Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 120.


__ADS_3

aku pun terkejut dengan perkataan umi Hamidah, tak menyangka beliau bahkan sampai berpikir seperti itu. padahal, aku tak pernah mempermasalahkan semuanya. aku anggap, apa yang terjadi padaku dan juga keluargaku adalah takdir dari Allah.


"ngga umi, umi ngga salah apapun. semuanya memang sudah digariskan seperti ini, kita sebagai manusia hanya bisa menerima dengan lapang apa yang sudah ditentukan oleh Allah umi. bukankah Allah sebaik-baiknya pembuat skenario dalam kehidupan?" kataku membuat mama dan juga yang lainnya tersenyum, tapi tidak dengan umi Hamidah yang masih terdengar isakan dari mulutnya.


"Diah betul umi. saat ini kita sudah bertemu, bukankah kita hanya tinggal mengikuti skenario Allah untuk masa depan. bukan lagi mengingat kebelakang" kata mas Hamid berusaha menenagkan umi Hamidah.


"iyaa mid, umi tau. tapi tetap saja rasa nya dada umi sesak dekali mid, baru kali ini umi bisa menumpahkan segalanya setelah belasan tahun" jawab umi Hamidah dengan suara parau.


"sudah sudah midah, tak perlu sampai seperti itu. kami ikhlas menjalani semua takdir yang sudah Allah tentukan, tak perlu diungkit apa yang sudah lewat. saat ini yang perlu kita lakukan adalah menjalani skenario selanjutnya yang sudah Allah rancang untuk kita" jawab mama membuat ku juga menganggukan kepala.


"makasih ya Siti" kata umi Hamidah menghapus sisa air mata dipipinya.


"iyaaa, sudah. sekarang ayo makan lagi, ini kamu bawa cemilan micin semua kaya gini banyak banget." kata mama memperlihatkan satu persatu jajanan yang dibawa oleh umi Hamidah dan juga mas Hamid.


"hehe maaf ya bude ini Hamid yang beli, soalnya hamid juga pengen ngerasain jajanan kaya gini bude" jawab mas Hamid dengan menggaruk tengkuknya.


"loh emang mas Hamid ga pernah beli jajanan kaya gini kah?" tanya Sintia pada Hamid sambil melahap toppoki yang sedari tadi dihadapannya.


"ngga pernah dek sin, makanya ini mas nyoba beli padahal ngga tau kalian suka atau ngga." jawab mas Hamid tanpa menatap Sintia yang tersenyum geli mendengar jawaban Hamid.


"hihi kalo aku mah emang jajanannya kaya gini terus mas, ini emang jajanan pinggir jalanan yang paling banyak diminati. makanya penjualnya banyak, bahkan sangking banyaknya biasanya satu tempat itu ada tiga sampai empat pedagang" jawab Sintia yang juga diangguki oleh Hamid.


"iyaa kamu bener dek sin, ini juga tadi mas Hamid beli ditempat yang beda-beda. yaa karna pengen tau aja si rasanya, apalagi itu tuh yang tadi apatuh namanya ci-cilung apa ya kalo gasalah" jawab mas Hamid dengan sedikit terbata.


aku pun hanya sesekali terkikik mendengar percakapan antara mas Hamid dan juga Sintia, hingga akhirnya mas Hamid mempertanyakan padaku soal hari pertama memasuki kantor.


"Diah, bagaimana tadi dikantor? apa sudah diberi tahukan tugas kamu dan pekerjaan kamu apa?" tanya mas Hamid padaku.


"sudah kok mas, tadi saya sudah bertemu dengan staff HRD dan juga kepala staff bagian administrasi. saya ditugaskan disana" jawabku membuat mas Hamid menganggukan kepala.


"gapapa kan sementara kamu disana? karna belum ada bagian lain yang kosong" jawab mas Hamid mambuatku tersenyum kecil.


"gapapa kok mas, itu juga sudah syukur Alhamdulillah. yang penting saya bisa mendapatkan pemasukan untuk kebutuhan anak-anak" jawabku dengan menundukkan kepala.


"apa ngga sebaiknya kamu lanjutkan kuliah saja Diah? mumpung anak-anak juga masih kecil, jadi kamu masih bisa meneruskan kuliah kamu yang sempat tertunda" kata umi Hamidah membuatku tersentak.

__ADS_1


"mana mungkin umi, bagaimana nanti dengan Nayla dan juga Syifa jika kuliah. ngga mungkin saya menitipkan mereka seharian bersama mama dirumah, apalagi saya juga kerja. otomatis kalo saya tambah kuliah hampir 12 jam saya diluar rumah, saya jadi ngga ada waktu untuk mereka" jawabku menatap Syifa dan juga Nayla secara bergantian.


"ini juga untuk masa depan kamu Diah. begini, bukan maksud umi mencampuri hidup kamu. tapi menurut umi, lebih baik kamu melanjutkan kuliah kamu Diah. biar anak-anak sama mama mu, paling tidak kamu menyelesaikan S1" kata umi Hamidah membuatku kembali berfikir.


"biar nanti saya pikirkan lagi umi, biar bagaimana pun Syifa masih butuh asi kan umi." jawabku membuat umi Hamidah akhirnya menganggukkan kepala.


"iyaa baiklah kalo memang itu keinginan kamu, umi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." jawab umi Hamidah membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.


"tapi kamu ngga ada kendala kan masuk bagian administrasi, kalo ada kendala kamu bisa sampaikan sama kepala staff nya" kata mas Hamid yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.


