Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 64.


__ADS_3

"nah itu kamu tau, kamu itu yang seharusnya sadar diri. jangan terlalu banyak tingkah karna kamu hanya mennantu, dan hanya orang lain dalam kehidupan Lukman yang ngga sengaja dinikahi dan diberikan nafkah. beda dengan statusku dan juga ibu sebagai keluarganya" kata kak Yuni membuatku terpana sedikit kemudian akupun terkekeh kecil sebagai respon atas apa yang kak Yuni katakan.


"iyaa tentu saja, aku pun ga pernah melarang mas Lukman memberikan uang pada ibu. iyakan mas? tapi kamu, memangnya kak Yuni janda sampai harus mas Lukman yang bertanggung jawab pada hidupmu. kak, kak selama ini kalian berkoar koar keorang-orang jika kamu diberikan uang suamimu empat juta sebulan dan uang kontrakan mu itu dibayarin oleh mertuamu bahkan kamu juga bilang kesemua orang jika suamimu memberikan modal yang banyak bahkan sampai membelikan mesin cetak yang harganya mahal. tapi, kenyataannya bahkan untuk makan aja kamu harus kerumah ini meminta setiap harinya. apa kamu ngga malu kak?" jawabku dengan santai membuat kak Yuni memebelalakan mata.


"kamu nyimpahin suamiku mati dan aku menjadi janda begitu, hah! kurang ajar" kata kak Yuni yang akan melayangkan tamparan ke pipi ku, namun dengan sigap aku pun menangkap tangannya dan menekannya sekuat tenaga hingga ia mengaduh kesakitan.


"aduuhh, aduuhh sakit. Lukman ini sakit man, mamaaaaa" teriaknya membuat ibu mertua pun menghampiri kami yang masih terus berdebat.


"Diah, lepasin tangan kamu dari anakku. kurang ajar kamu ya udah berani berbuat kekerasan pada Yuni!!" kata ibu mas Lukman membentakku, semantara mas Lukman hanya bisa diam melihat tindakku yang melawan kakaknya yang akan menamparku. ia pun tak berusaha membelaku ataupun kakaknya, dia hanya diam mungkin tak percaya aku akan melakukan ini.


"kenapa Bu? anak ibu ini yang sudah dengan lancang menaikkan tangannya kepadaku, aku hanya membela diri. sakitkan?" kataku sambil memelintir tangan kak Yuni sekuat tenaga.


"adduuuhh sakiittttt, Lukman! man! malah diam aja, hentikan ini istri kamu kalo ngga tangan ku bener-bener bisa patah karena dia" kata kak Yuni dengan berteriak membuat mas Lukman tersentak kaget.

__ADS_1


"aduuuhh ada apala....gi, yaampun kamu datang lagi! ngga puas kamu udah saya maki-maki sekarang bikin keributan lagi disini, bikin berisik aja. liat nih Nayla sana adiknya lagi tidur, kalian ini ga punya perasaan banget" kata emak yang masuk kedalam rumah melalui pintu belakang, mungkin karna mendengar suara teriakan kak Yuni yang meminta tolong pada mas Lukman.


"Diah, sudah di. lepaskan kasian kak Yuni, nanti kalo tangannya patah kamu juga yang repot bisa diperkarakan kasuas penganiayaan" kata mas Lukman membuatku terbahak.


"bahkan andai aku dipenjara asalkan dia tak mempunyai tangan pun aku dengan senang hati memasuki tempat laknat itu mas, dan kalo pun aku akan masuk penjara aku sudah pasti akan membawanya dan juga kamu ikut dengan ku kesana" jawabku membuat mas Lukman diam dan tak bisa berkata-kata lagi.


"Diah, nak lepaskan. ya lepaskan, kasian kakakmu nak. ngga baik berantem didepan anak-anak dan juga orang lain seperti ini, semuanya bisa dibicarakan baik-baik" kata ibu mas Lukman membuatku memicingkan mata.


