
selesai memakan es krim hingga puas, kami pun melanjutkan untuk berbelanja beberapa potong baju untuk Syifa dan juga Nayla. kemudian saat jam makan siang, kami makan disalah satu restoran yang ada di mall. saat kami tengah menikmati makanan yang kami pesan, kami kembali bertemu dengan Billy dan juga istrinya.
mereka sama-sama makan direstoran tersebut, Billy pun menyapaku sesaat setelah mencarikan tempat duduk untuk sang istri.
"hai di, kamu disini juga?" tanyanya menghampiriku yang tengah makan bersama mbak Laras, mbak raya dan juga Nayla.
"iyaa" jawabku singkat setelah sesaat melirik Billy yang kini berdiri tepat dimeja kami.
"oohh anak kamu dua ya sama lelaki itu? masih bertahan sampai sekarang, hebat" katanya membuatku sedikit tersenyum.
"eemm bang, mas atau siapa pun Lo. mending Lo balik deh ke meja Lo, tuh liat bini Lo udah kaya ngeliat apa aja dimeja nya" kata mbak raya yang menang suka ngomong ceplas ceplos.
"oohh tenang aja, istri gue tau kok kalo gue menyapa kalian sebentar. seloowww" jawabnya dengan tawa kecil.
"bang, kita bisa selow. tapi liat nih muka bini Lo, asem kecut udah kaya nangka busuk" jawab mbak raya lagi membuatku sedikit mendelik dan melirik Billy dengan ekor mataku.
"iyaa nih, udah deh mending jauh-jauh aja gih. bikin nafsu makan Diah berkurang aja" kata mbak Laras menimpali perkataan mbak raya.
"emm kalo gitu gue balik ke meja gue dulu ya di, eh gue boleh minta nomer Lo kan di?" tanya Billy padaku.
"sorry, gak bisa" jawabku menolak permintaan Billy. bukan apa, aku hanya tak ingin membuat istri Billy salah faham terhadapku dan menuduhku sebagai pelakor nantinya.
"nah tuh kan Diah ngga mau ngasih nomernya sama Lo, dah deh mending sama Lo jauh-jauh sebelum macan mo ngamuk nanti" kata mbak raya yang sudah jengah dengan Billy.
"diem, gue gaada urusan sama Lo!" kata Billy menatap tajam mbak raya yang sedari tadi menjawab perkataannya.
"jelas ikut urusan gue, Diah itu jalan sama gue. jadi apapun yang menyangkut Diah pasti berurusan juga sama gue, faham Lo!" kata mbak raya membuat Billy langsung memutar arah menuju istrinya.
"Saiko itu laki, udah lagi jalan sama bini nya masih aja mepet perempuan laen. mana muka bini nya serem banget lagi kaya Kunti" kata mbak raya yang semakin kessal dengan Billy.
"udah-udah mbak, lagian orangnya juga udah balik ke meja nya kok. cepetan habisin deh makannya, terus kita balik" kataku yang langsung diangguki oleh keduanya.
__ADS_1
"aaahh gak asik kan, jadi hancur deh healing kita kali ini" kata mbak Laras dengan muka ditekuk.
"lain kali bisa mbak, sorry ya? abis mood aku udah ga enak banget hari ini" jawabku dengan jujur.
"oohh yaudah gapapa kok kalo begitu, yang penting kita udah sempet jalan walaupun cuma sebentar" jawab mbak Laras pada akhirnya.
akhirnya kami pun menyelesaikan makan dan aku pun menyelesaikan pembayaran makanan yang tadi kami pesan, lumayan juga untuk porsi makan kami berempat. setelah selesai, kami pun pulang dengan kembali menaiki taksi online yang dipesan mbak Laras.
"akhirnya sampai dirumah juga" kata mbak raya setelah kami sampai dirumah dengan selamat.
"iyaa Alhamdulillah" jawabku dengan senyum.
"masuk mbak, yuk nay" kataku menggandeng Nayla sementara stroler didorong mbak Laras.
"assalamualaikum" kata kami berbarengah mengetuk pintu yang tertutup.
"waalaikumsalam" teriak mama dari dalam rumah, tak lama pintu terbuka. terlihatlah mama membuka pintu dengan tersenyum.
"iyaa, ada yang merecok Bu" kata mbak raya yang begitu kesal dengan kejadian hari ini.
"ohya? siapa?" tanya mama melirikku.
"tau tuh Diah, katanya temannya waktu kerja dispbu" jawab mbak raya.
"oohh yaudahlah ngga usah dipikirin, orang masa lalu juga. mikirin masa depan aja, ngapain mikirin masa lalu" kata mama yang diangguki oleh mbak Laras dan mbak raya.
