
tak lama orang yang dibicarakan datang.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawab kami serempang memandang kearah pintu depan, terlihat seorang lelaki dengan wajah teduh berada didepan pintu.
umi Hamidah pun langsung berdiri menyambut anak lelakinya.
"masyaallah akhirnya kamu sampai juga nak, masuk-masuk" kata umi Hamidah mempersilahkan anaknya masuk kedalam rumah.
"ah iyaa umi, tuan rumahnya belum persilahkan Hamid masuk kok umi udah heboh sih" kata Hamid pada sang umi.
"ah iya silahkan masuk nak Hamid, maaf ya rumahnya berantakan" kata mama mempersilahkan Hamid masuk kedalam rumah.
"ngga apa bude, Hamid maklum kok" jawab mama.
"ayok sini duduk, acaranya belum dimulai. semuanya masih kemasjid sampai lekas isya nanti" kata mama yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Hamid.
"tolong ambilkan minum sin, jangan diem aja dong" kata mama pada Sintia yang masih terpana melihat Hamid.
"i-iyaa ma" jawab Sintia singkat.
Sintia pun langsung mengerjakan apa yang mama suruh, ia membuatkan teh manis untuk Hamid.
"ini ma teh manis" kata Sintia yang datang membawa segelas teh manis hangat.
"taruh sana lah kasih sama mas Hamid" jawab mama.
Sintia pun langsung mendekatkan teh manis itu pada Hamid.
"kamu langsung dari kantor kesini mid?" tanya umi Hamidah pada Hamid.
"ngga umi, tadi Hamid udah pulang kerumah kok. tadi Hamid sengaja pulang lebih cepat dari kantor" jawab Hamid dijawab anggukan oleh umi Hamidah.
"umi kira kamu langsung kesini, oiya mid ini loh sahabat umi sama Abi yang pernah kami ceritakan itu. anak nya tiga, anak pertamanya sudah menikah dan udah punya dua cucu. nih lihat, cantik cantik kan?" kata umi Hamidah menunjuk Nayla dan juga Syifa.
"oohh yang udah menikah yang mana umi?" tanyanya menatapku dan sintia bergantian.
"ini loh yang ini, namanya Diah. kalo yang ini namanya Sintia, masih sekolah. kelas berapa sin?" tanya umi Hamidah pada Sintia.
"masih SMK kelas 2 umi" kata Sintia dengan malu.
"oohh bentar lagi kelas 3 ya, rencana mau lanjutin kuliah dimana?" tanya Hamid pada Sintia.
"iya mas, belum tau mau lanjut dimana. terserah mama sama mas Rey aja mampunya nanti kuliahin dimana, Sintia ga mau memaksa" jawab Sintia menatap mama yang tersenyum.
__ADS_1
"oalaahh begitu tuh, bagus bagus. yang penting rajin belajarnya ya, biar hasilnya juga memuaskan" kata Hamid membuat Sintia tersenyum dan menganggukan kepala.
"syukur syukur si mau lanjutin dipondok ya mid, jadi nanti lulus pondok bisa langsung ke Mesir kaya kamu dulu. iya kan mid?" kata umi Hamidah menatap Sintia yang membelalakan mata.
"umii,, masa gitu sih. Sintia gamau ah mi, nanti Sintia bingung kalo lanjut pondok" jawab Sintia mengerucutkan bibir membuat umi hamidah tertawa kecil.
"bingung kenapa? kan sama aja, cuma memang tambah banyak pelajaran agamanya aja" kata Hamid.
"iyaa si mas Hamid, tapi kan Sintia itu ngga bisa bangun pagi. nah kalo dipesantren kan harus bangun pagi terus sebelum subuh, Sintia bangun jam lima pagi aja harus disiram air dulu sama mama" jawab Sintia membuat sumua orang terkikis geli.
"yaa makanya belajar bangun pagi di pondok sin, masa anak gadis maunya bangun dibangunin Mulu. nanti kalo kamu dirumah mertua, waahh bisa habis dimaki-maki sama mertua kamu itu mah" jawabku menggoda Sintia.
"yee emang Mbah Diah, kalo aku mah nanti kalo menikah sama suami dan mertua yang pasti bakalan sayang sama aku juga." jawab Sintia dengan pedenya membuatku melirik sinis.
"yee kamu tau ngga ada ya pepatah yang bilang manis diluar sepet didalem, nah itu lah. kalo pacaran awalnya semua keluarganya terlihat baik, tapi pas udah nikah beehh langsung ketauan semua belang-belangnya. rasain aja" jawabku lagi.
"yaa iyaa deh iyaa yang udah pengalaman, kalo aku si selalu berdoa biar ngga salah pilih suami dan mertua. makanya aku ngga mau pacaran dan ngga mau terburu-buru nikah, sukur-sukur dapat mertua yang lemah lembut kaya umi Hamidah. iya ngga umi?" kata Sintia membuatku melebarkan mata dengan mulut membentuk huruf O.
aku heran, berani sekali Sintia berkata seperti itu didepan umi Hamidah dan juga Hamid yang jelas baru kali ini kami bertemu.
"iyaaa nanti pasti Sintia dapat mertua dan juga suami yang sayang sama sintia. Sintia udah benar kok ngga pacaran, lagian ngapain si pacaran. banyak mudharatnya, sintia harus ingat baik-baik ya pesan umi" jawab umi Hamidah yang langsung diangguki oleh sintia.
"assalamualaikum" terdengar suara salam didepan rumah. terlihat kiayi Hasyim dan juga Rey sudah datang setelah selesai sholat isya dimasjid.
