
setelah kepergian bapak hari-hari dirumah mama pun terasa sangat sepi, biasa ada canda tawa atau pun ocehan yang keluar dari mulut mama tapi kini semuanya terasa sunyi. bahkan, mama pun lebih banyak mengurung diri didalam kamar.
"ma, uti kok dikamar terus si. nay kan juga mau main lagi sama uti ma" kata Nayla padaku.
"sabar ya sayang, mungkin uti masih sedih" jawabku memberikan sedikit pengertian pada Nayla.
"tapi Nayla pengen main ma, ngga ada yang mau nemenin Nayla main. mama sibuk sama Dede, ante juga sekolah. on Rey juga kerja" jawab Nayla mulai merajuk.
"sayang, Nayla tau kan kalo kita habis kehilangan akung nya nay. wajar kalo uti masih sedih, emang nay ngga sedih kehilangan akung?" tanyaku pada Nayla yang langsung terdiam.
"sedih lah ma, tapi kan akung udah disurga ma. kata mama tuwa, nay ngga boleh sedih terus kalo udah gaada akung tapi nay harus doain akung biar akung seneng dirumah baru" jawab Nayla dengan suara khas anak kecil.
"iyaa bener itu nay, tapi sekarang utinya masih sedih. jadi mendingan nay hibur utinya" jawabku membuatnya tersenyum senang.
"nay harus ngapain ma?" tanya Nayla dengan polosnya.
"nay ajak uti main ya, ajak aja utinya kalo ngga mau nay pura-pura nangis. nay bisa kan? biar uti nanti nemenin nau disini dan ngga sedih terus didalam kamar" kata ku pada Nayla yang langsung menganggukan kepala.
"okee siap ma, kalo gitu nay kekamar uti dulu ya ma" jawabnya langsung berlari dengan riang. aku pun menganggukan kepala melihat tingkah Nayla.
"assalamualaikum" terdengar suara salah tepat setelah Nayla memasuki ruang ditengah-tengah kamar mama dan Sintia.
"waalaikumsalam" kataku menjawab salam dari dalam rumah sambil menengok kearah luar karna memang pintu sengaja tak dikunci.
"mau apalagi mas Lukman kesini" gumamku kecil.
aku puh bangkit dan menghampiri mas Lukman sebelum dia sampai didepan pintu rumah.
"mau apalagi kamu kesini?" tanyaku dengan nada ketus.
"aku cuma mau minta kunci kontrakan sama kamu" jawabnya dengan menatap wajahku.
"ngga ada, kunci kontrakan udah dibawa Rey" jawabku dengan sinis.
__ADS_1
"kenapa bisa dibawa Rey?" tanyanya dengan nada heran, dahiku pun menyerit heran dengan pertanyaan yang keluar dari mulut mas Lukman.
"buat apa lagi, tentu aja buat mengambil semua barang dirumah kontrakan itu" jawabku membuatnya membelalakan mata.
"apa?! ngga bisa gitu dong, kan aku yang membayar semua barang-barang dirumah itu. kenapa kamu ambil semua?" tanyanya dengan nada sedikit membentak.
"apa kamu bilang? hei mas, apa kamu lupa surat perjanjian pranikah kita? udah jelas kan kamu yang berhianat, jadi semua yang ada dirumah kontrakan itu menjadi hakku dan juga anak-anak. kenapa kamu malah sewot ketika aku mengambil semua hak kami?" kataku dengan nada ketus pada mas Lukman.
"keterlaluan kamu Diah, kamu udah ambil ATM aku dan sekarang kamu ambil juga semua barang milikku. mau kamu apa di? apalagi yang akan kamu ambil nantinya dari aku?" jawabnya membuatku memandang remeh.
"apalagi? tentu saja nafkah untuk anak-anak dan juga nafkah Iddah aku, oohh tidak perlu si kayany semua gaji kamu yang akan ditransfer ke rekening ini akan cukup untuk membiayai kami dan juga mencicil hutang-hutang kamu. tenang aja, aku akan berikan rinciannya setiap bulan kok" jawabku membuat mas Lukman membelalakan mata.
"yaallah di, apa kamu ngga kasihan sama mas yang sekarang ngga punya apa-apa. maafkan mas di, mas janji ngga akan melakukan hal seperti itu lagi. mas janji di, kita bisa mulai dari awal semuanya di" kata mas Lukman membuatku terkekeh pelan.
"kenapa kamu malah ketawa, mas serius dengan apa yang mas sampaikan sama kamu di" lanjutkan membuatku semakin mengencangkan tawa.
"mas, mas setelah apa yang kamu dan keluarga kamu lakukan? telat mas! semuanya udah terlambat!" jawabku menekan kata terlambat dihadapan mas Lukman yang langsung terdiam mendengar perkataanku.
