
POV outhor.
sementara Hamid yang kini telah sampai didepan rumah yang selama ini ia huni pun turun dari mobilnya dengan senyum mengembang, itu semua membuat asisten yang juga sahabat dekatnya sejak kecil itu menyeritkan dahi.
"kenapa kamu senyam senyum seperti itu Gus?" tanya Rizal sang asisten sekaligus sahabat Hamid.
"ah mau tau aja kamu, kenapa memangnya kalo saya senyum-senyum" jawab Hamid mendudukkan diri tepat disebelah Rizal.
"gapapa si Gus, cuma aneh aja. selama ini Gus kan terlalu datar, tiba-tiba entah dari mana Gus malah senyum-senyum ga jelas. jangan-jangan gus kesambet" kata Rizal membuat mata Hamid terbelalak.
"astagfirullah jangan sembarang aja kamu zal,! aku senyam senyum karna aku bahagia, aku bahagia karna bertemu lagi dengan dia zal" kata Hamid membuat tautan diwajah Rizal semakin bertambah.
"dia? siapa maksud kamu?" tanya Rizal dengan wajah mulai serius.
"Sadiyah, kamu ingat kan? anak perempuan yang suka kamu usili langsung menangis?" tanya Hamid membuat Rizal menganggukan kepala.
"iyaa iyaa aku ingat, jadi kamu udah bertemu dengan dia? dimana?" tanya Rizal penasaran.
"ternyata dia tinggal ngga jauh dari sini, selama ini kita ngga pernah mencarinya tapi ternyata dia memang berada didekat kita. aku baru saja dari rumah nya untuk kedua kalinya, setelah pertemuan pertama kami saat kemarin malam bersama Abi dan juga umi" jawab Hamid dengan mengembangkan senyum.
"Abi dan umi? jadi, Abi dan umi juga udah bertemu dengan keluarga pak Jono sahabat beliau?" tanya Rizal disambut anggukan kepala oleh Hamid.
"iyaa sudah, tapi ternyata pak Jono sudah tiada beberapa hari yang lalu. tepatnya sudah delapan harian, dan Abi tak sempat bertemu dengan beliau. padahal beberapa hari sebelum beliau meninggal Abi sempat bermimpi tentang pak Joko" jawab Hamid membuat Rizal terbelalak.
"apa karna soal persantren itu?" tanya Rizal yang mendapat anggukan dari Hamid.
"tapi aku juga tak tau, hanya soal pesantren atau ada hal lain yang memang hanya mereka ketahui. yang aku tau dari cerita Abi, sejak anak-anak pak Jono kecil mereka selalu hidup serba kesusahan. padahal selama ini pak Jono memiliki beberapa saham dan juga keuntungan dari pesantren yang selama ini Abi dan umi simpan, tapi karna kita ngga pernah berhasil menemukan beliau akhirnya mereka hidup serba kesusahan" jawab Hamid tenggelam dalam cerita Abi dari umi.
__ADS_1
"kasihan sekali, lantas bagaimana keadaan keluarga mereka setelah kepergian pak Jono?" tanya Rizalembuat Hamid mengembangkan senyum.
"kamu tau zal, Rey? anak yang terakhir kalo kita lihat masih bayi itu sekarang sudah sukses, dia bekerja sebagai asisten direktur di PT anugrah. lebih lucunya lagi, PT anugrah salah satu perusahaan tempat dimana pak Jono memiliki saham yang juga tak sedikit" jawab Hamid membuat Rizal membelalakan mata.
"apa? kamu yakin Gus?" tanya Rizal kaget yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Hamid.
"tentu aja, buat apa aku berbohong. bahkan kamu tau, sadiyah atau saat ini dipanggil Diah. dia hanya lulusan SMK zal, dia yang seharusnya mendapatkan beasiswa undangan disalah satu universitas sengaja ngga mengambilnya demi bekerja untuk mengumpulkan uang agar adik-adiknya bisa tetap bersekolah dan Diah juga membuat Rey itu bisa mendaftar disalah satu kampus dengan uang hasil gajinya bekerja."kata Hamid membuat Rizal menggelengkan kepala.
"subhanallah, kerjasama yang bagus." jawab Rizal yang diangguki oleh Hamid.
"iyaa kamu benar, sayangnya rumah tangga nya tak berjalan mulus" kata Hamid membuat dahi Rizal kembali menyerit.
"dia udah menikah?" tanya Rizal disambut anggukan kepala oleh Hamid.
