Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 111.


__ADS_3

sore hari aku dan juga Rey bersiap untuk menemui mas Lukman diklinik dimana dia dirawat, mama tak jadi ikut karna memilih untuk menjaga Nayla dan juga Syifa dirumah bersama Sintia.


tepat pukul 5 sore, aku dan juga Rey meninggalkan rumah menggunakan motor milik Rey.


"hati-hati dijalan Rey, jangan ngebut-ngebut. nanti sampai keklinik bukan buat nyamperin Lukman malah kalian berdua yang berobat" kata mama membuatku dan juga Rey memelototkan mata.


"mama, jangan begitulah doainnya" jawab Rey dengan nada sedikit kesal.


"yaa abis, kamu kan kalo bawa motor ngebut banget udah kaya pembalap liarr" jawab mama membuatku tertawa kecil.


"yeee mana ada begitu, memang kalo dijalanan ya harus agak cepet ma kalo ngga ya ditabrak sama yang dibelakangnya gimana" jawab Rey.


"yaa ngga ngebut-ngebut juga Rey, kan santai bisa" jawab mama.


"yaaiyaa iyaalah" jawab Rey pasrah sambil menaiki motornya.


"ayok lah mbak, buruan nanti keburu Maghrib dijalan" kata Rey, aku pun menaiki jok belakang.


"titip Nayla sama Syifa ya ma" kataku pada mama.


"iyaa tenang aja, lagian biasanya juga sama mama kok" jawab mama yang menggendong Syifa


"assalamualaikum" pamitku dan jga Rey.


"waalaikumsalam" jawab mama.


Rey pun melakukan motor meninggalkan pekarangan rumah mama, melaju dengan kecepatan sedang agar dapat sedikit santai selama perjalanan.


"mbak udah siap ngadepin keluarga mas Lukman lagi?" tanya Rey yang langsung aku angguki.


"yaa iyaalah Rey, harus kan. lagian emang ini juga kan demi aku bisa terbebas dari mas Lukman, ya kalo memang ini yang terbaik mau dikata apa" jawabku.


"mbak ngga lagi ragu kan?" tanya Rey membuat dahiku menyerit.


"ragu kenapa? nggalah, ngapain aku ragu" jawabku yakin.

__ADS_1


"yakin? banyak loh orang yang masih ragu padahal udah melangkah" kata Rey membuatku terkekeh kecil.


"apa yang bisa membuat mbak ragu Rey? ganteng, ngga! kaya, ngga! duit, dikit! iyakan? ditambah lagi kelakuan juga begitu, ya kamu tau sendirilah Rey. andai mbak ngga bucin banget mungkin mbak udah minta ceria sama mas Lukman dari dulu, iyakan" jawabku ya g juga diangguki oleh Rey.


"iyaa mbak, selama ini mas Rey membimbing mbak ga si mbak? maksud Rey, apa dia pernah menyuruh mbak sholat atau mengaji atau ya melakukan hal-hal positif soal keagamaan selayaknya suami membimbing istrinya gitu lah" kata Rey membuatku langsung menggeleng.


"boro-boro Rey, bulan ramadha aja dia gapernah puasa. gimana dia bisa ngebimbing mbak, ntah bagaimana dulu ibu mertua mbak mendidik mas Lukman dan anak-anaknya yang lain sampe ga pernah sama sekali puasa dibulan ramadhan yang sifatnya Wajib" jawabku membuat Rey terkaget.


"hah, jadi selama ini mas Lukman ga pernah puasa mbak kalo bulan puasa?" tanya Rey yang langsung aku angguki.


"iyaa ngga pernah Rey, ngapain si aku bohong. dan itu bukan cuma mas Lukman doang tapi juga kak Yuni sama abangnya juga begitu, alasannya gakuat karna kerja dan Allah pasti maklum" kataku membuat Rey semakin terkaget.


"hah, ajaran dari mana kaya gitu? apa emang ditempat mas Lukman kerja temannya juga banyak yang gapuasa kali mbak" kata Lukman membuatku menggedikkan bahu.


"yaa mbak juga gatau, tapi kayanya si ngga deh. masih banyak juga yang puasa, tapi emang udah mas Lukman nya aja yang sedari dulu diajari salah kaprah tentang ajaran agama Islam. yaa istilahnya salah penafsiran lah" jawab ku membuat Rey menggelengkan kepala.


"aneh ya mbak, kok ada ya orang yang segitunya salah kaprah. lantas gimana mau bimbing istri kalo dia sendiri begitu, apa dulu waktu mas Lukman sekolah ngga pernah diajarin pelajaran agama kali ya sampe ga ngerti begitu tentang agama. kok kayanya mereka buta banget tentang agama ya mbak, padahal ibu nya mas Lukman itu kan kalo kemana-mana pake jilbab loh ya." kata Rey yang langsung aku angguki.


"yaa mbak juga ga ngerti lah Rey, itu kan urusan mereka. jangan sangkut pautkan dengan jilbabnya, itu kan memang kewajiban setiap muslimah. hanya aja mereka salah kaprah tentang ajaran yang mereka ketahui, jadi ya begitu deh" jawabku yang juga diangguki oleh Rey.


"memang iya begitu Rey?" tanyaku pada Rey.


"yaa ada yang bilang gitu si mbak, tapi Rey ga terlalu faham juga." jawab Rey dengan terkekeh kecil.


