Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 8.


__ADS_3

"jangan begitu Sintia!!" kata mama menatap Sintia dengan kesal.


"hehe iyaa iyaa maa" jawab Sinta dengan cengiran khasnya.


memang selama ini mama selalu mengajarkan anak-anaknya memanggil sesuai urutan umurnya begitu pun kepada leha dan juga adiknya yang bagi Sintia adalah kakak sepupu bagi dirinya. jadi, Sintia memanggil leha dan adiknya dengan sebutan mbak dan juga mas. meskipun menurut silsilah sedianya adalah adik sepupu kami, karna bapaknya leha adalah adik dari bapak.


"mama lanjutin masaknya dulu ya biar asar nanti udah selesai" kata mama pada kami semua termasuk bapak, bapak pun hanya merespon dengan senyuman yang menawan.


"yaudah ma, jangan lupa ya ayam lengkuas aku ma" kata Rey berpesan.


"iyaaaa tenang aja, tapi kamu harus bantuin marut lengkuasnya" kata mama dengan senyum mengejek.


"yaaahh bukannya udah diparut dari sananya ya ma, kok harus marut lagi si" kata Rey dengan wajah berkeluh kesah.


"enak aja, kamu pengen ya kamu usaha laaah. gimana si" katanya memarahi Rey.


"ma, bukannya tadi belinya emang udah parutan ya ditukan bumbu lengkuasnya??" kata Sintia membuat mama memelototkan mata menatap anak bungsunya tersebut.


aku dan leha pun menahan tawa melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Rey karna kebohongan mama.


"mama bohongin aku yaa??" kata Rey pada mama yang langsung memutar bola mata malas.


"emang kenapa? lagian kamu itu bawel banget, nanti juga mama biarin ngga perlu diingetin juga" kata mama pada Rey yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"abis, Rey udah ga sabaran ma makan masakan mama yang paling enak" kata Rey mengeluarkan jurus andalannya.


"haaalaaahh alasan aja kamu itu, bilang aja kamu cuma merayu mama kan?!" kata mama memperjelas apa yang dimaksud oleh Rey.


"apa si ma, ngga. Rey beneran deh masakan mama itu emang enak, iyakan mbak, sin?" katanya meminta dukungan pada ku dan juga Sintia.


aku dan sintia yang ikut terbawa pun saling berpandangan dan kompak menganggukan kepala demi membantu Rey.

__ADS_1


"naaahh, kan bener apa kata Rey. Rey itu ga pernah bohong ma, Rey tuh anak yang jujur" kata Rey membela diri, membuatku tak sanggup lagi menahan tawa. akhirnya tawa pun terlepas dari mulutku dan juga Sintia.


"apaaaaaannnn" kata Sintia dengan nada mengejek sambil terkikik geli mendengar perkataan Rey.


"emang iyakan?!" kata Rey sambil memelototkan matanya membuat ancaman pada sintia, terpaksa Sintia pun menutup mulutnya dan menganggukan kepala.


"alaaahh udahlah, bosen ngomonrin Rey mulu. udah mama mau masak dulu lah, mama masak dulu ya pak" kata mama berpamitan yang hanya direspon anggukan kepala kecil oleh bapak.


mama pun melangkah kan kaki menuju kedapur yang letaknya dibelakang.


"kapan jadwal bapak terapi lagi Rey?" tanyaku pada Rey yang sibuk dengan ponselnya.


"Minggu depan kayanya mbak, kenapa?" tanyanya kembali.


"ooohh gapapa kok cuma nanya aja, gimana perkembangannya?" tanyaku lagi.


"sejauh ini si masih sudah lumayan bagus, bapak juga udah mulai bisa menggerakkan tangannya walaupun lemas. iyakan pak?" tanya Rey pada bapak yang menganggukan kepala.


ya, dulu bapak sangat senang menggendong dan menimang Nayla. bahkan membawanya kemanapun ia pergi, katanya sebagai penggantiku karna aku sudah tidak bisa diperlakukan sebagai anak kecil lagi. sungguh anak mana yang tidak merasa sangat bersyukur dianugrahi orangtua yang begitu amat menyayanginya.


aku menatap mata bapak yang langsung berkaca-kaca mendengar perkataanku, tak sadar air mata mengalir melewati pipinya.


