Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 77.


__ADS_3

setalah menempuh perjalan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya aku dan juga rey pun sampai dirumah sakit tempat dimana mas Lukman dirawat.


"mbak maaf, pasien atas nama Muhamad Lukman dimana ya?" tanyaku pada salah satu surter yang berjaga dibagian informasi.


"sebentar saya cek dulu ya Bu" jawabnya yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


"Pasien atas nama Muhammad Lukman, yang baru aja datang karna kecelakaan jatuh dari motor masih ada di UGD Bu. disebelah sana" jawab nya menunjukkan letak ruang UG dengan tangan kanan yang sopan.


"baik mbak, terimakasih" jawabku dengan nada panik meninggalkan bagian informasi tersebut dengan tergesa-gesa.


"mbak, ngga usah cepet-cepey kenapa si mbak. santai aja jalannya, lagian kan Deket ruang ugdnya" kata Rey yang berjalan menyamai langkah Rita yang jelas dengan terburu-buru.


"mbak panik lah Rey, kamu itu kok ngga ngerti juga sih." jawabku dengan sedikit ketus.


"yaa biasa aja kali mbak, lagian kan mas Lukman cuma jatuh dari motor mbak" jawabnya semakin membuatku kesal.


"tapi reeyy,,,,"jawabku terhenti.


"tapi apa si mbak, lagian bener kata mama loh harusnya mbak tuh ngga kesini. buat apa mbak, selama ini aja dia ga begitu peduli sama mbak. mending mbak suruh keluarganya aja yang ngurusin, kan kita bisa liat mereka mau apa ngga ngurusin mas Lukman kalo sama keadaan kaya gini. biar mas Lukman juga sadar gimana perlakuan mereka pada mas Lukman ketika mereka tau mas Lukman kecelakaan kaya gini" jawab Rey dengan nada sangat kesal yang aku lihat dari nada bicaranya.


"jangan berbicara seperti itu Rey, biar gimana pun mas Lukman adalah suamiku dan ia adalah ayah dari kedua anakku. mbak hanya memikirkan anak-anak mbak andai mereka tau ayahnya seperti ini tapi justru mbak diam aja dirumah, suatu saat pasti bisa akan menjadi bumerang untuk mbak sendiri. mbak juga ga butuh keluarga mas lukman Rey, andai ini memang jalan Allah untuk membuat mas Lukman sadar atas apa yang sudah ia lakukan mbak rela merawat mas Lukman sampai sembuh" jawabku membuat Rey menganga tak percaya.


" aahh tau lah terserah mbak aja, aku ngga habis fikir aja apa yang mbak katakan. bagaimana mungkin setelah apa yang mas Lukman lakukan sama mbak, mbak masih bisa berkata seperti itu" jawab Rey menggelengkan kepala, aku pun tak menyahuti lagi apa yang Rey katakan. aku fokus kedepan jalan sampai aku melihat teman mas Lukman yang aku kenal.


"assalamualaikum bang" kataku melihatnya yang menundukkan kepala dan memijat pelipisnya.


"waalaikumsalam teh, aduuhh Alhamdulillah teh udah Dateng" jawabnya dengan tersenyum lebar.


"gimana keadaan mas Lukman bang?" tanyaku pada lelaki tersebut.


"masih didalam neng, lukanya cukup banyak. mungkin masih di bersihkan sama dokter" jawabnya dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


"bang, apa Abang tau kenapa mas Lukman bisa sampai jatuh dari motor?" tanyaku dengan nada penasaran.


"emm, ng-ngga teh. saya mah gatau" jawabnya yang sangat ketara jika ia berbohong, namun aku pun tetap menganggukan kepala dengan tersenyum tipis sebagai jawaban.


tak lama dokter yang menangani mas lukman pun keluar dari ruang UGD


"keluarga pak Lukman" tanyanya


" saya dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanyaku dengan penasaran.


"suami ibu gapapa kok Bu, cuma luka luar dikaki dan juga lengan tangannya. tapi sepertinya kaki sebalah kanannya pun agak cidera sedikit tapi ngga terlalu parah si, sudah saya gips." jawabnya membuat Rita menghela nafas lega.


