Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 114.


__ADS_3

"Oalah bulek, jadi merepotkan ini" kata mas Hamid dengan wajah tertunduk.


"Ndak, Ndak merepotkan sama sekali. jarang-jarang kan nak Hamid kesini" kata mama disambut anggukan kepala oleh mas Hamid.


"hamid kan belum tau kemarin-kemarin bulek, kalo sekarang insyaallah Hamid akan sering main. gapapa kan bulek? Hamid seneng karna ternyata Hamid disini ngga sendirian, masih ada kerabat umi dan juga Abi. selama ini Hamid bingung kalo bosen dirumah" jawab mas Hamid membuat Rey sedikit terkekeh.


"Oalah mas-mas, kita bisa sering keluar bareng ini nanti" kata Rey membuat Hamid menganggukan kepala.


"boleh-boleh, ngomong-ngomong kamu kerja dimana Rey?" tanya mas Hamid pada Rey.


"Rey kerja di PT anugrah mas" jawab Rey yang diangguki oleh Hamid.


"PT anugrah, sebagai apa Rey?" tanya ma Hamid.


"asisten direktur mas" jawab Rey membuat mas Lukman terbelalak.


"asisten direktur Rey? waaahh ngga nyangka mas ternyata tinggi juga jabatan kamu, mas seneng dengernya" jawab Hamid membuat Rey tersenyum.


"Alhamdulillah mas, ngga mudah buat sampai dititik ini" kata Rey yang dibenarkan oleh mas Hamid.


"iyaa tentu saja Rey, mas juga merasakan ngga mudah berada dititik sekarang." jawab mas Hamid.


"iyaa mas, yaahh maklum mas namanya juga berusaha dari bawah. hanya keberuntungan aja mas bisa sampai tahap ini" kata Rey sambil menyuap bakso yang sudah dituang kedalam mangkoknya.


"Alhamdulillah Rey, semuanya sudah digariskan memang" jawab mas Hamid yang juga dibenarkan oleh Rey.


"sudah makan dulu habiskan, nanti baru ngobrol lagi" kata mama membuat keduanya terdiam melanjutkan makan mereka tanpa berbicara lagi.


"assalamualaikum" salam Sintia yang baru pulang setelah kembali membeli bakso untuk dirinya.


"mama Nayla sin?" tanyaku pada Sintia.


"tuh masih jalan, nyebelin banget pake minta es krim." jawabnya dengan nada kesal.


"yaa lagian tadi bilangnya mau jajan kewarung, ya jadinya minta es krim lah" jawabku membuat Sintia semakin bersunggut.


"nay, sini masuk makan bakso dulu" kataku memanggil Nayla yang langsung menghampiriku.


"nanti dulu ma, nay habisin es krim nay dulu" jawabnya menghabiskan es krim didalam cup.


"yaudah cepet ya, mama makan punya mama dulu kalo gitu" jawabku dengan pelan.

__ADS_1


"kalo Diah rencana kedepannya apa?" tanya mas Hamid padaku setelah menghabiskan bakso miliknya, aku pun tersentak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut anak lelaki kiayi Hasyim tersebut.


"pelan-pelan lah di, masa ditanya gitu aja pake keselek" kata mama memberikan segelas air putih padaku.


"mama, apaan sih" jawabku dengan kesal. aku puh meminum air dalam gelas yang mama berikan.


"belum tau mas" jawabku singkat setelah meminum segelas air putih.


"emmm maaf kalo mas boleh tau, Diah lulusan apa?" tanya mas Hamid padaku.


"aku cuma lulusan SMA mas, lebih tepatnya si SMK." jawabku dengan menunduk, ku lirik mas Hamid menganggukan kepala.


"biarpun mbak Diah cuma lulusan SMK mas, tapi dia bisa menyekolahkan aku sampai aku berada dititik sekarang mas" kata Rey membuat mas Hamid mengalihkan pandangan padanya.


"maksudnya gimana?" tanyanya dengan dahi menyerit.


"iyaa mas, dulu mbak Diah kalo mau kuliah pun sebenarnya bisa karna mbak Diah sempat dapat beasiswa undangan tapi karna melihat kami adik-adiknya dan juga keadaan ekonomi mama dan bapak. mbak Diah memilih mencari kerjaan mas, membantu biaya sekolah kami sampai aku bisa kuliah dan gantian membiayai Sintia. makanya aku bisa berada diposisi saat ini dalam pekerjaanku ya karna kerja keras mbak Diah" jawab Rey membuat mas Hamid mantapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"begituu, jadi dulu yang membiayai kuliah kamu Diah?" tanya mas Hamid yang langsung diangguki oleh Rey.


"iyaa mas, saat itu keadaan mama dan juga bapak sangat tidak memungkinkan untuk aku melanjutkan kuliah. tapi karna mbak Diah bertekad agar adik-adiknya bisa jauh lebih baik dari dia, ntah bagaimana saat aku selesai sekolah SMA dia mengajakku mendaftar kuliah dengan uang tabungannya. dan ya setelah itu setiap bulan dia bayarkan spl dan juga uang semesterku dari hasil gajinya kerja" jawab Rey membuatku berkaca-kaca.


"waaahh hebat-hebat, ngga banyak adik kakak yang bisa mendorong dalam hal kebaikan. justru kebanyakan dari mereka justru ingin terlihat lebih baik dari saudaranya yang lain, tapi mas ngga sangka kalo memang bener begitu ceritanya" jawab mas Hamid membuat Rey tersenyum bangga.


"apa?" tanya mas Hamid dengan nada heran.