"maaf ya pak, jangan sedih. aku, Rey, dan juga Sintia akan selalu ada untuk bapak. begitu juga mama" kataku pada bapak dan menghapus air mata yang berada dipipi tirusnya.


ku lihat leha pun mulai berkaca-kaca menatapku dan juga bapak, sedangkan Rey dan juga Sintia berusaha tak menampilkan wajah sendunya meskipun mata kedua nya berkaca-kaca dan mereka sengaja memainkan ponsel tapi aku yakin keduapun mendengar apa yang aku katakan pada bapak.


ya sebagai seorang anak yang masih tinggal dengan orangtuanya, apalagi salah satu dari keduanya sedang berusaha dan berjuang untuk sembuh. Rey dan juga Sintia dituntut agar bisa tegar, dan tak menampilkan wajah sedih atas apa yang menimpa bapak.


karna mama, Sintia, dan juga Rey adalah faktor penyemangat untuknya agar cepat sembuh, dan aku selalu meminta adik-adik ku untuk kuat dan tegar serta sabar dalam menghadapi bapak ataupun mama. kenapa mama? karna dari apa yang pernah Sintia sampaikan, jika mama kerap marah-marah jika sudah merasa benar-benar kelelahan mengurus bapak dan juga rumah sekaligus. tak jarang Sintia yang menjadi sasaran kemarahan mama, maka aku memintanya sedikit demi sedikit berubah dan mulai membantu mama mengurus rumah dan membantunya mengurus bapak. ternyata apa yang aku sampaikan beberapa waktu lalu didengar olehnya, Alhamdulillah mendengar apa yang dikatakan mama dan juga leha jika Sintia mau membersihkan kotoran bapak adalah suatu kemajuan yang bagus untuknya yang masih belajar.


"Rey, mbak boleh minta tolong?" tanyaku pada Rey yang langsung menoleh padaku dengan mata memerah.

__ADS_1


"apa mbak?" jawabnya dengan suara parau, aku tau sekali jika ia menahan kesedihan meskipun matanya tak bisa bohong.


"ngga, mbak cuma minta tolong telponin mas Lukman. tanyain dia pulang jam berapa dan jadi kesini atau ngga" kataku pada Rey yang langsung menganggukan kepala.


"iyaa mbak, aku keluar dulu kalo gitu" jawabnya masih dengan suara sedikit serak.


aku pun sedikit menganggukan kepala, tatapanku mengiringi langkah kaki Rey menuju kehalaman rumah.


"ha, ajak Nayla sama Nabil jajan gih. nih uangnya" kataku menyerahkan selembar uang dua puluh ribu kepada leha yang langsung diterima olehnya.


"yaudah kalo gitu, aku keluar dulu ya" kata leha yang langsung aku angguki.


"sin, sini.." kataku memanggil Sinta, ia pun langsung mendekat dan memeluk erat tubuhku dan juga bapak.


"kamu kenapa?" tanyaku pada Sintia yang menggelengkan kepala masih dalam pelukanku.


"ceritalah sin" kataku, ia pun langsung melepaskan pelukannya padaku.


"aku pernah bermimpi bapak meninggalkan kita mbak, dalam mimpi itu sangat nyata hingga aku ga bisa melanjutkan tidur. aku terus kepikiran hingga aku nangis sepanjang malem mbak" jawabnya membuatku melirik bapak yang memejamkan mata.


"sin, andai memang itu menjadi kenyataan. ikhlaskan, bapak atau mama bahkan kita pun akan kembali kepada pemiliknya. kita tidak bisa mendahului takdir, tapi kita bisa menerima takdir tersebut. andai memang sudah waktunya bapak untuk berpulang, maka teruslah berbakti padanya disisa umurnya. lanjutkan apa yang menjadi keinginannya, tunjukkan jika kamu mampu menjadi seperti apa yang ia inginkan" kataku pada Sintia yang sudah menangis tersedu-sedu.


"maafin sintia pak, maafin sintia kalo Sintia selalu buat bapak marah-marah, maafin sintia kalo Sintia sering ga nurut sama bapak. maafin sintia pak, Sintia janji akan jadi akan menjadi anak yang membanggakan untuk bapak" kata Sintia beralih ke hadapan bapak dan berlutut dengan kepala berada diatas lutut bapak.


bapak pun mengeluarkan air mata yang mengalir di pipinya dan menganggukan kepala.


"sudah, yang sudah biarlah jadi pelajaran. yang penting sekarang, kamu tunjukkan bahwa kamu mampu menjadi kebanggaan kami semua. akhlak dan akademik harus kamu perbaiki, mbak ngga minta kamu harus terbaik yang penting menjadi lebih baik dari yang sebelumnya sudah cukup" kataku kembali menasihati Sintia.


Sintia pun menganggukan kepala dan kembali membenamkan wajahnya dipundakku, aku tau sebenarnya Rey dan juga leha telah kembali tapi keduanya memilih untuk berdiam dihalaman hingga suasana kembali membaik seperti sedia kala.


____________________________________

__ADS_1


nulisnya air mata sampai mengalir, maaf ya guys😊🙏 maklumkan, tulisan ini diambil dari kisah nyata dan keadaan yang terjadi🙏


__ADS_2