
"ngga ada tapi tapian mas, kalo kamu punya uang lain silahkan kamu berikan tapi kalo ngga lebih baik kamu diam dan tak banyak menuntut. karna selama ini aku pun diam dan tak pernah menuntut apapun" kataku menatap kesal lelaki yang masih menjadi suamiku ini, tentu saja aku merasa kesal. ntah dia anggap apa aku ini hingga semuanya dia tutupi dengan rapat semua kebohongan yang keluarganya ciptakan.
tanpa melihatnya yang masih terdiam aku pun berlalu masuk kembali keruang tengah dengan menahan amarah, kulihat kedua anakku yang tengah terlelap dan sengaja tak aku bangunkan.
"siapkan kopi dan baju kerjaku, aku akan berangkat kerja hari ini" kata mas Lukman yang ternyata sudah berlalu kekamar mandi. walaupun kesal, aku pun tetap bangkit untuk melakukan apa yang ia perintahkan. ku ambilkan seragam kerja suamiku beserta celana hitam panjang yang biasa ia pakai, kemudian aku buatkan kopi sekaligus membuka pintu belakang agar udara sejuk pagi hari masuk melalui pintu yang terbuka itu.
setelah keduanya telah aku lakukan aku pun duduk dipinggir tempat tidur, kemudian ku raih ponsel yang ku letakkan tak jauh dari Syifa karna semalam sebelum tidur aku memainkan ponsel hingga mengantuk.
tak lama mas Lukman pun keluar dengan pakai seragam lengkap, ia pun menyisir rambutnya yang basah setelahnya kembali berlalu kedepan untuk mengeluarkan motor besar kesayangannya tersebut.
"Diah,,," katanya memanggilku, aku pun hanya menjawab dengan dehaman dan sekilas melirik kearahnya.
"apa?" jawabku yang melihat ia masih terdiam tanpa berkata lagi.
"emmm aku boleh minta uang buat beli bensin?" tanyanya dengan ragu tanpa menatap aku.
"berapa?" jawabku singkat.
"lima puluh ribu aja, bensin motor aku udah kedip soalnya" jawabnya, aku pun segera mengambilkan uang yang ia pinta. ku ambil tiga lembar uang lima puluh ribuan yang ia berikan waktu itu, lalu ku berikan padanya.
"ini, isilah sampai penuh. semoga cukup sampai nanti kamu gajian lagi" kataku menyerahkan uang seratus lima puluh ribu tersebut padanya.
"iyaa makasih, insyaallah cukup. buat rokok aku gimana Diah?" tanyanya lagi membuatku menyeritkan kening.
"rokok?" tanyaku mengulang perkataannya.
"iyaa rokok aku, aku kan juga butuh rokok Diah" jawabnya dengan antusias.
"ngga ada mas, kamu kan tiap hari dapat lebihan uang jalan. masa ngga bisa pakai itu untuk beli rokok, makan juga kamu pakai uang itu kok" jawabku membuatnya terdiam.
"tapi,,,,," jawabnya yang langsung aku patahkan.
__ADS_1
"apa? sisa uang jalan mau kamu kumpulkan untuk memberikan pada kakak kamu, begitu?" kataku yang langsung membuatnya terdiam.
"mas, mas sana diri sendiri aja perhitungan kok sok sok an mau perhatian sama orang. terserah kalo kamu mau seperti itu, yang jelas aku ngga akan memberikan kalo bukan untuk hak penting. masalah rokokmu, itu bukan urusanku" jawabku dengan menatapnya tajam.
"ngga bisa gitu dong Diah, itu kan uangku juga. aku yang kerja untuk mendapat gaji itu, masa hanya untuk membeli rokok ngga kamu kasih. keterlaluan kamu Diah" jawabnya membuatku langsung menatapnya dengan kesal.
"lantas kenapa memangnya kalo kamu yang kerja? bukannya itu memang tugasmu? kenapa kamu jadi mengeluh, selama bertahun-tahun aku yang mengandalkan kamu aja selalu diam kamu berikan lima puluh ribu untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah. lagi pula, aku yakin uang itu pasti sisi hanya untuk sekedar membeli rokok mah pasti ada ngga mungkin ngga kembali." jawabku lagi membuatnya kembali terdiam dengan wajah menahan amarah.
" kamu makin kesini makin kelewatan Diah, aku ngga nyangka seperti ini sikapmu padaku sebagai istri ngga bisa sama sekali menghargai suaminya" jawabnya membuatku membelalakan mata.
"mas, mas kamu itu ngga salah ngomong atau gimana. seharusnya aku yang bilang seperti itu sama kamu, apa selama ini kamu menghargai aku sebagai istri kamu? mana ada mas suami yang memberikan kepada keluarganya lebih besar dari yang ia berikan pada istrinya, cuma kamu doang mas. bahkan kamu pun tak izin atau sekedar memberi tahu ku. giliran kamu ditipu mentah-mentah oleh keluargamu, kamu meminta pertolongan pada keluargaku. heh, apa kamu ngga punya urat malu mas?" jawabku dengan membentak, tak ku pedulikan lagi status mas Lukman sebagai suami karna rasa sakit yang ia torehkan padaku. andai ia lebih mneghargaiku aku tak akan pernah melakukan hal seperti ini
"aaahh sudahlah percuma ngomong sama kamu, egois maunya menang sendiri. aku capek ngeladenin kamu, pagi-pagi bikin orang naik darah aja. mau kerja bukannya dibuat santai malah dibuat pusing" jawabnya sambil berlalu meninggalkan aku diruang tengah yang masih menahan amarah.