"terlalu bodoh memilih suami" jawab Rey membuatku terbelalak, sementara mama yang mendengar perkataan Rey hanya tertawa kecil.


"hust, jangan ngomong kaya gitu Rey. biar gimana pun kan itu semua udah terjadi, bersyukur semuanya udah ketahuan dan pada akhirnya mbakmu bisa sadar" jawab mama yang sedari tadi terdiam.


"iyaa Alhamdulillah, tinggal bagaimana langkah selanjutnya aja biar mbak Diah secepatnya pisah sama mas Lukman" jawab Rey dengan sedikit kesal.


"hust, sudah-sudah. tapi kenapa kamu bertanya seperti tadi nak Hamid?" tanya mama pada mas Hamid.


"oohh ngga apa-apa bulek, Hamid cuma mau menawarkan pekerjaan kalo memang mbak Diah mau bekerja lagi. ngga ada maksud apapun" jawabnya dengan tersenyum.


"oalaah begitu, bulek kira ada apa. gimana Diah?" tanya mama padaku.


"eemm kerjaan apa ya mas Hamid?" tanyaku pada mas Hamid.


"kerja diperusahaanku, memang bukan perusahaan besar tapi insyallah kamu nyaman bekerja didalamnya" jawab mas Hamid dengan trsnegum lembut.

__ADS_1


"tapi mas, saya hanya tamatan SMK. mana bisa saya bekerja di perusahaan" jawabku dengan merendah.


"mas yakin kamu pasti bisa, lagian nanti kan pasti diajari dulu ngga mungkin langsung dilepas sendiri. dan pasti ada yang membimbing kamu" kata mas Hamid yang juga dibenarkan oleh mama.


"iyaa nak Hamid benar Diah, lagian anak-anak kamu juga butuh uang untuk hidup ya meskipun memang masih ada ATM ayahnya yang kamu pegang tapi apa salahnya untuk tabungan kalian nanti" kata mama berusaha membujukku juga.


"iyaa benar mbak, lagian kamu juga harus buktikan sama mas Lukman dan keluarganya. kalo kamu mampu bertahan tanpa mas Lukman, dan mbak juga jadi ga perlu repot menjawab apa nanti saat ditanya soal hak asuh anak karna jika mbak sudah bekerja pasti lebih gampang lagi untuk kita mempertahankan hak asu Nayla dan juga Syifa" kata Rey yang juga aku benarkan.


"iyaa si, kamu benar juga Rey. tapi mbak takut ngga bisa" jawab ku merasa ragu.


"udah tenang aja, nanti pasti ada yang bantu kok. kalo bisa besok kamu langsung datang aja keperusahaanku ya, ini alamatnya" kata mas Hamid menyerahkan kartu nama miliknya.


"apa saya boleh memikirkannya dulu mas? kalo memang saya yakin, insyaallah saya akan datang besok tapi kalo memang belum yakin saya meminta waktu mas" kata ku yang langsung dijawab anggukan kepala dan juga senyum oleh mas Hamid..


"iyaa tentu aja boleh, silahkan pikirkan dulu. lagian kamu juga harus memikirkan Nayla dan juga Syifa jika kamu mau meninggalkan mereka untuk bekerja" kata mas Hamid membuatku menepuk dahi.


"kalo untuk Syifa dan juga Nayla mah tenang aja, kan ada mama di. mama ga keberatan loh kalo harus mengurus mereka, lagian mama kan ngga ada kerjaan juga dirumah" kata mama dengan senyum mengembang.


"ya sudah biarkan mbak Diah memikirkan dulu kedepannya gimana, lagian Syifa kan juga asi ekslusif jadi mbak Diah pun harus memikirkan itu juga" kata Rey membuatku menganggukan kepala.


"alaah, biasanya juga pumping kok. kan udah biasa kalo kalian mau tinggal pasti mbakmu itu pamping dulu" kata mama membuat Rey terkekeh kecil.


"ma, kerja kan ngga sejak dua jam kalo kaya kami pergi keluar sebentar ma. bedalah, ini akan seharian diluar rumah" jawab Rey membuat mama terdiam berfikir.


"iyaa juga si, yasudah terserah kamu aja di maunya bagaimana. tapi menurut mama ini kesempatan si, dari pada kamu lebih sudah cari kerjaan mendingan kerja ditempat nak Hamid" kata mama.


"yasudah kalo begitu saya pamit pulang ya bulek, sudah malam kayanya. ngga enak kalo terlalu lama bertamu, Rey terimakasih ya baksonya. jadi ga enak ini" kata mas Hamid membuat Rey sedikit terkekeh.


"iyaa tenang aja mas, kapan-kapan main lah. weekend, kita bisa futsal bareng" kata Rey yang langsung diangguki oleh mas Hamid.


"boleh-boleh, tenang aja nanti aku kabari" jawabnya segera berdiri berpamitan pada mama.


"bulek, Hamid pulang dulu ya." katanya menyalami tangan mama dengan takjim.


"iyaa hati-hati ya nak, terimakasih sudah mau mampir" jawab mama membuat mas Hamid tersenyum.


"assalamualaikum" salamnya sembari mengenakan sendal yang dia pakai.


"waalaikumsalam" jawab kami serentak.


setelah kepulangan mas Hamid, kami pun kembali duduk didepan tv. aku pun melanjutkan memakan bakso yang tertunda dan menyuapi Nayla hingga habis. setelah selesai semua kami pun memasuki kamar masing-masing untuk tidur karena waktu sudah menunjukan hampir jam sepuluh malam.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2