
"libur libur aja kalo Rey ngga perlu Ngoto kerja" kataku pada Rey yang langsung membuatnya tertawa.
"iyaa santai aja mbak, lagian emang ini udah tugas aku buat ngerjain pekerjaan ini sampai selesai" jawabnya dengan santai.
"iyaa terserah kamu lah Rey, oiyaa apa kamu udah ngehubungin Raihan lagi Rey? mbak rasa kita perlu diskusikan ini sama Raihan deh" kataku yang langsung membuat Rey menatapku dengan wajah bertanya-tanya.
"kenapa harus didiskusikan lagi mbak, semuanya tergantung mbak lah mau nya bagaimana. nanti kalo mbak memang sudah benar-benar mau berpisah sama mas Lukman baru kita hubungin mas Raihan untuk mengurus semuanya mbak" jawab Rey yang juga aku benarkan.
"iyaa juga sih Rey, tapi gimana ya Rey mbak kok masih ngga yakin ya buat menceraikan mas Lukman. apalagi dengan keadaannya yang seperti ini" jawabku menundukkan kepala, memang masih ada perasaan cinta untuk mas Lukman karna biar bagaimana pun ia adalah ayah dari anak-anakku. apalagi selama ini ia pun selalu memberikan yang terbaik untuk kami terlepas dari bagaimana dia pilih kasih antara aku dan juga keluarganya.
"tuh kan mbak nya aja masih galau begitu pake mau minta solusi sama orang, mbak ini gimana si. inget loh mbak bahkan tadi aja jelas kita tau kalo ternyata mas Lukman sudah mulai berani berselingkuh dengan perempuan lain mbak, mas Lukman juga mengakui itu. masa mbak masih mau mempertahankan orang seperti itu, jangan aneh-aneh deh mbak" jawab Rey kembali mengerjakan pekerjaan kantornya.
"yaa habis gimana ya Rey, hati mbak ngga bisa bohong kalo mbak emang masih menyimpan rasa cinta sama mas Lukman. terlepas dari dia yang berstatus ayah dari kedua anak mbak" jawabku yang langsung direspon gelengan kepala oleh Rey.
"mbak mbak, mbak kayanya seolah lupa apa yang sudah mereka lakukan sama mbak ya. ingat mbak, bahkan mas Lukman sampai menampar mbak loh. itu sudah masuk dalam perkara kdrt loh mbak" jawab Rey membuatku membeliakkan mata.
"iyaa si Rey mbak juga tau, tapi apa kata orang kalo mbak menceraikan mas Lukman Rey. apalagi Syifa juga masih bayi dan masih memerlukan banyak biaya, Nayla juga sebentar lagi sekolah. apa mbak harus egois berpisah dari mas Lukman, sementara anak-anak mbak masih memerlukan sosok ayahnya" jawabku dengan menundukkan kepala.
"kayanya pernah ada yang bilang deh, lebih bayi pisah dari pada mempertaruhkan mental anak. bukannya aku bener mbak? kenapa sekarang mbak jadi letoy begini, ingat mbak keadaan rumah tangga mbak dan mas Lukman juga mempengaruhi mental Nayla yang sudah beranjak besar" kata Rey dengan nada kesal.
"terus mbak harus gimana Rey, haruskah mbak menyingkirkan perasaan ini. mbak juga sebenarnya ngga terima apa yang dilakukan mas Lukman, hati mbak sakit tapi mbak juga memikirkan Nayla dan juga Syifa jika mereka tanya ayahnya" jawabku membuatnya terkekeh.
__ADS_1
"mbak, mbak bahkan bukannya mas Lukman juga jarang bermain dengan Nayla apalagi Syifa. mas Lukman juga jarang kan menghabiskan waktu sama kedua anaknya, aku yakin nanti juga mereka terbiasa mbak. masalah yang lainnya mbak tenang aja, kan masih ada aku yang akan bantu mbak" jawabnya dengan tersenyum.
"iihh mbak ngga mau lah terus merepotkan kamu, kamu kan seorang lelaki suatu saat kamu akan memimpin rumah tangga. mana mungkin mbak membebankan semuanya sama kamu, apalagi nanti kalo kamu sudah berumah tangga. mbak ngga mau ngerepotin kamu Rey" jawabku menatap Rey yang justru terkekeh.