"apa kak, sakit? sakit kan, ini ngga sebanding dengan perkataanmu yang terus menghinaku. sudah aku bilang berkali-kali kan kalo akan tidak akan pernah membiarkan kalian seenaknya menghinaku dan membodohiki sepeti dulu, aku istrinya mas Lukman dan aku berhak melakukan apapun termasuk meminta semua gaji mas Lukman. itu adalah hal anak-anak dan aku, seperti apa yang diberikan suamimu pada mu dan juga anak-anakmu." kataku sambil melihat kak Yuni yang masih meringis hampir mengeluarkan air mata mengaan sakit karna pelintiran yang aku tekan terus menerus.


aku pun mendorong kak Yuni dengan sekuat tenaga hingga dia jatuh terjerunub dihadapan ibu mertua yang langsung ditangkap oleh ibu mertua agar kepalanya tak membentur lantai.


"kamu sudah kelewatan di, ngga seharusnya kamu melakukan ini pada anak perempuanku. seharusnya kamu sadar diri dan berterimakasih karna aku sudah merestuimu memasuki keluarga kami, tapi ini balasanmu. dasar ngga tau diuntung dan ngga tau diri, mantu ngga berguna!!" bentak ibu mertua sambil menatapku dengan tajam, dia mulai menunjukkan sifat aslinya dihadapan semua orang. aku hanya terkekeh mendengar perkataan ibu mertua yang begitu memojokkanku.

__ADS_1


"Bu, ibu kalo pun ibu ngga merestui aku fikir itu jauh lebih bagus. bukannya dulu ibu yang mohon padaku untuk menerima lamaran anak ibu yang sudah tua tapi ngga kunjung mendapatkan jodohnya, sekarang kalo ibu menyesal menjadikan saya menantu silahkan ajukan diri pada mas Lukman agar ia menggugat cerai saya atau setidaknya katakan talak untuk saya saat ini juga dihadapan semua orang. bereskan? saya juga ngga akan menolak Bu" jawabku menantang ibu mertua yang langsung membuat mas Lukman membelalakan mata.


"apa-apaan kamu Diah, aku ngga akan menceraikan kamu. ngga akan pernah!!" jawab mas Lukman dengan suara pelan menahan bentakannya padaku dihadapan semua orang.


"lantas bagaimana mas, ibumu sendiri yang bilang ia akan membuatmu menceraikan aku. apa aku salah sekarang aku menantangnya" jawabku pada mas Lukman yang langsung menatap sang ibu.


"sudah Lukman ceraikan saja dia, lagipula masih banyak perempuan didunia ini yang pasti mau dengan kamu. penghasilan mu banyak, kamu juga sudah punya semuanya isi walaupun rumah mengontrak toh nanti gajimu bisa untuk menyicil rumah" kata ibu mas Lukman membuatku tertawa sinis.


"ngga akan ma, aku ngga akan pernah meninggalkan ataupun menceraikan diah. apa mama lupa apa yang sudah Lukman tanda tangani sewaktu diadakannya rapat pra pernikahan dirumah Diah? Lukman juga menandatangani surat perjanjian pranikah ma, disana tertulis jika semua barang yang Lukman beli setelah menikah akan menjadi hak Diah begitupun dengan anak-anak. Lukman ngga bisa merawat mereka ma, karna Lukman sudah menandatangani surat itu diatas materai. lagi pula, andai Lukman bercerai dengan Diah dan menikah lagi belum tentu Lukman mendapatkan istri seperti Diah yang bisa menerima Lukman apa adanya apalagi status Lukman nantinya pasti akan berubah menjadi mantan nara pidana" jawab mas Lukman menatap mata sang mama yang menatap kesal ke arah nak lelakinya tersebut.


"itulah kebodohan kamu, kenapa dulu kamu mau menandatangi surat perjanjian itu. kamu sendiri kan yang kerepotan, lagian mana mungkin mereka masih tetap memenjarakan kamu semantara semua uang kamu sudah kamu berikan pada Diah. jangan bodoh mau terhasut dengan perkataan wanita laknat ini".......


bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2