
setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga puluh menit, kami pun sampai kembali ke halaman kantor mas Hamid.
"makasih ya mas, Rizal untuk makan siangnya dan juga makanan ini" kataku setelah turun dari mobil Rizal.
"iyaaa sama-sama" jawab mas hamid dengan tersenyum.
"kalo gitu, aku duluan naik ke atas ya mas?" kataku pada mas Hamid yang langsung menganggukan kepala.
setelah mendapatkan jawaban dari mas Hamid, aku pun melangkah menjauh dari parkiran menuju lantai dimana ruang kerjaku berada.
"wiiihhh ada yang habis makan keluar sama bos nih" kata mbak raya ketika aku sudah sampai didepan ruanganku, aku pun tersenyum menanggapi keisengannya.
"bawa apaan nih di, waaaahhh ini Lo sengaja bawain buat kita-kita nih?" tanya mbak Laras yang langsung aku angguki.
"iyaa mbak, itu buat kita ngemil sambil nyelesaiin laporan kita. Alhamdulillah rejeki dari si bos" jawabku membuat mereka semua menyambutnya dengan senang hati.
"waaahh Alhamdulillah, enak ya punya teman satu ruangan deket sama bos. jadi kecipratan rejeki kita" kata raya mengambil satu buah burger yang aku bawa.
"iyaa Alhamdulillah banget, sebelum ada Lo mana pernah kita makan sambil ngemil begini. yang ada mah kita makan siang sambil kerja, iyaa ngga?" kata mbak Silvi yang juga diangguki yang lainnya.
"iyaa nih di, makasih banyak loh ya. lumayanlah buat ganjel perut sampai makan malam dikos nanti" kata mas fahmi membuat yang lainnya pun terkekeh.
"iyaa sama-sama, makan aja. itu banyak kok, kalo kalian mau bawa, silahkan" kataku membuat mata keempatnya berbinar.
" yang bener loh di? kita boleh bawa nih bener?" tanya mbak Laras membuatku menganggukan kepala.
"waaahh rejeki anak kos yang Sholeh ini, makasih banyak ya di. lumayan hemat makan enak buat makan malem nanti di kos" jawab mas Fahmi membuatku terkekeh dengan tingkahnya.
"eehh tapi ngomong-ngomong Lo ngga diapa-apain kan sama si bos? kayanya tadi gue liat Lo juga keluar bareng bos rizal, iyaa ngga si guys?" kata mbak Silvi diangguki yang lainnya.
"ngga mungkin lah pak Hamid ngapa-ngapain aku mbak, kita aja makan siangnya bertiga kok. lagian, pak Hamid itu tau adab kok. dia kan lulusan Alazhar Mesir mbak, bapaknya aja pemilik pesantren dikabupaten sebelah. ngga mungkin anaknya berani macem-macem sama ank orang" jawabku membuat keempatnya membelalakan mata.
"hah? serius Lo orangtuanya pak Hamid pemilik pondok pesantren?" tanya mbak Laras.
__ADS_1
"iyaa bener lah mbak, ngapain aku bohong" jawabku sambil mengemil kentang goreng.
"waaahh berarti pak Hamid itu seorang Gus dong ya? anaknya pemilik pesantren, tapi kenapa dia ngga meneruskan pesantren aja. iya ngga sih, kan biasanya begitu?" jawab mbak Laras diangguki yang lain karna Mulu mereka penuh dengan makanan yang ada ditangan mereka masing-masing.
"iyaaa mbak, tapi mas Hamid ngga mau si katanya. dia lebih milih membangun usahanya sendiri, ya denger-denger si kepemimpinan pondok pesantren nanti akan dialihkan pada anak sahabatnya yang juga menjadi pendiri pesantren itu" jawabku sengaja menutupi yang sebenarnya.
"oohh jadi pesantren itu ada dua pemiliknya ya? iyaa sih lebih baik begitu jadi ngga ada perselisihan, ya gak sih?" kata mas Fahmi yang langsung aku angguki.
"emm Lo tau banyak ya di soal keluarganya pak Hamid" kata mbak raya membuatku tersendak minuman yang sedang ku minum, aku pun melirik mbak raya yang memicingkan mata melihat responku.
"pelan-pelan di, gue kan cuma nanya. masa sampe keselek bgitu" kata mbak raya.
"yaa abis mbak raya nanyanya begitu sih. jelas aku tau mbak, umi nya mas Hamid kan teman ibuku mbak" jawabku membuat yang lainnya menganggukan kepala.