"waalaikumsalam" kami menjawab salam serentak, kiayi Hasyim dan juga Rey pun menghampiri Hamid yang duduk tepat disebelah umi.
"belum Abi, tadi pas mau adzan baru aja sampe" jawab Hamid menyalami kiayi Hasyim.
"oiya kenalkan ini Rey, anak sahabat Abi dan juga umi yang pernah kami ceritakan" kata kiayi Hasyim. Hamid dan Rey pun saling bersalaman.
"Rey"
"Hamid"
keduanya pun saling tersenyum.
"gimana bisnis kamu mid? sepertinya Abi lihat berkembang pesat" tanya kiayi Hasyim pada putranya.
"Oalah Abi, kita disini untuk tahlilan bi bukan untuk membicarakan bisnis. sebentar lagi para bapak-bapak pasti akan datang, Hamid lebih baik kamu sholat isya dulu setelah itu nanti bergabung untuk tahlilan" kata umi Hamidah sebelum Hamid sempat menjawab perkataan kiayi Hasyim.
"Oalah umi, Abi kan cuma bertanya umi. yaudah sana kamu mending sholat dulu, pinjam kamar Rey aja kali ya Rey. gapapa kan nak?" tanya kiayi Hasyim meminta persetujuan pada Rey.
"iyaa gapapa kiayi, mari mas kekamar saya kebetulan kamar pribadi karna satu-satunya cowok" jawab Rey menggiring Hamid masuk kekamarnya.
"ini silahkan, maaf kalo berantakan" kata Rey mempersilahkan Hamid memasuki kamarnya. setelah itu Rey pun kembali bergabung bersama kami.
__ADS_1
"semuanya udah siap ma?" tanya Rey pada mama yang sibuk merapihkan jamuan Snack untuk jamaah tahlil.
"Alhamdulillah udah Rey, kamu tolong gelar ya tikat-tikarnya. masa tikarnya belum digelarin" kata mama menyuruh Rey.
Rey pun langsung melakukan apa yang mama perintahkan. tak lama datang lah sekumpulan jamaah masjid kira-kira tiga puluh orang mendatangi rumah mama, begitupun para tetangga yang mulai berdatangan satu persatu.
acara tahlilan pun dimulai dengan dipimpin oleh ustadz masjid dan juga kiayi Hasyim. setelah semua selesai, aku, mama, umi Hamidah dan juga Sintia estafet memberikan jamuan kepada para bapak-bapak yang mengaji itu.
dilanjut dengan membagikan nasi kotak yang sudah diplastikkan kepada satu persatu jamaah yang datang mengaji dengan cara yang sama namun kali ini Rey yang akan membagikan kepada jamaah bapak-bapak tersebut.
"Alhamdulillah semuanya selesai" kata mama setelah semua jamaah dan juga ustadz masjid meninggalkan rumah.
"iyaa Alhamdulillah banyak sekali yang datang untuk mendoakan almarhum Jono, saya senang melihatnya. itu artinya beliau orang yang baik" kata kiayi Hasyim yang juga diangguki oleh mama.
"iyaa Alhamdulillah, ini juga masih lebih nasi kotaknya nanti biar dibagikan ke teman almarhum yang tak sempat hadir. oiyaa Hasyim, ini Edi kamu pasti masih ingatkan?" kata mama menunjuk pak lek Edi.
"tentu saja, dari tadi kita belum sempat mengobrol ya mas Edi." kata kiayi Hasyim menatap pak lek Edi yang tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa kiayi, Alhamdulillah bisa bertemu lagi dengan kiayi Hasyim" jawab pak lek membuat kiayi Hasyim terkekeh kecil.
"alah pake kiayi segala kaya sama siapa aja kamu mas, mas" kata kiayi Hasyim tertawa.
"loh,, memang to, sekarang sudah jadi kiayi. pondokkane suksek, Alhamdulillah" jawab pak lek Edi yang juga dijawab hamdalah oleh kiayi Hasyim.
"Alhamdulillah, ini semua berkat kita semua. tak terkecuali almarhum, saya ngga akan seperti ini tanpa campur tangan almarhum mas" jawab kiayi Hasyim yang lagi-lagi mengingat bapak.
"Alhamdulillah biarkan semuanya menjadi amal jariah bagi mas Jono, kiayi. semoga apa yang beliau percayakan menjadi ladang pahala disurganya" jawab pak lek Edi membuat kiayi Hasyim tersenyum sambil menganggukan kepala.
"amiinn,, mana anakmu mas?" tanya kiayi.
"Ndak kesini kiayi, ada urusan dirumah mertuane." jawab pak lek Edi.
"oalaah wes Rabbi. mid sampean kapan mid, Abi Karo umi mu wes arep gendong cucu" kata kiayi Hasyim menggoda Hamid.
"ndereng saget entuk sing cocok Abi, sabar" kata Hamid pada ayahnya.
"ah Hamid ini kalo ditanyain pasti jawabannya belum ada yang cocok, sebenarnya belum ada yang cocok atau menunggu seseorang" kata umi Hamidah membuat wajah Hamid memerah menahan malu.
"apa to umi" jawabnya mengalihkan pandangan kearah lain.
"ya sudah Ndak apa-apa to kiayi, midah ga usah ngoyo-ngoyo biar ngga salah pilih" kata mama sambil melirik kearahku, aku yang mendengar perkataan mama pun menundukkan kepala.
"oalaah yang pasti buat saya mah sit yang penting akhlaknya juga senantiasa menjaga ibadannya. itu saja" jawab umi Hamidah dengan tersenyum lembut.
"udah sama mbak Diah aja ya mas Hamid, mbak Diah kan sebentar lagi juga menjanda" ....
__ADS_1
bersambung.....