"makanya punya otak itu di pake, jangan mau ya cuma nurutin orang yang salah. sama istri aja pelit masih mau sok sok an bantu orang lain" jawabku dengan ketus.
"mereka bukan orang lain Diah, mereka saudaraku. saudara kandung!!" jawabnya dengan berteriak membangunkan kedua anakku yang terlelap.
tak ku dengar lagi suara sahutan yang keluar dari mulutnya, hanya suara motor yang terdengar didepan. aku yakin mas Lukman sudah akan berangkat, tak lama aku mendengar suara motornya menjauhi rumah. rupanya dia sudah berangkat tanpa berpamitan padaku dan juga kedua anaknya.
"syuutt jangan nangis ya sayang," kataku pada Syifa yang masih menangis karna mendengar suara mas Lukman yang kencang tadi.
"ma, nay nyalain tv ya nonton si kembar" kata Nayla yang langsung aku berikan anggukan kepala.
"iyaa nay, mama masih mau nyusuin adiknya ini. nanti ditungguin ga adiknya, mama mau nyuci piring dulu" kataku pada Nayla yang langsung menganggukan kepala dengan lucunya.
"okee ma" jawabnya menggabungkan ibu jari dan juga jari telunjuknya berbentuk huruf O.
aku pun tertawa kecil dengan tingkah Nayla yang sangat lucu, setelah Syifa tenang dan sudah tertidur lagi aku pun segera membereskan piring kotor yang akan aku cuci. setelah semua bersih, aku pun mengajak Nayla untuk mandi mumpung adiknya belum bangun.
"nay, mandi yuk. mumpung adik belum mandi" kataku pada Nayla yang langsung mengalihkan pandangan kearahku.
__ADS_1
"emang mama udah selesai cuci piringnya?" tanyanya dengan ekspresi lucu.
"udah kok sayang, yuk mandi" jawabku, Nayla pun hanya merespon dengan anggukan kepala sebagai jawaban.
kami pun mandi bersama, setelah selesai aku pun menggantikannya dengan pakaian baru yang akan ia pakai untuk main juga.
"nah sekarang udah wangi, sini duduk lagi nonton tv nya ya. mama gantian mau pakai baju dulu" kataku pada Nayla yang langsung direspon anggukan olehnya.
aku pun segera berberes memakan baju hingga tapi, kemudian membeli sarapan untukku dan juga Nayla. aku hanya membeli nasi uduk dan juga gorengan tahu sebagai sarapan untuk kami.
"nay, yuk makan dulu" kataku pada Nayla yang langsung duduk dengan tegak, aku pun mulai menyuapinya sesendok demi sendok dan Nayla pun menerimanya dengan lahap.
"nah, udah selesai nih sarapannya nay. sekarang gantian mama ya yang sarapan" kataku pada Nayla yang tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa ma, dedek kok belum bangun ya ma. kan ini udah siang" katanya setelah menghabiskan makanan yang tersisa didalam mulutnya.
"iyaa kan dede tadi tidur lagi, makanya sekarang belum bangun. gapapa kok, kalo Nayla mau tidur lagi juga gapapa. tidur aja" jawabku yang langsung disambut gelengan kepala oleh Nayla.
"ngga ah ma, orang aku masih mau nonton si kembar" jawabnya dengan ekspresi lucu. aku pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Nayla, setelah sarapanku habis aku pun membuka seluruh jendela yang memang belum sempat aku buka. ku buka dengan lebar pintu depan dan juga pintu belakang, setelahnya aku pindahkan Syifa ke kasur bayi yang aku letakkan dilantai karna aku harus membersihkan tempat tidur kami.
"nay turun dulu ya, mama mau beresin tempat tidur ini dulu" kataku pada Nayla yang langsung dituruti olehnya tanpa berkata apapun.
setelah semua ku rasa selesai, aku pun merebus air untuk mandi Syifa dan menyiapkan baju dan juga pebedakan dan perminyakan miliknya agar selalu harum.
aku pun membuka baju Syifa satu persatu, padahal anaknya masih memejamkan mata. tapi biarlah, aku yakin nanti dia akan bangun saat aku angkat.
setelah selesai melapas semua pakaian Syifa aku pun kembali kebelakang untuk mencampurkan air panas tersebut dengan air dingin yang sudah aku siapkan. setelahnya aku mengangkat Syifa, nah kan benar dia pasti terbangun ketika aku mengangkatnya.
"nah kan bangun, kamu kalo ngga diangkat gini ngga bangun ya nak" kataku mencium badan Syifa yang tercium bau asam hihihi.
"Dede mau mandi ma?" tanya Nayla yang aku jawab dengan anggukan kepala dan juga senyum menatap anak pertamaku tersebut.
__ADS_1
bersambung.....