"sudah, tapi setauku sekarang pun sedang dalam proses perceraian" jawab Hamid membuat Rizal terbelalak.
"menurut Abi, selama ini suami Diah memakai sesuatu yang ga seharusnya untuk membuat Diah menurut padanya. sampai Diah hanya bisa diam diperlakukan seperti apapun oleh mertua dan juga iparnya, lebih parahnya lagi Diah juga diperlakukan seenaknya oleh suaminya" jawab Hamid dengan mata berembun.
"diperlakukan seenaknya bagiamana Gus" tanya Rizal.
"kepo kamu, kaya perempuan! aku juga gatau lah, aku ga pernah menanya sama Abi, aku hanya dengar apa yang Abi katakan pada umi tanpa bertanya apapun" kata Hamid dijawab anggukan kepala oleh Rizal.
"lantas kamu bagaimana Gus? bukankah selama ini gus menunggu dia? apa Gus akan membantu dia secara terang-terangan dan mendekatinya, apa dia punya anak Gus?" tanya Rizal diangguki oleh Hamid.
"dia punya anak, tapi ntah bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengan mereka karna sepertinya Rey dan juga Bu Siti membatasi ku jungan aku kerumah mereka" kata Hamid dengan wajah lesu.
"hahahahahhaa" Hamid pun tertawa melihat wajah Hamid yang seperti orang frustasi hanya karna tak diizinkan bertamu.
__ADS_1
"kenapa kamu ketawa, memangnya ada yang lucu?" tanya Hamid.
"ngga, sama sekali ngga ada yang lucu. cuma sangat lucu melihat wajah Gus yang seperti itu" jawab Rizal yang langsung mendapat lemparan bantal dari Hamid.
"serius, yang benar lah zal" kata Hamid.
"ini saya serius Gus, lagian Gus bagaimana. jelas aja mereka membatasi kunjungan Gus, kan gusbtau sendiri status Diah belum jelas. tentu saja mereka memikirkan gunjingan tetangga, apa kata mereka jika belumresmi bercerai tapi keluarga sudah menerima orang lain dalam kehidupan mereka. ya walaupun dirumah itu status Gus sebagai tamu, tetap saja pasti akan ada gunjingan pada keluarga Diah" kata Rizal yang langsung dibenarkan oleh Hamid.
"iyaa benar juga apa kata kamu, sebaiknya saya memang harus jarang-jarang datang kesana kalo tidak mau keluarga mereka jadi gunjingan tetangga" kata Hamid yang juga diangguki oleh Rizal.
"betul itu Gus, kecuali nanti kalo memang sadiyah sudah resmi bercerai dengan suami dan sudah selesai masa Iddah nya. gus baru boleh terang-terangan mendekati dia lagi" kata Rizal kembali menampilkan senyum menggoda pada Hamid.
"tapi bagaimana jika umi ngga setuju ya, selama ini aku selalu disuruh cepat menikah oleh umi tapi umi selalu ngga setuju dengan wanita pilihan aku" kata Hamid.
"ya jelas aja umi ngga setuju Gus, lah wong wanita yang Gus bawa pakai jilbab seperti telanjang" jawab Rizal yang langsung mendapat pelototan mata dari Hamid.
"apa, pelotat pelotot. bener kan? coba kalo Gus membawa wanita yang tertutup atas sampai bawah, pasti umi setuju. yaa setidaknya jika dibawa keluar rumah, kalo didalam rumah terserah deh" kata Rizal yang langsung kembali melanjutkan pekerjaannya.
"aahh sudahlah, kembali saja lanjutkan kerjaan kamu. awas jangan sampai ngga selesai karna itu untuk meeting besok siang" kata Hamid yang langsung meninggalkan Rizal menuju kamarnya.
"huuh dasar Gus edan" gerutu Rizal setelah Hamid tak terlihat.
sementara didalam kamar, Hamid puh merebahkan tubuhnya. dia memejamkan mata mengingat masa kecilnya yang sangat suka melihat seorang gadis dijahili oleh Rizal yang awalnya biasa saja sampai akhirnya anak perempuan itu menangis dan mengadu pada umi nya.
"akhirnya kita bertemu lagi Diah, ngga sia-sia aku menunggumu dan mendoakanmu dalam setiap sejudku. terimakasih yaallah kau telah kembali mempertemukan kami" gimana Hamid sambil memejamkan matanya.
bersambung.....
__ADS_1