"sejauh ini si ngga, lagian aku juga belum mengerjakan apapun tadi. hanya disuruh memahami tentang pekerjaanku aja" jawabku dnegan jujur.


"Alhamdulillah kalo begitu. umi, gimana kalo kita makan siang diluar aja kali ini?" kata mas Hamid pada umi Hamidah.


"boleh mid, kalian mau kan?" tanya umi Hamidah pada kami semua.


aku pun menatap mama dan juga Rey secara bergantian, setelah mendapat anggukan kepala dari mama batu lah kami semua mengikuti mama memberikan anggukan kepala.


"kalo begitu biar kami siap-siap dulu ya midah" kata mama pada umi Hamidah yang langsung menganggukan kepala.


"assiiikk kita mau jalan-jalan ya uti, nanti Nayla mau ketempat permainan ya uti. Nayla pengen ngerasain mainan yang ada disana" kata Nayla dengan ekspresinya yang menggemaskan.


"aku juga ganti baju dulu deh kalo gitu, mbak Diah nanti ya belakangan. atau mau aku ambilin baju Syifa buat digantikan disini jadi nanti tinggal mbak sendiri yang ganti baju" kata Sintia padaku.


"boleh, tolong ya ambilkan sin. sekalian tolong disini tas kecil Syifa sama pempers ya sin" jawabku yang langsung diangguki oleh Sintia.


"okee mbak, tunggu ya!" serunya melangkah kan kaki menuju kamar miliknya.


"maaf di, jika umi boleh tau. apa bapaknya anak-anak suka datang kesini?" tanya umi Hamidah padaku.


"emm pernah datang kesini umi, tapi...." kataku perputus.


"tapi?"


"bukan untuk menengok anaknya umi, tapi untuk membuat keributan" bukan aku yang menjawab, melainkan Rey yang ternyata sudah selesai bebenah diri.

__ADS_1


"maksudnya rey?" tanya mas Hamid.


"iyaa mas, keluarga suaminya mbak Diah itu ajaib mas. mereka kesini bukan untuk menanyakan anak, cucu atau keponakannya. melainkan untuk mencari keributan yang selalu berujung pertengkaran" jawab Rey dengan nada ketus.


"apa masalahnya Rey?" tanya umi Hamidah dengan dahi menyerit.


"umi, umi ingat kan waktu itu aku dan Mbak Diah datang kerumah umi untuk berobat. dan tak lama dari setelah kami kerumah umi itu ternyata kas Lukman mengalami sakit kepala hebat sampai harus dilarikan kerumah sakit umi, mereka sempat kesini umi untuk meminta mbak Diah memberikan uang berobat untuk mas Lukman..."


"tapi saya menolak memberikannya umi, karna memang sudah tak ada uang nafkah apapun dari mas Lukman yang tersisa. sampai akhirnya ibu mertua saya menelpon saya untuk datang kerumah sakit dan membayarkan biaya perawatan mas Lukman. karna saya ngga punya uang maka saya dan juga Rey sepakat membayar biaya perawatan mas lukman dengan menggunakan uang Rey. itu pun dengan syarat umi" jawabku melanjutkan perkataan Rey.


"syarat apa di?" tanya umi penasaran begitupun mas Hamid yang terlihat menyimak apa yang kami bicarakan.


"syarat yang harus ditanda tangani oleh mas Lukman, yang dimana disana mas Lukman tidak akan mempersulit proses perceraian kami dan juga tidak menggugat soal hak asuh anak" jawabku dengan kepala tertunduk.


"lantas bagaimana respon dari suami kamu dan juga keluarganya?" tanya mas Hamid.


"mereka menyerahkan semuanya pada mas Lukman, bahkan saat itu mas Lukman tidak mau menandatangani tapi berubah pikiran yang kami berdua pikir mungkin mas Lukman ditekan oleh ibu mertua mbak Diah mas" jawab Rey yang disambut anggukan kepala oleh mas Hamid.


"sudah siap, mbak gantian gih kamu yang ganti baju. ini si Syifa biar aku deh yang gantiin" kata Sintia yang sudah tiba dari berganti baju.


"yaudah kalo gitu, tolong gantiin ya. jangan lupa kasih minyak telon dan juga bedak lagi ya, pempersnya juga jangan lupa diganti ya" kataku yang langsung diacungi jempol oleh Sintia.


aku pun memasuki kamar milik Sintia, kemudian berganti baju dan memakai sedikit riasan diwajah. setelah selesai, aku pun kembali menghampiri ruang tamu yang ternyata sudah ada mama dan juga Nayla.


"sudah siap semua?" tanya Rey yang langsung membuat kami semua menganggukan kepala.


"yaudah kalo gitu kita berangkat sekarang, mbak Diah, mama sama Nayla dan juga Syifa sama mas Hamid dan juga umi aja ya pake mobil. biar Rey sama Sintia pake motor" kata Rey.


"kenapa ngga dimobil aja sekalian Rey, muat kok" jawab mas Hamid.


"ngga usah mas, biar kita naik motor aja gapapa. yang penting kan sampai tujuannya dnegan selamat" jawab Rey yang langsung membuat mas Hamid menganggukan kepala.


"yasudah kalo gitu, kalian berdua hati-hati ya. ayok bude, Diah masuk mobil" kata mas Hamid yang membukakan pintu mobil untukku dan juga mama dan Nayla.


"makasih ya nak Hamid" kata mama yang terakhir masuk kedalam mobil.

__ADS_1


setelah semua siap, kami pun memulai perjalanan menuju tempat dimana kami akan melakukan makan siang bersama.


bersambung.....


__ADS_2