"yee mbak kita itu benar, kalo bener berarti bertambah banyak aja dosa mas Lukman yang ga kuta ketahui. yaa walaupun memang yang menilai malaikat, tapi kita sebagai manusia andai tau pasti merasa kalo itu salah. iya ga si Rey?" kataku membuat Rey menganggukan kepala.


"iyaa mbak, makanya ngga gampang jadi suami. ingat ngga waktu kita diingetin sama almarhum bapak untuk sholat waktu mbak udah masuk SMP? itu aja kan mbak masih malas-malas gitu kan, untungnya bapak tegas tapi ngga main pukul andai main pukul waahh ntah gimana kita ya mbak" kata Rey yang juga aku benarkan.


"iyaa yaa Rey, tapi kalo kata orang kan kalo udah baligh tapi masih malas-malas melakukan kewajiban boleh loh dipukul" kataku pada Rey.


"iyaa tapi kan waktu itu aku sama mbak belum baligh, bener ga si mbak? makanya bapak ngga berani mukul kita, tapi semenjak mbak baligh dan masuk Mts itu kan mbak udah mulai rajin sholatnya. jadi bapak juga gaada alasan buat mukul atau ngapain mbak, yaa sampe akhirnya mbak bandel ngelakuin apa yang ngga di bolehin mama sama bapak. iyakan?" kata Rey membuatku tertawa. iyaa dulu waktu masih SMP memang bapak dan mama melarangku untuk berpacaran, namun aku yang memang sedang mengalami puber pertama pun menjalin hubungan dengan lelaki satu sekolahku.


"iyaa ya Rey, tapi untungnya itu bapak ngga terlalu marah banget sama mbak. yaa walaupun setiap pengambilan rapor selalu berdebat sama mama, bahkan waktu mbak istigosah bapak ngelarang mama dateng. waktu itu mbak sedih banget, tapi ya mungkin karna mbak bandel makanya bapak begitu" jawabku yang juga diangguki oleh Rey.


"yaa iyaa makanya itu mbak, yaaa kalo inget masa lalu itu kayanya kita lagi bandel-bandelnya ya mbak' kata Rey sembari terkekeh.

__ADS_1


"iyaa Rey, ngga nyangka aja sekarang semuanya udah berubah"jawabku dengan lirih.


"semuanya udah berubah seiring berjalannya waktu mbak, ngga mungkin kan stak disitu aja" kata Rey yang juga aku benarkan.


"iyaa kamu benar juga Rey, Rey ngomong-ngomong kok kita ga sampe-sampe klinik ya Rey. kayanya makin pelan aja ini motor jalannya" kataku pada Rey.


"biarin aja mbak, sengaja biar mbak lebih siap ngadepin manusia astaral itu." kata Rey membuatku melebarkan mata.


"yee kamu Rey, emang mereka apaan. lagian mbak tuh udah sangat siap banget ngadepin mereka Rey, asal kita jangan sampe kecolongan sama Rey nanti. tau sendiri, mereka udah dikasih hati minta jantung" kataku dengan nada kesal pada Rey.


"tenang aja mbak, Rey udah siapin sesuatu didalam jok motor ini. Rey juga ngga gegabah ngasih mbak ide kaya gitu kalo ngga ada bukti tertulis dan juga yang menguatkan kita dipengadilan nanti" kata Rey membuatku tersenyum lebar.


"yang bener kamu Rey?" tanyaku memastikan pada Rey.


"iyaalah mbak, tenang aja. adik mbak ini ngga sebodoh itu loh mbak mau memberikan cuma-cuma tanpa hasil pada manusia seperti mas Lukman itu" kata Rey membuatku mengacungkan kedua jempol untuknya.


"bagus, kamu emang pinter Rey" kataku pada Rey.


"iyaalah, Rey emang pinter. mbak aja yang terlalu sering dibodohi" kata Rey membuatku kembali menekuk wajah.


"iyaa iyaa iyaaa,,, oiyaa Rey, gimana tawaran dari kiayi Hasyim waktu itu?" tanyaku pada Rey.


"tawaran yang mana mbak?" tanya Rey.


"itu loh yang ngurus pesantren" jawabku.


"ntah lah mbak, tapi mungkin kalo cuma mengurus pesantren aku insyaallah bisa mbak. tapi kalo untuk menjadi salah satu bagian dari pesantren itu kayanya Rey ngga sanggup mbak, apalagi sampai harus pergi ke Mesir untuk kuliah lagi. nanti gimana sama mbak dan jga mama, kalian perempuan semua pasti ngga ada yang menjaga." kata Rey dengan nada serius.


"iyaa si Rey kamu bener juga, asalkan jujur dan bisa menjaga amanah pasti pesantren akan berkembang meskipun kamu bukan lulusan Mesir. tapi kamu udah coba bicara sama kiayi Hasyim?" tanyaku lagi pada Rey yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.


"belum mbak, Rey gatau harus mulai dari mana mbak. Rey ga enak ngomongnya" jawab Rey yang juga aku benarkan.


"lagian ya mbak, kenapa harus aku. padahal ada Hamid, pasti kan bisa Hamid menjalani perusahaan sekaligus dengan pesantren. Hamid lebih tau seluk beluk pesantren itu dari pada aku, iya gak sih mbak?" kata Rey yang juga aku benarkan.


"iyaa juga sih, makanya lebih baik kamu kasih tau kiayi Hasyim secepatnya Rey" kataku pada Rey yang hanya merespon dengan anggukan kepala.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2