"Alhamdulillah terimakasih ya dok" jawabku dengan tersenyum lembut.


"iyaa Bu sama-sama, oiyaa mas untuk pasien atas nama dina ini bagaimana ya? apa belum ada keluarganya yang datang?" tanya dokter tersebut pada teman dari mas Lukman yang terlihat pucat mendengar pertanyaan dari dokter, aku yakin sekali jika ada yang disembunyikan olehnya.


"Dina siapa ya dok?" tanyaku penasaran.


"Dina, Pasien yang tadi mengalami kecelakaan bersama pak Lukman Bu. apa ibu mengenalnya?" tanyanya membuatku langsung menggelengkan kepala.


"apa Abang tau sesuatu?" tanyaku yang langsung membuatnya menundukkan kepala.


"maafin Abang neng, Abang ngga enak sama lukman kalo bilang sama neng soal ini." jawabnya dengan sedikit pelan.


"jadi mas Lukman kecelakaan saat lagi bersama perempuan itu?" tanyaku dengan nada lirih yang langsung dijawab anggukan kepala oleh lelaki bernama Riyan tersebut.


"iyaa neng, maafin bang Rian neng. bang Rian cuma nganterin Lukman aja tadi, dia yang maksa Abang buat nyamperin perempuan itu disalah satu tempat mereka janjian" jawabnya yang terlihat gugup.


"ap-apaa??" jawabku dengan terbata-bata, aku pun terkulai lemas tak menyangka jika suamiku melakukan hal seperti ini padaku.


"Abang yang betul bang kalo ngomong, lihat nih kakak saya sampai begini. jangan fitnah bang" kata Rey menegur bang Rian dengan nada yang masih terdengar sopan.

__ADS_1


"buat apa gua bohong, ngga ada gunanya. memang semalam Lukman ketemuan sama perempuan itu, mereka mabuk sampe akhirnya seperti ini." jawabnya dengan sedikit rasa bersalah menatapku yang hanya diam.


"maafin Abang neng, Abang salah udah menerima tawaran Lukman" katanya.


"udah gapapa bang, tapi apa Abang yakin jika mas Lukman ada main dengan perempuan itu?" tanyaku memastikan.


"Abang juga ngga ngerti neng, karna baru kali ini ngeliat lukman apa itu perempuan. mungkin cuma buat main-mainan aja kali neng" jawabnya membuatku menatap tajam kearahnya.


"main mainan macam apa yang mengorbankan rumah tangga bang, hal seperti ini bukan hal sepele bang ngga bisa dibilang main-mainan. Abang pikir hati ini mainan yang bisa seenaknya melakukan kesalahan terus dengan gampang memaafkan!" jawabku dengan nada sedikit membentak membuat bang riang sedikit menundukkan kepala.


"maafin Abang neng" jawabnya dengan lirih.


"maaf, dengan keluarga pasien Lukman?" tanya salah satu Suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"yaa, saya sus" jawabku.


"pasien sudah sadar, silahkan. boleh dilihat" jawabnya dengan menampilkan senyum mengembang. aku, Rey dan juga bang Rian pun masuk kedalam ruang UGD menampilkan wajah terkejut dari mas Lukman atas kedatanganku.


"di-diah" katanya dengan terbata.


"ya, aku. kenapa?" tanyaku berusaha tidak mengeluarkan air mata dihadapan mas Lukman meskipun sangat terasa sakit atas penghianatan yang ia lakukan.


"ngapain kamu kesini?" tanyanya menyeritkan kening.


"harusnya kamu tanya teman kamu ini, kenapa diaenghubungi aku bukan menghubungi keluarga kamu" jawabku sedikit ketus.


"yaa mungkin karna dia pikir kamu istriku makanya dia menghubungi kamu" jawabnya dengan pelan, aku pun hanya berdecih mendengar perkataan mas Lukman.


"siapa perempuan yang bersama kamu mas?" tanyaku tanpa menatap mas Lukman.


"pe-perempuah siapa? aku ngga sama perempuan" jawab ya dengan terbata-bata.

__ADS_1


"ngga usah bohong mas, aku udah tau semuanya" .......


bersambung.....


__ADS_2