
"iyaa itu kan mama" jawabku pada mama sembari terkekeh.
"abis mama itu gemes sama kamu yang diam aja diperlakukan kaya gitu sama mertua, heran tau ngga sih. kamu itu dianggap apa si sama mertua dan juga ipar mu itu" jawab mama membuat ku tertegun.
memang selama ini aku tak terlalu dekat dengan kedua ipar dan juga mertuaku, pernah sewaktu baru menikah dengan mas Lukman kami tinggal bersama satu atap. memang tak ada percecokkan namun, aku seperti dianggap pembantu oleh ipar dan juga mertuaku.
bayangkan pagi-pagi aku sudah harus membereskan rumah sementara mereka masih tertidur pulas, bangun hanya untuk menyantap sarapan sementara mertuaku setelah itu langsung pergi kerumah kak Yuni untuk membantu mengurus kedua anaknya padahal posisiku pun saat itu sedang hamil. lebih parahnya lagi, saat aku mengadu pada mas Lukman ia hanya berkata itu adalah kodratku dan kewajibanku sebagai istri.
jika mengingat hal itu, tentu saja aku merasa sangat kesal dengan respon mas Lukman. mulai dari sanalah aku tak respek pada keluarga mas Lukman yang suka semena-mena, itu pun baru aku ketahui saat kami telah menikah.
"eh, tuh kan malah ngelamun" kata mama mengagetkan aku yang terbengong mengingat kejadian dulu.
"apaan si ma ngagetin aja" jawabku dengan lirih.
"mama tau nih, pasti kamu lagi mikirin omongan mama kan? hahah, mama tuh tau kalo Diah ekspresi kamu kaya gitu" jawab mama membuatku tertegun.
__ADS_1
"apaan si ma, ngga jelas banget. sok tau deh, lagian aku ga kenapa-kenapa kali ma. males juga mikirin ornag kaya gitu, toh belum tentu juga mereka mikirin kita apalagi perasaan kau. buang-buang waktu aja" jawabku sedikit ketus.
"hahahaha, Diah Diah tumben otak kamu bener. selama ini kamu kemana aja hei, yang buang-buang waktu itu kamu yang nikah sama Lukman tuh buang-buang waktu. udah ngga dinafkashi dengan layak, berurusan pula sama ipar dan mertua toxic" jawab mama dengan tertawa kencang.
"mama apaan si ma, segitunya ngetawain aku. seneng ya ngeliat anaknya kaya gini, nyebelin banget" jawabku dengan memandang tak suka pada mama.
"lagian kamu udah dibilang urus aja perceraian kamu sama Lukman, eehh kamu malah kasih dia kesempatan. jadinya gini kan, dia lebih memperlihatkan kalo dia lebih menghargai keluarganya dibanding kamu Diah. coba mama tanya, sampai kapan kamu akan bertahan sama Lukman yang seperti itu?" tanya mama yang langsung aku jawab dengan gidikkan bahu.
"nah kan, kamu aja ngga tau. begini di, ada hal yang masih bisa kamu maklumi dan ada hal juga yang ngga perlu kamu jadikan alasan untuk bertahan. mama pernah merasakan sebagai menantu di, sama perlakuan mbahmu dulu pada mama. mama sangat mengerti gimana perasaan kamu, tapi mama bertahan karna bapak membela mama saat itu. tapi Lukman? bahkan dia ngga segan-segan menampar kamu di, kamu tau itu sudah masuk dalam kdrt" jawab mama membuatku menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"dengerin mama di, negara kita itu negara hukum. andai Lukman membawa kedua anak kamu, dipengadilan kamu tetap akan menang karna anak dibawah usia dua belas tahun pasti akan diasuh oleh ibu kandungnya. jadi, mama yakin mau bagaimana pun Lukman pasti akan kalah dalam hal asuh anak. apalagi Syifa masih bayi dan dia masih menyusui, dia pasti akan ikut dengan kamu bukan dengan Lukman. ditambah lagi, Rey pasti ngga akan diam begitu aja. dia pasti akan membela kamu sampai kamu mendapatkan hal kamu dari Lukman" jawab mama membuatku sedikit menganggukan kepala membenarkan.