"iyaa santai aja kalo mbak, lagian Rey juga ngga bakalan cepet-cepet nikah kok. sampe sekarang aja belom ada calonnya, belom ada yang srek dihari" jawabnya dengan terkekeh kecil.
"eehh Rey, kayanya sebentar lagi mbak bakalan ditelpon nih sama keluarga benalu itu. liat aja, mbak yakin pasti mereka udah dikasih tagihan rumah sakit. kita tunggu yaa" kataku yang langsung disambut gelak tawa oleh Rey.
"lagian mbak ada-ada aja, mau ngerjain mereka masalah uang. aku yakin pasti mereka akan terus-terusan menganggu hidup mbak deh" jawab Rey membuatku mengerucutkan bibir.
"biarin ajalah Rey, abisnya mereka begitu sih. sekali-kali ngebuat mereka sudah" jawabku dengan sinis.
"nah kan, mbak sama keluarganya aja udah ngga klop. ngapain harus terus dipertahanin mbak, lagian mas Lukman juga kayanya ngga ngerasa bersalah dengan apa yang ia lakukan mbak" jawab Rey membuatku menyeritkan kening.
"lah iya kan mbak, nyatanya aja mas Lukman keluar dari rumah kan dalam keadaan marah karna mbak ngga ngasih dia yang. iyakan? udah jelas juga dia selalu membela keluarganya dibanding mbak, bukannya bener malah mencari pelampiasan bersama perempuan lain. iyakan?" jawab Rey membuat ku menganggukan kepala membenarkan aoa yang Rey katakan.
"iyaa juga ya Rey, terus mbak harus gimana dong. mbak harus melakukan sesuatu tapi mbak gatau mau ngapain" jawabku dengan nada frustasi.
"lah mbak gimana, bukannya waktu itu katanya mau bisnis online. kok belum jadi buka bisnis online?" tanya Rey membuatku menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"sebanarnya mbak udah coba Rey, waktu itu mbak daftar bisnis online bayar tiga ratus lima puluh ribu yakan nah mbak kita itu jualin produk ternyata cuma dijadikan dropship gitu Rey. mbak cuma butuh promosikan doang ngga menyetok barang" jawabku dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
"bukannya itu malah bagus mbak, jadi mbak kan ngga perlu susah-susah cari tempat buat stok barang" jawab Rey dengan santai.
"iyaa sih Rey, tapi tetep ajalah gimana ya mbak gak bisa lah pokoknya Rey" jawabku dengan menekuk wajah.
"yaa jangan pesimis gitu lah mbak, masa Bayu nyoba udah nyerah duluan. terus belajar sampai dapat pelanggan, kan lumayan mbak dari pada bengong lebih baik main ha phone yang juga menghasilkan" jawab Rey dengan memicingkan mata.
"aahh ntahlah Rey, kayanya mbak ngga ada bakat deh buat jualan online macam gitu" jawabku dengan ketus.
sementara aku dah Rey tengah mengobrol terdengar suara ponsel berdering, ternyata milikku dan itu panggilan masuk dari kak Yuni.
"kak Yuni Rey, aku yakin pasti mau nangih uang administrasi" kataku pada Rey yang langsung terkekeh.
"angkat aja mbak" jawab Rey.
"assalamualaikum kak" kataku setelah menggeser tanda hijau dilayar ponsel.
"diaaaahhh, kamu bilang kamu udah mengurus administrasi Lukman. kenapa malah disuruh tagih ke aku, cepat balik kesini! jangan lepas tanggung jawab gitu aja kamu ya!!" teriak kak Yuni membuatku langsung menjauhkan ponsel dari telinga.
"apaan si kak malah teriak-teriak, iyaa itu kan udah aku urusin buat kasih tau kak Yuni. emang tadi aku bilang mau bayarin? ngga kan! lagian aku uang dari mana buat bayar rumah sakit kak" jawabku dengan nada memelas.
"yaa aku gamau tau lah, lagian kan ada yang Lukman yang dikasihkan semua kekamu. kemana semua itu, masa udah abis aja. terus ini gimana bayar rumah sakitnya" ......
__ADS_1
bersambung.....