"oohh gitu, pantesan aja pak Hamid kalo ngeliat karyawan perempuan kaya anti begitu. ternyata menjaga pandangan, oohh atau ada hati yang harus dijaga kali ya makanya ngga pernah sama sekali ngeluruk staff perempuan disini" kata mbak Silvi membuat yang lainnya terkekeh.
"yaa kali pak Hamid mau sama staff rendahan kaya kita gini, namanya gus itu pasti lah nyari jodohnya yang sepadan. yaa anak perempuan dari kiayi-kiayi pemilik pesantren lain begitu, apa sih sebutannya itu?" kata mbak Laras yang juga disetujui oleh mbak raya.
"yaa ngga juga sih mbak, beluk tentu juga kaya gitu tergantung jodohnya aja si menurut aku mah. tapi dari yang aku tau ya, uminya pak Hamid itu orangnya kalem si kalo urusan jodoh. ngga harus Ning juga, yang penting Sholehah" jawabku kembali memakan cemilan sambil mengerjakan pekerjaanku yang belum selesai.
"oohh gituuu. btw ini Lo beli dimana sih burgernya, enak banget loh" kata mbak Silvi bertanya.
"itu dicafe yang baru buka, ngga jauh dari sini loh mbak" jawabku membuat yang lain membelalakan mata.
"serius Lo? itu kan katanya mahal loh" kata mbak raya yang langsung aku angguki dengan ragu.
"masa sih mbak, tadi aku ga liat menu sih. orang menunya dipegang sama pak Hamid, ini juga makanannya atas rekomendasi dari pak Hamid" jawabku kembali membuat yang lain membelalakan mata.
"waaahh fiks ini mah, pasti pak Hamid ada rasa sama Lo di. gue yakin" kata mbak Laras yang langsung diangguki yang lainnya.
"yeee apaan si mbak, mulai deh. udah ah selesaiin dulu tuh kerjaan masih pada numpuk juga, makan terus" kataku yang semakin kesal karna merasa terpojok.
mereka pun lantas terkekeh melihat kekesalan ku, aku pun tak lagi menghiraukan apa yang mereka ucapkan. ku fokuskan kerjaanku agar selesai tepat waktu dan aku bisa segera pulang untuk bermain dengan kedua anakku dirumah.
__ADS_1
waktu pun terus berlalu, jam sudah menunjukan pukul empat sore. aku pun bersiap pulang karna semua kerjaan sudah selesai.
"aku pulang duluan ya mbak, mas" kata ku berpamitan pada keempat temanku yang lainnya.
"udah kelar semua di?" tanya mbak Laras yang langsung aku angguki.
"udah kok mbak, tenang aja beres semua. kalo begitu aku duluan ya, assalamualaikum" kataku melangkahkan kaki meninggalkan ruangan kerjaku.
tetapi sampai dilobby, aku kembali bertemu dengan mas Hamid dan juga Rizal. keduanya sama bersiap meninggalkan kantor untuk kembali kerumah.
"di, mau pulang juga?" tanya Rizal yang langsung aku sambut dengan anggukan kepala.
"iyaa pak, saya mau pulang. lagi pesen ojol" jawabku dengan tersenyum kecil.
"kalo gitu bareng kita aja, ngga usah pesen ojol aja. iyakan mid?" jawab Rizal membuat mas Hamid membulatkan mata.
"ngga usah pak, saya pesen ojol aja. bapak sama pak Hamid duluan aja gapapa kok" jawabku sambil tersenyum.
"emm kalo kamu ga keberatan biar kamu ikut kita aja, aku gapapa kok. sekalian mau mampir jenguk bude, ngga enak semalam ngga bisa datang ketahlilan" kata mas Hamid menundukkan kepala.
"oh boleh kalo begitu, aku cancel aja ojolnya" jawabku yang langsung dilarang oleh mas Hamid.
"eehh jangan dicancel, biarkan dia sampai dulu nanti tetap dibayar aja. kasihan kalo dicancel, itu sama aja kita menghambat rejekinya" kata mas Hamid membuatku mendongak, kami pun saling menatap selama beberapa detik sebelum mas Hamid membuang pandangan lagi.
"emm, baiklah kalo kalian ngga keberatan menunggu beberapa menit" jawabku yang merasa kikuk berada diantara beberapa orang ini.
"yaudah kalo begitu, gue ambil mobil dulu diparkiran ya mid" kata Rizal yang melangkah menuju parkiran mengambil mobil miliknya yang disimpan disana.
"jangan lama-lama zal" teriak mas Hamid sedikit kencang.
Rizal pun hanya mengacung kan jempol tangan nya sebagai jawaban karna sudah melangkah jauh.
bersambung.
__ADS_1