"terus menurut mama aku harusnya bagimana ma?" tanyaku pada mama.
"kamu hanya perlu meyakinkan diri kamu inginnya apa dalam pernikahan kalian, andai kamu ingin berpisah maka cepatlah bicarakan dengan adikmu dan juga pengacara kalian yang kemarin tapi kalo kamu masih mau melanjutkan rumah tangga kamu maka saat ini juga mama menyuruhmu untuk balik kerumahmu sana" jawab mama membuatku sedikit tertegun.
__ADS_1
mama memang sedikit keras, tapi perkataannya sedikit membuatku berpikir dan membenarkan apa yang mama katakan. tapi aku bingung harus bagaimana, satu sisi memang aku begitu tak suka dengan sifat ibu mertuaku tapi disisi lain aku memikirkan Nayla dan juga Syifa yang juga masih memerlukan kasih sayang dari kami sebagai orangtuanya.
"tapi ma, aku benar-benar belum bisa memberikan keputusan saat ini. aku benar-benar buntu, tolong beri aku waktu ma. biarkan aku tetap disini bersama Nayla dan juga Syifa, biarkan aku mendinginkan pikiranku sebentar aja. lagi pula ma, aku juga masih memikirkan Syifa juga Nayla yang masih butuh kasih sayang lengkap kedua orang tuanya ma" jawabku dengan kepala tertunduk.
"kamu salah Diah, justru dengan membiarkan kamu terus bersama dengan lelaki itu sama aja kamu membiarkan anak kamu memiliki mental yang lemah. keadaan rumah tangga itu memberikan dampak pada anak Diah, misalnya ya karna rumah tangga kamu dengan lukman yang seperti itu. itu ngga lantas tidak mempengaruhi mental Syifa dan juga nayla, kadang ada baiknya kita berpisah karna alasannya jelas dia tak bisa melindungi kalian dari pada tetap bertahan dengan rumah tangga toxic Diah"jawab mama membuatku terdiam beberapa saat membenarkan apa yang dikatakan oleh mamaku.
"benar apa yang dikatakan mama mbak, mbak tenang aja kalo memang mbak mau bercerai dari mas Lukman aku dan mas Reihan siap membantu mbak sampai mbak mendapatkan hal mbak dan juga anak-anak" kata Rey yang tiba-tiba saja datang membuat aku dan juga mama kaget karna mendengar perkataan adikku itu.
"tapi Rey, bagaimana dengan Nayla dan juga Syifa. andai kamu berpisah otomatis kami pisah rumah, apa yang akan mbak katakan padanya jika dia tak menemui ayahnya didalam rumah" jawabku membuat Rey sedikit tersenyum.
"itu urusan gampang mbak, mbak kan bisa bilang jika ayahnya kerja menginap atau alasan apa gitu. ini juga demi mempertahankan kewarasan mbak, aku rasa selama mbak menjadi bagian dari keluarga itu mereka akan tetap seperti itu terhadap mbak. aku yakin sangat-sangat yakin mbak," jawab Rey yang langsung diangguki juga oleh mama dan juga Reihan yang berada disampingnya.
"gimana menurut mas Raihan, apa mbak ku bisa mendapatkan haknya termasuk hak mengasuh anak-anaknya yang jelas dibawah umur" tanya Rey pada Raihan selaku pengacara yang ia sewa.
"tentu saja Rey, pasti. apalagi keduanya masih dibawah umur, tentu saja akan ikut pada ibunya. bahkan nanti mbakmu juga akan dapat nafkah Iddah dan juga nafkah untuk anak-anaknya".....
__ADS_1
bersambung...