
pada malam harinya, tepat setalah isya jamaah masjid dan para undangan dari tetangga sekitar pun sudah datang memenuhi teras rumah mama. pengajian dipimpin oleh salah satu ustadz yang menjadi imam dimashid tersebut, acara pengajian pun selesai tepat pukul sembilan malam. setelah semua orang pulang, didalam rumah masih terdapat keluarga dari bapak dan juga mama yang memenuhi ruang tamu. begitu juga karna adanya bude dan juga pak deh, sepupu dari bapak.
"maaf ya mbak, aku baru sempet datang. karna aku puh baru tau jika mas Jono sudah berpulang" kata budeh tari yang langsung dijawab anggukan oleh mama.
"iyaa gapapa mbak, aku Yo wes ikhlas kehilangan mas Jono. doakan biar beliau tenang disana" jawab mama dengan sedikit senyum.
"pasti mbak, mas Jono orang baik. in syaa Allah beliau pasti ditempatkan ditempat terbaik" jawab budeh.
mama pun tersenyum menatap satu persatu kerabat bapak yang datang kerumah kami, mata mama pun bertabrakan dengan mata pakdeh bibit yang memandang mama dengan tatapan sinis.
"oiyaa mbak, maaf saya dengar pemakamannya pembayarannya sangat mahal. memang mbak menguburkan dimana?" tanya budeh tari.
"dimakamkan dekat kecamatan mbak, ntah saya juga ngga begitu tau jelas. karna yang mengurus semuanya Edi, saya juga tak merasa mengeluarkan uang sedikitpun" jawab mama yang langsung diangguki oleh bude tari.
"iyaa yang saya heran kan loh, masa iyaa biaya pemakaman hampir sampai sepuluh juta begitu. apa Yo ngga kebangetan, iyaa kalo yang mau dimakamkan orang mampu. kalo orang yang ngga mampu bagaimana nasibnya" jawab bude tari.
"iyaa yaa bude, soalnya tadi kata Simbah yang TPU Deket kelurahan itu udah penuh. jadi pak lek Edi minta dimakamkan di Deket kecamatan aja, kami juga gatau si totalnya itu habis berapa. karna pak lek Edi berurusannya sama Rey tadi" jawabku membuat bude tari menganggukan kepala.
"iyaa Alhamdulillah, untung anakmu Rey sudah sukses mbak. jadi ngga bingung biaya pemakamannya" jawab bude tari yang langsung dibalas senyum oleh mama.
"iyaa mbak Alhamdulillah, padahal tadi ada orang yang sangat takut kalo aku sampai pinjam uang ke mereka. karna mbak kan tau dulu aku termasuk orang yang sangat tak mampu dari segi ekonomi" jawab mama membuat bude tari membelalakan mata.
"hah, masa ada yang kaya gitu?" tanya budeh tari yang langsung diangguki oleh mama.
"yaa ada mbak, mungkin mereka pikir karna anak pertamaku udah nikah dan anak keduaku masih baru kerja jadi mereka menganggap kami masih semiskin dulu. padahal, waktu kami menikahkan Diah aja kami mampu memberikan pesta untuknya meskipun baru pertama kali dalam keluarga kami. apalagi ini yang memang untung tanda bakti anak-anak pada bapaknya untuk terakhir kalinya" jawab mama yang juga aku setujui.
"iyaa mbak bener banget, kok ada ya orang yang ngga berperasaan sepeti mereka. masih aja mengganggu orang yang padahal ngga pernah mengganggu mereka" jawab bude tari dengan raut wajah penasaran.
"iyaa begitulah mbak mungkin orang itu lupa dari mana mereka berasal, lagian mungkin mereka ngga merasakan hidup susah jadi seenaknya aja menghina orang lain" jawab mama dengan senyum kecil.
"udah lah gapapa, toh lagian buktinya kamu bisa kan membuktikan sama mereka kalo kamu ngga butuh pertolongan mereka. iyakan?" jawab bude tari membesarkan hati mama.
"iyaa Alhamdulillah dalam hal ini aku punya anak yang bisa diandalkan dan mereka menjadi anak-anak kebanggaan ku saat ini" jawab mama sembari tersenyum menatap bude tari yang juga tersenyum haru.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini rejeki kamu mbak bisa mendidik anak-anak dengan sangat baik hingga bisa membanggakan orangtuanya disama tua. mereka juga bisa membungkam mulut orang jahat yang menghinanya" jawab bude tari membuatku menarik sudut bibirku.
"iyaa bener bude, itulah tamparan terbesar bagi orang yang selalu menghina orang lain. melihat orang yang dihinanya bisa lebih sukses dari dirinya sendiri" jawabku dengan menggebu.
