah semuanya berjalan lancar, yaa asal mas Lukman atau keluarganya ngga berbuat ulah aja" jawabku terkekeh kecil.
"yaa kalo itu mah ga perlu diragukan lagi, memang apalagi kerjaan mereka kalo ngga berbuat ulah" kata mama dengan tawa kecilnya.
"iyaaa, alhamdulillahnya Nayla sama Syifa memang sana kita dan ngga diambil sama mereka. iyakan ma?" tanyaku yang langsung dijawab anggukan oleh mama.
"iyaa makanya, mama justru ngga bisa membayangkan jika Nayla sama Syifa ada ditangan mereka. pasti nanti akan memiliki sifat yang ga beda jauh dengan keluarga suamimu itu, terutama ponakannya itu anaknya si Yuni" jawab mama yang langsung aku benarkan.
"iyaa pastinya si ma, ngga mungkin ngga lah. pasti kan mereka satu rumah, ngga mungkin pisah rumah. apalagi yang mendidik mereka kan sama-sama ibu nya mas Lukman, yaa pasti karakter mereka sama" jawabku yang langsung diangguki oleh mama.
"eeehh ngga juga kali mbak, kata orang nih ya mbak orangtua kalo punya cucu dari anak perempuannya akan lebih sayang sama mereka dibanding sama cucu dari anak lelakinya." kata Sintia yang tiba-tiba ikut menyahut baru keluar dari kamar.
"yaa ngga tentu juga lah sin, ngga semua nya begitu. ngga semua orang bisa disamakan, ya memang ada yang sifatnya begitu tapi kan masih banyak yang ngga. kalo saat ini mbak mu dapat mertua yang suka begitu, membeda-bedakan cucu nya ya mungkin itu sudah sifatnya membeda-bedakan. jangan kan pada cucu nya, pada anak juga menantu nya aja suka dibeda-bedakan. iya kan?" kata mama yang langsung aku benarkan.
"iyaa sih, bener apa yang mama bilang. nasib mbak Diah milih mertua sama suami yang salah, tapi mungkin udah takdir. kata orang juga kan kita akan dipertemukan dengan jodoh yang salah sebelum bertemu dengan jodoh yang tepat. iyakan ma?" kata Sintia menarik turunkan alisnya.
"yaa kali kalo belum punya anak atau masih pacaran sin, lah ini mbak kan udah ada anak 2. ya kali masih berfikir mau cari jodoh lagi" jawabku terkekeh menertawakan perkataan Sintia.
"yaa siapa tau aja nanti ada pangeran yang Dateng buat meminang mbakku ini, dan juga menerima Nayla sama Syifa untuk dijadikan princess. ngga ada yang ngga mungkin kan?" jawabnya membuatku dan juga mama tertawa.
"yaa iyaaa, terserah kamu aja lah sin mau ngomong aja tentang kehaluan kamu" jawab mama membuat Sintia mengerucutkan bibir.
"aaahh mama mah begitu, ngga asik deh. Sintia kan ngomong apa ada nya loh, lagian omongan Sintia kan juga bisa jadi doa. emangnya mbak ngga mau kalo datang jodoh nanti yang sayang sama anak-anak mbak dan juga menjadi mbak ratu, anak-anak dijadikan seperti princess" jawab Sintia .
__ADS_1
"iyaa iyaaa amiiinn, semoga semua apa yang kamu katakan itu bisa menjadi kenyataan ya sin" jawabku yang masih terkekeh.
"diaaaahhh,,, diaaahhhhh" terdengar suara seseorang yang sangat aku kenal, siapa lagi kalo bukan ayah dari anak-anakku. mas Lukman.
aku pun berdiri dan berlalu keluar setelah menitipakan Nayla dan juga Syifa pada mama yang ikut duduk disebelah anak-anak.
"ada apa?" tanyaku singkat.
"apa maksud kamu mengirim surat gugatan cerai padaku? kamu mau kita bercerai?" tanyanya dengan nada menahan amarah.
"ooohh jadi surat panggilan sidang itu sudah sampai ditangan kamu juga, syukurlah. iyaa aku memang melayangkan gugatan cerai, kenapa memangnya?" tanyaku dengaj nada ketus.
"atas dasar apa kamu melayangkan gugatan untukku, bahkan kamu ngga punya bukti atau apapun yang bisa memberatkan aku" jawabnya dengan nada yakin.
"kalo aku ngga punya bukti, ngga mungkin gugatan aku diterima di pengadilan sampai surat panggilan sidang ini turun. jangan terlalu percaya diri mas, lebih baik kamu persiapkan aja diri kamu untuk menghadiri sidang tiga hari lagi" jawabku lalu berbalik arah meninggalkan mas Lukman. namun, seketika berhenti karna teriakan mas Lukman yang memekikkan telinga.
