
bulan telah berganti, kini aku resmi menjadi janda dengan dua orang anak setelah masa Iddah ku selesai tepat beberapa hari yang lalu.
saat ini kami tengah berkumpul dihalaman rumah, untuk membicarakan lebih lanjut soal rencana pembangunan rumah yang sudah tertunda beberapa Minggu karna memang seratus harian almarhum bapak sudah dilaksanakan beberapa Minggu yang lalu.
"jadi gimana Rey, kamu udah dapat tempat yang pas untuk kita semua kontrak?" tanya mama pada Rey.
"udah ma, ngga jauh dari sini. tepatnya diperumahan kavling didepan jalan raya besar sana" kata Rey menunjuk daerah yang lumayan ramai.
"itu kan udah masuk komplek Rey, apa gak mahal biaya kontraknya?" tanya mama lagi dengan dahi menyerit.
"udah mama tenang aja gak usah mikirin itu, Rey masih mampu kok untuk bayar kontrakan itu. lagian kan gak selama nya ma, hanya beberapa bulan aja" jawab Rey yang langsung aku angguki.
"iyaa betul itu ma, apalagi tempatnya dekat jalan raya. jadi Diah gak perlu susah kalo mau cari angkot" kataku yang pada akhirnya diangguki oleh mama.
"yasudah kalo begitu, terserah kalian aja. oiyaa, apa kalian udah tau rumahnya mau dibangun seperti apa? mama cuma minta kalo kalian mau mengganti barang-barang dirumah ini, tolong foto-foto yang ada bapak kalian jangan disingkirkan. biar itu jadi kenang-kenangan untuk kita" kata mama membuatku dan juga Rey saling berpandangan kemudian menganggukan kepala.
"iyaa ma, lagian Rey gak akan lah ngebuang semua foto-foto yang penuh kenangan sama bapak. Rey cuma mau mengganti semua perabot yang memang sudah harus diganti kok ma, yaa terutamanya kasur yang ada dikamar mama. itu kan masih kasur kapuk yang kalo dipakai tidur pasti buat badan pada sakit, sementara dikamar ku sama Sintia itu kasur busa yang bisanya juga udah mulai menipis. nanti kita juga buatkan kamar untuk mbak Diah dan juga Nayla barengan dengan Syifa, nanti mbak Diah bisa decor sendiri bagaimana kamar untuk kedua anaknya" kata Rey membuat Diah mengangguk antusias.
"boleh-boleh, Alhamdulillah makasih banyak ya Rey" kataku pada Rey, sementara Rey hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.
"sama-sama mbak, Rey kan udah janji akan jadi yang terbaik untuk keluarga kita. sebelum Rey menikah, Rey akan membuat mama, mbak, Sintia dan juga ponakan-ponakan Rey ini bahagia. agar nantinya kalian juga bisa menyayangi istri dan anak-anak Rey dengan tulus" kata Rey membuatku mengerti tentang kekhawatirannya.
"kamu gak usah khawatir Rey, asal perempuan itu baik dan Sholeh kami pasti menerimanya dengan senang hati tak perduli bagaimana statusnya. iyakan ma?" tanyaku pada mama yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh mama.
"iyaa bener apa kata mbak kamu Rey, mama yakin kamu gak akan salah pilih istri. semoga kamu mendapatkan istri yang juga sama baiknya seperti kamu, yang tulus menyayangi kamu dan juga keluarga kita" kata mama dengan mata berkaca-kaca.
"amiinn, doa kalian adalah yang paling Rey utamakan. terutama mama" kata Rey tersenyum dan memeluk mama yang hampir meneteskan air mata.
__ADS_1
"terimakasih sudah menjadi tameng untuk kita semua nak, terimakasih sudah menjadi kepala keluarga, adik, kakak dan juga anak yang baik selama ini. semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak mama" kata mama menyentuh pipi Rey yang tersenyum menatap mama dengan mata berkaca-kaca.
"amiinn,, doa kan yang terbaik ma. insyaallah dengan doa mama semua pasti dijabah sama Allah" kata Rey dengan senyum dan memegang kedua tangan mama.
"CK, CK udah kali melow nya. ada gadis cantik loh disini, masa mas Rey terus yang dipeluk-peluk" kata Sintia yang tiba-tiba bergabung diantara kami.
"CK, pengacau" gumam Rey yang dengan jelas masih terdengar ditelinga kami semua.
"mamaaaaa, mas Rey tuh" kata Sintia yang merengek seperti anak kecil kepada mama.
"dih, udah hampir kelas dua belas SMK masih aja kaya begitu sama mama nya. gak malu itu kalo ada temenmu yang datang kesini"kata Rey menatap Sintia dengan malas.
"yaa biarin aja kenapa si, aku kan bontot perempuan. kalo mas tuh gak pantes selain mas bukan bontot, mas juga laki-laki gak pantes kalo diliat seperti ini sama mama" kata Sintia yang masih tetap merengkuh mama dihadapan kami.
"Yee kata siapa gak pantas, aku kan juga anak mama ya pantes-pantes aja dong. apa masalahnya?" jawab Rey yang tak mau kalah.