"oalaah kamu dari tadi dengerin bude sama mama mu ya di, pantesan aja kamu kayanya gebu banget ngomongnya. sabar ya di, kesabaran pasti membuahkan hasil yang baik" jawab bude tari membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa bude, pasti" jawabku dengan tersenyum lebar.
"oiyaa anak-anak kamu mana di?" tanya bude tari mempertanyakan keberadaan Nayla dan juga Syifa.
"ada kok bude dikamar Sintia, udah pada tidur tadi aku kelonin" jawabku sembari tersenyum.
"yaah padahal bude baru kali ini kan kesini ngeliat anak-anak kamu, coba bangunin dan panggil kesini dong di. bude kan juga mau lihat mereka" kata bude tari.
"mendingan mbak kekamar sintia aja mbak, kasian kalo anak-anak dibangunin jam segini nanti susah lagi tidurnya. dan lagi juga nanti malahan rewel" jawab mama yang juga aku benar membuat bude tari mengerucutkan bibirnya.
"iyaa juga si, yaudah deh kalo gitu aku kekamar sintia ya mbak. yuk di anterin bude kekamar sintia" kata bude tadi yang langsung membuatku mengikuti langkahnya yang terburu-buru.
"iyaa bude itu cuma ngga sabar aja buat liat anak kamu di, makanya pengen cepet masuk kekamar sintia. dimana si kamarnya?" tanya bude tari dengan tidak sabar.
"ini sebelah sini bude" kataku mengarahkan ketika tepat didepan kamar Sintia.
"nah itu mereka udah pada tidur kan bude" kataku pada bude tari yang tersenyum sangat antusias.
"waahh anak kamu dua di? siapa namanya yang kecil ini?" tanya bude tari padaku sambil melangkah mendekati Nayla dan juga Syifa.
"yang kecil Syifa bude, kalo yang gede bude udah kenal lah. kan udah pernah ketemu walaupun cuma waktu lebaran" jawabku sembari terkekeh kecil.
"iyaa si, tidurnya pules banget. kamu lahiran kedua normal?" tanya bude ya g langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"secar bude" jawabku dengan singkat.
"kenapa secar? emang ada masalah sama kandungan kamu?" tanya bude tari yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"ngga ada si bude, aku juga ngga tau jelas kenapa. tapi yang pasti air ketuban aku tuh udah rembes duluan bude dan itu banyak banget, tapi aku sama sekali ngga ngerasain mules atau apa loh bude" jawabku membuat bude tari membulatkan mulut seperti huruf O.
"oohh begitu toh ceritanya,emang selama ini kamu ngga pernah USG?" tanya bude tari.
"aku USG cuma sekali aja bude waktu itu, terus ngga pernah USG lagi" jawabku membuat bude tari membelalakan mata.
"loh kenapa gitu? emang suami kamu ngga ngasih uang untuk USG janin?" tanya bude tari dengan mata membola.
"eemm,,,,," aku pun hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"masyaallah, kenapa bisa begitu. ah iyaa, bude juga baru inget beberapa bulan yang lalu kayanya bapak kamu pernah bilang kalo kamu pasti dalam masalah besar suatu saat. apa itu cuma firasat bapak kamu aja ya di?" kata bude tari membuat dahiku menyerit heran.
"maksudnya gimana bude, emang sebelumnya bapak pernah bilang apa aja sama bude?" tanyaku pada bude tari.
"ngga bilang apa-apa si, bapak kamu hanyaerasa kalo kamu ngga mungkin baik-baik aja. tapi kamu gapapa kan di? kamu baik-baik aja kan sama suami kamu?" tanya bude tari seketika membuatku terdiam.
"hei di, ditanyain kok malah diam. gapapa kan kamu?" tanya lagi dengan sedikit agak keras.
"iyaa gapapa kok bude, aku baik-baik aja kok" jawabku dengan sedikit santai.
"ooohh,, itu koper siapa di?" tanya bude tari yang ternyata memperhatikan koper yang ada didalam kamar tersebut.
"eemmm ngga tau bude" jawabku berbohong, aku puh menggit bibir bawah ku karna sudah berani berbohong pada bude tari.
"ooohh" jawabnya seolah mempercayai perkataanku.
"eehh ada bude tari, lagi liat anak mbak Diah ya?" tanya sintia yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.
"iyaa sin, kan bude belum ketemu sama anak kedua mbakmu ini" jawab bude tari menatap Sintia yang tersenyum dan menganggukan kepala.
"mbak, koper kamu taruh di Deket meja belajar itu aja si mbak. jangan ditengah-tengah begitu, bikin pemandangan merusak mata aja" kata Sintia membuatku terbelalak karna Sintia mengatakan koper itu milikku saat masih ada bude tari dikamar ini.
bersambung......
__ADS_1