"maaf mas, sebaiknya kamu pulang karna sampai kapanpun aku ngga akan mungkin mau bersama kamu lagi. aku ngga akan mau memasuki lubang yang sama untuk kedua kalinya, andai suatu saat aku memaafkan kamu tapi bukan berarti aku memberikan kesempatan lagi mas. mulai sekarang, hubungan kita hanya karna ada Nayla dan juga Syifa didalamnya. tidak lebih dari itu" jawabku dengan lantang menatap mas Lukman dengan tatapan tajam.
"silahkan kamu pergi, karna aku rasa sudah ngga ada yang perlu dibahas lagi." lanjutku yang langsung melangkah memasuki rumah.
terdengar suara mobil berhenti dihalaman depan rumah mama, aku puh kembali membalik arah ternyata Rey sudah kembali dengan membawa mobil pengangkut barang yang lumayan besar.
"untuk apa lagi kamu kerumah ini?" tanya Rey dengan nada dingin, aku hanya melihat interaksi keduanya dai depan pintu tanpa mau menimpali perkataan Rey.
"kenapa kamu ambil semua barang-barang milikku?" tanya mas Lukman pada Rey yang hanya terkekeh mendengar pertanyaan mas Lukman.
"barang-barang kamu? tidak! aku hanya mengambil hak mbak Diah dan juga anak-anaknya, apa salah?" tanya Rey terdengar santai.
"tapi semua itu milikku, aku yang membelinya bahkan aku yang yang membayar cicilan sebagian barang-barang itu!" bentak mas Lukman menatap nyalang kearah Rey.
"karna itu tugas mu sebagai suami, oohh atau perlu aku ingatkan soal surat perjanjian pranikah kalian? oohh tidak! pasti mbak Diah juga sudah mengingatkan, iyakan? ngga mungkin dong karna kecelakaan kemarin kamu jadi amnesia alasan yang menjadikan mbak Diah mengambil semua barang dirumah kontrakan kalian" kata Rey yang masih dengan nada santai.
__ADS_1
"kalian memang keterlaluan!!" bentak mas Lukman dengan sedikit berteriak.
"jangan membentakku!!!" balas Rey dengan juga berteriak membuat wajah mas Lukman terkejut.
"kamu lupa apa yang udah kamu dan keluarga mu lakukan pada mbakmu yang malang itu? apa perlu aku jabarkan dihadapan para tetangga yang saat ini tengah menonton pertengkaran kita jika kamu berkhianat dengan perempuan lain disaat mbak Diah dengan susah payah bertahan dengan kamu ditengah keluargamu yang terus menghina mbak Diah?!!" bentak Rey sambil melangkah dengan pelan menghampiri mas Lukman yang justru melangkah kebelakang.
"jawab!!!" lanjut Rey dengan membentak dengan suara yang lebih keras membuat mama berlarian keluar rumah.
"ada apa ini di? tadi mama dengar kamu berdebat sekarang kenapa Rey yang malah meladeni lelaki pengecut itu" kata mama yang berdiri disampingku.
aku puh hanya terdiam tak ada niatan menjawab pertanyaan mama, kemudian mama pun menghampiri Rey yang terlihat wajahnya memerah menahan amarah yang memuncak pada mas Lukman.
"gara-gara kamu, gara-gara keluarga yang kamu banggakan itu. bapakku harus berpulang ditengah kami yang telah berjuang untuk kesembuhannya, kalo kamu mau tau!!!" teriak Rey membuat mas Lukman dan para tetangga terkejut dengan apa yang Rey katakan.
"Rey, sudah nak malu dilihat tetangga yang lainnya" kata mama menenangkan Rey.
"apa maksud kamu Rey? ngga mungkin ibu dan kakakku yang membuat bapak meninggal" jawab mas Lukman membuat Rey tak segan melayangkan tangannya diwajah mas Lukman hingga mengundang jerit histeris para tetangga dan juga mama yang berada disebelah Rey.
"jangan pernah membela keluargamu dihadapanku, lebih baik kamu pergi sekarang. dan selamat menjadi gembel dijalanan, aku pastikan kamu pun akan kehilangan perkerjaan yang keluargamu banggakan itu. kita lihat, akan sepedih apa hidupmu nanti Lukman yang terhormat!!!" kata Rey dengan nada menekan.
Rey pun meninggalkan mas Lukman yang masih mematung ditempatnya diiringi oleh mama dibelakangnya, saat sampai tepat disebelahku Rey pun menyuruhku untuk masuk mengikutinya kedalam rumah.
"masuk mbak" katanya yang langsung aku angguki.
"pak, tolong nanti aja dituruninnya tunggu orang ini pergi dulu" kataku pada supir pengangkut barang yang dibawa oleh Rey.
"baik mbak" jawab supir tersebut.
aku pun melangkah masuk kedalam rumah, dan melihat Rey yang sudah duduk dengan tenang disebelah Syifa dan juga Nayla yang asik dengan buah dipiring makannya.
"aku menemukan ini mbak" .......
bersambung.....
__ADS_1