
sore harinya, mbak Laras dan juga mbak raya pun berpamitan pulang tepat setelah aku selesai memandikan Syifa. kedua nya pulang menggunakan motor mereka masing-masing, setelah kepergian mereka aku pun kembali bicara dengan mama diruang tamu untuk menunggu waktu Maghrib.
"Billy itu yang mana sih di? kayanya mama ngga kenal ya?" tanya mama.
"iyaa emang belum pernah ketemu sama mama tapi Diah pernah keluar bareng sekali waktu itu" jawabku diangguki mama.
"berarti kalian pernah Deket?" tanyanya lagi.
"Deket si Deket, tapi bukan Deket dalam artian kita pernah ada hubungan. yaa cuma Deket aja, karna dulu suka ledek-ledekan terus juga dia malah suka chat aku tapi aku nya jarang respon. sekalinya aku ngerespon ya itu pas dia ngajak keluar bareng doang itu pun karna udah janjian pas waktu ketemu dispbu" jawabku yang lagi-lagi diangguki oleh mama.
"oohh gituu, kirain mama kalian pernah ada hubungan apa gitu. sampe udah lama ngga ketemu pun lelaki itu masih kenal sama kamu" kata mama yang juga aku benarkan.
"yaa kalo untuk aku sih udah selesai, ya gatau juga ya kalo buat dia gimana" jawabku menaikkan bahu.
tak lama terdengar suara azan Maghrib berkumandang, Rey pun sudah keluar dari kamar untuk sholat berjamaah dimasjid.
"Rey ke masjid dulu ya ma" katanya berpamitan mencium tangan mama dan juga aku secara bergantian.
"hati-hati rey, mama nggak masak makan malam. nanti tolong beli ya?" kata mama berpesan karna memang masjid tak jauh dari rumah dan juga kumpulan aneka dagangan berada disebelahnya.
"yaudah kalo gitu nanti Rey beliin, assalamualaikum" katanya sambil berlalu keluar dari rumah.
"terus-terus tadi gimana lagi di?" tanya mama penasaran.
"yaaudah begitu aja lah, ngga gimana-gimana ma. lagian ngapain si mama kepo, intinya yah ma aku sama dia itu ngga pernah ada hubungan apapun. cuma sebatas temen aja" jawabku mengakhiri percakapan tentang Billy pada mama.
"yaa kali di, mama kan cuma nanya. lagian selama ini kan kamu terlalu tertutup sama keluarga, bahkan setelah menikah. yaa sekarang ada kesempatan buat ngorek kejujuran kamu ya mama pengen kamu jujur, itu aja" jawab mama membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"yaudah, itu kan aku udah jujur ma" jawabku sedikit tersenyum.
"yaudah lah, mama sholat dulu. jagain dulu nih anaknya, nanti baru gantian" kata mama yang langsung aku angguki.
mama meninggalkan aku dan juga Syifa diruang tamu, sementara Nayla dengan sintia berada dikamar.
tak perlu waktu lama, mama pun kembali menghampiri kami dengan masih memakai mukena dikepalanya. aku pun bergantian sholat Maghrib kedalam kamar Sintia, melihat keduanya tengah melaksanakan sholat Maghrib bersama. aku mengurungkan niat, dan lebih memilih memasuki kamar mandi lebih dulu untuk mengambil air wudhu.
"udah selesai sholatnya?" kataku ketika melihat keduanya tengah melipat mukena yang sudah selesai dikenakan.
"oohh udah mbak, mau sholat juga ya?" tanya ku jawab anggukan kepala.
__ADS_1
"yaudah kalo gitu, nih gantian. kita keluar, yuk nay" kata Sintia mengajak Nayla keluar dari kamar agar aku bisa gantian sholat didalam kamar.
aku pun melakukan tiga rakaat ku denga khusu, setelah selesai aku pun dikejutkan dengan ketukan pintu.
"mbak, mas Rey nelpon mau makan apa katanya?" tanya Sintia yang menyembulkan kepalanya dibalik pintu.
"apa yaa? emm ayam bakar boleh deh" jawabku yang merasa bingung mau memakan apa malam ini.
"yaudah kalo gitu ayam bakar semua aja" jawabnya dengan senyum.
"yaa terserah kalo kamu sama mama mau makan yang lain mah" jawabku.
"mama mau nya sop kambing tapi mas Rey ngga ngasih, makanya disuruh tanya sama mbak" jawab Sintia membuatku menganggukan kepala.
"SOP kambing kenapa ga boleh? gapapa kali, beli satu bungkus aja buat bareng-bareng. dapatlah sedikitan mah biar ngerasa doang" jawabku membuat Sintia membulatkan mulut.
"yaudah kalo gitu aku bilang mas Rey dulu mbak" kata Sintia yang langsung aku angguki.