"Yee itu si kata kamu doang aja kali, gak ada salahnya tuh kalo anak laki-laki mau manja sama ibunya. iyakan ma?" kata Rey mencoba mencari pembelaan.
"yaa gak ada yang salah, asal jadi nya nanti gak kaya mantan suami mbak mu aja itu" kata mama melirikku yang langsung mendelik mendengar jawaban mama.
"maksud mama mas Lukman? idih, aku ganteng berwibawa kaya gini disamain sama ayam tiren begitu. gak salah tuh ma?" kata Rey membuatku menahan tawa karna perkatannya.
"kalo mau ketawa ya ketawa aja deh mbak, gak usah ditahan. aku tau kok mbak mau ngetawain aku kan" kata Rey memandang sinis kearahku.
"apaan sih, siapa yang mau ngetawain kamu. baper aja sih" jawabku berusaha menahan tawa melihat ekspresi Rey.
"sudah-sudah, anak-anak mama ngga ada yang seperti itu. insyaallah semuanya jadi anak Sholeh dan Sholehah, berbakti pada orang tua dan tau perintah agama. amiinn" kata mama dengan tersenyum.
__ADS_1
"amiinn, makasih banyak untuk doa nya ma. insyaallah kita semua akan tetap bisa rukun meskipun masing-masing nanti akan berumah tangga, iyakan mbak?" kata Rey yang langsung aku angguki.
"nggalah, aku masih mau kuliah masih mau kerja ngga mau berumah tangga" jawab Sintia yang mulai mengacaukan suasana.
"CK, dasar pengacau suasana kamu tu sin" kata Rey yang akhirnya membuat tawa kami semua pecah.
"baiklah, kembali lagi ke masalah rumah. jadi, mau mau buat rumah ini jadi bertingkat gitu Rey?" tanyaku pada Rey yang langsung menganggukan kepala.
"iyaa mbak, nanti aku mau buat beberapa kamar tamu dilantai satu dan beberapa dilantai dua. sementara kamar mbak dan anak-anak dilantai tiga, kamar aku dan juga Sinta dialntai dua dan nanti mama mungkin dilantai satunya. aku juga mau buat roftof dilantai tiga mbak, jadi mungkin nanti kamar mbak lebih indah dari kamar lainnya bisa jadi tempat mainan anak-anak juga" kata Rey membuatku menganggukan kepala.
"kenapa harus tiga lantai sih Rey, nanti mama jauh dong kalo mau main sama Nayla sama Syifa. mama ngga akan kuat kalo harus naik turun tangga Rey" kata mama dengan wajah ditekuk sempurna.
"mama tenang aja, Rey juga kasih lift kok rumahnya. jadi nanti mama gak perlu capek buat naik turun tangga, Rey juga mikir kok ma bahayanya kalo kita naik turun tangga. apalagi ada Nayla dan juga Syifa, bisa bahaya kalo mereka ikutan naik turun tangga" kata Rey membuat Sintia langusng bangun dari tidurnya dipangkuan mama.
"mas, Sintia boleh dong buat kamar yang ada balkonnya juga buat tempat belajarlah kalo ada teman Sintia yang main kerumah. sama itu, Sintia juga mau kamar mandi didalam sama ada walk in closet ya mas. boleh kan?" tanya Sintia yang langsung diangguki oleh Rey.
"boleh kok, berhubung tanah ini luas banget kalo dibangun semua. gimana kalo dibelakangnya kita buat taman, biar mama ada kegiatan untuk sekedar menyiram tanaman. nanti juga didepan rumah akan Rey kasih pagar setinggi dua setengah meter, dan disana nanti juga Rey kasih buat taman selebar dua meter. gimana menurut mama?" tanya Rey membuat mama tersenyum dan menganggukan kepala mendengar ide yang dituangkan oleh Rey.
"boleh, boleh banget Rey. kalo bisa bikin kolam renang untuk ponakan kamu Rey, kasih arena bermain disampingnya agar mereka juga gak bosen. toh tanah ini memang panjang dan lebar, kalo gak salah panjangnya mencapai 24 meter sementara lebarnya sendiri mencapai 30 meter. cukuplah untuk buat kulam renang sedikit" kata mama yang juga diangguki oleh Rey.
"boleh-boleh, kalo gitu nanti Rey buat sketsa designnya dulu nanti biar dirapihin sama arsitek dikantor Rey. tapi, apa gak masalah kalo kita bangun rumah sebesar itu didaerah seperti ini ma? apa gak terlalu mencolok" kata Rey yang ternyata menghawatirkan hal itu.
"yaa gapapalah Rey, tanahnya kan tanah milik kita sendiri. kecuali kalo tanah milik orang lain pasti bermasalah, iyakan di?" kata mama yang langsung aku angguki.
"yasudah kalo begitu Rey ikut aja apa kata mama, yang penting kalian semua senang dan bahagia. oiyaa satu lagi untuk kamu sin, jangan sampai keadaan kita yang berubah menjadikan kami tinggi hati dan juga sombong kepada sesama,,,,,,,"
bersambung.....
__ADS_1