"aku akan meminta hak asuh anak dan juga hakku yang ada padamu Diah" teriaknya membuatku menerik sedikit sudut bibirku.
"aku yakin kalo aku pasti akan menang, karna kamu ngga punya pekerjaan dan hanya mengandalkan adikmu untuk kebutuhan hidup" jawabnya yang tak mengetahui perkejaan baruku diperusahaan mas Hamid.
"terserah kamu saja mau berbicara apa, kita buktikan saja nanti" jawabku langsung kembali memasuki rumah tanpa kembali berbalik melihat kebelakang.
"ada-ada aja ya mbak tingkah mas lukman, mau dia itu apa sih sebenarnya" kata Sintia yang melihatku sudah kembali kedalam rumah.
"ntah lah, mbak juga gatau. biarkan saja lah" jawabku yang tak ingin mengambil pusing perkataan mas lukman.
"oiyaa Diah, bagaimana kerjaan kamu dikantor Hamid?" tanya mama padaku.
"lancar aja si ma, tapi ya begitu namanya juga anak baru pasti ada aja yang datang buat sekedar julid. apalagi mereka tau lah kalo aku cuma lulusan SMK, beda sama mereka yang rata-rata sarjana" jawabku.
"apa kamu mau kuliah lagi Diah?" tanya mama padaku.
__ADS_1
"aku? kuliah, kayanya ngga mungkin deh ma. kasian sama Nayla sama Syifa kalo aku tinggal terus seharian, Diah takut terlalu ngga punya waktu sama mereka ma" jawabku menundukkan kepala.
"kan ada mama di, mama ngga keberatan kalo harus jagain Nayla sama Syifa kok. lagian kan ini juga demi masa depan anak-anak kamu di, setidaknya kamu punya bekal untuk kedepannya jika kamu kembali kuliah jadi ngga perlu merepotkan orang lain lagi jika untuk mencari pekerjaan yang bagus" kata mama yang juga sempat aku benarkan.
"kerjaan bagus ngga harus sarjana juga kali ma, jaman sekarang itu kerja cerdas bukan kerja keras ma. nyatanya sudah banyak orang-orang sukses meskipun mereka ngga jadi sarjana. contohnya aja nih, pemilik brand kosmetik yang viral saat ini itu hanya lulusan SMP ma. coba mama lihat deh diberita, karna kecerdasannya membuat kosmetik yang bagus ia bisa menjadi orang terkaya dikotanya" kata Sintia dengan menggebu-gebu.
"iyaa itu karna mereka mempunya bekal kejeniusan sin, makanya mereka bisa punya prodak yang meledak dipasaran. lagian mereka kan pasti ngga kerja sendiri, banyak karyawannya" jawab mama yang juga dibenarkan Sintia.
"justru itu yang terlihat keren, seorang lulusan SMP bisa menciptakan produk dan memperkerjakan mereka yang lulusannya.jauh diatas si bos. iyaa ngga sih" jawab sintia dengan mata berbinar.
"terus maksud kamu mbak harus mengikuti jejak nya begitu? yang bener aja kamu sin" jawabku dengan sedikit kesal.
"yaa ngga harus ngikutin juga mbak, itu cuma perbandingan aja kalo kesuksesan ngga harus soal pendidikan tapi karna adanya usaha yang tidak pernah mengkhianati hasil" jawab Sintia yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"iyaa iyaa sudah lah terserah kamu aja kalo begitu, mbak mau kedalam dulu lah. laperrrr dengerin kamu ngomong mulu" jawabku terkekeh kecil.
"yeee mbak ini kalo dibilangin selalu aja begitu" jawabnya mengerucutkan bibirnya.
"sudah-sudah kamu ini berdebat aja" kata mama menengahi.
aku pun melangkah kan kaki menuju dapur untuk mengambil makan karna perut terasa sangat lapar.
"duuhh mama masaknya udah lagi, aku kan ga makan udang" gumamku melihat masakan yang dimasak oleh mama.
aku pun mengambil nasi dengan tumis pare teri dan juga telur dadar yang ada dimeja, lalu kembali menuju ruang tamu membawa makanan dan juga minuman ku.
"kok makannya cuma itu mbak, kan ada udang?" tanya Sintia.
"mbak mu kan ga makan udang sin, bisa lah dia gatal-gatal nanti seluruh badan" jawab mama. aku pun tak menghiraukan pertanyaan Sintia, ku lanjutkan makan yang terasa nikmat meski hanya dengan lauk tumis pare dan jhga telur dadar.
bersambung.
__ADS_1