Sintia pun menelpon balik Rey dan menyebutkan pesanan untuk makan malam ini, kemudian ia pun kembali keluar dari kamar sementara aku masih membereskan kamar yang terlihat sedikit berantakan.
setelah semua selesai, aku pun kembali keruang tamu menemui semua orang yang sudah berkumpul disana kecuali Rey yang masih mencari lauk makan malam kami.
"assalamualaikum" kata Rey memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka.
"waalaikumsalam" jawab kami serentak.
"nih pesanan mama, sengaja aku ga bolehin kok malah pada mau. gimana sih" kata Rey mendumel karna akhirnya membeli SOP kambing pesanan mama.
"gapapa kali Rey sesekali, apa salahnya sih. kan ngga setiap hari juga" jawabku diangguki oleh mama yang tersenyum dengan mata berbinar.
"yaa ngga begitu juga mbak maksudnya, tapi ini SOP kambing loh. ditawarin SOP daging aja ngga mau, padahal kan sama aja isinya daging-daging juga. malahan kalo SOP daging sapi ngga ada tulangnya, kalo SOP kambing kan banyakan tulangnya daripada dagingnya" kata Rey dengan panjang lebar.
"justru disitu enaknya Rey, yaudah mana sini SOP kambingnya biar mama racik lagi dibelakang. kali aja ada yang kurang bumbunya" kata mama dengan semangat empat lima mengambil SOP kambing pesanannya.
"kalo gitu biar mbak ambil piring sama nasi dulu ya, tolong jagain Nayla sama Syifa" kataku menatap Sintia dan juga Rey yang menganggukan kepala.
"bener-bener mama itu" gumam Rey yang masih bisa aku dengar saat berjalan menuju dapur.
"kamu mau ngapain di?" tanya mama.
__ADS_1
"mau mastiin mama ngga makan sopnya duluan, karna kalo mama udah makan dibelakang mama ngga boleh lagi makan sopnya saat didepan nanti" jawabku sambil terkekeh kecil.
"aaahh kamu di, kayanya mama emang ga bisa bohongin kamu deh ya. tau aja alasan mama" kata mama mengerucutkan bibir, aku pun tertawa kecil melihat respon mama yang seperti itu.
"udah belum? sekalian dipanasin lagi?" tanyaku pada mama.
"iyaa sebentar aja, lima menit" jawabnya dengan wajah tertunduk.
tak perlu menunggu lama, aku dan juga mama pun kembali keruang tamu dengan membawa barang ditangan masing-masing.
"sin, tolong ambil sendok ya sama air minum dikulkas bawa sini. biar kalo keselek ngga perlu bolak balik kebelakang" kataku yang langsung dijalani oleh Sintia.
Sintia pun kembali dengan membawa satu teko air putih dengan beberapa sendok, setelah dirasa semua lengkap kami pun mulai menyantap makan malam dengan keadaan hening.
tepat saat azan isya, kami pun selesai menyantap makan malam kemudian langsung mengerjakan sholat isya bergantian. kemudian kembali berkumpul diruang tamu, padahal malam ini adalah malam Minggu tapi tak ada satu pun diantara kami yang keluar dari rumah.
"assalamualaikum" terdengar suara salam dari depan rumah. aku, Sintia, dan juga mama pun saling berpandangan. sementara Rey menatap kearah pintu dengan penuh tanda tanya, sehingga aku mengikuti arah pandangan Rey dan membelalakan melihat siapa yang berdiri didepan rumah. aku pun berjalan kedepan pintu, menghampiri orang itu.
"wa-waalaikumsalam, kamu?" tanya ku pada orang tersebut.
"iyaa, aku di. maaf ya aku Dateng kesini, aku ganggu ga?" tanyanya dengan senyum tulus.
"oohh ng-nggak sih, masuk-masuk. maaf ya begini lah, lagi rame" kataku mempersilahkan tamuku itu masuk kedalam rumah.
"siapa mbak?" tanya Rey yang melihatku masuk bersama lelaki asing.
"oohh i-ini,,,,,"
"saya Billy, teman Diah waktu dispbu. emm lebih tepatnya teman dekat" jawabnya membuatku melebarkan mata.
"oohh, bu-bukan Rey. di-dia emang temen mbak, tapi cuma temen ngga deket-deket banget" jawabku gugup ditatap dengan tajam oleh Rey, sementara Billy hanya tersenyum kecil melihat kegugupan ku.
"oohh, yaudah masuk. sin, bawa Nayla masuk kamar ya. mama juga tolong bawa Syifa kekamar mama dulu ya, biar Rey yang disini sama tamu nya mbak Diah" kata Rey pada semua orang yang ada diruangan itu, semuanya pun menganggukan kepala mendengar perkataan Rey.
kemudian mereka pun memasuki kamar masing-masing, sementara aku duduk diruang tamu bertiga dengan Billy dan juga Rey.
"a-aku bikin minum dulu ya" kataku padaku keduanya. tanpa menunggu jawaban aku pun masuk kedalam dapur untuk membuat minuman untuk kamu bertiga.
bersambung...
__ADS_1