"betul itu, tapi tetep aja merubah mood Bu. orangnya itu loh, dih sok banget. kaya dia paling ganteng aja, mana ya Bu. dia kan udah punya istri eh masih sempet-sempetnya Deket ke kita didepan istrinya, nah muka istrilah tuh kecut banget udah kaya nangka busuk. apeh banget ngga sih Bu" kata mbak raya menceritakan pada mama.
"yaudahlah udah biasa kaya gitu, sini Syifa di dia kayanya capek. biar mama tiduri dikamar" kata mama. aku pun langsung menyerahkan Syifa pada mama agar dibawa kedalam kamar, Nayla pun mengikuti. sepertinya dia juga lelah setelah perjalanan tadi, sementara aku pun mengobrol lagi dengan mbak raya dan juga mbak Laras.
"eh di, emang lelaki tadi itu siapa sih?" tanya mbak Laras padaku. perempuan yang sudah tau siapa aku ini begitu penasaran dengan sosok Billy, aku pun hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
"bukan siapa-siapa, cuma masa lalu" jawabku membuat dahi nya menyerit.
"ngga percaya gue, kalo emang cuma masa lalu kenapa Lo jadi berubah mood begitu? eling di eling, pak bos Gus itu mau dikemanakan" kata mbak Laras membuat mbak raya yang tak tau apapun itu menyeritkan dahi.
"pak hamid? emang ada apa dia sama Lo di?" tanya mbak raya pada akhirnya. terpaksa aku pun menceritakan semua yang aku ceritakan pada mbak Laras, mbak raya pun sesekali menganggukan kepala mendengar ceritaku.
"ooohh gitu, terus kalo lelaki ini? kalo kata gue sih ya, Lo mending sama pak Hamid. Udeh katauan kan, dari akhlak bagus duit banyak orangtuanya juga sayang sama Lo sama anak-anak. sementara lelaki tadi, udah jelas punya istri aja masih sempet-sempetnya mepet perempuan lain. itu definisi lelaki bajingan yang jujur" kata mbak raya sambil memakan cemilan yang ia bawa sendiri.
"buat aku, saat ini belum waktunya memilih mbak. aku masih mau fokus dengan anak-anak, membahagiakan mereka dan menggantikan posisi ayahnya sekaligus ibu untuk mereka berdua." jawabku diangguki mbak raya.
"iyaa sih Lo bener juga, yaa kalo gitu gampang lah. Lo tinggal jauhin aja itu orang, gampang kan" kata mbak Laras yang juga aku angguki.
"iyaa emang mbak, makanya pas tadi dia minta nomer aku tolak" jawabku terkekeh kecil.
"untung Lo tipe perempuan yang ga gampang tergoda sama lelaki di, coba kalo Lo bodoh masih gampang tergoda kebobrokan lelaki. yaaahh bisa salah langkah lagi Lo" kaya mbak raya dengan frontal.
"iyaa makanya gue gamau nikah cepet-cepet ya karna ini, ngga semua lelaki itu bisa dipercaya. iyaa ngga sih Ray?" kata mbak Laras yang juga setuju dengan perkataan mbak raya.
"yaa kan ngga semua lelaki kaya gitu mbak, mungkin emang aku aja yang salah pilih. terlalu terburu-buru mengambil keputusan sampai akhirnya salah memilih pasangan" jawab tersenyum kecil.
"yang penting semuanya dijadiin pelajaran aja di, apalagi sekarang Lo punya Nayla sama Syifa. cari pasangan yang bener-bener bisa sayang juga sama mereka berdua bukan yang cuma mau sama ibunya aja" kata mbak Laras yang langsung aku angguki.
"iyaa mbak, aku juga berfikir begitu. makanya ya sekarang sudahlah, aku santai aja. toh jadi janda juga ngga begitu buruk" jawabku membuat keduanya tersenyum.
"iyaalah, hanya statusnya aja yang suka dipandang rendah orang lain. yaa kaya kita aja ya Ray, suka dibilang perawan tua. padahal kami hanya belum siap mental aja buat nikah, kadang aku juga heran sama orang-orang itu suka banget ngurusin hidup orang lain. belum nikah ditanya kapan nikah lah, dibilang perawan tua lah eh giliran udah nikah ditanya udah hamil apa belum, kapan mau hamil. duuuhhh ribet emang kalo dengerin mulut netizen mah" kata mbak raya membuatku terkekeh kecil.
"dan Lo tau yang lebih parahnya, kadanya udah nikah tapi belum hamil dibandingin sama yang lagi hamil setelah sebulan nikah tapi hamilnya udah tiga bulan. eehh dia gatau aja, kalo udah unboxing duluan baru dinikahin" kata mbak Laras membuat kami semua tertawa kencang hingga mengundang mama keluat dari kamar.
"jangan kenceng-kenceng dong, Nayla sama Syifa udah tidur" kata mama sambil mengintip dibagian pintu yang sedikit terbuka.
kami pun akhirnya memelankan suara kami, agar tak sampai kedengaran kedalam kamar.
__ADS_1
bersambung....